
Syafira dan Bara sudah berada di dalam mobil hendak pulang acara makan mereka berakhir dengan memalukan. Bagaimana tidak? Memang benar tadi kegiatan beberapa detik mereka tidak terlihat oleh pengunjung lain restoran tersebut. Namun, terekam jelas di memory pelayan restoran yang ternyata berdiri tepat di belakang mereka saat mereka melakukan ciuman beberapa detik itu. Ya, pelayan restoran itu ingin menanyakan mungkin ada menu tambahan. Tak di sangka, sebelum ia membuka mulutnya untuk bertanya sepasang suami istri itu malah menodai mata sucinya.
Syafira masih merasa malu dan kesal mengingat kejadian memalukan yang baru saja ia alami meskipun kini mereka sudah berada di dalam mobil.
"Jangan ngambek gitu, namanya juga nggak sengaja. Dia kan nggak sengaja menyaksikan kita ciuman tadi," Bara berusaha membujuk Syafira yang tampak bete.
"Jangan di bahas lagi, aku malu mas. Malu!" rengek Syafira menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
"Iya, nggak di bahas lagi. Tapi udah dong jangan ngambek. Pelayannya kan tadi juga sudah minta maaf," Bara mencoba membujuk Syafira.
"Ini orang kenapa nggak peka sih, siapa juga yang nyalahin pelayan itu, dia kan cuma jalanin pekerjaannya saja. Yang salah itu situ om, ish kesel. Mau di taruh dimana nih muka," batin Syafira dongkol setengah hidup.
"Fir...?" Bara menyentuh pundak Suafira yang sedang melamun.
"Ish, aku nggak nyalahin dia mas. Yang salah tuh mas Bara yang main asal nyosor aja nggak lihat-lihat!" ucap Syafira sambil menggerakkan bahunya supaya tangan Bara menjauh dari sana. Kedua tangannya bersedekap dengan wajahnya di tekuk, mirip seperti pakaian yang belum di seterika.
"Iya, saya yang salah. Maafin ya. Kan kamu juga membalas ciuman saya tadi, jadi saya juga lanjut saja karena terbawa suasana,"
"Tahu ah om, aku malu pokoknya malu. Kesal sama om! Tega amat memanfaatkan kepolosanku di tempat umum seperti itu. Kenapa nggak lihat-lihat dulu sih om, bikin malu aja!" Syafira terus merengek, meluapkan kekesalannya terhadap Bara. Matanya bahkan berkaca-kaca hampir menangis. Tangannya memukul-mukul lengan Bara.
Bara menghirup napasnya dalam lalu mengembuskannya kasar. Panggilan yang tidak ia sukai itu lagi-lagi keluar dari mulut istrinya. Itu artinya, istrinya tersebut benar-benar merajuk.
"Terus saya harus bagaimana? Semua sudah terjadi, sudah nggak apa-apa, lagian saya kan mencium istri saya sendiri, tidak berdosa bukan?" Bara memegang tangan Syafira, ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara membujuk abg yang sedang merajuk. Lebih mudah membujuk rengekan bocil macam Nala, yang masih mudah dihasut, pikirnya.
__ADS_1
"Ya berdosa bangetlah, dia kan ngga tahu kalau aku istri mas Bara. Bisa aja kan dia pikir aku ini abg simpanan om-om,"
"Ya itu berarti yang berdosa dia, karena tidak bisa mendidik pikirannya untuk untuk berpikir positif," ucap Bara.
"Pokoknya aku nggak mau lagi makan di restoran itu lagi. Nggak mau lihat muka itu pelayan lagi, malu!" masih saja membahas, padahal awal tadi ia sendiri yang bilang tidak mau bahas.
"Iya, iya saya yang salah, saya yang berdosa. Saya nggak akan mengajak kamu makan di sana lagi. Kalau perlu saya akan menutup restoran itu, asal kamu tidak malu lagi," ucap Bara, ia menarik tubuh Syafira ke dalam pelukannya.
"Ish jahat itu namanya, kalau restoran di tutup, berati para pekerja yang di sana kehilangan mata pencarian mereka dong, om mau menanggung beban biaya hidup mereka nantinya?" protes Syafira, tanpa melepas pelukan Bara.
"Salah lagi. Kan aku juga tidak serius Fira sayang, aku cuma mau hibur kamu," batin Bara. Syafira benar-benar selalu sukses membuat dia kehabisan kata-kata.
"Ya sudah saya terserah kamu saja, tapi jangan panggil saya om lagi. Kalau kamu panggil begitu kamu beneran kayak abg simpanan om-om tahu nggak?"
"Udah ah, jangan ngambek lagi, kayak anak kecil. Kalau Nala saya gampang bujuknya, kalau kamu saya tidak tahu harus bagaimana,"
"Makanya kenalin lebih dalam istri om ini, biar bisa cara menjinakkannya," ujar Syafira yang membuat Bara tergelak mendengar kaya menjinakkan. Tapi memang benar sih, jika Bara harus belajar menjadi pawang untuk menjinakkan istrinya yang lebih sering bersikap bar-bar tersebut.
"Manggil om sekali lagi, saya cium lagi mau?" tantang Bara.
Syafira langsung mengomel lagi, begitu mendengar ucapan Bara.
"Apa semua ABG begitu ya kalau kegep sedang ciuman? Haih bikin pusing aja. Padahal dia tadi juga menikmatinya. Haih bikin pusing aja, cuma gara-gara ciuman berapa detik aja jadi masalah begini. Jadi nyesel kan, tau gitu tadi ciumannya lama sekalian, biar setimpal jika akhirnya dia merajuk," gumam Bara dalam hati.
__ADS_1
Bara tersenyum tipis mendengar Syafira yang terus ngedumel, merengek l, mengomel seperti seorang anak yang sedang merajuk kepada ibunya. Ini kali pertama ia melihat sisi kekanakan Syafira yang membuatnya sangat gemas. Biasanya perempuan yang kini duduk di sebelahnya tersebut selalu bersikap dewasa, bahkan jauh melebihi usianya. Namun, karena kejadian barusan, membuat Syafira lupa menjaga sikapnya di depan suaminya tersebut.
Entah kenapa, Bara justru merasa senang melihat Syafira yang apa adanya seperti ini, tidak menyembunyikan jati diri yang sebenarnya. Tidak menutupi perasaannya yang sebenarnya seperti biasa yang selalu bersikap luar biasa dewasanya. Yang terlalu tegar, kuat, dan mandiri. Saat ini Syafira terlihat ada sisi manjanya dan itu membuat Bara merasa senang.
"Saya suka kamu apa adanya seperti ini," tanpa sadar, kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Bara.
Syafira langsung sadar dengan sikapnya, ia langsung melepaskan pelukannya terhadap Bara. Duduk manis, menetralkan perasaannya kembali, tangannya serabutan merapikan rambutnya untuk menutupi perasaan malunya yang sudah menunjukkan sisi lemahnya di depan suaminya.
"Maaf mas, aku khilaf," ucapnya lirih.
"Ayo buruan jalan, anak-anak pasti sudah menunggu," lanjutnya sebelum Bara menimpali maafnya tadi.
"Yakin mau langsung pulang? Tidak jalan kemana dulu gitu?" tanya Bara. Ia ingin menikmati momen langka ini karena nanti setelah di rumah pasti ia tak akan menemukan sikap Syafira yang seperti ini.
"Yakin mas. Cepetan ih!"
"Iya, iya. Pakai seat beltnya!" perintah Bara yang di turuti Syafira.
"Aduh, tadi kayak bocah banget nggak sih aku? Bodo amatlah, sekali-kali manja sama suami sendiri ini, mumpung dia lagi khilaf kayaknya, nggak protes ini dianya," batin Syafira melirik ke arah Bara yang mulai melajukan mobilnya.
Ya, beban hidup yang selama ini harus Syafira tanggung, memaksanya untuk selaku bersikap dewasa kapanpun, di manapun dan terhadap siapapun. Padahal idak di pungkiri, terkadang dalam hatinya ia ingin merasakan di manja, di prioritaskan, di sayang dan di lindungi. Tapi, apa boleh di kata, ia malah menikah dengan suami yang hanya menganggapnya sebagai ibu dari anaknya, bukan istrinya. Lantas mau bermanja-manja bagaimana? Yang ada ia harus bersikap lebih dewasa lagi, lebih strong lagi untuk melindungi hatinya sendiri.
__ADS_1