Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 82


__ADS_3

Bara sudah tidak bisa konsentrasi lagi dengan pekerjaannya. Ia hanya menatap kosong berkas-berkas yang sudah berserakan di lantai tersebut.


"Astaga kak, apa yabg terjadi?" tanya Varel bingung melihat berkas-berkas yang berserakan tersebut. Ia memunguti satu persatu kertas-kertas itu sambil berjalan berjongkok hingga sampai di depan meja Bara.


"Kak, kau baik-baik saja kan? Apa ada masalah?" tanya Varel yang prihatin melihat wajah Bara yang kini sudah tidak tahu bagaiman lagi ekspresinya itu. Menyedihkan.


"Aku pembunuh Rel, aku yang menyebabkan dia kehilangan ayahnya," ucap Bara lirih.


Varel langsung menatapnya tajam, "Maksud kakak? Si~siapa yang kakak bunuh? Ayah siapa? Kakak jangan asal bicara, tidak mungkin kakak seperti itu, jangan mengada-ada kak, ini tidak lucu," ucap Varel tak percaya dengan penuturan kakak iparnya.


"Saat Nala masuk rumah sakit waktu itu, aku menabrak orang Rel, dan orang itu ayahnya Syafira Rel. Om Jhon bilang mereka selamat tapi ternyata orang itu meninggal dan anaknya koma sampi sekarang. Aku telah membunuh ayah mertuaku sendiri," kata Bara dengan tatapan kosong menerawang.


"Tidak mungkin, kenapa bisa seperti ini kak, aku yakin kakak tidak sengaja melakukannya. Apa kakak ipar tahu soal hal ini?" tanya Varel. Ia sangat terkejut dengan berita itu.


Bara menggeleng, "Dia belum tahu, tapi akan segera tahu, aku akan mengaku padanya sekarang," Bara bangkit dari duduknya. Ia akan bicara sejujurnya dengan Syafira.


"Kakak jangan gila, jika Syafira tahu, dia akan marah, bahkan dia bisa minta cerai sama kakak. Pikirkan bagaimana si kembar nanti jika mereka harus kehilangan sosok ibu lagi. Pikirkan juga bagaimana perasaan Syafira jika ia tahu suaminya penyebab ayahnya meninggal. Dan... Apa kakak siap kehilangan dia? Pikirkan semuanya kak,"


Bara terdiam, ia duduk kembali lalu menyisir rambutnya kasar bahkan bisa di bilang ia menjambak rambutnya sendiri.

__ADS_1


"Aku tidak sanggup jika harus melihat Syafira membenci dan meninggalkanku. Kami baru saja memulai semuanya dari awal, aku tidak bisa melihatnya kecewa lagi karenaku," ucap Bara. Ia benar-benar merasa tak berdaya sekarang. Apa yang harus ia lakukan, jika ingat senyuman sang istri, rasanya ia tak akan sanggup untuk meredupkan kembali senyum itu.


" Sebaiknya kita simpan saja semuanya tanpa harus ada yang tahu. Cukup Kakak, aku dan om Jhon yang tahu. Semua demi kebaikan bersama. Syafira tidak perlu tahu kak, dia sekarang sudah bahagia bersama kakak dan menunggu adiknya bangun dari koma, apa lagi yang kurang? Mengatakan yang sebenarnya pun tidak akan bisa mengembalikan ayahnya ke sisinya lagi, semua sudah takdir. Ayahnya sudah meninggal. Yang ada kakak malah akan membuat dia merasa sedih lagi, dan hancur," ucap Varel, mencoba bicara dari sudut pandanganya. Ia tahu, saat ini Bara dalam posisi yang sangat sulit.


"Percayalah, jika Syafira tidak pernah tahu akan hal ini, itu akan jauh lebih baik untuk semuanya. Kakak bisa menebusnya dengan terus membahagiakan dia kak,"


Bara tampak berpikir keras. Ia langsung mengambil kunci mobil dan jas yang tergantung di gantungan khusus di ruangannya tersebut.


"Kakak jangan gegabah, pikirkan baik-baik," Varell memegang lengan Bara. Menahannya untuk tudak pergi.


"Bagaimana jika suatu saat dia tahu? Sekarang atau nanti, sama saja,"


"Lepaskan Rel,"


"Kak..." Varel mengiba, ia tidak mau Bara pergi dan menemui Syafira.


"Aku mau ke makam, lepaskan!" sentak Bara. Varel pun tak berkutik, ia melepaskan tangannya dari lengan Bara.


"Ingat kata-kataku tadi kak, jangan hancurkan semua kebahagian yang sudah tercipta ini," pesan Varel sebelum akhirnya Bara benar-benar pergi.

__ADS_1


🌼 🌼 🌼


Bara sudah sampai di makam korban yang ia tabrak yang kini statusnya sebagai almarhum ayah mertuanya tersebut. Ia meletakkan buket bunga di atas tanah bergunduk tersebut lalu berjongkok.


Beberapa saat, Bara terdiam dengan wajah menunduk kedua tangannya ia tautkan satu sama lain. Seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk mulai bicara.


"Maafkan saya pak, saya benar-benar tidak tahu kalau Bapak adalah orang yang waktu itu saya tabrak. Saya tahu, saya bersalah sama Bapak, Adel dan Syafira. Maafkan saya..." akhirnya Bara mulai mengutarakan isi hatinya kepada mendiang korban sekaligus ayah mertuanya tersebut.


"Bapak jangan salahkan Syafira yang telah menikah dengan saya, si penjahat tak bertanggung jawab ini. Dia tidak bersalah, tak bermaksud menyakiti hati Bapak, Fira tidak tahu apa-apa. Saya yang salah di sini, semua salah saya. Bahkan saya yang memaksa dia menikah dengan saya dengan uang sebagai ancaman...


"Maafkan atas keegoisn saya pak, maaf jika sekali lagi saya harus egois dengan membiarkan kenyataan ini sebagai sebuah rahasia yang tidak ingin saya akui kepada Syafira. Saya sangat mencintai anak Bapak, tidak sanggup jika saya harus kehilangan dia, dan saya tidak sanggup melihat dia membenci saya jika dia tahu semua ini. Ijinkn saya tetap bersama dengan putri Bapak. Tolong maafkan segala salah saya Pak. Saya Janji, akan terus berusaha membahagiakan Syafira dengan segala kemampuan saya... Maafkan saya sekali lagi.. Ayah mertua," Bara berkata lirih di akhir kalimatnya, seakan malu saat mengucapkan kata ayah mertua dengan bibirnya, ia merasa sangat berdosa dan tidak pantas.


Tanpa terasa air mata laki-laki itu kini menetes, terlihat jika hatinya saat ini sedang tersayat-sayat, merasakan sakit akibat perbuatan yang tidak disengajanya itu. Bahkan ia saja masih sulit untuk memaafkan dirinya sendiri.



💠💠 Jangan lupa like, komen dan hadiahnya, terima kasih 🙏🙏


Salam hangat author 🤗❤️❤️💠💠

__ADS_1


__ADS_2