Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 145


__ADS_3

"Aduh masss.. Sakit.. Berhenti dulu maaas, sebentar," kata Syafira yang terus memegangi perutnya.


Barapun menurut, ia menepi kan sepeda motornya.


"Aku nggak mau lahiran di jalan masss," rengek Syafira.


"Iya, enggak enggak. Kamu tahan ya. Mas telvon Barel dulu," Bara langsung menghubungi nomor Varel.


"Halo Rel, dimana? ini Syafira kayaknya mau lahiran, dia udah mules-mules dari tadi," ucap Bara.


"Kakak langsung bawa ke rumah sakit aja," sahut Varel seberang telepon.


"Ya udah, langsung ke rumah sakit,"


"Gitu ya?"


"Ya iyalah, emang mau bantuin lahiran sendiri," Bara hanya meringis. Hal seperti itu saja ia bisa mendadak lupa.


"Aduh, massss" Fira kembali kontraksi. Keringat sudah membanjiri Keningnya.


"Tahan ya sayang, kita jalan lagi ya,"


Syafira mengangguk. Motor kembali melaju dengan cepat sampai akhirnya Bara membelokkan sepeda motornya ke sebuh rumah sakit yang ia temukan tak jauh dari tempat mereka berhenti tadi.


"Di sini aja nggak apa-apa ya? Takutnya nggak keburu kalau di paksakan ke RS Mutiara Bunda,"kata Bara setelah motor berhenti.


" Nggak apa-apa mas. Ini juga udah nggak tahan banget, kayak ada yang ngedorong dari dalam," jawab Syafira.


" Tahan sampai dalam ya sayang. Ayo!" dengan sigap, Bara memapah tubuh Syafira.


" Tolong sus, istri saya mau melahirkan!" ucap Bara ketika memasuki lobby rumah sakit.


Dengan sigap, seorang perawat menghampiri mereka dengan sebuah kursi roda untuk Syafira.


Bara terus memegangi tangan Syafira. Yang sesekali mencengkeramnya erat ketika ia kembali kontraksi.


" Makin sakit masss," ucap Syafira saat mereka masuk ke dalam lift.


"Tahan ya, sebentar lagi...."


"Nggak bisa di tahan. Ngedorong sendiri mas, aduh..."


"Tahan sebentar ya bu, jangan ngejan dulu. Belum di cek udah bukaan berapa, nanti ibu malah kehabisan tenaga," ujar suster.


Sampai di ruang persalinan, suster langsung menghubungi dokter jaga.


"Baring dulu di sini ya bu, sambil menunggu dokter datang. Beliau sedang dalam perjalanan kesini," kata suster sambil menyiapkan peralatan.


Syafira berusaha tenang, ia terus menarik napas dalam lalu mengembuskannya pelan-pelan.


"Sus, ini mana dokternya. Kok belum sampai," tanya Bara, ia terus mengusap punggung Syafira.

__ADS_1


"Sakit ya... Tahan ya sayang. Sebentar lagi anak kita akan lahir, kita akan ketemu anak kita," ucap Bara lembut.


"Mas kalau nggak bisa, tunggu di luar aja nggak apa-apa," ucap Syafira ketika mulesnya sedikit berkurang.


"Enggak, mas akan tetap disini nemenin kamu. Mas mau menyambut kelahiran anak kita," Bara terus mengecup punggung tangan Syafira.


"Selamat sore, bapak, ibu," sapa dokter yang baru saja masuk dengan ramah smbil memakai sarung tangan steril.


"Sore dok," jawab Syafira sambil meringis karen kembali kontraksi. Sementara Bara hanya mengangguk.


"Udah sering ya kontraksi nya? Di periksa dulu ya udah bukaan berapa," Dokter menekuk kaki Syafira lalu memeriksanya menggunakan jari-jemarinya.


"Sejak kapan mulesnya?" tanya dokter.


"dari pagi udah agak mules dok, tapi masih biasa aja. Saya kira mules biasa, kok ini tadi mulesnya makin menjadi," jawab Syafira.


"Wah, udah bukaan sembilan. Dedek ya udah nggak sabar ya ketemu ayah bundanya," ujar dokter tersenyum.


" Ketuban nya belum pecah ya, saya pecahkanya, biar bukanya makin cepat"


Pyok! Bunyi ketuban pecah.


"Jangan ngejan dulu ya bu, sebelum saya instruksikan nanti. Tunggu bukaan lengkap dulu, ya. Ini kayaknya nggak akan nunggu lama, sebentar lagi. Debaynya udah nggak sabar buat keluar, "


" Tapi kayak ada yang ngedorong dok, maksa buat ngejam, kayak ada yang mau keluar, " keluah Syafira.


"Di tahan ya bu, nggak akan lama kok. Istrinya diajak ngobrol saja dulu Pak, supaya rileks. Setengah jam lagi saya periksa lagi," kata dokter.


"Aduh mas, ada yang mau keluar ini. Udah ngeganjel maksa keluar,"


Bara yang panik, baru akan memanggil dokter tapi Syafira mencengkeram lengannya sangat kuat sambil mengejan.


"Huf Huf Huf Aarrgggghhh" Syafira mengejan kedua kalinya dengan mulut mengatup.


"Dokter! Suster!" teriak Bara. Ya, ia hanya bisa berteriak karena tidak mungkin meninggalkan Syafira yang terus mencengkeram tangannya.


"Eeeemmmhhhh" bersamaan dengan Syafira mengejan yang ke tiga kali, terdengar suara tangisan bayi yang melwngking memenuhi seluruh ruangan tersebut.


"Eh, keluar mas..." ucap Syafira sambil mengatur napas.


"Aduh, dokter!!!" teriak Bara bersamaan dengan masuknya dokter ke dalam ruangan.


"Wah udah lahir ya, enggak nunggu dokter dulu. Cepat banget ya, baru di tinggal sebentar, udah nggak sabar ya ganteng?" seloroh dokter sambil memotong tali pusat. kemudian menyerahkan bayi merah tersebut kepada suster untuk di bersihkan untuk kemudian di ukur berat badan, dan tingginya serta di hangatkan.


Pandangan Bara tak pernah lepas menatap bayi mungil itu sambil terus mengecup tangan Syafira.


Syafira kembali merasakan kontraksi namun tak sesakit tadi, bisa di bilang kontraksi ringan.


"Duh dok, kok mules lagi," ucap Syafira.


"Tidak apa-apa bu, ini plasentanya mau keluar. Saya bantu ya bu, pelan-pelan," kata dokter yang membantu menarik tali plasenta dengan sangat lembut.

__ADS_1


Setelah di bersihkan, bayi itu di letakkan di atas dada Syafira. Bara dengan takjubnya menatap sang anak yang sedang berjuang mencari sumber kehidupannya tersebut.


" Kiri kiri sayang, ayo sebentar lagi," ucap Bara gemas sendiri melihat bayi mungil itu tak kunjung menemukan apa yang ia cari.


"Ayah bantu ya," ujarnya lagi yang tak sabar. Syafira yang tak lepas memandang bayinya, langsung menoleh, "Ssssttt, jangan ganggu konsentrasi dia mas," ucapnya.


"Yesss!!" seru Bara ketika bayi laki-lakinya berhasil mengecap puncak dada Syafira.


"Makasih ya sayang. Kamu udah berjuang melahirkan jagoan kita ke dunia ini. Makasih udah ngasih hal terindah buat mas," Bara tak henti-hentinya bersyukur, ia terus menciumi kening Syafira.


sementara dokter bersiap melakukan reparasi di bawah sana setelah selesai membersihkan sisa-sisa darah yang menggumpal.


"Robeknya nggak lebar ini, di jahit dua ya," ucap dokter.


Syafira kembali meringis ketika dokter menjahit di bawah sana.


"Sakit dok,"


"Tapi nggak sesakit tadi kan, cuma seperti di gigit semut kok," kata dokter tersenyum.


🌼 🌼 🌼


"Selamat ya bu, anaknya ganteng seperti ayahnya," dokter datang dengan menggendong bayi laki-laki lucu yang di balut oleh sebuah kain saat Syafira tengah mengobrol dengan Bara.


"Makasih, dok," ucap Syafira.


Dokter menyerahkan bayi tampan itu ke pelukan Syafira.


"Ganteng mas," ujap Syafira dengan mata berbinar dan siap mengeluarkan cairan bening karena terharu.


"Iya, ganteng," sahut Bara setuju. "Hallo baby Zio, jagoan ayah, selamat datang di dunia ya. Jadi anak soleh ya, jadi jagoan ayah bunda," Bara mengusap pelan pipi anaknya.


"Ih, lucu sekali mas," seru Syafira saat anaknya menggeliat karen sentuhan lembut dari Bara.


"Ya ampun," ujar Bara gemas. Tak bosannya ia memandang buh cintanya bersama Syafira tersebut.


Tiba-tiba ponsel Bara berdering, nama Varel memenuhi layar ponselnya.


"Hallo..."


"Kak, Syafira melahirkan dimana sih? Aku sama mama nyariin di rumah sakit mutiara bunda nggak ketemu. Di rumah sakit lain juga enggak ada. Mana nomor kakak nggak bis di hubungi tadi. Nggak jadi lahirannya?" tanya Varel.


Bara pun menjelaskan jika Syafira sudah melahirkan, ia menyebut nama rumah sakit dimana mereka kini berada.


"Wah gila! Lahiran kenapa harus jauh-jauh kesana sih. Biar apa coba, untung nggak brojol di jalan. Pantas di cariin nggak ada. Aku kira pending lahirannya," omel Varel yang sudah lelah mencari.


"Ceritanya panjang, intinya Syafira sudh melahirkan bayi laki-laki tampan dengan selamat," sahut Bara.


"Beneran cowok kan? Berarti namanya yang di pakai yang aku siapin siapin ya. Ziovan Argantara Osmaro," ucap Varel.


"Hem," jawab Bara mengangguk sambil mengusap gemas pipi baby Zio.

__ADS_1


🌼 🌼 🌼


__ADS_2