Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 81


__ADS_3

Bara benar-benar merasa menjadi pria paling brengsek di dunia. Bukan maksudnya untuk tidak bertanggung jawab atas perbuatannya, tapi begitulah nyatanya. Dia memang melakukannya dan tanpa sadar bebas lari dari tanggung jawabnya.


Berkali-kali Bara berteriak fruatrasi, menyugar rambutnya menngunakan kedua tangannya.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Bahkan untuk menangis menyesali perbuatannya pun ia tak mampu, semua terasa tercekat dalam tenggorokannya.


Tiba-tiba ponselnya bergetar, di lihatnya ada pesan masuk dari sang istri.


"Mas jangan lupa makan siang ya. Love you ❤️❤️," Bara maremat ponselnya dengan tangan bergetar.


"Iya sayang, kamu juga ya. Gimana, udah enakan?" Bara mengetik balasan untuk Syafira, tanpa terasa air matanya menetes,"Fira sayang, maafin mas sayang," gumamnya penuh penyesalan.


"Udah sembuh mas, nggak usah khawatir. Nih ada Mia sama Shinta main ke rumah, jadi rame. Mas semangat kerjanya," balasan dari Syafira. Gadis itu tampak ceria sekali layaknya seorang gadis yang sedang jatuh cinta dan cintanya berbalas.


Bara mengusap wajahnya kasar, ia tak sanggup lagi untuk membalasnya, hatinya semakin sakit. Kenapa semua jadi seerti ini, apa dia tidak layak untuk bahagia. Dulu ia harus kehilangan Olivia dan membesarkan si kembar sendiri dalam kekosongan. Kini di saat ia sedang merangkak bahagia bersama istrinya dan si kembar, ia harus mendapati kenyataan bahwa dia sudah menghancurkan hidup Syafira.


Bara terus memijat pelipisnya, kepalanya serasa berdenyut kencang. Namun, sakit di hatinya lebih besar dari itu. Ia bahkan kecewa dan marah dengan dirinya sendiri.


Bara ingat bagaimana kerasnya hidup sang istri selama ini. Adiknyabyang sampai sekarang bahkan masih koma, ibunya yang begitu tega dan tak berperasaannya. Hanya Baralah saat ini yang menjadi kekuatan dan tempat bersandar Syafira. Lalu bagaimana ia akan sanggup jika Syafira tahu, jika sandarannya selama ini adalah penghancur hidupnya.


"Aaarrgghhhh, bodoh bodoh bodoh! Dasar kamu laki-laki berdosa Bara!" teriak Bara frustrasi.


🌼 🌼 🌼


Sementara itu, kehebohan sedang terjadi di kediaman Osmaro. Bagaimana tidak, kini sedang berada di sana. Syafira, Mia dan Shinta tampak sedang mengobrol di samping kolam renang, mereka habis keliling melihat-lihat rumah tersebut.


"Cieeee yang lagi fallin in love, senyum-senyum sendiri. Serasa dunianmilik berdua, yang lain ngontrak," goda Mia ketika melihat Syafira senyum-senyum saat berkirim kepada suaminya.


"Syirik aja sih Mi, pengin ya nikah dong. Enak tahu Mi, Shint, pacaran halal tuh, bebas mau ngapain aja," Syafira sengaja mengompori kedua sahabatnya yang sejak tadi ngecengin dia terus.


"Bener tuh, kayaknya ya nikah muda dapat suami dewasa, kaya, negmong gitu. Adem bener kayaknya hidup ya, nggak susah-susah mikirin uang belanja, ngalir aja sendiri tuh uang. Nggak perlu ngapa-ngapain lagi, semua udah beres, hanya perlu nyenengin suami di ranjang, tinggal telentang pasrah aja di kasur udah, nikmatnya," ujar Mia sambil membayangkan.


" Astagfirullah Mi, itu otak ngeres amat sih, perlu di sapu pakai sapu ijuk kayaknya. Telentang pasrah, telentang pasrah. Kayak pernah ngerasain aja," Shinta menoyor kepala Mia.


" His mbul, jangan main toyor aja kenapa, lagi menghayal juga. Ini kepala di fitrahin tau!" Mia mencebik sambil mengusap-usap kepalanya.


" Habisnya, kamu tuh, jangan kebanyakan menghayal yang gitu-gitu, kita kan jomblo nggak ada saluran. Beda sama Fira, dia mah nggak perlu menghayal lagi, udah nyata terpampang di depan mata. Mau usap dada bidang, perut roti sobek atau ular cobra tinggal minta suami buka baju dan celana udah deh bisa usap puas-puas. Lah, kalau kita yang jomblo ini, hanya nambah dosa," celetuk Shinta panjang lebar.

__ADS_1


" Yeee kamu mah sama aja mbul, ujung-ujungnya kesitu juga kan," protes Mia.


" Eh Fir, ada ide buat berbagi suami nggak, susah nyari yang paket komplit yang dapat bonus plus, plus, plus begitu," Mia beralih meantapa Syafira.


"Wiiih sembarangan banget sih Mi kalau ngomong, Fira mana maulah berbagi sama kamu. Kalau aku jadi Fira, udah aku kekepin terus tuh om dudanya biar nggak di goda sama cewek lain," ucap Shinta.


"Yaelah, bercanda kali mbul. Serius amat," timpal Mia.


Syafira hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar celotehan-celotehan absurd dari kedua sahabatnya.


"Kalian ini, ke sini buat jenguk aku atau mau julid sih," tanya Syafira.


"Ya sekalianlah, lagian kamu udah sembuh gitu, udah bisa di ajak ghibahin suami kamu kan. Aku curiga deh, kamu itu sakit apa sakit apa sakit sih, jangan-jangan kamu tekdung lagi Fir," ucap Mia.


"Wah bisa jadi tuh Fir, kan tadi pagi pusing sekarag udh sembuh, morning sicknesa kali," sambung Shinta.


"Nggaklah, orang beberapa hari yang lalu kok ngelajuinnya, masa udah jadi," sahut Syafira keceplosan.


Mia dan Shinta langsung melihat ke arah Syafira, menatapnya tajam.


"Serius? Gimana, gimana?" tanya Mia antusias.


"Rasanya? cerita dong gimana rasanya waktu pertama ngelakuin itu? Enak nggak? Itunya si om gede nggak, secara dia kayak bule-bule gitu kan ya, sesak nggak Fir?"


"Iya Fir, bagi pengalaman dong, ayo cerita," Shinta mendukung icapan Mia.


"Ya ampun, aku salah ngomong. Udah ah, nggak usah bahas begituan, itu privasi nggak boleh ada yang kepo! Nggak perlu pengalaman, nanti juga bakal bisa sendiri secara alamiah. Tuh, anak-anak udah pulang, jaga bicara kalian di depan mereka," ucap Syafira, ia mendengar suara klakson mobil masuk ke halaman rumah, ia tebak itu pasti bu Lidya dan si kembar.


Syafira meninggalkan kedua sahabatnya untuk menyambut bu Lidya dan si kembar.


" Gimana keadaan kamu sayang? Udah enakan? "tanya bu Lidya.


" Udah kok bu. Cuma masuk angin biasa, dan sekarang sudah sembuh kok," jawab Syafira.


" Syukurlah kalau begitu, nanti minta suami kamu buat di rem dulu, jangan mau kalau dia nagih terus minta jatah. Kamu juga butuh istirahat, capek kalau di forsir tenaganya buat begituan,"


Syafira tersenyum tipis, nggak sahabatnya nggak bu Lodya semua kenapa otak isinya ngeres sih, pikirnya.

__ADS_1


" Kan dosa bu kalau Fira nolak, lagian nggk seperti yang ibu pikirkan kok, aku masuk angin bukan karena itu," ucap Syafira.


" Hem, ya udah, ibu langsung balik yah, masih ada urusan. Nggak apa-apa kan si kembar ibu tinggal, kmu beneran udah sehat?"


"Iya bu, Fira udah sehat kok," sahut Syafira.


"Eh ada teman-teman Fira ya?" ucp bu Lidya ketika melihat Mia dan shinta mendekati mereka.


"Iya tante, tante makin cantik aja," sahut Mia.


"Ah kamu bisa aja, sayang sekali tante masih ada urusan. Kalau nggak, kita bisa tuh ngobrol-ngobrol cantik dulu. Ya udah, tante duluan ya. Ibu pulang ya Fir," pamit bu Lidya.


"Hati-hati bu," Syafira menyalami bu Lidya, diikuti oleh Mia dan Shinta.


"Hati-hati di jalan tante," ucap Shinta.


"Teman-teman kamu asyik, ibu suka. Jadi ingat masa muda dulu," ucap bu Lidya sebelum benar-benar pergi.


"Kalian santai aja dulu, aku mau urus si kembar dulu," ucao Syafira.


"Kita balik aja Fir, udah siang juga," ucap Shinta.


"Makn siang aja di sini sekalian, udah jam segini. Udah kalian santai aja, bentar ya aku ke atas dulu, nanti kita makan siang bareng sama si kembar, baru kalian boleh pulang. Nggak bileh pulang sebelum kenyang," ucap Syafira tersenyum.


"Terserah apa kata nyonya saja dah, kita manut," sahut Shinta.


"Kalau soal makan aja, kamu manut-manut aja Shint. Eh beneran ini nggak apa-apa Fir, Nggk ngerepotin. Suami kamu nggak marah kita mainnya lama di sini?" ucap Mia.


"Nggak repot, mas Bara nggak akan marah, dia udah jinak sekarang, nggk usah takut, nggak bakal marah,"


Syafira naik ke atas, menyusul si kembar yang sudah ke atas duluan tadi. Ketika di depan pintu kamar si kembar, ponselnyang ia pegang berdering. Ia membuka pesan yang masuk


"Fira, ada hal penting yang ingin ibu bicarakan, jika kamu ada waktu dan masih anggap ibu, tolong temui ibu," isi pesan dari nomor yang tak di kenal yang ternyata ibu Syafira.


Syafira memejamkan matanya sekejap sambil menghela napasnya dalam.


"Baiklah, sore ini di cafe xxx," balas Syafira. Mungkin menemui ibunya adalah yang terbaik, cepat atau lambat m, ia harus menghadapi ibunya. Ada banyak hal yang ingin ia tahu tentang ibunya, banyak yang ingin ia tanyakan termasuk kenapa selama ini ibunya tidak pernah menemuinya maupun Adel.

__ADS_1


🌼 🌼 🌼


__ADS_2