Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 134


__ADS_3

Malam hari...


Bara telah selesai memasak makan malam untuk Syafira dan yang lainnya. Sejak dokter bilang Syafira pingsan karena makan tidak teratur yang ia artikan sebagai 'kurang makan', Bara berjanji akan selalu memperhatikan pola makan sang istri. Ia akan astika jika Syafira makan dengan baik dan tepat waktu.


Dan... Tara... Di meja makan tersaji beberaa menu makanan yang berhasil Bara eksekusi.


"Waaaah ada chef dadakan nih rupanya," ucap Varel sambil menarik kursi untuk ia duduki.


"Eh tapi ini boleh buatbkita juga kan kak, jangan bilang cuma buat peri manis doang," imbuhnya yang langsung mendapat tatapan tajam dati Bara. Varel hanya meringis, sejurus kemudian ia melihat Adel yang baru keluar dari kamar mandi, "Eh bocah, sini! Ayo makan bareng!" ajak Varel.


"Ayo dek makan," Adel yang tak tahu jika Bara yang memasak, ikut bergabung bersama mereka.


"Uwak mana?" tanya Adel yang tak melihat uwak.


"Ke rumah tetangga, ada hajatan katanya. Makan di sana, langsung balik jagain Dito katanya," Bara yang menjawab. Adel diam tak bertanya lagi.


Syafira memgambilkan nasi dan lauk untuk Bara, hal yang biasa ia lakukan dulu kini ia lakukan kembali.


"Makasih," ucap Bara.


Adel hanya memperhatikannya diam-diam.


"Mau mas suapin lagi?" tawar Bara, ia senang karena selera makan Syafira akan bertambah jika ia suapi. Namun, justru Syafira menatapnya tajam, mengisyaratkan jika mereka tidak hanya berdua.


Bara memgatupkan bibirnya dan melihat Adel dan Varel yang melempar tanda tanya kepadanya dengan raut wajah mereka. Bara pura-pura cuek dan mulai menyendok makanannya.


"Makan dek," ucap Syafira, ia juga mulai makan.


Suasana menjadi hening saat mereka mulai makan. Tak ada perbincangan satu sama lain.


"Hem enak ya, boleh nambah nggak nih?" ucap Varel memecah keheningan.


"Ya enaklah, apapun yang kakak masak pasti enak," sahut Adel.


"Iya emang enak, tapi.... Yang masak kak Bara dong bukan Fira," ucap Varel, nyengir puas melihat ekspreai wajah Adel yang langsung berubah. Serasa ingin mengeluarkan kembali apa yang sudh ia telan sejak tadi.

__ADS_1


"Kenapa, malu ya? Sebel sama orangnya tapi makan masakannya lahab bener. Keluarin lagi gih kalau bisa," ledek Varel yang melihat nasi di piring Adel sudh tandas tak tersisa.


Antara kesal dan malu, Adel langsung meninggalkan mereka dan amsuk ke dalam kamar.


" Lahh, ngambek!" gumam Varel.


" Rel... " peringat Bara.


" Sorru kak, bercanda doang. Lucu lihat dia ngambek giti," sahut Varel.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ


"Kak, ngapain sih kita ke sini? Udah kayak penguntit tahu nggak?" protes Varel. Pasalnya ia dan Bara kini diam-diam sedang mengikuti Syafira fan Adel ke pasar malam yang ada di lapangan, tak jauh dari rumah uwak.


"Ssstt diam kamu. Aku tuh, khawatir sama Fira. Dia baru aja siang tadi pulang dari puskesmas, eh ini malah ke pasar malam, takut dia kecapean," jawab Bara.


"Lagian ini juga salah kamu Rel, pakai godain Adel segala tadi, jadi ngambek kan dia. Fira jadi nggak bis nolak waktu diajak ke pasar malam, biar Adel bggak badmood lagi," imbuhnya.


Varel hanya berdecak, "Iya iya, aku yang salah. Tapi kenapa juga harus beli permen kapas segala, mau buat oleh-oleh buat Nala?" ucapnya yang kini sedang ngekepin permen kapas.


"Nggak lihat kamu tadi pas mau masuk Fira megang-megang permen kapas,"


"Aku nggak mau aja, nanti anakku ileran. Fira kalau mau apa-apa belum mau bilang sama aku, takutnya ini indikasi ngidam. Udah, jangan cerewet, nanti mereka tahu, kena damprat Adel lagi," ucap Bara, karena tadi sebelum berangkat, Adel sudah mewanti-wanti untuk tidak ikit mereka. Ia dn Syafira ingin me time berdua saja, bernostalgia mengenang masa kecil mereka dulu yang sering ke asar malam jika sedang berada di rumah uwak.


" Terserah deh, semua aja tuh yang di lihat atau di pegang Fira di beli," sungut Varel.


"Rencananya emang begitu," sahut Bara datar.


"Astaga!" Varel hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Yang diurusin Fira terus,"


Bara menoleh, "Dia istriku, salah? Mau aku urus juga kamu?" ucapnya sebal.


"Bukan gitu, urus juga gimana cara luluhin tuh si kepala batu, Adel. Bujukin kek, supaya dapat maaf. Baik-baikin kek, gimana caranya ngambil hatinya. Kuncinya kan ada di dia, dia oke, semua beres,"

__ADS_1


"Cukup dengan jadi diriku sendiri, itu cara paling ampuh buat ngebuka hati dia Rel. Nggak perlu lakuin pencitraan supaya dimaafkan. Aku ingin dia menilai sendiri dengan hatinya," jawab Bara diplomatis. Varel mengangguk setuju dengan pemikiran Bara.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ


Saat pulang ke rumah, Syafira dan Adel terkejut melihat begitu banyak barang di ruang tamu.


" Ini apa kak? Pasar malamnya pindah ke sini?" tanya Adel.


" Nggak tahu dek," jawab Syafira bingung. Seingat dia, barang-barang yang ada di ruang tamu tersebut adalah barang-barang yang ia lihat tadi di pasar malam. Dari kembang gula yang tadi di kekepin Varel, sampai balon yang diisi hidrogen ada di ruang tamu.


" Apa ulah dia kak?" Adel menunjuk Varel yang terlelap di atas permadani depan televisi. Syafira mengangkat bahunya tanda ia tak mengerti.


"Eh, udah pulang kalian?" ucap Bara yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa segelas susu untuk ibu hamil. Ia meletakkannya di meja, "Di minum ya susunya, mas taruh sini. Kalau sudah bersih-bersih, langsung istirahat ya?" ucapny kepada Syafira lalu melangkah menuju kamarnya. Sebenarnya ia ingin menemani Syafira meminum susunya, tapi ia urungkan.


Tadi, Bara sedang duduk di teras rumah sambil was-was menunggu Syafira dan Adel yng tak kunjung pulng ke rumah, padahal ia dan Varel sudah beberapa lama tiba di rimah terlebih dahulu. Saat ia mendengar suara Syafira dan Adel dari kejauhan, ia langsung measuk ke dapur untuk membuatkan susu yang ia beli sore tadi untuk Syafira.


"Aku nggak suka susu," gumam Syafira.


Bara tersenyum memandanganya, "Mas tahu, tapi di usahakan diminum ya? Demi anak kita," ucapnya, Syafira melangkah mendekati susu tersebut lalu mengambilnya.


"Mas yang beli ini semua?" tanya Syafira yang kini menggenggam segelas susu hamil.


Bara yang sudah akan melngkah masuk ke kamar yang letaknya di samping rung tamu tersebut, mengurungkan niatnya dan kembali menoleh, menatap Syafira seraya tersenyum canggung," Iya, maaf tadi mas khawatir, jadi ngikutin kamu ke pasar malam," ujarnya jujur.


"Tapi, ini semua buat apa?" tanya Syafira menunjuk semua yang di beli Bara di pasar malam.


Bara hanya bis nyengir lalu mengusap tengkuknya, "Nggak apa-apa. Mas nggak tahu, kamu tadi lihatin dan megang-megang itu semua karena ngidam atau gimana, tapi kamu ngga ada beli satu pun. Mas takut anak kita nanti ileran, heee," ucapnya polos yang mana membuat Adel menahan tawanya. Tanpa sadar, ia bergumam dalam hati," Sweet banget sih,"


Bukannya sebal atau gimana dengan ulah suaminya yang berhasil menyulap ruang tamu seperti pasar malam tapi ia justru terharu. Tanpa ragu, Syafira langsung meminum susu yang masih dalam genggaman tangannya sampai habis demi melihat ekspresi senang dari suaminya yang sudah berusaha.


Bara tersenyum melihatnya lalu menghilang di balik pintu kamar.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ


๐Ÿ’ ๐Ÿ’ Jangan lupa like, komen dan mawarnya, syukur2 teh atau kopi ๐Ÿคญ. Votenya kalu masih ada boleh juga kok buat mas Bara ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

__ADS_1


๐Ÿ’ฆYang bosan Adek nggak maaf2in, yang sabar ya, semua butuh proses untuk menyelesaikan konfliknya


Salam hangat untuk para readers kesayangan ๐Ÿค—โค๏ธโค๏ธ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ 


__ADS_2