Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 107


__ADS_3

"Tasya mana Rend?" tanya dokter Niken.


"Oh itu, anu... Tasya udah tidur tadi di gendong bibi ke kamarnya," jawab dokter Rendra.


"Oh, kmu bisa balik sekarang. Makasih udah antar aku pulang dan juga gendongannya. Nggak perku capek jalna ke kamar jadinya," ucao dokter Niken mencoba menetralkan kecanggungan yang terjadi sesaat tadi.


"Ken,.." wajah dokter Rendra tiba-tiba langsung serius.


"Kenapa rend?" tanya dokter Niken, niatnya bikin santai biar nggak tegang suasana, eh kok malah jadi serius gini.


"Aku boleh tanya sesuatu?" wajahnya tampak semakin serius.


"Tanya aja nggak apa-apa," jawab dokter Niken penasaran sebenarnya apa yang ingin laki-laki di depannya itu tanyakan. Kenapa wajahnya tampak serius sekali.


"Soal ayah kandung Tasya, dimana?" tanya dokter Rendra hati-hati. Ia tahu dokter Niken paling tidak suka membahas soal itu. Tapi rupanya ucapan Syafira tadi cukup mengusik hati dokter Rendra. Pasalnya bukan ia tak menyadari ada kemiripan antara dirinya dan Tasya, tapi ia benar-benar merasa pernah melakukannya dengan dokter Niken.


"Ke-kenapa nanyain hal itu. Bukannya aku sudah bilang ayahnya nggak ada Rend, nggak ada. Dia pergi waktu hamil Tasya," ucap dokter Niken terbata.


"Apa kamu nggak berusaha cari dia Ken?"


"Buat apa, dia bahkan nggak tahu aku hamil anaknya," ucapnya lirih.


"Siapa laki-laki itu Kend,?" selidik dokter Rendra. Rupanya ucapan Syafira benar-benar mengganggu pikirannya.


"Ada, pokoknya ada Rend. Waktu kamu sibuk ngagumin Olive, waktu kamu sibuk meratapi nasib karena Olive memilih Bara, itu aku ada laki-laki yang juga aku cintai Rend. Ada pokoknya!"


"Nggak usah di bahas lagi! Kenapa tiba-tiba bahas itu sih! Biasanya nggak pernah. sana pulang udah malam, aku capek mau istrirahat," ujar dokter Niken Ketus.


"Tapi ken...,"

__ADS_1


"aku bilang cukup Rend. Nanti, nanti kalau waktunya Tasya tahu, aku bakal kasih tahu dia siapa ayahnya. Kenapa? Apa sekarang kamu juga mau nyalahin aku kayak papa, seorang janda yang hamil di luar nikah begitu? Malu punya sahabat kayak aku kan? Pasti berpikirnya kasihan Tasya kan? Lalu siapa, siapa yang mikirin perasaan aku Rend, siapa?" entah kenaoa dokter Niken tampak sensitif sekali malam ini tidk seperti biasanya yang akan memberikan jawaban diplomatis kalau ada yang bertanya perihal Tasya. Sepertinya ucapan Syafira juga telah mempengaruhi moodnya.


"Kok kamu jadi bilang gitu, ya udah sepertinya kamu benar-benar lelah. Buat istirahat aja. Aku pergi," ucap dokter Rendra. Ia merasa bersalah sudah membuka topik pembicaraan soak ayah kandung Tasya, peremouan Manapun pasti akan bereaksi berlebihan jika soal hal sensitif seperti itu.


" Iya, kamu hati-hati di jalan, sampai ke temu besok,"suara dokter Niken juga terdengar sudah stabil.


"Setelah ini aku masih ada urusan, mau ke ngerayain ultah dokter Rega," ucap dokter Rendra sebelum ia melangkahkan kakinya mendekati pintu.


"Jangan minum, kamu parah kalau mabuk Rend!" seru dokter Niken.


Dokter Rendra menoleh, "Iya, aku tahu,ini aman kok, Rega bersih orangnya nggak akan ada begituan,"ucapnya tersenyum. Ia memang paling tidak bisa minum alkohol barang sedikit saja sudah mabuk. Apalagi kalau kebanyakan, ia jadi lupa diri, lupa segalanya. Seperti kejadian enam tahun lalu, ia pernah mabuk berat sampai berhalusinasi melakukan hubungan ranjang dengan Olivia.


"Iya sangat parah, kamu bahkan lupa kenapa bisa sampai ada Tasya," gumam dokter Niken lirih tak terdengar dengan mata nanar. Ia pun segera menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya, lelah sekali ia rasakan malam ini, sampai tak berniat untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


" Karena udah bangun, mandi dulu baru tidur!"suara dokter Rendra yang kembali muncul dari balik pintu tiba-tiba mengagetkannya.


"Ken...!" teriak dokter Rendra dari balik pintu. Ia tahu kebiasaan sahabtanya itu suka jorok langsung tidur kalau sudaj lelah, pikirnya.


"Iya Rend, ini juga mau mandi. Bawel!" geram dokter Niken namun tersenyum, setidaknya laki-laki itu perhatian dengannya meski dalam versi berbeda, sebagai sahabat.


🌼 🌼 🌼


Hari-hri berikutnya terlewati begitu saja. Sejak malam charty dinner waktu itu, tak ada pembahasan kebih lagi soal Tasya. Bak di telan angin, topik itu berangsur pergi tanpa meninggalkan kelegaan baik bagi Syafira, maupun dokter Rendra.


Sudah sebulan ini Syafira magang di Osmaro Corp. Ternyata cukup menyenangkan juga bisa sekantor sama suami . Kalau rindu tinggal melangkah langsung bisa peluk orangnya. Makan siang juga bisa barengan, setidaknya itu hal positif yang ia dapatkan. Apalagi , akhir-akhir ini Syafira lagi senang-senangnya nempel kepada suaminya tersebut.


Sekembalinya Syafira dari toilet, Mia datang menghampirinya, "Fir, suruh bawain teh ke ruang pak Bara," ucap Mia.


"Lagi?" tanya Syafira, perasaan sejak agi tadi ia sudah bolak balik ke ruangan itu.

__ADS_1


"Ho oh, kurang kali tadi jatahnya makanya pengin lagi," Mia mengerlingkan matanya menggoda Syafira.


"Ck, apaan sih," Syafira berdecak, ia tetap berjalan menuju ke pantry untuk membuatkn suami tercintaya itu teh. Awalnya ia kesal, ada aja alasan Bara unyuk menyuruhnya ke ruangan presdir. Namun lama-lama ia terbiasa, resiko punya suami sekantor, dia yang punya lagi, jadi bebas mau nyuruh apa aja. Dan seminggu terakhir ini, ia juga merasa sering kangen dengan suaminya tersebut.


Syafira masuk setelah mengetuk pintu, matanya langsung tertuju kearah meja. Kopi, teh, sirup, semua masih utuh di sana. Belum ada yang habis satupun.


"Mas ngerjain aku ya, itu minum masih banyak belum ada habis udah minta lagi," sungut Syafira. Yang di omelin malah tak mendengar, ia sedang serius menatap dokumen di tangannya.


"Serius amat, kening sampai mengkerut begitu," gumam Syafira. Raut wajah Bara juga tampak geram.


"Mas..." Syafira mendekati suaminya.


"Eh, ada apa sayang?" tanya Bara langsung menutup dokumen dan meletakkanya di meja.


"Lagi ada masalah ya? Muka mas serius banget, aku masuk sampai nggak ngeh gitu," kata Syafira.


"Ada sedikit masalah, o ya tadi kamu bilang apa sayang?"


"Itu, minuman belum pada habis ko udah minta lagi, nanti diabetes kalau terlalu banyak minum manis," ucap Syafira. Ia duduk di kursi depan meja Bara.


"Alasan mas aja kan nyuruh aku ke sini?" selidiknya cepat.


Bara tersenyum, melihat istrinya membuat pikirannya yang barusan awut-awutan langsung sedikit fresh, "Susunya kan belum ada," ucapnya.


"Lah tadi kata Mia mas minta teh, kok sekarang susu?" tanya Syafira bingung.


"Susu ini maksudnya," Bara sudah berdiri di belakang Syafira, membungkuk dan menyelipkan kedua tangannya dari celah ketiak Syafira dan berhenti tepat di dada Syafira.


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


__ADS_2