
"Kenapa sih Fir? Dari tadi aku lihat kamu banyakan diam dan melamun?" tanya Mia.
"Iya, kamu lagi sakit? Atau sariawan? Kok tumben banyak diam dari tadi," Shinta mengimbuhkan.
Syafira menggeleng lalu mengembuskan napasnya pelan.
"Terus kenapa? Nggak lagi berantem kan sama om Bara?" tanya Mia lagi.
"Kayaknya enggak deh, lihat aja tadi masih mesra gitu. Kalau lagi berantem mana mau om Bara nyoum Fira waktu mau pergi," bukan Syafira yang menjawab melainkan Shinta.
"Terus kenapa dong, Fir? Jangan bikin panik deh!"
"Aku hamil lagi," jawab Syafira tak bersemangat. Bukan tak menerima, tapi masih shock.
"Ohhh, kirain kenapa? Ya bagus dong, enggak apa-apa. Kan ad suaminya ini, kalau aku yang hamil baru berabe," kata Mia santai.
"Iya ih, justru harusnya senang dong, Fir. Bisa ngandung bibit unggul om Bara lagi. Gila ya tuh mantan duda, tokcer juga," sambung Shinta.
"Tapi kan aku pengin ceat lulus, kita masuk kuliah bareng, tapi lihat! Kalian sekarang udah kerja, aku masih belum apa-apa. Zio juga masih kecil," jawab Syafira yang merasa bersalah dengan bayi yabg tidak jadi bungsu itu.
"Ya ampun, buat apa lagi mikirin kerja. Suami udah tajir melintir begitu. Tinggal jadi ibu yang baik urus anak sama suami dengan baik aja, sih. Udah ada usaha juga kan? Toko kamu udah buka ada beberapa cabang begitu, nikmat mana lagi yang kamu dustakan, Fira sayang?"
"Bukan soal pekerjaan. Tapi, aku penginnya lulus dulu, paling nggak, minimal Zio lepas asi dulu gitu. Ini bukannya nolak dan nggak senang, tapi terlalu kecepatan menurutku. Bayang-bayang mules waktu lahirannya Zio aja serasa belum hilang. Mas Bara benar-benar ngeselin!"
"Yaudah sih, syukuri saja. Enak malahan, masih muda gini udah mau punya anak empat. Nanti anak-anak udah remaja dan dewasa, kamunya masih muda banget," kata Shinta.
__ADS_1
Syafira terdiam, ia membenarkan kata-kata Shinta. Tapi, ini benar-benar di luar prediksinya. Benar-benar, suaminya memiliki benih bibit unggul. Padahal mereka sudah hati-hati masih saja kebobolan. Arrrghhh! Syafira bisa stres sendiri jika terlalu memikirkannya.
"Aku udah mau empat, kalian jodoh aja belum kelihatan," ucap Syafira meringis. Membayangkan dirinya yang masih sangat muda sudah menjadi ibu dari empat orang anak.
Di saat Syafira tengah asyik mengobrol dengan kedua sahabatnya, Adel dan Varel datang.
"Tunggu di sini, aku siap-siap dulu!" ucap Adel kepada Varel setelah menyapa kakak dan kedua sahabatnya.
"Mau kemana lagi, dek? Baru juga pulang udah mau pergi lagi?" tanya Syafira.
"Kondangan, kak. Nemenin ini, si jomblo akut. Mau berangkat awal aja soalnya kan weekend suka macet parah," sahut Adel yang langsung ngeloyor pergi meninggalkan Varel bersama dengan yang lainnya.
"Kondangan mulu, Rel. Kapan giliran di kondangin?" ledek Syafira.
"Iya, sekarang dua enam, empat atau lima tahun lagi, berapa? Mainnya agak di luasin, jangan sama Adel terus, siapa tahu nanti dapat jodoh," kata Syafira.
"Nggak lah. Cuma sama si bocah doang aku nyaman. Meskipun rese tapi dia care sama aku. Asyik di bawa kemana aja,"
"Terserahlah, tapi no more than Just Best friend, sebelum Adel selesai kuliah," pesan Syafira.
"Iya, iya bawel ih. Lima sampai enam tahun lagi ini, bisalah!" sahut Varel mantap.
"Jangan terlalu percaya diri dulu, waktu lima atau enam tahun itu nggak sebentar, semuanya bisa terjadi, Rel. Bisa saja kamu nggak kuat nunggunya. Atau mungkin Adel kepincut pria lain, nggak da yang tahu,"
"Iya iya, aku hanya jalanin saja apa yang buat aku nyaman sekarang, Fir. Nyaman nggak harus sama pacar kan. Sama si bocil juga udah cukup buat aku gemas, pengin getok kepalanya terus karena menyebalkan. Kamu kok tambah bawel ya sekarang, tapi makin cantik aku lihat. Nggak lagi hamil kan?" selidik Varel. Membuat Mia dan Shinta menahan tawanya karena tembakan Varel yang tepat sasaran.
__ADS_1
Syafira mendelik, ia langsung mengatupkan bibirnya rapat. Kalau sampai Varel tahu dia hamil beneran saat ini, sudah bisa di pastikan akan menjadi bahan ledekan pria yang mungkin masih sedikit menyukainya tersebut.
"Ke-kenapa emang?" tanya Syafira.
"Ya enggak, gercep juga kakak kalau udah tekdung lagi, hahah. Soalnya waktu hamil Zio aura kamu kayak begini, makin cetar cantiknya. Makin keibuan," ternyata Varel memperhatikan Syafira sampai sedetail itu, pikir Syafira yang kini mengernyitkan Keningnya.
"Ck, serius amat. Udah, ah! Mau ambil minum. Haus. Kalian bisa lanjut lagi ngobrolnya. Bye Mia, bye Shinta," Varel tersenyum manis keada Mia dan Shinta sambil melambaikan tangannya.
"Bye bye kak, Varel," sahut Mia dan Shinta bersamaan.
"Huh, dasar. Tukang tepe-tepe (Tebar pesona)," cebik Syafira.
"Masih jomblo ya dia, Fir? Buat aku aja gimana?" tanya Mia antusias.
"Free, avalaible! Silahkan kalau dia-nya mau. Gimana nggak jomblo coba, mainnya sama Adel terus. Kerjaannya cuma debat dan berantem sama Adel tuh! Heran, biar tiap ketemu berantem, tapi ya tetap aja kemana-mana berdua udah kek surat sama perangko aja, kok bisa," jawab Syafira yang tak habis pikir dengan mereka berdua.
"Cinta memang unik, kadang mereka menunjukkan rasa cintanya dengan kejahilan dan mengajak ribut pasangannya, ya seerti mereka itu," timpal Shinta. Membuat Syafira menjadi was-was. Jika benar mereka saling mencintai, apakah nasib Adel akan sama dengannya, menikah muda. Bahkan kini Adel baru berusia sembilan belas tahun.
Syafira tak ingin Adel mengikuti jejaknya yang tak pernah ia sesali itu. Ia ingin Adel mewujudkan mimpi ayahnya, yaitu syukur-syukur bisa kuliah di luar negeri.
Ya ampun, di kehamilan keduanya ini, kenapa jadi lebih sering merasa was was, pikir Syafira.
🌼 🌼 🌼
💠💠Hai, maaf ya yang bosan atau tidak suka dengan extra part nya bisa di skip aja kok 😊😊 💠ðŸ’
__ADS_1