
Malam hari...
Bara tampak sedang duduk bersender di senderan tempat tidur sembari memangku laptopnya. Ya, dia sedang memeriksa beberapa anak cabang perusahaannya sambil menunggu Syafira yang belum juga terlihat batang hidungnya sejak habis makan malam tadi. Kalau saja Syafira sudah berada di dalam. Kamar itu, tentu saja ia lebih memilih memangku Syafira daripada laptop yang kerap bikin kepalanya pusing karena pekerjaan itu.Tapi, kalau memangku Syafira bukan kepalanya yang pusing melainkan kepala si piton pastinya.
Bara melihat jam di tangannya, "Kenapa belum masuk ke kamar," gumamnya. Ia meletakkan laptopnya di ranjang lalu turun dan berjalan menuju kamar si kembar.
Kreeek, di bukanya pintu kamar si kembar dengan pelan. Bara melihat istri dan kedua anaknya sedang asyik bercanda. Sesekali Syafira menggelitik Nathan dan Nala bergantian. Senyum samar terukir dari bibir Bara melihat pemandangan indah itu. Namun, sesaat kemudian wajahnya berubah datar kembali ketika ingat tujuannya datang ke kamar si kembar untuk menjemput sang istri ke kamar utama. Ada PR yang harus ia garap malam ini bersama Syafira atau ia tidak akan bisa tidur dengan tenang.
"Boy, princess tidur. Sudah malam," ucap Bara, ia mendekati ketiganya yang langsung menoleh ke arahnya begitu mendengar suaranya.
"Iya daddy, sebentar lagi," jawab Nala.
"Iya, sebentar lagi daddy. Lagi seru!" imbub Nathan.
"Sayang," Bara menatap Syafira.
"Iya mas. Sayang tidur yuk udah malam . Besok lanjut lagi mainnya. Bunda juga sudah capek, pengin istirahat, hoaaamm," Syafira pura-pura menguap.
"Iya bunda," Nathan langsung kembali ke tempat tidurnya untuk tidur . Pun dengan Nala yang langsung merebahkan diri di samping Syafira, "Ayo bunda tidur!" ajak gadis cilik itu.
Bara mnegernyit sambil bersedekap tangan, tadi mereka tidak mau langsung tidur ketika ia suruh. Tapi, begitu Syafira yang buka suara langsung pada menurut.
"Udah sana, daddy juga tidur!" ucap Nala.
"daddy nunggu bunda, Nala cepat bobok," jawab Bara.
"No! Bunda bobok sama Nala daddy, daddy sudah besar berani bobok sendiri kan?" sergah Nala.
"Mas ke kamar aja dulu, nanti aku nyusul," ucap Syafira.
__ADS_1
"Tidak, bunda ndak boleh pergi, harus bobok di sini sama Nala,"
"Sayang, ayolah, Nala kan biasanya juga bobok sendiri kan," Bara tak mau mengalah.
"Pokoknya bunda nggak boleh bobok sama daddy! Dulu juga Nala boboknya sering sama bunda, sekarang kenapa nggak boleh?"
Dulu sama sekarang beda sayang, dulu daddy masih dalam fase jaman jahiliah, bodoh. Belum sadar enaknya tidur berdua sama bunda seperti sekarang. Ingin sekali Bara mengatakannya, tapi tertahan tentunya.
"Sayang... Ini malam jumat, tega kamu biarin mas tidur sendiri lagi?" Bara mengiba menatap Syafira. Sorot matanya sangat menyedihkan. Syafira yang balas menatapnya menjadi tidak tega, sepertinya benar-benar hampir sekarat si piton kalau tidak segera di charge, pikir Syafira.
" Malam jumat daddy? Apa dadd takut bobok sendiri, kalau malam jumat banyak hantu ya daddy.." gadis kecil itu teringay cerita hiror temannya, "Nala jadi takut, daddy kan sudah besar, bobok sendiri ya, bunda di sini aja," tangannya sudah memeluk posesif sang bunda.
Lagi-lagi Bara mengernyit, ia tahu anak gadisnya itu sedang berakting, biasanya juga tidak pernah takut tidur sendiri. Alasan. Hah, pintar sekali berakting itu bocah siapa yang ajarin, pikir Bara. Satu hal yang ia lupakan, kalau bakat akting itu turun dari sang mommy, Olivia.
Berdebat dengan Naka tidak akan menang, apalagi kalau gadis cilik itu sudah mengeluarkan jurus mautnya, menangis. Yang selalu membuat Bara luluh.
Bara menatap Syafira, memohon. Sungguh kasihan sekali, pikir Syafira.
"Katakan, kenapa akhir-akhir ini Nala tidak mau tidur sendiri, biasanya kan pintar. Jujur sama daddy, princess," bukannya pergi, Bara malah mendekat. Ia tahu ada yang tidak beres dengan putri kecilnya.
"Dia dilema," Nathan yang menjawab. Yang mana membuat Bara dan Syafira saling memandang, lalu menatap Nathan bersamaan. Bahasa bicah laki-laki itu memang sering kelewat dewasa.
"Ya, Nala pengin punya dedek bayi, tapi dia takut kalau daddy tidur sama Bunda terus, terus dedek bayinya jadi, nanti bunda jadi nggak ada waktu lagi buat Nala, jadi nggak sayang lagi. Kayak cerita Lusiana. Dia sekarang yang antar sekolah tidak pernah mamanya, kalau tidak nanny ya papanya. Katanya mamanya sibuk urusin dedek bayi," jelas Nathan.
"Cemburu ceritanya, hadeh buatnya aja ngadat-ngadat begini, prosesnya ketunda-yunda gimana mau jadi dedek bayinya, udah sejauh itu mikirnya," gumam Bara dan hanya dia sendiri yang mendengar. Ia semakin gusar, kapan drama tidur bareng ini akan berakhir. Kenapa tidak ada yang peka sih dengan perasaannya, pikir Bara.
"Sayang kenapa berpikir seperti itu? Anytime, anywhere and forever bunda akan selalu sayang sama Nala, ada atau tidaknya dedek bayi akan tetap sama," ucap Syafira lembut.
"Beneran bunda?" tanya Nala , raut wajhnya sangat serius, seakan takut jika suatu saat kehilngan kasih sayang Syafira yang baru sebentar ia rasakan itu.
__ADS_1
"Kan aku bilang , jangan percaya sama Lusiana, bunda sama mamanya beda," ujar Nathan.
"Iya sayang, bunda tidak akan berubah sayang sama Nala, meskipun nanti ada dedek bayi, Nala tidak perlu khawatir ya," sejujurnya Syafira belum terlalu memikirkan soal bayi, belum sejauh itu berpikir serius soal momongan. Apalagi ia baru akan melakukan magang dan mulai mengerjakan skripsinya, supaya lulus kuliah dengan cepat, dengan gelar Cum Laude. Namun, semua juga kembali kepada keinginan suaminya, jika suaminya ingin ia cepat mengandung sebelum lulus kuliah, ia juga tidak akan menolak.
"Berarti sekarang udah mau bobok sendiri lagi kan?" tanya Bara berharap.
"Tidak, tetap sama bunda,"
Hadeh, ini anak gadis. Tidak tahu apa daddynya sedang kangen sama bundanya. Sudah semingguan ini dia mengkesploitasi sang bunda. Seminggu Nala, seminggu! Teriak Bara frustrasi dalam hati. Kalau tidak ingat umur, ia akan menangis meraung-raung untuk berebut bundanya dengan sang anak.
"Sekarang bobok ya sudah malam," dan gadis cilik itu pun mengangguk, iamemeringkan badannya lalu memejamkan matanya. Tangan mungilnya memeluk erat sang bunda.
"Mas ke kamar aja dulu, nanti aku nyusul," Syafira bicara dengan hanya menggerakan bibirnya tanpa bersuara supaya Nala tidak mendengar.
"Daddy beneran takut tidur sendiri? Mau Nathan temani?" Nathan yang sudah memeluk guling menawarkan diri karena melihat Bara masih belum pergi.
Masalahnya bukan itu boy, tapi daddy rindu, rasanya hampa tidur tanpa bundamu.
"Tidak , daddy bisa tidur sendiri. Kau tidurlah," sahutnya lalu memutar badan.
"Sayang malam jumat, ingat, mas mau ajak kamu sunnah rosul, jangan ketiudran," ucap Bara, menoleh ketika sampai di depan pintu sebelum akhirnya benar-benar keluar.
"Bunda, sunnah rosul apa? Nala Boleh ikut?" Nala kembali membuka matanya.
Jeder! Syafira menelan ludahnya kasar mendengar pertanyaan Nala barusan.
"Tidak, bukan apa-apa, jangan dengarkan daddy. Nala bobok ya sekarang," Syafira mendengus, bagaimana bisa ia menjelaskan sunnah rosul yang di maksud suaminya.
Ingin meminta Bara bertanggung jawab atas ucapannya, namun laki-laki itu sudah menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
🌼 🌼 🌼