
"Pokoknya aku nggak mau tahu, kamu harus jelasin sama Fira dan adiknya. Ini semua gara-gara kamu. Jangan lari dari tanggung jawab kamu," terdengar suara bu Lidya di ruang keluarga sedang mengomeli seseorang. Hingga ia tak sadar jika Bara dan lainnya sudah sampai dan kini sedang melihatnya mengomel.
"Iya, Lid... Ini saya juga udah berusaha balik cepat buat nyusul, mau jelasin semuanya sama nona Fira,"
"Awas aja ya, kalau sampai mereka berpisah. Kamu yang bakal aku salahin! Aku bakal mogok ngomong sama kamu seumur hidup! Titik NO debat!"
"Jangan gitu dong, Lid. Saya akan berusaha memperbaiki semuanya. Jangan ngomel terus, aku jadi pusing ini. Saya bakal nyusul mereka dan jelasin secepatnya,"
" Percuma, nyusul juga. Bara tadi udah ngabarin kalau mereka pulang, paling sebentar lagi juga sampai. Dia pulang sama Fira juga, tapi nggak tahu hasil akhirnya gimana. Soalnya kemarin Bara bilang dia bakal mundur, nggak mau bikin Fir sedih terus. Sedih aku tuh!"
"Semoga saja belum terlambat, Lid. Kalau mereka sampai pisah, saya bakal merasa bersalah sekali. Saya harus gimna Lid?"
"Nggak tahulah, John, sebal aku sama kamu!
"Sepertinya aku bakal punya bapak baru beneran ini," gumam Varel lirih.
"Ehem!" deheman Bara membuat bu Lidya dan Om John menoleh.
"Eh, kalian sudah sampai?" bu Lidya berdiri dari duduknya. Di susul Om John.
"Tuan muda, Nona," sapa om John.
"Kapan sampai, kok mama nggak tahu?"
"Mana mama ngeh kalau dari tadi kita udah sampai, sibuk pacaran sendiri sih," celetuk Varel.
"Suka bener kalau ngomong ini anak. Dasar! Siapa yang pacaran?" omel Bu Lidya.
"Ya ampun sayang, akhirnya kamu kembali. Ibu kangen banget sama kamu," ucap bu Lidya kepada Syafira yang sedang menggendong Nala.
"Fira juga kangen sama ibu. Ibu apa kabar? Sehat?" balas Syafira sambil mencium punggung tangan bu Lidya.
"Sehat dong, masih bisa ngomel lima oktaf begitu, kok," canda Varel.
"Nggak, sepertinya darah tinggi ibu sedang kumat, John bikin ulah sampai semua jadi seperti ini. Ini semua salah dia. Fira, sayang, dengerin penjelasan John dulu ya sebelum mengambil keputusan. John, cepat katakan!" bu Lidya menatap om John sebal.
"Iya Lid, iya," jawab om John pasrah.
"Nona, begini. Semua yang terjadi salah saya, tuan muda tidak tahu apa-apa soal..."
"Sudah om, semuanya sudah berakhir. Om nggak perlu jelasin lagi," potong Bara cepat sebelum om John selesai bicara.
Raut wajah om John langsung berubah begitu menyesal dan sedih.
"Maafkan saya tuan muda, seharusnya semua salah saya. Nona, tolong pikirkan kembali, tuan muda tidak bersalah. Saya yang bersalah karena menutupinya sejak awal, saya yang seharusnya bertanggung jawab atas semua ini. Tuan muda bukan orang jahat, beliau sangat bertanggung jawab, saya yang salah. Saya yang seharusnya di hukum, bukan tuan muda," Om John begitu mengiba dan menyesal. Ia pikir kata 'sudah berakhir' yang di ucapkan oleh Bara adalah hubungannya pernikahannya dengan Syafira benar-benar berakhir dan tak terselamatkan lagi.
" Nona, hukumlah saya saja, tapi jangan tuan muda juga si kembar. Jangan tinggalkan merek nona, apa jadinya mereka tanpa Anda," karena semua masih diam, om John terus berusaha menjelaskan. Ia sampai kehilangan akal.
"Siapa yang mau ninggalin mas Bara, om?" Syafira menahan tawa melihat ekspresinom John, namun sekaligus tak tega. Pria paruh Baya yang biasanya bersikap lebih mengayomi dan adem tersebut terlihat frustrasi.
"Iya om, siapa yang akan ninggalin Bara?" Bara melingkarkan tangannya ke pinggang Syafira. Syafira langsung menyenderkan kepalanya di dada Bara. Mereka berdua tersenyum. Nala yang masih berada dalam gendongan Syafira terkekeh-kekeh sendiri melihat tingkah kedua orang tuanya.
" Jadi....?"
" Iya, OM. Aku sama Fira tidak akan berpisah. Akan terus bersama sampai mau memisahkan," ucap Bara yang diamini oleh Syafira.
__ADS_1
" Semua sudah berakhir om, kita semua sudah saling menerima dan maafkan. Ini semua berkat Adel, om," Lanjut Bara.
"Om, sih. Keseringan main sama mama, makanya jadi ikutan heboh sendiri. Nggak nyimak dulu," kelakar Varel yang sejak tadi menahan tawa karena melihat bu Lidya yang tadi juga salah paham dengan ucapan Bara, ia menatap om John seperti ingin menelannya hidup-hidup.
"Syukurlah jika semuanya sudah baik-baik saja, terima kasih nona Fira, nona Adel. Sekali lagi saya minta maaf," ucap om John sungguh-sungguh.
"Tidak apa-apa om, tidak ada yang salah. Semuanya sudah takdir," jawab Syafira.
"Dengar kan Lid, mereka nggak jadi pisah. Nggak jadi mogok bicara berarti,"
"Iya, iya," ucap bu Lidya melengos, menahan senyumnya. Membuat Varel geli sendiri melihatnya.
"Heh, kalian beneran pacaran ya?" tanya Varel yang tak bisa menahan ras penasarannya.
"Tidak!" bantah bu Lidya dan om John kompak.
"Yang benar?"
"Benar!" Jawa keduanya kembali kompak.
"Cieeee kompak bener," goda Varel. Bu Lidya langsung mendengus sebal, sementara om John mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Eh, ini Adel ya? Ya ampun cantik sekali, mirip sama Fira ya. Selamat datang di keluarga Osmaro ya sayang," bu Lidya mendekati Adel. Yang diajak bicara mengangguk dan tersenyum.
"Terima kasih..."
"Bu, panggil saya ibu seerti Syafira. Biar putri ibu tambah lagi," ucap Bu Lidya yang mengerti kebingungan Adel untuk memanggilnya.
"Iya, panggil ibu aja, itung-itung latihan jadi mantu. Manggil mama kayak aku juga boleh," selotoh Varel.
"Eh, iya bu..." ucap Adel malu-malu. Ia langsung menatap sebal ke arah Varel.
🌼 🌼 🌼
"Princess, turun sayang. Kasihan bundanya capek, sini gantian sama daddy," ucap Bara kepada Nala yang terus memeluk erat Syafira. Tak mau lepas sedikitpun, seolah takut jika Syafira kembali pergi.
"Bunda capek?" tanya Nala.
"Tidak, sayang. Bunda nggak capek kalau cuma gendong Nala," jawab Syafira.
"Bunda ndak capek daddy," kata Nala melihat Bara.
"Tapi, sayang. Sekarag di perut bunda ada dedek bayi, kasihan nanti dedek bayinya kegencet kalau Nala di gendong bunda terus. Sini gantian sama daddy,"
"Apa? Syafira hamil? Alhamdulillah, aku mau dapat cucu lagi. John, aku mau nambah cucu John. Ya ampun senangnya," bu Lidya langsung heboh sambil menabok-nabok lengan om John.
"Iya, saya juga dengar. Selamat nona, atas kehamilannya," ujar om John.
"Terima kasih om," sahut Syafira.
"Selamat, tuan muda,"
"Makasih om," Jawab Bara
"Dedek bayi? Iya bunda?" tanya Nala memastikan.
__ADS_1
Syafira mengangguk tersenyum, "Iya, sayang,"
Nala langsung melorot turun. Ia langsung mengamati perut Syafira, "Mana, mana dedek bayinya? Ndak ada," oceh gadis cilik tersebut sambil mengusap-usap perut Syafira.
"Ada, di sini. Di dalam perut bunda. Masih kecil," jelas Syafira.
"Woahhh, Athan! Nala mau punya dedek bayi!" seru Nala ada Nathan. Bola mata gadis kecil tersebut selalu berbinar sejak
"Dedek Nathan juga," jawab Nathan tak terima dengan ucapan Nala.
" Hihi, iya iya... Dedek Athan juga. Nala mau berbagi dedek bayinya, santai. Ayo, bunda. Makan yang banyak, biar dedek bayinya cepat gede. Biar cepat bis main sama Nala. Hihi, hallo dedek bayi, aku kakak Nala yang syantik, hihi," Nala menempelkan telinganya ke perut Syafira. Ia terus cekikikan yang mana membuat orang di sekitarnya ikut tersenyum bahagia.
"Dedeknya cewek atau cowok, bunda?" Nathan mendekat dan duduk di samping Syafira.
"Belum tahu sayang. Nathan maunya cewek atau cowok?" tanya Syafira.
"Cewek! Nala mau cewek, biar bisa main barby bareng. Biar kuncinya bisa kembaran, hihi," ucap Nala antusias.
"Kalau cowok?" tanya Bara yang kini sudah berpindah duduk di samping Syafira. Tangannya terus memegangi tangan Syafira dan sesekali menciumnya.
"Emmmm..." Nala tampak berpikir sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di pipi.
"Boleh, boleh! Tak masalah! Nala juga suka, kayak Nathan. Dia selalu jagain Nala," ujarnya kemudian dengan bola mata yang bersinar.
"Menurut kamu gimana, Boy?" Bara beralih ke Nathan.
"Cowok atau cewek nggak apa-apa, asal nggak berisik dan cengeng kayak Nala. Aku pusing kalau Nala ada dua," ucap Nathan yang langsung mengundang gelak tawa dari semua orang.
Varel dan Adel baru saja kembali dari mengambil oleh-oleh untuk si kembar.
"Uncle dan Onty punya sesuatu buat kalian. Ayo sini, siapa yang mau dapat oleh-oleh?" ucap Varel.
Si kembar langsung antusias mendekati Varel dan Adel.
"Ini buat Nala, yang ini buat Nathan," Varel menyerahkan paper bag berukuran cukup besar kepada si kembar satu-satu.
Si kembar langsung duduk, tak sabar ingin mengetahui apa yang ada di dalamnya.
"Woahhh, barbie!" seru Nala dengan mata berbinar begitu tahu isi paperbag besar, yang bahkan ia sedikit kuwalahan membawanya tadi itu adalah set barbie dream house mattel.
"Nala suka?" tanya Syafira yang berinisiatif membeliakkannya.
"Suka banyak-banyak, bunda," Nala mendekati Syafira lalu mencium wajah Syafira bertubi-tubi, "Terima kasih bunda," ucapnya.
"Sama-sama, sayang," jawab Syafira tersenyum.
"Onty syantik, ayo sini! Kita main barbie yang baru!" Nala menarik tangan Adel supaya mengikutinya.
Sementara Nathan sibuk mengamati oleh-oleh miliknya, yaitu lego spesial edition Avenger Endgame.
"Wah keren, Boy! Buat uncle aja sini!" seru Varel.
"Nggak! Ini milik Nathan, bunda beli ini buat aku!" Nathan langsung memeluk lego itu posesif.
"Nathan suka, sayang?" tanya Syafira.
__ADS_1
"Suka, bunda. Tapi lebih suka bunda pulang, terima kasih," jawab Nathan.
🌼 🌼 🌼