Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Extra part 5


__ADS_3

Sementara Tasya sudah bergabung bermain dengan Nala, dokter Rendra menuju ruang kerja Bara setelah di beritahu oleh Nala dimana daddinya berada, "Tadi katanya mau ngecek pekerjaan, om dokter," jawab gadis itu saat di tanya tadi.


"Lemes amat, Bar. Kayak nggak dapat jatah seminggu aja," sekoroh dokter Rendra sembari melangkahkan kakinya memasuki ruang kerja Bara.


Bara hanya mencebik, memandang sinis kearah sahabatnya tersebut, "Tumben kesini, kangen?" tanyanya datar.m


"Ck, narsis. Ku kesini karena istrimu yang nyuruh. Katanya mas Bara kesayangannya agi nggak enak badan, emang iya? Sini, aku periksa. Beneran nggak enak badan atau kurang sajen," timpal dokter Rendra.


"Nggak tahu nih, badan rasanya lemes nggak da tenaga. Bawaannya ngantuk, aku malah curiga kalau aku kena sawan," seloroh Bara terkekeh.


Setelah beberaa saat mengobrol, dokter Rendra pun memeriksa Bara.


"Benar nih kayaknya dugaanku," ucap dokter Rendra sedikit bergumam.


"Benar apanya?" selidik Bara.


"Beneran kena sawan, sawan bayi sendiri!" jawab dokter Rendra menunjukkan wajah sok serius.


"Eh, apa maksudnya. Kena sawan Zio maksudnya? Gila kamu. Masa anakku menyebabkan sawan, yng benar dong. Jangan kayak dokter abal-abak gitu," sungut Bara kesal.


Dokter Rendra tergelak, "Bayi yang masih otewe, maksudnya kayaknya kamu ngidam. Syafira hamil lagi?" pertanyaan dokter Rendra membuat Bara membuatkan matanya.


"Ah jangn ngayal kamu Rend, mana mungkin hamil. Aku selalu main aman kok. Nggak ah, Zio masih kecil, nanti lah kalau di udah di sapih kalau mau tambah lagi,"


"Yakin benar-benar aman?" tanya dokter Rendra ragu.


"Iyalah, pakai sarung kok. Kalau lagi pengin benar-benar enak, nggak pakai sarung yang di buang di luar," jawab Bara.

__ADS_1


"Huh, di buang di luar ya? Yakin nggak ada yang ketinggalan di dalam? Yakin itu tangan anteng-anteng aja setelahnya? Nggak berkelana ke dalam goa lagi, bisa jadi di tangan yang buat bersihin calon bibit yang di buang di luar itu ternyata nempel satu bibit unggul dan jadi loh," ujar dokter Rendra seraya menahan senyum dengan mata sedikit menyipit.


Bara terdiam mendengarnya, ia mencoba mengingat apakah selama ini ia benar-benar selalu menggunakan pengaman dan aman,"Bisa di pecat ini jadi suami, kalau beneran Fira hamil lagi," gumamnya yang kini menjadi ragu akan ucapannya sendiri.


"Ah kamu jangan becanda Rend, nggak lucu. Kamu bukan ginekolog, mana tahu soal begituan," Bara masih mencoba menyanggah.


"Ya terserah percaya atau tidak, coba buktikan aja sendiri. Soalnya penyakitmu ini mirip kayk orang ngidam. Lagian kenapa sih? Takut amat punya anak lagi, takut nggak daat jatah empat puluh hari nanti? Banyak anak banyak rejeki, Bar. Dan menyenangkan, ramai. Aku aja pengin banget punya lagi, biar Tasya ada temannya, tapi belum ada yang mau hamil anak aku lagi," ucap dokter Rendra terkekeh.


" Sial! Bukan masalah jatah enak-enaknya! Tapi Fira pengin lulus kuliah dulu, pengin cepat jadi sarjana sebelum hamil lagi. Lihat Mia sama Shinta udah pada lulus dan sekarang udah kerja, Fira jadi bertekad harus segera lulus, nggak mau ambil ambil cuti lagi," jelas Bara.


"kalau beneran hamil lagi, bisa benar-benar mandeg nih jatah hariannya," lanjutnya lagi bergumam, baru memikirkan kemungkinan ya saja sudah merasa pusing, apalagi jika benar-benar terjadi.


Di tengah-tengah obrolan keduanya, terdengar suara teriakan Syafira yang memanggil suaminya.


"Ya ampun, sayang. Kenapa sih teriak-teriak? Aku belum. Budek loh," ucap Bara yang melihat istrinya sudah berada di pintu sambil. Menggendong beby Zio yang sudah bangun dari tidurnya.


" Untung nggak tahu tadi mau nyemplung kolam,"Bara bergumma sendiri.


"Kan, apa aku bilang. Baru Zio aja udah bikin dia makin bawel. Gimana kalau tambah hamil, benar-benar terancam," ucap Bara lirih keada dokter Rendra sambil berdiri lalu berjalan mendekati istri dan anak bungsunya. Memasang senyum semanis mungkin.


Dokter Rendra benar-benar ingin tergelak mendengar ucapan sahabatnya barusan, namun ia tahan. Melihat Syafira menggendong Baby Zio rasanya terlihat begitu cantik dan dewasa menurut dokter Rendra. Ia langsung menghilangkan pikiran tak bermoralnya, ia ingat misinya untuk meluluskan hati ibu dari putri kandungnya.


"Di gigit nyamuk ya, sayang?" kata Bara sambil. Mencium baby Zio.


" Hebohnya nggak nanggung-nanggung. Kirain daddy, Zio di gigit paman Tiger," gumamnya terkekeh seolah mengajak bicara baby Zio.


"Astaga! Kalau sampai macan mas Bara itu berani gigit Zio, aku bakal buat perhitungan serius sama mas Bara. Ingat itu!"

__ADS_1


"Ya ampun, kmau tuh sama paman Tiger kayak ada dendam pribadi ya, padahal paman Tiger nggak pernah buat gara-gara sama kamu,"


"Nggak buat gara-gara aja aku sebal, gimana kalau buat gara-gara. Aku kirim dia ke kebun binatang!" omel Syafira. Sebenarnya hujan apa-apa, tapi ia merasa aneh saja setiap kali berdekatan dengan macan kesayangan suami dan anak-anaknya tersebut.


"Udah, jangan ngomel terus. Makin gemas kalau kamu ngomel begini, bisa-bisa aku tarik paksa ke kamar sekarang juga loh, Fir," bisik Bara.


Syafira melirik ke arah dokter Rendra, "jangan aneh-aneh deh, ada dokter Rendra, tuh!" balasan Syafira.


"Udah tahu ada Rendra, tapi ngomel nggak di rem. Udah sana, tolong buatin minum buat kita berdua. Sini Zio sama daddy, biar bunda buat minum untuk daddy sama om dokter," Bara mengambil alih baby Zio dari gendongan Syafira.


"Jagain yang benar," pesan Syafira sebelum. Memutar badan.


"Siap nyonya...." sahut Bara.


Ia mengajak baby Zio untuk duduk.


"Ya ampun, istriku. Makin gemesin aja. Lihat Rend, pengin nggak yang kayak gini?" Bara mendudukkan baby Zio di atas meja kerjanya. Bayi montok itu hampir langsung berdiri namun segera di cegah oleh Bara, ia memberikan kertas dan bolpoin untuk mainan baby Zio.


" Dih pamer. Aku tuh kalau ke sini yang ada cuma di pameran istri sama dua anak laki-laki yang pintar dan gemesin. Kalau anak perempuan aku udah punya,"


"Biarin pamer, orang punya. Lucu kan Rend, kalau masih bayi gini. Tingkahnya adaaaa aja yang bikin geleng-geleng kepala spechless. Tapi sangat menyenangkan. Nanti kamu bakal rasain gimana rasanya punya anak yang sedang rusuh-rusuhnya begini," ucap Bara.


"Doain aja, biar cepat dapat jodoh dan punya yang kayak gini," Dokter Rendra mengusap pipi gembul baby Zio. Bayi itu seerti biasa, cuek dengn keadaan sekitar, terutama dua orang dewasa yang sedang membicarakannya tersebut. Dia asyik dengan dunianya sendiri.


🌼 🌼 🌼


Bonus visual mas Bara sama paman tiger

__ADS_1



__ADS_2