Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Extra part 13


__ADS_3

Karena Bara dan Syafira datangnya sudah lumayan sore, alhasil mereka di tahan oleh Elang dan istrinya untuk sekalian makan malam di kediaman mereka.


"Jarang-jarang loh ada teman yang datang ke rumah, aku seneng banget kalian kesini. Apalagi ada teman yang sama-sama lagi hamil. Sering-sering ya Fir main ke sini. Si kembar juga di ajak, pasti tambah seru sekali," ucap Senja di tengah makan malam mereka.


"Iya mbak, nanti gantian mbak Senja yang main ke rumah dong. Kalau nggak sibuk banget, soalnya kan mbak Senja wanita karir," sahut Syafira.


"Ah enggak juga, sama aja kok, nggak sibuk yang gimana-gimana. Kalau soal pekerjaan mah nggak ada habisnya kalau di turutin, me time buat keluarga tetap nomor satu," Jawab Senja.


"Kalau begitu, luangin waktu ya mbak buat main. Atau mungkin nanti kita bisa jalan bareng, bawa anak-anak. Seru kali ya," saran Syafira.


"Ide bagus tuh, yuk lah agendakan!" sahut Senja semangat.


"Udah langsung pada akrab aja istri kita El," kata Bara.


"Iya nih, tuh si Zio juga udh nemeple mulu sama Zeaku. Jadi curiga, nurun dari siapa," sindir Elang terkekeh.


"Tahu tuh, emaknya kali," kilah Elvan.


"Anaknya udah nemplok dari bayi gitu, kalau mereka udah besar, besanan kali ya kita," seloroh Elang.


"Ya, kita lihat saja nanti bagaimana jadinya. Jodoh siapa yang tahu kan," balas Bara.


"Kalau nggak jodoh, ya di jodohkan. Gimana?" kata Elang bergurau.


"Boleh tuh, untuk mempertahankan bibit unggul, ide bagus tuh!" timpal Bara yang juga bergurau.


"Nggak!" tolak Syafira dan Senja bersamaan.


"Kenapa?" tanya Bara.


"Iya kenapa? Orang anaknya aja udah nyosor terus kayak gitu," sambung Elang.


"Kan masih kecil, boo. Nggak apa-apa. Tapi kalau udah dewasa, aku maunya anak-anak menentukan pilihan mereka masing-masing, bukan karena terpaksa," ucap Senja.


"Iya, aku setuju sama mbak Senja. Biar anak-anak yang milih sendiri. Kita hanya bisa mengawasi saja, kalau tidak cocok kita tinggal nasehati aja dengan baik. Nggak harus do jodohkan,"


Bara dan Elang saling pandang, bukankah mereka juga menikah awalnya tanpa cinta, karena sebuah keterpaksaan.

__ADS_1


"Kamu menyesal menikah denganku?" tanya Bara dan Elang kompak kepada istrinya masing-masing.


Secara otomatis, Syafira dan Senja menggeleng bersamaan.


"Tidak mas, bukan begitu. Aku bersyukur, meskipun kita menikah awalnya karena terpaksa tapi sekarang kita bahagia, lahir batin aku bahagia, beneran. Tapi kan, aku penginnya anak-anakku punya cerita yang lebih baik dari awal. Aku hanya ingin anak-anak menentukan sendiri pasangan hidup mereka nanti. Tapi, lain cerita sih kalau mereka tidak punya pilihan dan mau di jodohkan," kata Syafira.


" Udah-udah, jangan di buat serius. Masih lama itu, sekarang mereka masih kecil. Biarkan saja waktu yang menjawab nanti," ucap Senja.


Asyik mengobrol, hingga Bara dan Syafira lupa waktu.


" Sayang, pulang yuk. Udah malam. Si kembar juga pasti sudah pulang," ajak Bara kemudian.


Bara dan Syafira pun berpamitan kepada Elang dan istrinya. Saat berpamitan, Baby Zio kembali mencium pipi baby Zea, "Tium, tium!" ucapnya heboh yang mana kembali mengundang gelak tawa para orang tua.


Tak butuh waktu lama, baby Zio langsung tertidur pulas di pangkuan Syafira ketika mobil mereka baru beberapa menit jeluar dari halaman rumah Erlangga.


"Udah tidur aja jagoan daddy," ucap Bara menoleh putranya.


"Iya, pasti dia capek," kata Syafira.


"Capek tisss tisss ya, Nak!" tangan kiri Bara mengusap lembut kepala bayi tampan tersebut.


"Dia kan seleranya bagus, sayang. Kayak daddinya," celetuk Bara.


"Tapi nggak dari orok juga kali mas nurunnya, aku tuh tadi udah nggak enak banget sama Mbak Senja. Untung aja mereka legowo dan memaklumi. Pintarnya anak bunda ini," ujar Syafira kembali mencium baby Zio.


"Nggak apa-apa, mereka itu orang baik," timpal Bara cepat.


🖤🖤🖤


Sementara itu, Varel dan Adel baru saja sampai rumah setelah tadi mereka mampir ke mall terlebih dahulu sekedar jalan-jalan dan juga makan malam bersama si kembar.


Si kembar sudah tidur di jok belakang di tengah perjalanan pulang tadi karena lelah.


"Nathan kamu bangunin, biar Nala aku gendong aja. Nanti dia nangis kalu kaget keren di bangunin," ucap Varel setelah ia mematikan mesin mobil lalu menoleh ke belakang.


Adel langsung melepas seat beltnya dan turun mengikuti apa yang Varel katakan. Pelan-pelan ia membangunkan Nathan. Anak itu mengerjapkan matanya dan nurut waktu Adel memintanya untuk turun dari mobil.

__ADS_1


Varel langsung menyusul Adel yang sedang mengambil air putih di dapur setelah ia menidurkan Nala di kamarnya.


"Capek!" keluh Varel seraya menyambar gelas berisi air putih dingin dari tangan Adel setelah gadis itu meminumnya sedikit.


"Ish, om! Kalau mau minum ambil sendiri! Main rebut aja, nggak asyik!" omel Adel.


Varel tak menggubris, ia justru menghabiskan air putih itu hingga tandas.


"Nyebelin banget sih, main rebut aja, gimana kalau itu minum aku kasih pelet coba? Jangan suka asal ambil dan minum punya orang, bahaya tahu! Kalau ada racun ya atau di jampi-jampi gimana?"


"Pikiran kamu ini, bisa-bisanya sampai ke arah sana. Lagian, nggak di pelet pun aku udah klepek-kelepk sama kamu," ucap Varel nyengir.


"Dih kumat!" Adel memutar bola matanya malas lalu meninggalkan Varel sendiri di dapur. Ia menghentikan langkahnya dan tersenyum tanpa menoleh. Ada rasa tak biasa di dadanya setiap kali dekat laki-laki dewasa tersebut.


🖤🖤🖤


Pagi harinya....


Setelah sarapan, Syafira mengajak Adel bicara serius.


"Sudah sejauh Man hubungan kamu dengan Varel, dek?" tanya Syafira.


"Maksud kakak apa? Aku sama dia nggak ada hubungan apa-apa kok," jawab Adel salah tingkah.


"Enggak ada apa-apa tapi mau di cium. Gimana kalau ada hubungan dek, jangan bikin kakak khawatir,"


Deg! Darimana kakaknya tahu. Adel jadi merasa bersalah.


"Nathan melihat kalian, dia cukup paham dengan apa yang kalian lakukan," ucapan Syafira menjawab sudah pertanyaan Adel. Hadeh, ngadu apa anak itu kepada bundanya, Adel semakin merasa bersalah.


"Nggak ada kak, nggak ada yang ciuman. Nathan salah lihat dan salah paham kemarin," mencoba membela diri meski ia tahu ia salah.


"Bukannya kakak nggak setuju kamu dekat dan berhubungan dengan Varel, tapi kakak hanya ingin mengingatkan kamu untuk hati-hati. Itu saja. Kamu tahu kan kalau Varel itu sudah ingin sekali menikah, sedangkan kamu bilang kamu masih ingin mengejar mimpi-mimpi kamu dalam kebebasan. Kakak harap kamu bisa memantabkan hati kamu, jalan mana yang akan kamu pilih..... "


" Kakak tidak melarang jika kamu memang ingin menikah di usia muda. Kakak hanya ingin kamu tidak menyesal nantinya. Pikirkan semuanya baik-baik. Jangan beri harapan kepada Varel jika kamu tidak bisa mewujudkannya. Dia berhak mendapat kepastian soal masa depannya. Mungkin dia bilang akan menunggu, tapi bagaimana denganmu? Apa kamu yakin akan nyaman dengan hati kamu sendiri jika dia berada di sekitarmu terus. Apa itu namanya tidak egois, dek?. Sebelum semuanya menjadi semakin rumit untuk kalian, pikirkan dan renungkan baik, apa yang sebenarnya kamu inginkan untuk masa depanmu," Syafira menasihati Adel. Jujur, sejak semalam saat ia mendengar cerita Nathan yang tidak bisa tidur sebelum mengadu kepada bundanya soal uncle dan auntinya, ia kepikiran soal adiknya tersebut. Bukannya dia tidak percaya dengan Varel, tapi justru yang ia khawatirkan adalah Adel.


Adel terdiam, ia mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut kakaknya. Ia mengerti maksud kakaknya dan ia membenarkan ucapan Syafira. Ini akan ia jadikan renungan panjangnya untuk mengambil sikap.

__ADS_1


🖤🖤🖤


__ADS_2