Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 122


__ADS_3

Ternyata memakan rujak buatan om John mengakibatkan efek yang buruk buat Bara. Dalam hitungan jam saja, ia sudah bolak balik ke kamar mandi tiga kali. Om John yang panik sedang menunggu di luar kamar mandi.


"Tuan muda, sebaiknya kita ke dokter saja untuk periksa. Saya takut tuan muda dehidrasi jika terus-terusan ke kamar mandi seperti ini," ucap om John khawatir yang melihat Bara keluar kamar mandi dengan wajah pucat.


"Om masukin apa sih ke rujaknya? Pencahar? kenapa efeknya begitu dahsyat," ucap Bara seraya memegangi perutnya.


Om John tampak berpikir, perasaan ia tidak menambahkan apa-apa, ia melakukannya sesuai runtutan yang ia lihat dalam video berdurasi beberapa menit itu.


" Saya tidak memasukkan apa-apa tuan muda. Maafkan saya," Sesal om John. Lagi-lagi ia membuat Bara kesusahan karena ulahnya, pikir om John.


"Duh....!" Bara kembali memegangi perutnya dan masuk kembali ke dalam kamar mandi. Om John tidak bisa hanya tinggal diam, ia menghubungi dokter kenalannya yang ada di kota tersebut untuk memeriksa Bara. Jika mereka ke rumah sakit, takutnya di jalan Bara ingin ke kamar mandi lagi, malah repot.


Bara keluar dengan wajah sedikit lega namun penuh keringat, "Aneh, padahal tadi nggak pedas rujaknya, kenapa bisa semules ini. Biasanya juga lebih pedas nggak masalah," gumam Bara sambil berjalan dan duduk di tepi ranjang.


"Mulut nggak masalah sama pedas, tapi perut menolak keras. Apa karena efek umur makin tua ya?" gumamnya lagi dan langsung mendesah.


Om John masuk bersama dokter yang sudah ia tunggu di ruang tamu sejak beberapa saat yang lalu.


Akhirnya, setelah di periksa dan di berikan obat oleh sang dokter, Bara bisa lebih rileks dan kini ia sedang mencoba untuk memejamkan matanya. Mungkin karena efek obatnya, Bara langsung bisa tidur pulas.


Om John yang baru saja masuk ke dalam kamar setelah mengantar dokter keluar, menatap khawatir terhadap laki-laki yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri tersebut. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Bara yang kini sudah mendengkur halus.


"Maafkan saya tuan muda," gumamnya lirih sebelum akhirnya ia memutar badan dan keluar dari kamar Bara.

__ADS_1


Om John pergi ke ruang kerja Bara, dimana beberapa berkas masih berserakan di meja. Rencana untuk melanjutkan pekerjaan malam ini gagal karena perutnya yang tidak bisa diajak kompromi seperti biasa.


Om John membereskan berkas-berkas tersebut. Kemudian ia memetuskan untuk menghirup angin malam dari balkon kamarnya.


Om John berkpikir bagaimana caranya agar keadaan segera membaik seperti sedia kala. Untuk kembali ke Jakarta dan menjelaskna kepada Syafira tak bisa ia lakukan saat ini, karena di sini Bara juga membutuhkannya. Namun, membiarkan Syafira terus mendiamkan Bara juga membuatnya ikut sesak.


"Tuan besar, maafkan saya karena lalai menjaga tuan muda," gumam om John mengingat almarhum ayah Bara. Om John melepas kaca matanya, lalu memijit pangkal hidungnya.


"Apa memang sudah saatnya aku berhenti," gumamnya lagi, ia merasa semakin tua dan tak terlalu berguna untuk Bara. Akan tetapi, ia juga tak bisa melepas Bara begitu saja, ia telah berjanji kepada ayah Bara untuk selalu mendampingi dan menjaga putranya dalam keadaan apapun.


Kalau saja tidak ingat janjinya, om John sudah ingin pensiun sejak beberapa tahun yang lalu dan menikmati masa tuanya. Namun, kembali lagi rasa sayangnya terhadap Bara tak bisa membuatnya memutuskan hal tersebut.


🌼 🌼 🌼


Kedua sahabatnya juga tampaknya santai tak mencarinya, karena yang mereka tahu juga Syafira sedang menemani sang suami ke luar kota, sehingga mereka tak terlalu ambil pusing kenapa syafira tak masuk bekerja akhir-akhir ini.


Syafira segera membersihkan diri lalu membuat makanan. Meskipun tadi sudah makan malam, tapi kini perutnya sudah merasa lapar kembali. Jika biasanya ia malas makan kakau sudah larut malam, akan tetapi kini ia sedang mengandung sehingga mau tidak mau ia harus makan, demi sang calon buah hati.


Selepas makan dan membersihkan peralatan makannya Syafira merebahkan diri di ranjang. Ia menatap plafon kamar lalu menghela napasnya dalam. Kondisi Adel tak cukup baik setelah mendengar ceritanya tadi. Dokter berpesan supaya Adel tidak boleh mikir yang berat-berat terlebih dahulu. Atau kondisinya akan drop lagi. Hal itu membuat Syafira semakin bingung, bagaimana dan kapan ia bisa jujur soal Bara. Ia takut kejujurannya hanya akan membuat Adel semakin down dan semakin parah. Itu akan membuatnya semakin merasa bersalah.


Syafira benar-benar dilema, apa yang harus ia lakukan. Lelah dan terlalu banyak pikiran membuatnya tanoa sadar terlelap begitu saja setelah bergulat dengan batinnya.


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


Esok harinya, Syafira yang sudah sangat merindukan si kembar berniat untuk melihat mereka di sekolah. Sebelumnya ia mampir ke toko untuk membuatkan mereka kue macaron kesukaan mereka.


Saat tiba di sekolah, Syafira hanya bisa menatap keduanya dari jauh saat jam istirahat. Ia tak sanggup mendekat. Karena, jika ia mendekat, ia pasti tak akan sanggup untuk meninggalkan mereka lagi. Ia terlalu lemah jika berhadapan dengan mereka.


"Maafin bunda sayang. Nala, Nathan. Anak-anak bunda," gumamnya. Air matanya lolos begitu saja. Ingin rasanya Syafira berlari dan memeluk mereka erat-erat. Namun, ia kembali ingat kondisi Adel. Ia tak ingin semuanya jadi semakin rumit jika ia tiba-tiba muncul di hadapan si kembar.


Syafira mendekati pos satpam dan meminta satpan untuk memberikan kue macaron yang ia bawa untuk si kembar saat oulang sekolah nanti.


"Kenapa tidak non Fira saja yang ngasih? Bukannya je sini buat jemput si kembar?" tanya satpam yang sudah kenal dengan Syafira.


"Tidak pak, saya masih banyak pekerjaan. Ini saya mau kasih anak-anak saya kejutan, tolong ya pak. Bilang saja orang dari toko saya yang antar atas suruhan saya, begitu," pinta Syafira.


Meski merasa aneh, namun satpam tersebut mengiyakan permintaan Syafira," Baiklah, nanti akan saya sampaikan," ucap Satpam.


" Terima kasih pak, saya permisi," Syafira sekalinlagi melobgok ke area sekolah, Namun ia sudah tak melihat si kembar lagi karena mereka sudah kembali masuk ke dalam kelas masing-masing.


"Maafin bunda, belum bisa pulang dan ketemu kalian. Selama bunda pergi, bunda harap kalian baik-baik saja, bunda sayang kalian," gumam Syafira dalam hati, kemudian ia melangkahkan kakinya pergi menjauhi sekolah.


🌼 🌼 🌼


πŸ’ πŸ’ Jangan lupa like komen dan 🍡 atau 🌹 untuk mas Bara Fira... Votenya juga boleh banget jika masih ada.. Tenkyuuuu πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ


Salam hangat author πŸ€—β€οΈβ€οΈπŸ’ πŸ’ 

__ADS_1


__ADS_2