
"Ayo!" ajak Bara masuk ke dalam restoran, ia menggandeng tangan Syafira. Syafira cukup terkejut dengan perlakuan Bara tersebut. Jika seperti itu terus, ia merasa seperti seorang istri yang dianggap oleh Bara.
"Duduklah!" ucap Bara sambil memundurkan kursi untuk di duduki Syafira.
"Makasih," ucap Syafira masih merasa tak percaya Bara bisa bersikap seperti itu.
Bara melambaikan tangannya sebagai isyarat kepada pelayan untuk mendekat. Kemudian, ia membuka buku menu dan memilih makanan untuknya dan untuk Syafira tanpa menanyakan apa yang Syafira ingin makan.
"Itu saja tuan?" tanya pelayan ketika Bara selesai menyebutkan pesanannya.
"Hem, cukup," jawab Bara.
Syafira hanya diam dan menatap suaminya yang seenaknya saja asal pesan tanpa mengkonfirmasi dulu kepadanya.
"Mas kenapa nggak tanya aku sih mau makan apa, kenapa asal pesan aja?" protes Syafira ketika pelayan sudah pergi.
"Aku memesankan yang sesuai dengan lidah kamu Fir, kalau kamu memilih sendiri kelamaan karena nama menunya pasti asing buat kamu. Pasti kamu banyak tanya dulu baru pesan. Untuk menghemat waktu aku yang pesankan," jelas Bara.
"Emang mas Bara tahu yang sesuai sama lidah aku?" tanya Syafira.
"Hem," Bara mengangguk.
"Sejak kapan mas Bara merhatiin apa yang aku suka dan tidak untuk di makan, seperti kurang kerjaan saja, bukan mas Bara banget," cebik Syafira tak percaya.
"Saya tidak perlu memperhatikan sampai sedetail itu Fir, cukup pernah merasakan lidah kamu dengan bibir saya langsung tahu selera lidah kamu," jawab Bara.
"Tapi, untuk memastikannya lagi mungkin bisa kita coba sekali lagi?" imbuh Bara dengan senyum menyeringai.
Syafira hanya berdecak, mencebikkan bibirnya dan memutar bola matanya sebagai tanggapan atas ucapan Bara. Membuat Bara terkekeh.
__ADS_1
Pesanan pun datang. Pelayan membawa beberapa menu yang benar-benar bisa di terima oleh lidah Syafira. Diam-diam memuji suaminya yang ternyata di balik sifat dingin dan cueknya, ia memperhatikan Syafira. Hanya saja masih gengsi untuk terang-terangan.
"Mas, kenapa makan di sini sih? Kenapa nggak langsung pulang saja nanti aku masakin. Kasihan anak-anak pasti sudah nungguin di rumah," Syafira teringat kedua anak kembarnya.
"Tidak apa-apa. Sekali-kali kita menghabiskan waktu berdua di luar biar lebih dekat. Anak-anak tidak akan kesepian, banyak orang di rumah," sahut Bara. Ia senang Syafira selalu ingat si kembar di manapun ia berada.
"Kamu sayang banget sama anak-anak?" pertanyaan konyol macam apa yang Bara ucapkan. Siapapun juga bisa melihat jika Syafira sangat menyayangi kedua anaknya layaknya anaknya sendiri.
"Mas Bara ragu?" Syafira membulatkan kedua matanya.
"Salah ngomong kayaknya nih," batin Bara menggedik dengan tatapan tajam istrinya.
"Tidak, bukan begitu. Saya cuma mau tanya, kamu kalau sama anak-anak kan sayang. Kalau sama daddy mereka sayang tidak?" tanya penuh harap atas jawaban jujur dari Syafira.
"Sayang," jawab Syafira singkat. Senyum tipis tersungging dari bibir laki-laki berahang kokoh tersebut.
"Sayang itu artinya luas mas jangan GR dulu. Sama semua orang terdekat aku, aku juga sayang sama mereka semua. Sayang karena aku tulus dan ikhlas sama kalian semua dan tidak mengharapkan balasan lebih atas apa yang sudah aku lakukan, sayang karena aku peduli sama kalian, sayang itu luas maknanya..." Syafira menjeda ucapannya lalu meneruskannya.
Entahlah kenapa dia bisa sesantai itu menjabarkannya, padahal dalam hatinya, ia juga tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan terhadap suaminya tersebut. Benarkah hanya ada rasa tulus dan peduli, ingin memberi tanpa mengharapkan balasan lebih, namun hatinya sering merasa sakit setiap kali suaminya membahas Olivia, ada rasa cemburu terselip di sana. Tak jarang juga ia mengharapkan Bara memperlakukannya layaknya seperti seorang istri sungguhan. Di manja, di perhatikan dan di lihat sebagai seorang wanita. Lalu apa itu artinya ia juga memiliki perasaan ingin memiliki terhadap suaminya tersebut? Dan keegoisan tersebut apakah bisa di bilang cinta? Syafira masih mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut yang seringkali terlintas di dalam benaknya.
"Begitu ya?" sahut Bara.
Syafira tetap Syafira yang selalu berhasil menyembunyikan seperti apa isi hatinya yang sebenarnya. Yang tak pernah ingin menunjukkan kesedihan dan rasa sakitnya di depan orang lain termasuk suaminya.
"Kalau mas Bara sendiri bagaimana? Sayang nggak sama aku? Atau sudah cinta sama aku? Jangan bilang mas Bara benci sama aku," kini Syafira balik bertanya. Ia ingin tahu apa arti dirinya untuk seorang Bara.
Mendengar pertanyaan Syafira, Bata menghentikan makannya. Ia meletakkan sendok dan garpu yang ia pegang.
"Saya belum tahu Fir," ucapnya serius dan memiliki maksud yang dalam. Ia masih ingin memastikan dulu sebenarnya apa yang dia rasakan untuk gadis di depannya tersebut. Sayangkah? Atau memang benar-benar sudah jatuh cinta? Atau hanya sekedar merasa nyaman dan berterima kasih karena sudah menerima kedua anaknya dan menyayangi mereka dengan baik.
__ADS_1
Syafira menatapnya, menunggu penjelasan lebih dari suaminya.
"Yang jelas saya tidak pernah membenci kamu Fir, Saya tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal itu untuk perempuan yang sudah dengan tulus mencintai kedua anak saya. Saya tidak pernah merasa benci dengan kamu sama sekali. Soal sayang atau cinta, itu yang belum saya tahu Fir. Karena seperti yang kamu bilang, cinta itu lebih spesifik secara makna. Saya..."
"Bagaimana mau cinta, jika hati itu masih penuh nama mbak Olivia," batin Syafira.
"Yang penting sayang dulu mas, siapa tahu nanti berubah jadi cinta," ucap Syafira tersenyum.Mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang barusan dan juga belum siap mendengar pernyataan lebih dari suaminya karena ia tahu, pasti pada akhirnya Bara akan memasukkan nama Olivia dalam hasil akhir kalimatnya yang sejujurnya tak ingin Syafira dengar.
"Terus, kalau sudah cinta kamu bagaimana? Apa juga akan mencintai saya?"
Glek! Syafira menelan salivanya kasar mendengar pertanyaan menohok suaminya.
"Aku tergantung mas Bara, kalau mas Bara bisa mencintai aku, tidak menutup kemungkinan buat aku juga cinta sama mas Bara. Aku tidak menjawab iya ataupun tidak, semua tergantung sikap mas Bara ke aku, aku akan mencoba menyesuaikan bagaimana caraku membalas," ucap Syafira tersenyum. Tergantung sikap Anda saya akan bersikap, lagi-lagi menjadi kalimat andalannya.
Jawaban Syafira membuat Bara malah lebih tertantang. Gadis itu tidak mudah. Dia ternyata selalu menyiapkan hatinya untuk segala kemungkinan yang terjadi. Dan jawaban-jawaban yang selalu Syafira berikan itu sebagai benteng untuk hatinya sendiri supaya tidak terlalu rapuh nantinya jika kemungkinan buruk terjadi untuk pernikahan mereka.
Sesaat suasana kembali hening, keduanya melanjutkan makan mereka.
"Makan hati-hati Fir, sampai belepotan begitu," Bara mengusap sudut bibir Syafira.
"Aku bisa sendiri mas, nanti tangan mas Bara kotor," cegah Syafira memegang tangan Bara. Namun Bara sudah terlanjur mengotori tangannya karena mengusap makanan yang menempel di sudut bibir Syafira tersebut.
Bara tidak langsung menarik tangannya dari bibir Syafira, pun dengan Syafira yang masih memegang tangan Bara. Mata mereka kembali bertemu, saling memandang dan saling mencari makna atas tatapan tersebut. Dan ciuman pun tak bisa terhindar lagi. Bara mencium bibir Syafira dengan intens dan kali ini Syafira pun membalasnya karena terbawa suasana.
"Sudah bersih," ucap Bara setelah menyudahi ciumannya. Ia menjadi salah tingkah, merutuki kebodohannya yang asal nyosor saja di tempat umum seperti itu.
"Ta tangan mas Bara kotor, biar aku bersihkan!" seru Syafira tak kalah salah tingkahnya dengan Bara, ia langsung mengambil tisu dan mengelap tangan Bara untuk menghilangkan kecanggungan di antara keduanya.
Untung saja, tempat mereka duduk, terjaga privasinya sehingga aktivitas beberapa detik mereka tersebut aman dari gunjingan pengunjung yang lain.
__ADS_1