
"Bisa nggak sih mas?" protes Syafira. Udah nahan tegang dari tadi nggak kelar-kelar juga, kesalnya.
"Sebentar, aku juga lupa-lupa ingat sayang. Kamu tahan ya sakit sebentar,"
Bara memaksa miliknya untuk masuk. Tiba-tiba...
Tok tok tok, suara ketukan pintu terdengar sangat keras.
Kaget, merasa seperti sedang melakukan sesuatu dosa dan akan ketahuan, Syafira langsung mendorong tubuh suaminya hingga terjengkang.
"Fir..."
"Maaf mas reflek, ada yang ngetuk pintu. Aku keluar dulu, lanjutin nanti," Syafira segera bangun dan memakai bajunya dengan cepat.
Bara hanya mamou mendesah, mengusap wajahnya gusar.
"Sial!" umpatnya.
Syafira membuka pintu sedikit.
"Eh, bu Risma. Ada apa ya bu?" tanya Syafira tersenyum tipis, padahal dalam hati juga dongkol, tetangganya itu emang nggak ada akhlak, datang di saat yang tidak tepat.
"Iya mbak Fira, saya dengar mbak Fira pulang sama suaminya, jadi saya ke sini untuk membawakan makanan buat suami mbak Fira. Eh maksudnya sama buat mbak Fira juga," ucap Bu Risma sambil celingukan mencari dimana suami Syafira. Ia bahkan sampai jinjit-jinjit ingin melihat ke dalam rumah.
"Oh, terima kasih ya bu makanannya, nanti rantangnya saya kembalikan. Maaf saya sedang sibuk," Syafira mengambil rantang berisi makanan dari tangan bu Risma, dan akan menutup pintu.
"Eh, tunggu mbak Fira, suaminya dimana? Nggak kelihatan? Sebagai tetangga yang baik saya ingin menyapanya," ucap Bu Risma, ia menahan pintu dengan kakinya supaya tidak di tutup oleh Syafira.
"Sayang, siapa?" tanya Bara yang menyusul Syafira.
Bu Risma langsung kembali celingak-celinguk mencari suara yang menurutnya seksi tersebut.
Syafira langsung menggeser tubuh Bara untuk sembunyi di balik pintu dengan tangannya ketika Bara sudah berada tepat di belakangnya.
"Maaf ya bu, saya masih banyak urusan, dan Suami saya juga bukan untuk konsumsi publik!" ucap Syafira yang langsung menutup pintunya.
Bara terkekeh mendengar ucapan istrinya yang terkahir.
"Jangan tertawa, nggak lucu!"kesal Syafira karena tadi harus tertunda karena kedatangan tetangganya.
"Kamu yang cancel, kamu yang kesal sayang," Bara terkekeh.
"Lanjut yu mas," astaga, Bara tak percaya istrinya mengajak duluan.
"Jangan di sini sayang, nanti tetangga yang lain datang, Ikut mas!" ucap Bara menggandeng tangan Syafira.
"Mau kemana sih mas?" tanya Syafira bingung.
"Ikut saja, jangan banyak tanya," pupus Bara.
Sesampainya di halaman rumah, Syafira melongo. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Ini kan...." ucap Syafira tertahan.
"Iya, katanya mau nyobain naik motor gede. Ayo jalan-jalan dulu! Kita kencan!"" ucap Bara. Sepertinya perlu pendekatan lebih kepada Syafira sebelum benar-benar membuka segelnya supaya nanti lebih rileks Syafiranya.
Bara memakaikan helm kepada Syafira. Lal ia menaiki motor gedenya.
__ADS_1
"Siap?" tanya Bara ketika Syafira sudah duduk di belakangnya.
Bara pun melajukan motor gedenya. Bara menghentikan mogenya di sebuah mall.
"Aku cari baju dulu. Nggak mungkin jalan-jalam pakai baju begini," ucap Bara. Syafira pun tidak protes, ia ikut masuk ke mall tersebut dan memilihkan pakaian yang pas untuk Bara.
Setelah mengganti pakaiannya, Bara kembali mengajak Syafira jalan. Hingga kini mereka sampailah di sebuah danau yang indah setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam.
Syafira sangat antusias sekali ketika melihat danau yang di kelilingi pepohonan sehingga suasananya sangat sejuk.
Bara mengajak Syafira naik perahu kecil menyusuri danau. Sambil mendayung perahunya, mereka bercerita banyak hal. Lebih tepatnya, banyakan Syafira yang nyerocos terus bercerita bagaimana masa kecilnya. Seperti apa kehidupannya dulu bersama ayah dan adiknya dan lain sebagainya. Sementara Bara lebih banyak mendengar dan menanggapi cerita Syafira yang penuh warna sambil terus mendayung perahu. Memang tujuan Bara membuat Syafira merasa nyaman dan aman terhadapnya.
"Ih mas bara kok bisa tahu tempat seromantis ini sih?" ucap Syafira antusias melihat sekeliling di sela-sela ceritanya.
"Dapat info dari om Jhon," jawab Bara jujur.
Syafira ber-oh-ria. Kalau di pikir-pikir, nggak mungkin juga sih laki-laki model macam Bara bisa berinisiatif mengajak ke tempat seperti itu kalau tidak ada yang memberi tahu.
Capek mendayung, Bara mengajak Syafira turun . Mereka menikmati indahnya pemandangan Danau sambil bergandengan tangan. Syafira benar-benar merasa senang. Ini seperti kencan sungguhan! Dan...baru pertama kali ia melakukannya.
Cukup lama mereka berada di danau tersebut. Banyak aktifitas yang mereka lakukan, makan siang juga mereka lakukan di pinggir danau tersebut.
"Makasih ya mas, udah ngajak aku kencan," ucap Syafira tulus.
"Hem," angguk Bara tersenyum.
"Maaf baru bisa mengajak kamu jalan seperti ini, hanya ke luar kota yang dekat saja. Lain kali kalau banyak waktu senggang, kita berlibur ke luar negeri ya?" ucap Bara.
"Begini saja sudah senang mas," ucap Syafira, ia tak berharap lebih. Sederhana saja sudah buat dia merasa bahagia. Semoga bisa seperti itu seterusnya.
Syafira mengangguk. Bara mengajak Syafira ke sebuah hotel yang sudah di siapkan oleh om Jhon.
"Nggak pulang ke rumah ayah aja mas?" tanya Syafira ketika sampai hotel.
"Kita melanjutkan yang tadi tertunda di sini saja. Kejauhan kalau pulang. Lagian kalau di rumah nggak enak nggak kedap suara," ucap Bara dengan senyum devilnya.
"Apaan sih mas," Syafira tersipu malu.
Syafira di buat takjub dengan desain kamar hotel yang sudah di rancang sedemikian rupa, sehingga suasana menjadi sangat romantis dan memang sengaja di rancang khusus untuk sepasang suami istri yang ingin berbulan madu. Lantai penuh bunga mawar merah dan putih, cahaya lilin yang mengelilingi tempat tidur hingga kamar mandi, balon-balon berbentuk hati berwarna merah dan merah muda yang melayang di langit-langit kamar hotel menjadikan suasana sangat romantis.
Diam-diam, Bara sudah menyiapkan semuanya. Saat Syafira ke toko tadi pagi, ia menghubungi Om Jhon untuk mengatur semuanya, memintanya untuk menyiapkan kamar hotel bintang lima di luar kota tersebut. Namun, ia tak menyangka jika kamarnya akan di desain sedemikian romantis. Ia hanya memerintah untuk memesan hotel saja.
Karena masih lelah, Syafira meminta Bara yang mandi duluan, ia akan mandi setelahnya. Bara pun menurut saja. Beruntung tadi, mereka sekalian beli beberapa baju saat di mall, sehingga bisa ganti pakaian setelah mandi. Sepertinya Bara sengaja membelikan Syafira gaun malam yang saat ini sedang Syafira amati, sedikit ragu untuk memakainya. Namun, tadi Bara kekeh menyuruh Syafira memakai yang itu, harus, kudu, wajib katanya.
Selesai mandi, mereka makan malam romantis di balkon kamar hotel. Syafira masih sering merasa takut jika itu hanya mimpi, jika itu mimpi, ia tak ingin cepat-cepat bangun.
"Aku mau ngomong sama mas Bara," ucap Syafira di sela-sela makan malam romanis mereka yang di temani bintang-bintang bertaburan di langit karena cuaca malam itu sangat cerah.
"Dari tadi kan juga ngomong Fir..."
"Iya sih, tapi aku cuma mau bilang kalau aku juga cinta sama mas Bara," ujar Syafira.
Bara tersenyum mendengarnya.
"Aku tahu itu," ucap Bara kemudian.
__ADS_1
Bara meletakkan sendok dan garpunya, diraihnya tangan Syafira.
"Berarti sudah tidak marah lagi kan?" ucap Bara.
Syafira mengangguk sambil tersenyum manis. Suasana romantis membuat ia bersikap sedikit lebih kalem, terbawa suasana.
πΌπΌπΌ
Bara tampak sedang duduk menunggu Syafira yang sedang berada di kamar mandi untuk buang air kecil.
"Sini, duduk sebelah mas," Bara menepuk tempat kosong di sebelahnya ketika Syafira telah keluar dari kamar mandi.
Syafira mendekat dan duduk di sebelah suaminya.
"Sudah nggak gugup lagi kan?"
"Sedikit," jawab Syafira. Bara tersenyum. Padahal tadi pagi di rumah istrinya itu bersemangat sekali seperti menantangnya, tapi sekarang sudah berubah lagi. Ia bahkan sampai beberapa kali buang air kecil karena gugup.
"Sudah siap?" tanya Bara.
"Siap apa mas?"
"Buat dedek bayi," Bara memperhatikan Syafira kok malah semakin gugup, ia pikir dengan mengajaknya jalan-jalan dan lebih dekat, Syafira akan semakin berani. Ternyata suasana kamar yang romantis mempengaruhi suasana hatinya juga.
"Ih mas mesum!"
"Enggaklah, sama istri sendiri kok,"
Bara memulai aksinya. Ia meraih tengkuk Syafira dan sedikit menariknya supaya lebih mendekat dengannya.
"Jangan panggil om lagi ya nanti, kalau mau teriak, teriakan saja nama mas," ucap Bara merapikan rambut Syafira yang sedikt berantakan. sebelum ia memagut bibir ranum Syafira dengan penuh nafsu. Kali ini ia akan benar-benar melepaskan pertahanannya selama ini. Apalagi kini ia tahu, kalau Syafira mencintainya, sehingga ia bisa tanpa beban melakukannya. Tidak memaksa Syafira secara sepihak.
Syafira melenguh di sela-sela ciuman mereka berdua. Bara meneruskan aksinya, pelan-pelan ia melepas semua yang menempel pada tubuh Syafira, tanpa di sadari oleh sang istri. Bara menelan salivanya kasar saat melihat tubuh istrinya kedua kali setelah tadi pagi. Bara menyusuri seluruh tubuh Syafira inchi demi inchi tanpa ada yang terlewat dari bibirnya. Ada gelenyar aneh yang menjalar di tubuh Syafira. Seluruh tubuhnya berdesir menerima setiap rangsangan suaminya.
"Mas, matiin aja lilin-lilinnya," ucap Syafira merasa malu di tatap lapar oleh suaminya.
"Begini lebih romantis sayang, kalau di matiin gelap, takutnya nyasar," jawab Bara dengan suara parau menahan hasrat. Itu istrinya bisa diam tidak sih, kenapa selalu mengacaukan imajinasi suaminya, pikir Bara tak habis pikir.
"Diam ya sayang, biar mas yang kerja, jangan berisik!" peringat Bara. Ia melepas bajunya, membuat Syafira menelan ludahnya kasar. Meski sudah sering melihatnya, tapi tetap saja dada bidang dan perut kotak-kotak itu selalu berhasil menggoda imannya. Ingin sekali ia menyentuhnya.
"Sentuh saja," ucap Bara seakan tahu pikiran istrinya. Syafira memberanikan diri menyentuh dan mengusap tubuh atletis tersebut. Bara tersenyum menyeringai, istrinya yang sejak tadi hanya diam menerima perlakuan memabukkan darinya kini mulai berani menyentuhnya.
Dan Bara siap mengambil posisi untuk melakukan tendangan pinaltinya untuk menjebol gawang Syafira.
"Tahan ya sayang," ucap Bara ketiak melihat ekspresi wajah Syafira.
Dengan memagut bibir Syafira, Bara perlahan lahan, sedikit demi sedikit memasuki goa milik sang istri. Syafira hanya mampu meringis menahan sakit sambil menggigit bibir Bara sebagai pelampiasannya dan....
"Masss..." erang Syafira ketika bola itu berhasil memasuki gawang sepenuhnya. Terasa penuh di bawah sana, kepalanya sedikit puyeng seperti ada kunang-kunang.
Bara juga merasakan sensasi yang luar biasa, setelah sekian tahun berpuasa akhirnya bisa merasakannya kembali. Dan rasanya sama seperti sedang melakukannya pertama kali saat berhasil masuk.
Bara memberi jeda Syafira untuk mengatur napas, dan memberikan sedikit waktu miliknya bisa supaya menerima benda asing milik Bara yang baru saja memasukinya tersebut. Sebelum akhirnya ia melakukan hentakkan demi hentakkan dalam pertempuran yang sesungguhnya malam itu. Malam itu menjadi malam yang panjang untuk keduanya, dimana kamar itu di penuhi desahan dan erangan dari keduanya. Inilah surga dunia yang sempat Bara lupakan. Dan status Syafira kini sudah tak perawan lagi.
πΌπΌπΌ
π Segini saja, kalau terlalu bagaimana, pasti tidak lolos review π π Maafkan yang tidak puas πππ
__ADS_1
πbonus visual mas Bara dengan mogenyaπ