
"Coba saya lihat!" ucapnya tegas tidak menerima penolakan.
"Aku mau jemput anak-anak mas, nanti telat," alasan Syafira untuk menghindar.
Bara memegang tangan Syafira, ia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi pak Hendro, memintanya untuk menjemput si kembar dengan nanny tanpa Syafira.
"Apa lagi?" Bara meletakkan ponselnya ke atas nakas, matanya seolah bertanya alasan apa lagi yang akan di katakan oleh Syafira.
"Duduk, biar saya lihat!" menekan bahu Syafira supaya duduk, suaranya ngegas tapi sebenarnya ia khawatir.
"Mas Pakai baju dulu, aku takut kebablasan nanti," kening Bara berkerut mendengarnya, polos amat istrinya, terlalu jujur pikirnya.
Bara segera mengambil kaos berwarna putih dan celana santai lal memakainya. Ia segera duduk di belakang Syafira, melorotkan resleting dress yang Syafira pakai karena resletingnya berada di belakang.
"Dikit aja mas, jangan ke bawah-bawah bukanya," ucap Syafira malu, ia merasa merinding sekujur tubuhnya ketika tangan Bara menyentuh punggungnya secara langsung.
"Sakit?" tanya Bara.
Syafira menggeleng bohong. Padahal luka itu jauh akan lebih sakit kalau sudah lewat hari dari kejadian.
Bara mengambil obat oles untuk memar di kotak p3k lalu mengoleskannya pelan di punggung Syafira.
Glek! Sebagai laki-laki normal yang lama berpuasa, naluri lelakinya langsung on. Ingin sekali rasanya mengelus-elus punggung mulus milik istrinya tersebut. Namun ia segera menepisnya, berusaha menetralkan junior dan perasaannya karena ini bukan waktu yang tepat.
"Kenapa bisa begini?" ucap Bara sambil terus mengoleskan salep.
"Tidak sengaja kebentur mas, mas Bara kan tahu aku orangnya grasah grusuh, nggak bisa diam," Syafira tak ingin memperpanjang masalah. Sudah dipastikan jika Bara tahu pasti akan jadi panjang urusan.
Bara tahu Syafira berbohong. Tidak semudah itu ia di bohongi. Apalagi istrinya itu tidak biasa berbohong.
"Katakan yang sebenarnya, atau saya akan mencaritahu dengan cara saya sendiri?" ancam Bara.
"Beneran mas, aku nggak bohong," Syafira masih mencoba mengelak.
" Syafira Maharani! Bisa tidak jangan suka ngeyel. Kasih tahu saya apapun yang terjadi, biar saya tidak merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa sehingga saya tidak bisa melakukan apapun untuk anak dan istri saya kalau terjadi sesuatu!" tegas Bara.
Syafira menghela napasnya panjang. Sepertinya mengelak juga percuma. Suaminya bukan tipe orang yang bisa di bohongi dengan mudah.
"Tapi mas Bara janji dulu, jangan marah," mohonnya.
"Tergantung," jawab Bara.
"Mati mas kalau tergantung,"
"Serius Fira,"
__ADS_1
"Ck. susah kalau sudah serius begini," akhirnya Syafira mengatakan semuanya yang terjadi kemarin tanpa di kurang-kurangi atau pun di tambah-tambahi. Ia menceritakan apa adanya.
"Sonya, wanita itu!" Bara mengepalkan tangannya kuat-kuat, rahangnya mengeras setelah mendengar cerita Syafira.
"Tuh kan, aku bilang jangan marah. Nanti cepat tua dan mati. Aku nggak mau ngurusin harta mas Bara yang nggak ada habisnya ini sendiri kalau jadi janda," Syafira menoleh ke arah suaminya yang wajahnya sudah penuh amarah dan menggertakkan giginya.
"Uhuk!" seketika Bara tersedak begitu mencerna ucapan Syafira. Dirinya susah payah menahan amarah, Syafira malah bicara yang bikin orang ingin ketawa.
"Saya tidak marah, yang penting kamu dan anak-anak baik-baik saja," ucap Bara berbohong. Dalam hati ia bersumpah akan memberi wanita ular itu pelajaran yang setimpal.
Cup! satu kecupan Bara daratkan di luka Syafira membuat gadis itu semakin merinding.
"Sudah," ucap Bara sambil menaikkan lagi resleting dress Syafira.
"Ih mas, kan itu ada salepnya, kok di cium sih," Syafira terkekeh melihat ekspresi Bara yang langsung mengusap-usap bibirnya.
"Mau lagi mas?" goda Syafira terkekeh.
πΌπΌπΌ
Bara tengah duduk di ruang kerjanya sambil menatap marah kepada dua orang yang kini sedang berdiri menundukkan kepala mereka tak berani menatap atasan mereka yang sedang di kuasai kilat amarah.
"Bisa kerja tidak!" bentak menggebrak meja kerjanya dengan keras.
Dua pria berbadan kekar diam, tak berani bersuara.
"Maafkan kami tuan, kami lengah menjaga nyonya dan si kembar Tuan, kami pantas di hukum," ucap Salah satu dari mereka tanpa berani mengangkat kepalanya.
Mereka tidak mengetahui kejadian kemarin. Saat insiden itu terjadi, mereka sedang merokok di tempat yang memang di perbolehkan untuk merokok yaitu di sebuah warung yang letaknya tak jauh dari mall itu sambil ngopi. Mereka berpikir pasti Syafira dan si kembar akan baik-baik saja, tidak akan ada masalah. Makanya, mereka menyingkir sebentar dari memantau mereka. Mereka melanjutkan memantau ketiganya saat Syafira dan si kembar sudah keluar dari mall tanpa tahu apa yang terjadi di dalam.
"Sampai anak dan istri saya kenapa-napa nyawa kalian taruhannya!"
"Pergi!" usir Bara
Dua orang itu langsung berbalik badan hendak pergi tapi Bara mencegahnya.
"Kalian buat wanita itu menyesal, tapi ingat jangan pakai kekerasan. Gunakan cara halus, buat dia menyesal sudah cari masalah dengan saya, jangan menampakkan wajah kalian di depan saya lagi sebelum kalian berhasil membuatnya hancur, pergi!"
Dua pria itu benar-benar pergi setelah mendengar perintah dari Bara.
"Sonya, tunggu saja kehancuranmu!" geramnya. Bara memang sangat membenci jika ada yang berani mengusik orang yang ia sayangi terutama kedua anaknya. Apapun akan ia lakukan untuk mereka, bahkan jika harus melenyapkan nyawa seseorang oun akan ia lakukan jika itu perlu.
Syafira yang baru saja turun dan hendak mencari Bara ke ruang kerjanya melihat dua pemuda berbadan kekar, berseragam jas, masih muda dan lumayan tampan itu yang baru saja keluar dari ruang kerja suaminya.
"Siapa mereka? Seperti pernah lihat? Mungkin bawahannya mas Bara kali," duga Syafira mengangkat kedua bahunya tanda bodo amat tidak ingin terlalu memikirkan hal yang bukan prioritasnya.
__ADS_1
"Mas, aki berangkat ya?" pamit Syafira tanpa masuk, ia hanya memperlihatkan kepalanya saja.
Bara menatap istrinya tersebut.
"Mau kemana?" tanyanya curiga.
"Kuliah mas, kemana lagi? Mas Bara pikir mau kencan sama pria lain begitu?"
"Pria lain siapa?"
"Nggak ada mas, itu kan cuma omong kosong, barang kali mas Bara curiga begitu," Syafira mulai malas jika Bara sudah keluar posesifnya begini.
"Sini kamu, pamit sama suami kok cuma sampai depan pintu!" suruhnya.
Syafira membuka pelan pintu dan melangkah masuk, berdiri di depan suaminya dengan senyum semanis mungkin.
"Kamu mau kuliah apa mau apa, kenapa pakaian kamu seperti ini? Biar cowok-cowok semakin menatap kamu dengan tatapan buas mereka begitu? Fir, kamu itu sudah bersuami ingat itu. Ganti bajumu!"
Syafira memutar kedua matanya malas, ia tahu pasti suaminya itu akan ceramah terlebih dahulu sebelum mengijinkan ia pergi. Padahal baju yang ia kenakan biasa saja, hanya saja entah kenapa memakai baju itu Syafira terlihat semakin cantik di mata Bara, membuatnya semakin tidak tenang membiarkannya pergi ke kampus karena ia tahu di sana ada banyak laki-laki yang menyukai istrinya.
"Ini kan baju yang biasanya mas, kalau ini saja tidak boleh harus pakai yang bagaimana coba?" protesnya.
"Ya sudah, itu saja tidak apa-apa, uang penting jaga sikap," Bara menyadari jika ia barusan terlalu kelihatan posesifnya.
Syafira tersenyum, ia meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan itu.
"Aku berangkat dulu, assalamualaikum," pamit Syafira.
"Saya antar," ucap Bara.
"Serius? Mas Bara nggak sibuk? tumben,"
"Kenapa? Salah jika suami mengantar istrinya ke kampus?"
"Tidak sih, ayo!" Syafira tersenyum lalu berjalan duluan keluar dan di susul oleh Bara.
Sesampainya di dalam mobil, Bara menarik ikat rambut yang Syafira gunakan untuk menguncir rambutnya.
"Kok di lepas mas!" protes Syafira.
"Bagus begini, di kuncir begitu kayak anak kecil, kayak Nala," ucap Bara cuek. Ia hanya tak ingin leher jenjang istrinya menjadi santapan mata lapar para laki-laki yang melihatnya.
"Terserahlah," sahut Syafira tak kalah cuek.
__ADS_1
Yang bikin Bara salah tingkah π