Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 76


__ADS_3

Syafira terharu, ia ikut menitikkan air matanya, ia jadi ingat dengan almarhum ayahnya yang juga seorang ayah yang sangat hebat dan menyayangi anak-anaknya. Ayah yang selalu tersenyum dalam luka hatinya. Tak pernah sedikitpun mengeluh atas pengkhianatan yang di lakukan oleh sang istri, demi menjaga mental kedua anaknya. Ayah yang sekaligus merangkap sebagai figur seorang ibu sehingga Syafira dan Adelia tak pernah merasa kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Dan semua itu kini tinggal kenangan. Ia berdoa semoga ayahnya sudah bahagia di surga tanpa harua menanggung beban luka yang di torehkan ibunya.


Syafira tahu almarhum ayahnya sampai detik sebelum meninggal oun masih mencintai ibunya. Dan Syafira benci ketika harus mengingat kenyataan itu, dimana sang ayah yang selalu merindukan sosok istrinya meski dalam diam. Tanpa terasa Syafira meneteskan air matanya.


"Loh kok malah nangis sayang?" ucap Bara panik sambil mengusap pipi Syafira.


"Aku jadi ingat almarhum ayah mas, dia juga sosok ayah yang hebat dan kuat seperti mas Bara," ucap Syafira. Bara menarik Syafira ke dalam pelukannya.


"Sekarang udah ada mas yang akan menjaga kamu dan Adel," ucap Bara.


"Iya mas, tapi sampai kapan Adel akan seperti itu, kapan dia akan bangun mas. Kadang aku merasa takut kalau Adel juga akan meninggalkan aku," ucap Syafira.


"Sssttt kamu tidak boleh bilang seperti itu, kita harus percaya kalau Adel pasti akan bangun. Dia tidak mungkin tega meninggalkan kakak sebaik kamu," sahut Bara. Ia bisa merasakan kesedihan yang selama ini Syafira derita di balik senyum cerianya.


"Seandainya orang itu tidak menabrak Ayah dan Adel, mereka pasti masih hidup,"


"Orang itu? Siapa?" tanya Bara penasaran, selama ini ia tak banyak tahu tentang masa laku Syafira. Info yang ia dapay sebelum menikah hanyalah soal nama, status dan hutang ayahnya, tidak secara terperinci.


"Entahlah, aku tidak tahu. Dia hanya mengirim anak buahnya untuk datang ke rumah sakit saat ayah dan Adel kecelakaan. Ia menawarkan uang dalam jumlah yang banyak, tapi aku menolaknya karena bukan orang itu sendiri yang datang, melainkan orang suruhannya. Dan ketika ayah meninggal, tak ada satupun dari mereka baik pesuruh atau orang yang menabrak itu menampakkan batang hidungnya sama sekali, untuk sekedar mengucapkan bela sungkawa," cerita Syafira.


"Kamu tidak melapor polisi?"


"Orang miskin seperti kami bisa apa mas untuk melawan orang kaya seperti itu," ujar Syafira.


"Pagi itu adalah pagi terkahir kami sarapan bersama, sikap ayah dan Adel memang sedikit berbeda waktu itu. Mau berangkat sekolah saja seperti akan pergi meninggalkan aku lama sekali. Ternyata memang benar ayah pergi untuk tidak kembali lagi," ucap Syafira dengan lesu, tatapannya kosong mengingat masa lalunya.


"Pagi? Sekolah?" Mendengar ucapan Syafira entah kenapa raut wajah Bara menjadi sedikit berubah.

__ADS_1


"Iya mas, waktu itu kejadiannya pagi ketika ayah mengantar Adel sekolah," jelas Syafira.


"Kapan kecelakaan itu terjadi?" selidik Bara. Raut wajahnya semakin susah di artikan.


"Waktu pertama kali kita bertemu di makam itu, sudah bulan lebih ayah meninggal setelah di larikan ke rumah sakit oleh warga di jalan X, tempat kecelakaan terjadi. Namun nyawanya tidak tertolong," jelas Syafira.


"Tidak mungkin," gumam Bara syok mendengar penjelasan Syafira.


"Apanya yang tidak mungkin mas?" tanya Syafira.


"Ah tidak apa-apa sayang," Bara kembali mendekap Syafira, menciumi puncak kepala sang istri namun dengan tatapan kosong seperti sedang kepikiran sesuatu.


"Mas, udah mau malam ini. Pulang yuk!" ajak Syafira.


"Hem," Bara mengangguk, ia berdiri lalu mengulurkan tangannya kepada Syafira untuk mengajaknya ke motor gedenya.


"Iya, bagus bunganya. Dan ini juga bunga pertama yang mas Bara kasih, jadi mau aku bawa pulang buat kenang-kenangan," sahut Syafira nyengir. Mereka pun meninggalkan hamparan rumput ilalang itu setelah memakai helm dan menaiki moge.


🌼🌼🌼


Bara mengendarai mogenya dengan kecepatan sedang, mereka berdua benar-benar menikmati perjalanan menggunakan moge tersebut. Daripada naik pesawat jet atau mobil mewah, percayalah Syafira maupun Bara lebih suka seperti itu, jalan-jalan menggunakan motor gedenya, romantisnya lebih dapat. Syafira memeluk erat Bara dengan sesekali Bara mengusap tangan Syafira yang melingkar di perutnya, sesekali Bara menarik tangan itu lalu mengecupnya. Tak jarang pula Bara menoleh dan dagu Syafira yang menempel di pundaknya, mempermudah Bara untuk mencium bibirnya. Mantan duda itu serasa lahir kembali menjadi seorang remaja yang sedang jatuh cinta. Ketika ia sendirian dan mengingat momen itu, pasti ia akan tersenyum sendiri dan mengatai dirinya sendiri alay.


Bara mencoba menepis apa yang sejak tadi menjadi pikirannya. Mencoba untuk berpikir positif dan menikmati momen yang ada bersama sang istri saat ini.


Di tengah perjalanan, Bara mengajak Syafira makan malam terlebih dahulu karena perut Syafira yang terus keroncongan.


"Kita makan di sini dulu, mau?" tanya Bara. Ia menunjuk sebuah warung tenda sederhana yang buka hanya sejak sore hingga malam hari saja.

__ADS_1


Syafira mengangguk mengiyakan, "Aku mah, makan dimana aja mas," ucapnya.


"Mas Bara yang nggak apa-apa makan di tempat seperti ini?" sebelum turun dari moge, Syafira bertanya terlebih dahulu, ia yang tidak yakin jika Bara bisa makan di warung pinggir jalan seperti itu secara dia sultan sejak lahir.


"Kenapa emangnya? Apa mas kelihatan tidak pantas makan di warung itu?"


"Tidak, bukan begitu. Cuma aneh aja,.biasa kan orang kaya tidak mau makan di pinggir jalan seperti itu, takut tidak higienislah, takut tidak enaklah bla bla bla," Bara mengernyit mendengarnya. Perlu pengenalan karakternya lebih dalam lagi ini Syafira sepertinya, pikir Bara.


"Mas biasa makan di pinggir jalan, seperti yang kamu tahu mas suka moge dan dulu suka traveling hingga ke pelosok, mas bisa makan dimana saja asal tempatnya bersih. Jadi mau turun atau nggak nih sayang?" segala mau makan saja harus di diskusikan terlebih dahulu, Bata tak habis pikir, yang penting buat dia kan Syafiranya mau makan di sana, dia mah tinggal iya iya saja, orang lagi bucin.


"Jadi jadi," ucap Syafira, ia turun dari moge diikuti Bara. Setelah Bara melepas helmnya, Syafira langsung nyelonong masuk ke warung tersebut yang membuat Bara geleng-geleng kepala. Betapa aktif dan grasah-grusuh istrinya tersebut.


Selesai makan, mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang yang tak membutuhkan waktu lama lagi untuk sampai.


Sesampainya di rumah, Syafira masuk ke dalam rumah dengan perasaan riang sekali sambil bersenandung di ikuti oleh Bara di belakanganya.


Baru sampai di ruang tamu, langkah ceria.Syafira mendadak berhenti begitu melihat sosok yang kini sedang duduk di sofa ruang tamu tersebut.


"Kok berhenti sayang?" tanya Bara yang masih bekum menyadari situasi.


Tubuh Syafira serasa mematung melihat wanita itu, Bara yang menyadarinya ikut berhenti tepat di samping Syafira.


"Kamu?" ucap Bara begitu melihat wanita itu. Ia seperti sudah mengenal sosok itu sebelumnya.


Bara langsung meraih tangan Syafira dan menggenggamnya erat. Syafira masih tercekat mematung dengan situasi saat ini.


🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2