Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 119


__ADS_3

Dengan langkah cepat, Syafira berjalan menuju ke ruang rawat inap Adel. Ia sudah tak sabar ingin bertemu sang adik.


 


Adel langsung tersenyum begitu melihat pintu terbuka dan memperlihatkan sosok Syafira yang baru saja membuka pintu.


 


“Dek, kamu udah bangun dek. Kamu udah sadar,” Syafira langsung menghambur memeluk Adel.


 


“Kakak udah takut banget tadi dek, kakak kira kamu bakal ninggalin kakak, hiks hiks hiks,” Syafira terus memeluk Adel sambil menangis.


 


“Adel nggak ninggalin kakak, buktinya sekarang kakak bisa peluk Adel kan?” ucap Adel menenangkan sang kakak yang terus terisak.


 


“Iya, kakak senang kamu akhirnya bangun setelah sekian lama koma, terima kasih karena sudah kembali,” sahut Syafira tersenyum seraya melepas pelukannya terhadap Adel.


 


Varel yang sejak tadi berdiri dengan bersender di daun pintu, tersenyum ikut merasakan kebahagiaaan Syafira, akhirnya ia memilih keluar untuk memberitahu Bara jika Adel sudah sadar. Setidaknya berita tersebut akan sedikit membuat lega perasaan kakak iparnya yang saat ini pasti sedang gundah gulana di sana.


 


Varel kembali merogoh ponselnya yang sejak tadi ia abaikan. Dilihatnya ada beberapa panggilan tak terjawab dari Bara.


 


“Nggak sabaran banget sih kak, aku bilang tadi sabar, tunggu sebentar biar aku cek dulu,” gumamnya seraya menelepon balik Bara.


 


“Halo Rel, gimana? Gimana keadaan Syafira. Dia udah sadar? Dia tidak kenapa-kenapa kan? Adel gimana? Dia juga tidak kenapa-kenapa kan, Rel. Halo Rel!” Bara langsung memberondong Varel dengan pertanyaan. Sejak tadi ia gelisah tidak bisa tenang memikirkan kemungkinan yang sedang terjadi.


 


“Bentar kak, biar aku napas dulu baru jawab,”ucap Varel santai.


 


“Cepat katakan Rel, apa perlu aku balik ke Jakarta sekarang juga?” cerca Bara tak sabar.


 


“Semuanya baik-baik saja kak. Ada berita melegakan buat kakak. Pertama kakak ipar udah sadar, dia baik-baik saja. Tadi dia pingsan mungkin karena syok, di pikir Adel ninggalin dia. Di tambah lagi pasti sejak kemarin dia nangis terus dan nggak makan, makanya lemas.....” Varel menjeda ucapannya. Sementara Bara masih menunggu Varel melanjutkan bicaranya.


 


“Yang kedua, Adel udah sadar kak. Dia udah bangun dari komanya. Sekarang mereka lagi berpelukn di dalam...,” Varel mengarahkan ponselnya ke dalam ruangan dan mengambil photo Syafira dan Adel lalu mengirimnya kepada Bara.


 


Mendengar penjelasan Varel, membuat Bara menghela napasnya lega. Setidaknya satu masalah teratasi. Dengan sadarnya Adel, dia berharap hubungannya dengan Syafira akan membaik setelahnya.


 


“Kakak tenang aja. Sekarang konsentrasi dengan masalah perusahaan. Segera selesaikan supaya bisa cepat kembali dan bertemu Syafira lagi,” ucap Varel.


 


“Hem, makasih Rel Titip Fira dan Adel. Aku akan segera menyelesaikan masalah di sini dan kembali secepatnya,” sahut Bara.


“Iya, aku pasti jagain mereka kakak tenang aja. Udah ya, aku masih harus ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini,” kata Varel yang langsung mematikan panggilannya.


 

__ADS_1


“Tuan muda, sudah waktunya untuk meeting sekarang,” ucap om Jhon yang baru saja masuk ke dalam ruangan Bara.


 


“Apa... Ada masalah tuan muda? Sejak kemarin saya perhatikan sepertinya fokus Anda terbagi,” tanya om Jhon yang sejak kemarin memperhatikan sikap aneh Bara yang lebih banyak melamun.


 


“Fira sudah tahu semuanya om. Dia tahu kalau aku yang sudah menabrak ayah dan adiknya. Dia marah dan... Pergi dari rumah om,” jelas Bara.


 


Mendengar penuturan tuan mudanya, om Jhon langsung syok, “Maafkan saya tuan muda. Semua salah saya. Biar saya menjelaskan kepada nona Syafira, ini semua salah saya. Anda tidak bersalah dalam hal ini,” ucap om Jhon penuh penyesalan.


 


“Sudahlah om. Jangan tetlalu di pikirkan. Aku tahu, semuanya om lakuin buat aku dan juga si kembar. Jika kami tahu kebenarannya dari dulu, mungkin aku dan Fira tidak akan pernah menikah. Ada hikmahnya juga masalah itu baru terungkap sekarang. Setidaknya aku sudah memperistri Syafira. Mungkin memang ini jalan yang harus aku dan Fira lalui...Biarkan seperti ini dulu. Biarkan Syafira memiliki waktunya sendiri untuk berpikir dan merenung....”


 


“Dan ada kabar gembira om, Adiknya Syafira sudah sadar dari komanya,” sambung Bara dengan cepat.


 


“Benarkah? Syukurlah kalau begitu tuan. Nona pasti sangat senang sekali,” ucap om John.


 


“Hem, sekarang kita segera selesaikan masalah perusahaan. Aku udah nggak sabar pengin kembali ke Jakarta dan meminta maaf kepada Syafira. Semoga dengan sadarnya Adel, bisa sedikit membuka pintu maafnya untukku. Ayo om, kta berangkat meeting!” ajak Bara lebih semangat. Ia seperti menemukan kekuatan dan harapan baru.


🌼 🌼 🌼


 


Terhitung sudah tiga hati Adel sadar dari komanya. Pagi ini, setelah melawan morning sickness yang mulai dirasakan oleh Syafira, gadis itu semangat membuat makanan kesukaan sang adik. Sampai sekarang, ia belum menjelaskan perihal sang ayah yang sudah meninggal. Sungguh, Syafira tidak tahu harus mulai dari mana untuk menjelaskan kepada Adel. Lebih-lebih soal pernikahannya dengan Bara, laki-laki yang sudah menabrak Adel dan ayahnya. Rasanya, Syafira tak sanggup untuk mengatakannya keada Adel.


 


 


Selesai menyiapkan makanan, Syafira segera membersihkan diri. Di dalam kamar mandi, ia kembali merasa mual namun tak ada yang keluar dari perutnya. Syafira mengusap perutnya yabg masih terlihat rata, “Sayang, bantu bunda ya, jadi anak baik. Maaf jika bunda belum bisa bertemu ayah. Baik-baik ya sayang, sehat-sehat dalam perut bunda,” ucapnya yang tiba-tiba sangat merindukan suaminya. Momen bahagia kehamilannya seharusnya bisa ia nikmati bersama Bara. Nanun, kini semua ceritanya berbeda. Ia harus memprioritaskan kesehatan Adel terlebih dahulu. Selama kehamilannya baik-baik saja, ia sudah merasa senang dan tenang.


 


Bukannya Syafira ingin menyembunyikan kehamilannya dari semua orang, terutana suaminya. Akan tetapi, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya.


 


Tak sampai tiga puluh menit, Syafira sudah sampai di depan ruang rawat Adel. Ia mengembuskan napasnya kasar ketika melihat ada seorang laki-laki yang diam-diam sedang menguntit kamar tersebut. Perlahan ia mendekati pria itu, “Ngapain kamu Rel? Sejak kemarin kerjaanmu hanya menguntit saja, apa tidak ada kerjaan lain?” tegur Syafira kepada laki-laki yang tak lain adalah Varel tersebut.


 


Varel hanya bisa meringis karena ketahuan mengintip, “Bukannya nggak ada kerjaan peri manis, tapi ini salah satu pekerjaanku. Aku di tugaskan buat memantau dan menjaga kalian,” ucapnya tersenyum.


 


“Tapi tidak dengan cara seperti ini, aku risih di untit terus sama kamu. Bilang sama mas Bara, aku baik-baik saja. Tidak perlu sampai berbuat seperti ini, aku merasa tidak nyaman. Terlebih kalau  Adel sampai menanyakan siapa kamu, aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Kondisinya masih lemah, aku nggak mau sesuatu yang buruk kembali terjadi dengannya. Pergilah, bukannya ada hal yang lebih penting untuk kamu urusi di kantor. Pergilah, sebelum Adel melihat dan bertanya soal kamu. Aku malas jelasinnya sekarang,” ucap Syafira.


 


“Hem, ngomong-ngomong kamu bawa apa? Baunya enak,” Varel mengendus-ngendus bau harum dari rantang yang di bawa Syafira.


 


“Ini buat Adel, bukan buat kamu!” ucap Syafira.


“Bagi dikit bolehlah Fir, aku belum sarapan tadi buru-buru ke sini,” ujar Varel.


 

__ADS_1


“Nggak! Siapa suruh datang ke sini? Udah sana pergi atau aku panggilin satpam buat ngusir kamu?” ancam Syafira.


 


“Galak amat Fir. Lagi sensi ya, kayak yang lagi PMS aja. Beneran aku pergi nih? Nanti rindu kalau aku tiba-tiba menghilang tanpa jejak,”


 


“Apa. Sih Rel, cepat pergi sana. O ya, anak-anak baik-baik saja kan?” tanya Syafira.


“Tadi nyuruh pergi, sekarang nanyain si kembar. Kalau pengin tahu keadaan mereka. Kalau rindu mereka, pulang dan lihat sendiri!” ucap Varel ia langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Syafira yang kini masih berdiri mematung menatap ounggung Varel yang semakin menjauhinya.


 


“Tidak semudah itu Rel,” gumam Syafira lirih. Ada banyak pertimbangan yang harus ia pikirkan dengan matang, sebelum akhirnya memutuskan akan kembali atau tidak.


 


Syafira segera membuka pintu dan masuk ke dalam.


“Kakak datang?” ucap Adel tersenyum yang melihat Syafira datang.


“Iya, kakak bawa makanan kesuakaan kamu dek,” Syafira meletakkan rantang di atas nakas.


“Tadi bicara sama siapa kak? Om-om itu lagi ya?” tanya Adel.


“Om-om?” Syafira tak mengerti.


“Iya, kemarin waktu Adel sadar, yang Adel lihat pertama kali om-om itu. Aneh orangnya, masa dia ngaku pacar Adel hihi. Siapa sih dia kak? Teman kakak?” tanya Adel penasaran.


 


“Oh itu, em iya dia teman kakak, udah nggak usah di bahas. Nggak. Penting. Dia emang orangnya gitu suka ngasal kalau bicara,” jawab Syafira.


 


“Tapi ganteng ya kak hihi,”


 


“Kamu tuh dek, baru juga siuman udah ngomongin yang ganteng-ganteng aja. Sembuh dulu baru mikirin yang ganteng-ganteng,” kata Syafira tersenyum. Ia senang Adel bisa tersenyum lagi. Namun, ia juga merasa sedih bagaimana caranya bilang soal alamarhum ayahnya. Senyum itu baru saja kembaki, haruskan ia hancurkan lagi.


 


“Mau makan sekarang?” tanya Syafira. Namun Adel tak menjawab, ia melongo ke arah pintu, seperti mencari seseoarang.


"Dek?" Syafira menyentuh bahu Adel. Membuat Adel menoleh kearahnya.


"Mau makan sekarang?" tanya Syafira sekali lagi.


"boleh kak," jawab Adel.


"Kak..." panggil Adel. Syafira yang tengah sibuk menyiapkan makanan intuk Adel pun menoleh.


"Dimana ayah? Kenapa sejak kemarin ayah tidak mengunjungiku? Apa ayah sangat sibuk sehingga belum ada waktu buat jenguk aku. Apa ayah tidak merindukanku?" tanya Adel.


Deg!


Tiba-tiba Syafira merasa gemetar. Bibirnya terkunci rapat-rapat namun bergetar. Tak tahu harus jawab apa. Matanya terasa panas menahan air mata.


🌼 🌼 🌼


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2