Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 67


__ADS_3

Keesokan harinya...


Syafira dan juga Bara masih tertidur pulas meski ayam tetangga sudah pada mulai berkokok.


Sepasang suami istri tersebut malah asyik saling berpelukan tanpa sadar. Syafira terus bergerak mencari posisi ternyamannya, membuat Bara mengerjap dan membuka matanya. Ia tersenyum ketika mendapati Syafira dalam pelukannya.


Bara memperhatikan bibir ranum Syafira yang begitu menggodanya. Bibirnya tidak tahan untuk tidak menciumnya.


Mumpung istrinya masih pulas, Bara mengambil kesempatan untuk menciumnya. Nanti jika sudah bangun pasti bukan ciuman yang akan ia dapat, tapi omelan atau sejenisnya mengingat istrinya kini sedang merajuk.


Bara mengusap lembut bibir Syafira menggunakan ibu jarinya. Pelan-pelan ia mendekatkan bibirnya ke bibir Syafira. Awalnya ia hanya mengecupnya sekilas, namun naluri laki-lakinya mendorongnya untuk tidak puas hanya mengecup saja. Bara mulai memagut bibir ranum itu dan melakukan the single lip kiss yaitu menghisap bibir Syafira, ia melakukannya dengan pelan.


Syafira yang masih terpejam, merasakan hal aneh pada dirinya. Ia seperti mimpi sedang di cium oleh suaminya yang diam-diam ia rindukan. Tanpa sadar, bibir Syafira tersenyum tipis, ia membalas ciuman Bara. Bahkan kedua tangannya ia kalungkan di leher suaminya tersebut. Bara tersenyum mendapat respon dari Syafira. Mereka pun berciuman cukup lama dengan saling memagut satu sama lain.


Sungguh, Syafira merasa mimpinya itu seperti nyata. Ia seperti benar-benar sedang berciuman dengan Bara. Namun, pikirannya menepis hal itu, tidak mungkin suaminya kini berada di sana. Mumpung mimpi enak, Syafira pun menikmati kegiatan ciuman mereka, biar bagaimanapun Bara adalah laki-laki pertama yang mengajarkannya berciuman. Hanya bibir suaminya yang pernah ia rasakan, sehingga bagi Syafira sentuhan lembut bibir suaminya ke bibirnya adalah yang terbaik dan bikin dia seperti kecanduan.


Lama-lama, Syafira merasa ada yang aneh dengan kenyataan yang di kira mimpi tersebut. Syafira mencoba membuka matanya dan...itu bukan mimpi, itu nyata. Ia kini sedang berciuman dengan seorang laki-laki yang wajahnya tidak begitu jelas karena aktivitas mereka membuat wajah Bara terlalu dekat hingga nyaris menempel malah.


"Astaghfirullah, ini bukan mimpi!" gumamnya dalam hati matanya membulat sempurna karena terkejut.


Bruk! Cepat-cepat Syafira mendorong dan menendang laki-laki yang sudah lancang masuk ke kamar dan menciumnya hingga laki-laki itu terpental dari atas tempat tidur.


"Aw!" pekik Bara meringis setelah pantatnya mendarat sempurna di lantai dengan keras.


"Eh orang, kirain hantu," celetuk Syafira.


Setelah kesadarannya sudah penuh, Syafira menutup bibirnya tak percaya.


"Mas Bara?" gumamnya terkejut.


"Iya, ini saya Fir. Kamu kira siapa?" ucap Bara sambil meringis kesakitan.


Syafira menggeser tubuhnya untuk duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur.


"Aku kira hantu, lagian mas Bara kenapa bisa masuk? Masuk dari mana coba? apa coba kalau bukan hantu bisa cling masuk aja gitu? Lagian mas Bara ngapain sih kesini? aku kan udah bilang akan pulang sendiri!" Syafira menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Ia menyembunyikan keterkejutannya karena tahu-tahu Bara sudah ada di kamarnya.


"Mana ada hantu setampan saya. Saya masuk dari pintu, kamu ceroboh sekali kenapa pintu tidak di kunci? Untung saya yang masuk coba kalau garong? Bahaya kan?" Bara mencoba berdiri lalu mengibas-ibas celananya.


Bara duduk di tepi ranjang, namun Syafira malah turun dari tempat tidur.


"Situ garongnya," ucap Syafira sambil ngeloyor menuju pintu.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Bara.


"Pipis, mau ikut?" jawab Syafira menoleh sebelum melewati pintu.


"Jangan kabur lagi," ucap Bara.


"Di bilangin mau pipis juga, nggak percaya ayo ikut!" ucap Syafira kesal, saking terkejutnya ia sampai kebelet.


Bara pun terdiam dan hanya bisa menunggu Syafira kembali.


🌼🌼🌼


Setelah menunggu beberapa saat, ternyata Syafira tidak kembali ke kamar. Bara keluar dari kamar untuk mencari Syafira. Ternyata istrinya tersebut sedang berada di dapur. Bara bernapas lega karena melihat istrinya, ia pikir Syafira kabur lagi.


"Lagi apa?" tanya Bara, ia memundurkan kursi lalu mendudukinya.


"Buat kopi," jawab Syafira jutek. Masih marah rupanya, meski sudah dalam level rendah, pikir Bara.


"Buat saya?" ucap Bara.


"Enggaklah, buat aku sendiri. Semalam aku tuh nggak bisa tidur, baru tidur tadi jam berapa," jawab Syafira.


"Kenapa nggak bisa tidur? Rindu saya? Kalau rindu, kenapa nggak pulang?"


Selesai mengaduk kopi, ia meletakkan di meja depan suaminya, " Ini!" ucapnya, ternyata memang membuatkan suaminya.


Bara tersenyum tipis lalu menyeruput kopi buatan Syafira yang sudah ia rindukan. Semarahnya Syafira masih tetap perhatian dengannya. Membuatnya semakin tak ingin kehilangan.


"Makasih," ucap Bara setelah menyesap kopi tersebut.


"Hem,"


Syafira diam, ia berjalan melewati Bara, namun Bara segera menarik tangannya hingga Syafira jatuh terduduk di pangkuannya.


"Mas apaan sih!" protes Syafira.


"Duduk dulu, saya mau bicara," ucap Bara.


"Bi bicara ya bicara, tapi nggak perlu dipangku kayak gini dong mas, kayak mau bicara sama anak TK aja, dikira aku Nala apa?" Syafira mencoba berdiri dari pangkuan Bara, namun bara menahan pinggang Syafira hingga tetap pada posisinya.


"Biarkan saja seperti ini, saya ingin lebih dekat saat bicara sama kamu," sahut Bara.

__ADS_1


"Hem, baiklah. Ayo bicara! Mau ngomong apa? Aku dengerin!" Syafira mengubah posisi duduknya menjadi menyerong menghadap wajah suaminya. Tangannya ia lingkarkan di leher Bara, sehingga kini jarak keduanya sangat dekat. Membuat Bara menelan salivanya. Ia merasa keder di tatap Syafira seperti itu jantungnya berdegup sangat kencang. Bahkan lebih kencang dari sebelum-sebelumnya.


"Ayo cepat mau bicara apa? Aku nungguin ini," Syafira sengaja semakin mendekatkan wajahnya.


"Kamu duduk sendiri saja!" Bara langsung mengangkat tubuh Syafira dan berdiri, lalu menekan bahu Syafira untuk duduk kembali. Bara duduk di kursi lain menghadap Syafira.


"Heleh, tadi sok-sokan mau mangku, tapi keder sendiri!" cebik Syafira.


Bara mengusap tengkuknya karena malu, ia benar-benar tak bisa mengontrol jantungnya barusan.


Setelah jantungnya kembali normal, Bara mulai mengajak Syafira yang kini sedang mendekap toples berisi camilan untuk bicara.


"Masih marah?" Bara mulai mengajak bicara lagi, kali ini tampak serius.


"Enggak, siapa juga yang marah," jawab Syafira.


"Kalau tidak marah, kenapa tidak pulang. Katanya cuma butuh me time, saya kira cuma pergi sama duo sahabat kamu itu seperti biasa. Tidak tahunya minggat dari rumah," ucap Bara.


Syafira langsung mendelik, mendengar Bara bilang minggat, menurutnya kurang sopan.


"Mama yang bilang minggat," ucap Bara lirih ketika paham akan tatapan mengintimidasi istrinya.


Syafira masih diam, ia ingin mendengar suaminya itu bicara lebih banyak lagi, senang aja mendengar suara Bara. Apalagi kalau sudah melow, seperti tidak ingat saat dia bicara pedas.


"Kalau marah tuh bilang saja, ngomel saja, kalau perlu cakar-cakar saya saja, tidak boleh pergi. Lebih baik luapkan emosi langsung kepada saya. Jangan malah pergi, saya jadi khawatir. Kelimpungan cari kamu, sampai saya tidak kepikiran kalau kamu akan pulang ke sini,"


"Aku kan bilang, aku tidak marah mas, tidak ya tidak!"


"Bohong dosa lho, marah kan?"


"Sedikit," jawab Syafira.


"Sedikit kok sampai tidak pulang, bagaimana kalau banyak marahnya? Bahaya," ujar Bara.


"Kan aku bilang butuh me time ih. Ini kan juga me time namanya,.kan udah ijin sama mas Bara juga," jawab Syafira pendek.


"Ya tapi kamu nggak bilang mau menginap, bahkan bawa baju banyak-banyak. Mau berapa hari atau minggu coba me timenya. Emang nggak rindu sama anak-anak? Sama saya juga? Anak-anak pasti merindukan kamu,"


"Saya juga...rindu," sambungnya lirih.


"Kan anak-anak lagi sama ibu mas," Syafira hanya bicara singkat-singkat, namun dalam hati ia senang ketika Bara bilang rindu meskipun masih dalam level gengsi, buktinya bicaranya lirih begitu. Biarkan saja suaminya itu kini yang bicara banyak, sesekali.

__ADS_1


🌼🌼🌼


__ADS_2