Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 79


__ADS_3

"Bunda, kenapa oma marah sama daddy? Apa daddy nakal lagi sama bunda?" tanya Nala yng melihat omanya menceramahi sang ayah.


"Sudah pasti, apa lagi," sahut Nathan.


"Berarti oma bohong dong kemarin, katanya daddy sama bunda sedang buat dedek bayi, makanya kita nggak boleh ganggu, kok daddy nakal lagi," gadia kecil berlesung pipi itu sudah siap menumpahkan air matanya.


"Eh enggak sayang, daddy nggak nakal. Daddy sayang kok sama bunda. Itu omah bukan marah tapi hanya ajak bicara daddy," ucap Syafira.


"Ya aku paham, oma memang suka heboh dan teriak kalau bicara, jadi kadang susah membedakn kapan dia sedang kalem dan kapan sedang marah. Huh, orang tua kadang bikin pusing," celoteh Nathan.


Syafira hanya tersenyum dan sedikit menggeleng mendengar ucapan Nathan.


"Kalau begitu bunda udah mau kerja sama dengan daddy dong? Terus mana dedek bayinya?" tanya Nala antusias.


"Belum jadi ya bunda? Atau belum buat? Oma bohong pasti," lanjutnya kecewa.


"Eh tidak-tidak, bukan begitu. Sayang, dengar bunda ya, untuk punya dedek bayi itu tidak bisa cepar seperti bunda buat kue, dedek bayi prosesnya lama sayang,"


"Kalau begitu beli saja yang sudah jadi, tidak perlu repot membuat kalau lama," kata Nathan.


"Belinya dimana Athan? Nala pengin satu yang syantik kayak Nala," tanya Nala.


"Nanti kita diskusikan dengan oma. Astaga, satu Nala saja sudah bikin pusing, aplagi ada dua. Cowok saja, yang tampan kayak aku," sahut Nathan.


"No Athan, kalau tampan nanti Athan kesaing, mau?"


Nathan tampak berpikir sejenak, " Ya, kamu benar. Atau yang setengah kayak aku, setengah kayak kamu aja, gimana?" ucapnya kemudian.


Syafira hanya diam sambil memperhatikan kedua anak kecil itu berdiskusi soal dedek bayi yang ia pikir sudah kelar sejak kapan hari, eh ternyata masih di bahas juga oleh mereka. Pandangannya beralih ke suaminya dan bu Lidya. Syafira hanya bisa menggelengkan kepalanya yang semakin terasa pusing jika ia terus berada di sana.


"Sayang, bunda ke kamar dulu ya, kepala bunda agak sakit," ucap Syafira pada si kembar.


"Ya bunda," jawab Nathan.


"Bunda cepat sembuh," ucap Nala.


"Mas, buk Fira ke kamar dulu ya, masih agak pusing," pamit Syafira kepada Bara dan bu Lidya. Tanpa menunggu jawaban Syafira langsung ergi meninggalkan mereka.


"Ma, anak-anak ke sekolah di antar mama lagi ya? Syafira sedang sakit, Bara harus ke kantor agi ini ada meeting penting," ucap Bara.


"Mama lagi? Mereka minta pulang pagi-pagi karena pengin diantar kamu atau Fira," jawab bu Lidya.

__ADS_1


"Satu kali lagi, sepuluh juta,"


"Lima belas," tawar bu Lidya.


"Deal," sahut Bara. Ia langsung menyerahkan urusan anak-anak keada bu Lidya, sementara ia menyusul Syafira ke kamar.


Saat masuk ke dalam kamar, Syafira baru menyadari jika photo yang ada di dinding sudah berganti dengan photo pernikahannya denga Bara.


"Mas, mas Bara! Mas Bara!" teriak Syafira yang masih mematung di depan pintu. Bara yang mendengar teriakan Syafira langsung memperceat langkahnya.


"Sayang, ada apa? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Bara khawatir.


"I~itu..." Syafira menunjuk photo tersebut.


"Iya, kenapa dengan photo itu?"


"Si siapa yang ganti, bukan aku loh mas, sumpah! Aku juga baru sadar sekarang kalau photonya ganti, semalam aku tidak memperhatikannya," ucap Syafira, ia takut Bara akan marah kembali seperti waktu itu.


"Mas kira ada apa, kamu bikin mas jantungan aja,"


"Mas bara nggak marah?"


"Buat apa marah, itu mas yang ganti sayang," Bara mengusap lembut kepala Syafira.


"Iya benar sayang, waktu kamu pergi itu mas cari-cari photo pernikahan kita, ternyata ada di laci kamu," Bara menarik Syafira kedalam pelukannya.


"Maafkan mas, harusnya mas melakukannya sejak dulu," lanjutnya.


"Terus photo mbak Olivia?"


"Mas taruh gudang," jaeab Bara. Meski berat ia melakukan itu, biar bagaimanapun ia juga masih mencintai Olivia, tapi tidak mungkin ia memajang keduanya bersandingan di kamar tersebut.


"Taruh saja di kamar si kembar mas, bagiamanpun juga mbak Olivia wanita hebat yang sudah melahirkn mereka, setidaknya jika melihat photo itu, mereka akan ingat wajah ibu kandung mereka mas," ucap Syafira.


Bara tersenyum, bangga dengan kedewasaan yang dimiliki istrinya, meskipun sifat abg terkadang juga masih terlihat jelas. Tapi soal si kembar, Syafira adalah ibu yang luar biasa.


" Iya, nanti kita pasang di sana, sama photo kita juga," sahut Bara.


"Aku juga mas? Serius?"


"Iya sayang, kau kan jug ibu mereka," Kata Bara.

__ADS_1


Syafira senang mendengarnya, apakah utu artinya kini kefudukannya di hati suaminya setara dengan kedudukan Olivia di sana? Syafira sangat senang pokoknya. Ia mengecup bibir Bara sebagai ucapan terima kasih.


" Lagi lagi lagi," rengek Bara.


Syafira melayangkan satu kecupan lagi.


"lagi, satu kali lagi," rengek Bara lagi, sambil mengacungkan jari telunjuknya.


"Udah ah, nanti kebablasan,"


"Nggak apa-apa, kan di sini udah nggak ada photo Olivia, jadi kamu bisa menikmati tubuh suamimu ibi tanpa malu lagi,"


"Masalahnya aku lagi nggak enak badan mas, ah minggir aku mau rebahan," Syafira sedikit mendorong tubuh suaminya, supaya ia bisa berjalan ke ranjang.


Bara malah menarik tangan Syafira dan langsung mencium bibir Syafira. Disesapnya bibir manis milik Syafira dengan lembut. Terbawa suasana, Syafira reflek memeluk tengkuk suaminya, sedikit menekannya seakan meminta lebih dalam lagi. Bara tersenyum tipis di sela aktivitasnya.


"Tahu nggak, bercinta di pagi hari bisa menambah energi loh, siapa tahu kalau kita melakukannya sakit kepala kamu akan hilang.Mas pikir kamu pusing karena pengin tapi malu buat minta deh. Mau mencobanya, nanti kalau belum sembuh juga, kita coba lagi, bagaimana?" ucap Bara setelah melepas pagutannya.


Syafira geleng-geleng kepala, penawaran macam apa itu. Bukannya malah akan semakin kelelahan dan sakit.


"Wah mesum nih mas Bara, apa-apa dikaitkan dengan itu,"


"Lah mesum bagaimana? Mas hanya menjalankan tugas sebagai manusia dan sebagai suami, yang harus menjaga kelangsungan keturunan, caranya ya dengan begitu untuk bisa berkembang biak," celoteh Bara. Ia membopong tubuh Syafira dan merebahkannya di tempat tidur.


"Woi, pintu di tutup di kunci kalau mau ngadon! si kembar masuk saat kalian begitu kan gawat. Lagian istri lagi sakit itu Bar, tahan nafsu kenapa. Heran mama, puasa lima tahun sekalinya buka, rakus amat. Semua di embat nggak ada jeda, kasih istrimu waktu buat napas juga jangan kamu bikin ngos-ngosan terus! Mama cuma mau bilang, mama berangkat antar si kembar!" teriak bu Lidya dari balik pintu yang sedikt terbuka. Sepertinya wanita paruh baya itu tadi tidak sengaja melihat aktivitas mereka sekilas.


Ceklek! Pintu langsung tertutup rapat, di tarik oleh bu Lidya, meninggalkan Bara dan Syafira yang mematung, tidak mampu berkata-kata lagi.


"Astaga mama," ingin rasanya Bara mengumpati habis-habisan ibu mertuanya tersebut, tapi takut kualat apalagi omongan bu Lidya lebih tajam dari silet.


"Mbak Oliv seperti itu mas?" tanya Syafira penasaran, masih dalam keadaan tercengang melihat ke arah pintu.


"Tidak, mereka seperti air jernih dan air comberan. Olive, anteng kalem, tidak seperti itu. Mas juga heran Olivia lahir dari mananya dulu, kok bisa ajaib beda begitu," jawab Bara yang juga masih bengong di tempat. Padahal tadi ia cuma bercanda, membaringkan Syafira karena ingin menyuruhnya istirahat.


Syafira mengernyit, apa hubungannya dengan aor putih dan air comberan.


"Apa aku pecat aja ya jadi mertua," sekoroh Bara tiba-tiba, yang tentu saja tidak serius.


Bug! Satu tabokan mendarat di lengan Bara.


"Sembarangan kalau ngomong," omel Syafira.

__ADS_1


"Bercanda sayang, sakit aja masih ada tenaga buat nabok ya," ujar Bara terkekeh.


🌼 🌼 🌼


__ADS_2