
Syafira tengah menyiapkan keperluan baby Zio untuk ke rumah rekan bisnis suaminya.
"Mas, tolong pegang dulu anaknya ini, gantian aku yang siap-siap," kata Syafira mendekati suaminya yang tengah sibuk dengan ponsel pintarnya.
"Oh, anak daddy udah siap ya? Sini sama daddy dulu! Nggak usah dandan cantik-cantik, nanti mas yang pusing kalau kamu terlalu cantik," Bara meletakkan ponselnya di nakas lalu mengambil alih Zio dari gendongan Syafira.
"Hem, anak daddy tampan sekali. Wangi lagi. Mau ketemu cewek kok ya, di sana?" goda Bara pada anak bungsunya tersebut.
Bayi tampan itu tak menyahut, yang jelas ia belum paham apa yang di katakan oleh ayahnya. Ia justru asyik membolak-balik mobil-mobilan di tangannya.
"Mas Bara ih, anaknya masih bayi juga! Udah di godain begitu. Emang anak rekan bisnis mas Bara yang baru itu cewek ya?" tanya Syafira sambil mengoleskan lipstik tipis di bibirnya.
"Iya, mas dengar sih cewek katanya," sahut Bara.
"Oke. Nanti mampir di Mall dulu ya mas, mau cari kado buat babynya. Akhirnya bisa belanja baju sama bando lucu-lucu buat bayi cewek," Syafira tampak antusias sekali.
Tak berselang lama, mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kuenya nggak lupa kan mas?" Syafira mengingatkan. Ia sudah menyiapkan kue terbaik dari tokonya.
"Tuh!" Bara menoleh ke jok belakang diikuti oleh Syafira.
"Siiip!" sahut Syafira.
Mobil pun melaju dengan kecepatan standar dan berhenti di sebuah Mall.
Syafira membeli beberapa baju, dress dan bando serba pink yang akan ia hadiahkan untuk anak rekan bisnis suaminya.
"Ya ampun, lihat ini mas. Cantik-cantik banget!" seru Syafira. Ia memang sering membelikan Nala baju, tapi bukan baju bayi yang menggemaskan seperti yang ia pegang sekarang.
"Mas aku mau yang ini, ini sama ini ya... Em yang ini juga!" seru Syafira.
Bara hanya menggelengkan kepalanya melihat betapa excitednya sang istri. Padahal itu belanja buat putri orang lain, bagaimana jika untuk putri mereka sendiri.
"Jangan di bororng semua sayang, sisakan buat calon anak kita juga," seloroh Bara yang kini sedang menggendong baby Zio.
Syafira mencebik, "Emang yang ini bakal cewek mas, kan belum tahu," Syafira mengusap perutnya.
"Semoga saja sayang, biar pas cowok dua, cewek dua," sahut Bara.
Syafira tak menggubris lagi, ia kembali asyik memilih pernak pernik untuk bayi perempuan.
"Lihatlah boy, bundamu kalap, pengin semua di beli untuk calon menantunya," Bara langsung mengatupkan bibirnya, kalau Syafira mendengar ucapannya, Habislah dia di ceramahi pasti.
Baby Zio mulai bosan menunggu bundanya belanja, ia mulai rewel tak betah berada di mall tersebut.
" Emang ya, jiwa emak-emak. Dari tadi milih-milih terus, alhasil bingung sendiri mau yang mana. Sayang, ini anaknya udah rewel, udah belum sih?" ucap Bara sambil mendekati sang istri.
"Zio capek ya di gendong daddy? Mau turun?" tanya Syafira.
"Nggak usah turun! Di gendong daddy saja, kalau turun, ntar kamu kelayapan kemana-mana lagi. Daddy lagi nanti yang di salahin bunda kalau kamu hilang," sergah Bara cepat.
Bayi montok itu langsung cemberut, seolah ia tahu apa yang daddynya katakan.
"Sayang, udah belum sih? Emang mau satu mall kamu beli semua?" kata Bara yang juga sudah tak sabar.
"Anak sama bapak, sama saja. Udah pada rewel," batin Syafira terkekeh.
__ADS_1
"Iya mas, ini aku lagi bingung aja mau pilih yang mana aja. Kayaknya nggak mungkin juga aku beli semuanya," kata Syafira.
"Pilih aja beberapa yang paling bagus dan nyaman di pakai, harga nggak masalah, ingat rekan bisnis mas ini sultan, jadi jangan pilih yang murahan. Hitung-hitung buat investasi masa depan, ya nak?" Bara mencolek pipi baby Zio.
Syafira mendesah sambil menggelengkan kepalanya. Padahal suaminya itu juga sultan, tapi omongannya udah kayak orang mau bangkrut aja, pikirnya.
" Jangan lupa di bungkus sekalian biar cantik, mas ke sana dulu. Ini Zio udah tambah rewel, capek," ucap Bara.
"Orang anaknya anteng gitu kok, bapaknya yang rewel ini mah," omel Syafira.
Bara hanya mengulum senyum mendengar omelan istrinya.
๐ผ ๐ผ ๐ผ
Sampai di kediaman rekan bisnis Bara, Syafira mendadak menciut nyalinya.
"Istrinya juga pewaris tunggal perusahaan ternama kan, mas?"
"Terus kenapa?" tanya Bara cuek.
"Aku minder," bisik Syafira.
"Heh, lupa suamimu siapa?"
Tanpa terasa langkah kaki mereka sudah sampai di depan pintu. Rekan bisnis mereka langsung menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang, Bar," sambut pemilik rumah.
"Terima kasih, El. Eh Iya, kenalin ini istriku. Syafira," Bara memperkenalkan sang istri.
Syafira mengangguk sopan dan tersenyum.
"Dan ini jagoanku," Bara memperkenalkan Zio.
"Hai boy!" sapa Elang mencubit gemas pipi gembul baby Zio.
Elang pun mempersiapkan tamunya untuk masuk.
"Dimana bayinya?" tanya Bara.
" Masih di kamar, sebentar lagi juga turun," jawab Elang.
Tak berselang lama, Istri Elang turun dengan bayi cantik di gendongannya.
" Maaf ya, tidak ikut menyambut kalian, barusan baby Zea pup, jadi ya harus ganti popok dulu," ucap Senja ramah.
"Tidak apa-apa mbak. Ini baby Zea ya, cantik banget mbak," ucap Syafira gemas kepada bayi cantik berusia hampir lima bulan tersebut.
"Ini juga ganteng, siapa namanya?" Senja mencubit gemas pipi baby Zio.
"Zio Onty," ucap Syafira mewakili Zio.
"Wah, bisa pas gitu ya, Zea Zio. Double Z. Mau tukeran gendongnya?" tawar Senja. Dan tentu saja Syafira setuju. Ia yang semula berpikir sosok Senja pasti wanita yang pendiam, jutek dan angkuh terpatahkan sudah, ternyata wanita itu sangat ramah dan baik. Bahkan baru sekejap saja mereka sudah tidak canggung sama sekali.
Baby Zio awalnya menolak di gendong oleh Senja namun lama-lama ia pasrah juga.
"Boo, mau yang kayak gini juga. Ganteng banget," ucap Senja kepada suaminya.
__ADS_1
"Bukankah sudah otw yang ganteng, sayang?" sahut Elang.
"Ya, semoga saja yang ini jagoan kayak baby Zio ya?" ucap Senja.
Mendengar obrolan Senja dan Elang, menggelitik Syafira untuk bertanya.
"Mbak Senja lagi hamil?" tanya Syafira.
Senja mengangguk, "Iya, baru enam minggu. Sekalian saja ngurus bayinya nanti, aku dari dulu kesepian, jadi langsung gas aja, penginnya punya anak banyak, hihi," kata Senja tanpa malu.
"Dua aja sayang, maksimal tiga!" Elang mengingatkan. Ia tidak setuju jika memiliki anak banyak. Yang jelas tidak tega sering melihat istrinya kesakitan waktu melahirkan.
"Tuh kan sayang, Elang aja langsung gas mau nambah anak. Nggak masalah anak masih bayi. Zio kan udah setahun malahan, jadi nggak masalah sama kehamilan kamu," kata Bara.
"Waaahh, Fira juga lagi isi ya?" tanya Senja antusias, ia merasa senang ada temam hamil.
"Iya mbak," sahut Syafira mesem.
"Berapa bulan?"
"Belum cek sih mbak, habis dari sini rencana mau sekalian cek ke dokter. Tapi kalau di hitung sendiri kira-kira enam atau delapan minggu mungkin," jelas Syafira.
"Sayang, aku ajak Bara ke sana dulu ya. Mau ngomongin pekerjaan sebentar. Kalian lanjutkan saja ngobrol ya," pamit Elang.
Senja mengangguk.
"Sayang, mas tinggal ke sana sebentar ya," pamit Bara. Dan Syafira juga mengangguk. Kedua pria itu meninggalkan istri mereka yang sudah akrab sekali tersebut.
"Ya ampun, ternyata kita samaan ya, nanti lahirannya bisa barengan itu. Berarti kalian udah mau empat ya anaknya. Yang besar kembar kan? Ngomong-ngomong kok mereka tidak ikut, kalau ikut kan asti semakin ramai di sini, semakin asyik," Seloroh Senja melanjutkan obrolan asyiknya dengan Syafira.
" Kembar lagi main ke Zoo sama Onty unclenya, jadi nggak ikut. Iya ini mbak, aku udah mau empat aja. Padahal aku baru mau dua puluh dua tahun, tapi anaknya udah banyak hihi. Syukuri aja ya mbak hihi," sahut Syafira yang sudah tak ada canggung lagi.
"Iyalah, malah seru lagi. Nanti kita belum tua-tua amat, anak-anak udah pada dewasa. Senang pokoknya," kata Senja.
Syafira dan Senja pun terus mengobrol, mulai dari membahas soal jenis kelamin calon bayi mereka sampai nama bayi mereka nanti jika lahir. Kalau bisa bahkan mereka ingin melahirkan bareng. Mereka benar-benar senang karena merasa menemukan teman yang sefrekuensi.
Sementara baby Zio sudah turun dari pangkuan Senja, ia berdiri di depan Syafira. Terus memandangi bayi cantik dalam pangkuan bundanya. Lama menatap gemas bayi yang sedang tidur pulas itu, tiba-tiba baby Zio mencium pipi baby Zea yang mulai menggeliat dan membuka matanya.
"Oh ya ampun, nak!" seru Syafira yang terkejut melihat tingkah putra gagal bungsunya.
"Dek, dek!" celoteh baby Zio yang kembali mencium gemas baby Zea.
"Iya ini dedek, tapi jangan cium sembarangan. Nanti dimarahin sama Onty loh," kata Syafira bercanda.
"Ya ampun mabk, maaf ya," kata Syafira merasa tidak enak. Takut jika Senja tidak suka dengan apa yang Zio lakukan. Karena tidak semua orang akan legowo dan maklum.
"Namanya juga anak kecil, nanti kalu sudah dewasa pasti kalau diingatkan malu," Seloroh Elang yang baru saja datang dengan Bara.
"Iya, nggak apa-apa, santai aja. Zio lucu sekali sih. Jangan pulng ya nanti, bobok sini saja sama Onty, sama dedek Zea," ucap Senja yang gemas dengan tingkah lucu Zio.
Bayi montok itu, kembali mencium baby Zea, "Tissss" celotehnya.
"Ya ampun nak, tahu aja bibit yang bening dan unggul. Biasanya cuek, tapi yang ini di kiss kiss terus, ampun deh!" ujar Bara geleng-geleng kepala. Membuat yang ada di sana tertawa.
๐ผ ๐ผ ๐ผ
๐ ๐ Jangan lupa baca juga novel terbaru author ya... Klik saja profil author nanti ketemu novel yang berjudul 'Wedding Trap by Mr. Introvert'
__ADS_1
Ceritanya sedikit berbeda dengan novel-novel sebelumnya. Yuk segera merapat ramaikan ๐ ๐