
Adel tampak sedang duduk melamun seorang diri di sebuah gubuk yang ada di tengah sawah. Entah apa yang kini sedang ia renungkan, yang jelas keberadaannya di sana untuk menepi sejenak dari masalah yang akhir-akhir ini terjadi kepadanya. Berkali-kali ia mengembuskan napasnya dalam dengan sesekali mengusap cairan bening yang jatuh dari sudut matanya.
"Nggak baik cewek melamun sendirian. Di tengah sawah lagi." entah datang dari mana, tiba-tiba Varel sudah duduk di sampingnya.
"Om, ngapain kesini?" tanya Adel kesal, baru juga ingin menyendiri sudah di ganggu saja, pikirnya.
"Nyariin kamulah, Fira cemas tuh dari tadi nyariin, kamunya pergi nggak ada bilang-bilang," jawab Varel.
Adel hanya mendesis, ia kembali melihat ke depan dengan tatapan kosong.
"Jangan kebanyakan melamun, bisa jauh dari jodoh loh," kata Varel yang tidak ditanggapi oleh Adel.
Varel hanya bisa menghela napas karena di cuekin, "Kenapa sih, kamu segitunya sama kak Bara. Padahal belum mengenal dia, tapi udah ngejudge yang bukan-bukan," Varel mencoba mengajak bicara serius Adel.
"Padahal kalau udah kenal, pasti kamu bakal suka. Bahkan mungkin kamu akan jatuh cinta sama dia, kayak kakak kamu," lanjutnya.
Adel langsung menoleh dan menatapnya, "Aku nggak suka om-om," katanya mencebik.
"Aku bukan om-om loh. Catet!" timpal Varel bercanda.
"Lagian kakak juga di paksa kan menikah sama dia. Kalau nggak, nggak mungkin kakak kau menikah sama orang yang udah membuat ayah meninggal. Apalagi aku tahu, menikah muda, belum lukus kuliah, itu bukan impian kakak. Dan orang itu udah ngehancurin impian kakak, aku makin nggak suka jadinya,"
Varel sedikit mendengus, "Gini ya, emang sih awalnya mereka menikah bukan karena saling cinta. Tapi sekarang mereka saling mencintai. Tanpa aku jelasin pun kamu pasti sudah bisa melihatnya bukan?"
Adel terdiam lalu menoleh, "Om sendiri bagaimana? Aku juga bisa melihat ada rasa lebih buat kakak aku, om suka kan sama kakak?" todong Adel, Membuat varel menelan salivanya.
"Eh siapa bilang, nggak ada ya," kilah Varel.
"Ck, aku bisa lihat kali dari cara km lihatin kak Fira," cebik Adel.
"Enggak ah, sama aja kayak aku mandang kamu gini. Coba sini lihat aku!" Varel menarik dagu Adel, "Gimana? Apa kamu juga lihat ada rasa suka buat kamu?" tanyanya kemudian.
Adel langsung memalingkan wajahnya, melihat Varel sedekat ini membuat jantungnya bermasalah.
__ADS_1
"Om nggak usah bohong, dengan cari-cari alasan,"
"Hedeh, ini bocah. Emang kebaca banget ya mukaku," desah Varel dalam hati.
"Buatku, kebahagiaan kakak iar dan si kembar adalah kebahagiaan juga. Melihat mereka bisa tertawa lepas tanpa beban membuatku ikut bahagia. Kamu tahu, Sekarang impian kakak kamu mungkin sudah berubah, yaitu kak Bara anak-anaknya. Semua impian ya dulu, akan menjadi bonus untuknya. Terus, menurut kamu, kalau kamu kayak gini terus, apa nggak merusak impian kakak kamu buat hidup bahagia bersama keluarganya?" Varel menjeda kalimatnya. Ia melirik ke samping dimana Adel kembali terdiam.
" Sok tahu, om," ucap Adel dengan tatapan menerawang.
"Emang tahu! Soal kecelakaan itu, aku bisa jdi saksi kalau kak Bara benar-benar tidak sengaja dan tidak tahu jika ayah kamu meninggal. Jadi itu bukan termasuk alasan dia menikahi Syafira,"
"Terus, itu bisa jadi alasan buat lari dari tanggung jawab? Dengan bilang tidak sengaja dan tidak tahu?"
Varel mengembuskan napasnya, sepertinya akan sedikit sulit untuk mengajak damai hati gadis di sampingnya tersebut.
"Secara tidak langsung kakak tanggung jawab, dia yang bayarin hutang ayah kamu dan juga biaya pengobatan kamu di rumah sakit, semua dia yang tanggung," Varel melirik Adel yang tampak menatapnya sebal.
"Iya iya aku tahu, kamu pasti mau bilang jika nyawa tidak bisa di tukar dengan uang kan?" ucap Varel yang seolah tahu makna dari tatapan Adel barusan.
Adel menunduk, "Om nggak tahu apa yang aku rasain,"
"Om nggak tahu kan, bagi anak perempuan, sosok ayah adalah cinta pertamanya. Dan aku kehilangan cinta pertama itu, om nggak tahu gimana perasaanku saat sadar tapi udah nggak bisa lihat ayah lagi," Adel mulai terisak.
"Dan kamu tahu, seorang ayah adalah panutan bagi seorang laki-laki, dan aku juga sudah kehilangan panutan itu. Bukan hanya anak perempuan yang akan bersedih jika kehilangan sosok ayah dalam hidupnya, tetapi anak laki-laki juga. Namun, semua kembali kepada yang di atas. Takdir, adalah semua jawaban atas semuanya. Kita manusia hanya bisa menerima. Jika tak ingin terluka lebih lama, kita harus bisa menerima kenyataan, ikhlas lalu memaafkan," ucap Varel, ia langsung mengatupkan bibirnya menahan senyum, bagaimana bisa ia bicara sebijak itu, pikirnya.
Varel mengeluarkan ponselnya, ia membuka galeri video yang menunjukkan dua bayi kembar yang baru saja lahir.
" Lihat ini, mereka adalah keponkanku. Anak kembar kak Bara dan kakakku, Nathan dan Nala. Saat mereka lahir di dunia ini, saat itu juga mereka harus kehilangan sosok ibu mereka. Mereka bahkan sama sekali tidak memiliki kenangan apapun dengan ibu mereka...." Varel melirik Adel yang sepertinya mulai tertarik untuk melihat video di ponselnya.
" Saat itu, kak. Bara begitu terpukul. Dunianya serasa ikut mati. Hatinya langsung beku atau mungkin ikut terkubur bersama mendiang kakakku. Tak ada lagi terang di hatinya yang kembali tertutup rapat-rapat.
Satu-satunya alasan dia masih bernapas adalah mereka, kedua anaknya. Namun, tetap saja, ia menghabiskan waktu lebih banyak untuk bekerja dan bekerja. Melihat si kembar, membuatnya ingat akan Almarhumah kakak dan itu membuatnya sedih dan merasa tak adil kepada si kembar....
Untungnya anak-anak itu sangat cerdas, mereka tak pernah mengeluh meskipun sebenarnya mereka sangat menginginkan seorang ibu, seperti teman-teman mereka di sekolah....
__ADS_1
Hingga akhirnya, Syafira datang dalam kehidupan mereka, menjadi penerang dalam kegelapan mereka. Si kembar begitu bahagia dengan kehadiran Syafira yang memang tulus orangnya. Mereka senng karena pada akhirnya memiliki orang tua yang lengkap..." Adel masih terdiam, mendengarkan Varel terus berbicara sambil sesekali ia berdecak kagum melihat video si kembar.
Tanpa sadar, Adel meraih ponsel yang di pegang Varel, ia penasaran dan melihat-lihat photo dan Video si kembar yang lain smbil tetap memasang telinga mendengar kalimat selanjutnya dari Varel.
Varel tersenyum, ia melanjutkan ceritanya,"Perlahan tapi pasti, hidup kak Bara kembali terang. Hatinya yang beku perlahan mencair. Ia seperti hidup kembali, semua karena Syafira. Dia begitu mencintai Syafira. Hanya saja mungkin cara awalnya saja yang salah untuk mengikat Syafira ke dalam pernikahan. Tapi percayalah, kakak nggak mungkin mau menikahi Syafira jika sejk awal mereka bertemu, ia tak merasakan apapun, "
" Si kembar pun demikian, mereka sangat menyayangi Syafira yang mereka panggil bunda. Apa kamu tega menghancurkan senyum mereka? Apa kamu tega memisahkan anak-anak dari ibunya? Syafira sedang hamil, apa kamu tega memisahkan anak dalam kandungnya dengan ayahnya?" Adel tersentak lalu menoleh, buru-buru ia mengembalikan ponsel Varel.
"Apa pernah kamu benar-benar memikirkan perasaan Syafira? Pernah bertanya aa yang ia inginkan dan harapkan dari rumah tangganya bersama kak Bara? Apakah ia benar-benar ingin berpisah darinya? Selama ini, bukankah Syafira selalu diam? Demi menjaga perasaan kamu, ia mengabaikan perasaannya sendiri...semua juga tahu kalau kakak kamu juga sangat mencintai suaminya," menggebu-gebu seperti sedang mendeklarasikan sebuah keadilan. Menarik napas lalu mengembuskannya kembali.
"Berhentilah egois Del, aku yakin sebenarnya kamu juga tidak tenang dengan terus menyimpan dendam seperti ini. Setelah mengenal kak Bara, asti kamu bisa menilai seperti apa dia, bagaimana ia memperlakukan Syafira dan sebesar apa cintanya untuk kakakmu. Tentu kamu tidak buta dan tidak tuli, kecuali hatimu mati rasa... "
Varel melirik Adel yang semakin terisak," Ya ampun, apa aku keterlaluan ya ngomongnya," batinnya tak tega.
"Aku mau sendiri, om pulang!" ucap Adel setelah berhasil menguasai diri.
"Eh di usir setelah kasih pencerahan. Ayo pulang bareng,!" ajak Varel. Adel menggeleng, "Aku mau di sini dulu, om pulang saja duluan, lagian siapa yang suruh nyususlin ke sini. Keberadaan om di sini bikin aku tambah migrain tahu nggak,"
"Nggak ada, ngga ada yang nyuruh, cuma insting aja. Calon makmum, takut ilang," ujar Varel yang kembali bercanda. Ia yakin, kata-katanya tadi sudah di serap oleh otak Adel. Jika tidak, berarti memang hati batu, pikirnya.
"Ish apaan sih, om. Udah sana pulang duluan, aku nggak akan kemana-mana. Nanti pulang," Ucap adel.
"Astaga! am om am om, dari dari aku biarin panggil aku om ya. Hanya untuk kali ini karena aku sedang baik. Nanti panggil aku kakak, abang, atau mas. Jangan panggil nama doang, aku lebih tua dari kamu... Panggil sayang juga boleh," Varel tergelak di kalimat terakhirnya, ia geli sendiri.
"Beneran ya, pulang?" Varel mengacak rambut Adel.
"Iya,"
"Ingat, renungi, resapi! Percaya takdir, menerima kenyataan, ikhlas lalu maafkan. Itu solusinya, bukan pilih aku. Pilih aku! Ini soal hati, bukan kampanye!"
Varel pun pergi meninggalkan Adel sendiri yang kembali termenung.
Varel pun pergi meninggalkan Adel sendiri.
__ADS_1
🌼 🌼 🌼
💠Masih ada lagi, tetap like, komen di setiap bab ya.. Jangan di skip like dan komennya 😄😄💠ðŸ’