
Setelah berpikir, akhirnya bu Lidya memutuskan untuk masuk saja, siapa tahu Syafira tidak mendengar ketukan pintunya.
"Fira, kamu di dalam Nak? Ibu masuk ya?" ucap Bu Lidya sambil pelan-pelan melangkah.
"Iya bu, masuk saja," bu Lidya bicara sendiri seolah dirinya Syafira.
Sesampainya di dalam, ternyata Syafira baru saja keluar dari kamar mandi karena panggilan alam.
"Ibu?" Syafira terkejut sekaligus senang melihat bu Lidya. Ia mendekat dan menyalami bu Lidya. Tak lupa punggung tangan wanita paruh baya itu ia cium. Dan mereka pun berpelukan sejenak lalu melepaskan pelukan mereka satu sama lain.
"Hehe maaf ya, ibu asal masuk aja. Habisnya ibu dari tadi mengetuk pintu nggak ada yang bukain, padahal kata pelayan kamu di kamar. Ibu coba buka pintunya, eh tidak di kunci jadi ibu nyelonong masuk aja. Maaf ya?" ucap bu Lidya.
"Nggak apa-apa bu, Fira tadi lagi di toilet jadi nggak tahu kalau ibu mengetuk pintu. Oh ya, kapan ibu pulang?"
"Kemarin lusa, kenapa? Kangen ya sama ibu?" tanya bu Lidya tersenyum.
"Kangenlah Bu, apa lagi si kembar nanyain ibu terus, katanya ibu mau pulang cepat," jawab Syafira.
"Ini juga cepat, rencana malah mau dua atau tiga bulan lagi baru pulang. Sayang kan uang Bara kalau nggak di hamburin. Orang uangnya bejibun nggak ada habisnya gitu, lah si Baranya hanya sibuk bekerja terus, ya ibu lah yang bantu gunain uangnya biar sedikit berfaedah," ucap bu Lidya disertai gelak tawa.
Syafira tersenyum, bagaimana bisa bu Lidya berkata demikian di depan Syafira yang notabennya saat ini berstatus istri sah sang menantu. Namun begitulah bu Lidya, dia memang suka bercanda. Kalaupun serius Syafira tidak marah, apa yang di katakan bu Lidya benar. Suaminya hanya tahu bekerja dan bekerja tanpa tahu cara menikmati hasilnya. Jadi, biarlah bu Lidya yang membantu menikmati kekayaan menantu kesayangannya tersebut.
"Turun yuk, ibu bawa oleh-oleh banyak buat kamu dan lainnya," bu Lidya meraih tangan Syafira untuk mengajaknya keluar.
"Sebentar bu," Syafira mengambil ponselnya di atas meja.
"Omegat! Astaghfirullah!" seru bu Lidya terkejut.
"Kenapa bu?" tanya Syafira kembali dari ambil ponselnya.
"Itu..." bu Lidya menunjuk sebuah pigura yang berisi photo Olivia yang menggantung di dinding, tepat di atas ranjang. Dari tadi bu Lidya tidak begitu memperhatikan kamar tesebut, tapi ketika Syafira mengambil ponselnya, bu Lidya mengedarkan pandangannya, menyapu setiap sudut kamar dengan kedua matanya dalam hitungan beberapa detik saja dan... kedua netranya menangkap gambar berbingkai gold tersebut.
"Itu kan photo mbak Olivia bu, kenapa ibu kaget? Jangan bilang ibu amnesia gegara kebanyakan travelling, jadi lupa sama wajah almarhumah," ucap Syafira menatap heran bu Lidya.
"Ibu tahu itu photo Olivia, ibu yang melahirkannya jadi ibu khatam sama bentukan wajahnya meski ibu merem Fira sayang," sahut Bu Lidya.
__ADS_1
"Terus kenapa ibu seperti terkejut begitu? Apa ada masalah dengan photo itu?"
"Ya masalah lah Fir. Kenapa photonya masih di pajang di situ? Harusnya sudah di turunkan atau di ganti photo kamu sama Bara. Bara gimana sih nggak peka amat jadi suami!" bu Lidya mulai kesal ingat anak menantunya itu.
"Nggak papa bu, mungkin mas Bara masih ingin melihat mbak Olivia setiap hari,"
"Kamu tidak keberatan? Tidak protes sama suami kamu?" tanya bu Lidya, wajahnya tampak serius kali ini.
Syafira menggeleng. Keberatan sih, tapi ia tidak pernah protes, itu yang sebenarnya.
Bu Lidya kembali menatap photo itu.
"Wah ini tidak benar! Bagaimana mungkin Bara bisa dengan santainya memajang photo itu. Apa dia nggak mikirin perasaan istrinya sekarang,"
"Oh tidak, jadi kalian kalau sedang beradegan mantap-mantap di lihatin sama photo Olivia? Kalian melakukannya di depan photonya? Tidak benar ini. Astaga Bara! itu anak kenapa kadar kepekaannya tidak berubah juga, masih minim!" bu Lidya terus mengomeli menantunya yang kini sedang tidak ada di tempat tersebut.
Percuma saja ngomel, orang tersangka utamanya tidak ada di sana. Yang ada telinga Syafira yang terasa pengang di sana.
"Tidak bu, bukan begitu..." Syafira tidak tahu harus bicara apa.
"Tunggu! Jangan bilang kalian belum di unboxing sama Bara?" Bu Lidya menatap tajam Syafira, menunggu jawabannya.
"Emang kado bu di unboxing?" darimana coba bu Lidya dapat istilah itu. Syafira saja tidak kepikiran.
"Istilah saja Fir, lagi viral itu istilah. Di perawanin maksudnya,"
Syafira lupa jika ibu dari istri pertama suaminya itu cukup gaul dan eksis di sosial media.
"Gimana-gimana? Beneran kalian belum melakukanya?" masih penasaran dengan jawaban Syafira.
Pelan tapi pasti Syafira menggeleng, antara malu dan tidak ingin ketahuan bercampur di sana.
"Bara! benar-benar beg* apa gimana sih itu anak. Astaga! Ada istri cantik, masih muda dan...bohai, kenapa kok tahan buat nggak enak-enak. Kelamaan menduda kali ya jadi lupa cara mengenakkan burungnya sendiri atau jangan-jangan udah mati rasa itunya,"
Syafira mengatupkan bibirnya mendengar ucapan bu Lidya. Entahlah dia tidak bisa berkata apa-apa. Otak polosnya berusaha keras mencerna ucapan bu Lidya.
__ADS_1
"Udah bu, ayo kita keluar saja. Katanya ibu bawa oleh-oleh untuk Fira. Fira nggak sabar pengin tahu apa oleh-olehnya," Syafira menggandeng tangan bu Lidya. Jika mereka terus berasa di kamar itu pasti ocehan bu Lidya tidak akan ada selesainya.
"Tunggu, urusan ibu di sini belum selesai," tolak bu Lidya.
"Aduh, mau ngapain lagi sih,"
Bu Lidya menghubungi pelayan di rumah tersebut.
"Suruh dua orang laki-laki buat ke kamar Tuan muda sekarang!" ucap bu Lidya yang bicara lewat intercom.
Syafira hanya diam, menunggu apa yang akan bu Lidya lakukan.
"Turunkan photo itu dan simpan di gudang!" perintah bu Lidya setelah dua orang pelayan laki-laki sampai.
Syafira terkejut dengan perintah bu Lidya.
"Jangan Bu, nanti mas Bara marah kalau photo mbak Olivia di turunkan," ucap Syafira, meskipun sebenarnya ia juga menginginkan hal itu, akan tetapi ia menghargai perasaan suaminya.
"Sampai kapan Bara akan begini, sudah waktunya dia move on Fira, memang tidak mudah dan mungkin tidak bisa melupakan Olivia karena jujur ibu juga tidak ingin Bara melupakannya. Tapi, cukup simpan saja Olivia dan kenangannya di hati. Tidak perlu terus di pajang seperti ini. Sekarang sudah ada kamu yang wajib di hargai perasaannya," bu Lidya hanya mencoba bijaksana. Meski sebenarnya hatinya sedih jika photo Olivia di hilangkan dari rumah itu, ada rasa takut juga jika Bara benar-benar melupakan almarhumah putrinya suatu saat nanti. Namun, ia tak ingin egois.
"Tapi Bu, pasti mas Bara marah kalau tahu." Syafira ingin Bara sendiri yang menginginkan untuk menurunkan photo itu dari sana, ingin Bara melakukannya atas kesadaran sendiri.
Berbeda dengan pemikiran bu Lidya, baginya jika tidak sekarang mau kapan lagi? Lebih cepat lebih baik. Jika menunggu Bara sadar sendiri, bisa-bisa sampai lebaran onta, pikir bu Lidya karena kepekaan laki-laki mantunya itu kadang di bawah rata-rata dan ia tak ingin Syafira terus merasa canggung setiap kali menatap photo Olivia. Bu Lidya mencoba berpikir sebagai sesama perempuan bukan sebagai ibu kandung dari Olivia.
"Biar saja kalau dia mau marah," sahut Bu Lidya.
Syafira hanya bisa diam dan setuju. Mungkin ini waktu yang tepat, mengingat hubungannya dengan Bara yang semakin membaik dan akhir-akhir ini hubungan mereka semakin dekat. Mungkin suaminya tidak akan marah, pikir Syafira sambil menatap photo berukuran besar itu di turunkan dari dinding.
Syafira juga penasaran, bagaimana reaksi Bara saat tahu photo itu sudah tidak ada. Apakah akan marah atau tidak, ia ingin tahu seperti apa kedudukannya di hati suaminya itu, apakah belum sama sekali bisa menyentuh hatinya atau sudah bisa sejajar dengan Olivia, supaya ia tahu bagaimana harus menyikapi rumah tangganya untuk kedepannya
πΌπΌπΌ
π Udah hari senin aja nih, yuk ah votenya buat Mas Bara....jangan lupa like, komen dan hadiahnya juga,, terima kasih ππ
Salam hangat author π€β€οΈβ€οΈπ
__ADS_1