Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 120


__ADS_3

Dada Syafira terasa bergemuruh hebat. kaku dan lidahnya mendadak menjadi kelu untuk bicara.


"Mungkinkah ini memang saatnya Adel tahu jika ayah sudah..." gumam Syafira dalam hati. Ia tak bisa meneruskan kata-katanya, terlalu sedih jika mengatakan ayahnya sudah tiada. Tanpa terasa air matanya menetes begitu saja.


"Kak, kok diam?" ucapan Adel menyadarkan Syafira dari lamunannya. Ia segera mengusap wajahnya serabutan untuk menghilangkan jejak air mata kesedihannya.


"Eh iya dek," ucap Syafira seraya memutat badannya menghadap Adel dengan sepiring makanan di tangannya yang baru saja ia siapkan. Tak lupa ia tersenyum kepada sang adik.


"Makan dulu ya, nanti kakak akan cerita sesuatu sama kamu," ucapnya dengan tetap tersenyum sambil berpikir menyusun kalimat yang tepat untuk bicara nanti.


Syafira dengan telaten menyuapi Adel hingga makanan yang ada di piring hampir habis.


"Enak kak, Adel kangen masakan kakak," ucap Adel seraya mengunyah makanan dalam mulutnya.


Syafira hanya menimpalinya dengan tersenyum dan kembali menyendok makanannya. Melihat wajah Adel yang sejak tadi tersenyum, membuat hati Syafira tersayat. Ia sungguh tak tega meredupkan senyum itu kembali.


Selesai makan, Syafira menyodorkan segelas air putih kepada Adel yang langsung di minum oleh Adel.


"Makannya udah, sekarang ayo kakak mau cerita apa? Tadi katanya mau cerita. Adek sip dengerin!" ucap Adel tak sabar.


"Minum dulu obatnya dek, baru kakak cerita. Tapi kamu harus janji sama kakak, apapun yng kakak ceritakan kamu harus kuat," Syafira mewanti-wanti Adel.


"ih apa sih kak, jadi makin penasaran aja. Soal apa sih, kok kayaknya serem gitu," timpal Adel.


Syafira tersenyum tipis, "Ini obatnya diminum dulu," ucapnya sambil menyodorkan obat dan gelas.


Adel patuh, ia meminum obatnya lalu bersiap mendengar cerita sang kakak. Ia kini menatap wajah Syafira yang sudah berubah sendu.


"Ini soal ayah..." ucap Syafira lirih sebagai pembuka ceritanya.


"Iya, ayah dimana? Ayah kenapa kak?" Adel semakin penasaran, namun perasaannya mendadak menjadi tidak enak.


Syafira menghela napasnya panjang sebelum akhirnya menceritakan apa yang terjadi.

__ADS_1


Adel menggeleng tak percaya dengan apa yabg baru daja Syafira ceritakan. Matanya dufah berkaca-kaca. Ia menelisik kebohongan di wajah sang kakak, namun nihil! Syafira bercerita dengan nada bergetar dan menahan tangisnya.


"Nggak mungkin! Kakak pasti bohong kan?" sergah Adel, meski dalam lubuk hatinya ia percaya jika memang ayahnya sudah tiada. Ia ingat mimpinya soal sang ayah sebelum ia sadar kemarin.


"Kakak pasti bohong kan, ayah nggak mungkin ninggalin kita kan?" air mata sudah membanjiri wajah pucat Adelia.


Syafira hanya diam menahan gejolak di dadanya. Seandainya saja ia bisa, ia ibgin mengatakan kalau semua ini bohong. Tapi, inilah kenyataan yang harus Adel terima juga.


Syafira memeluk Adek dengan erat," Kakak nggak bohong dek, kecelakaan itu membuat ayah pergi selamanya," ucapnya. Kini syafira tak bisa lagi menahan air matanya.


"Kamu harus kuay dek, kakak mohon. Hanya kamu yang kakak pubya saat ini," ucap Syafira lagi, ia semakin mengeratkan pelukannya. Adel terus menangis memanggil-manggil ayahnya. Ia benar-benar syok dengan berita ini.


"Maafin Adel ayah, kalau saja wajtu itu ayah nggak nganterin Adel sekolah, mungkin ayh masih hidup," ratap Adel dengan pilu. Ia menyalahkan dirinya sendiri mengibgat waktu itu ia merengek supaya ayahnya cepat-cepat mengantar ke sekolah karena sudah hampir telat.


"Jangan ngomong begitu dek, bukan salah kamu. Kamu jangan begini. Kakak jadi sedih kalau kamu begini. Masih ada kakak, dek," ucap Syafira mencoba menenangkan Adel.


"Adel mau ke makam ayah kak," ucap Adel.


"Iya, kamu sembuh dulu, baru nanti Kakak ajak ke makam ayah, sama ibu," sahut Syafira.


Syafira mengangguk, ia kemudian juga menceritakan soal ibunya kepada Adel. Membuat Adel menangis semakin pilu, "Kenapa ibu tega, kenapa dia lebih memilih jalan seperti itu. Kenapa kak, kenapa semuanya jadi seperti ini," Adel terus menangis dan mengungkapkan kekecewaannya terhadap ibunya. Selama ini ia juga sangat merindukan wanuta yang telah melahirkannya tersebut, berharap suatu saat ia bisa bertemu kembali dengn ibunya, meskipun ia sebenarnya marah, benci dan kecewa. Namun, rasa rindunya terhadap sang ibu juga sama besarnya.


Syafira tak tahu lagi harus bicara apa, ia sendiri sangat sedih mengingat semua masalah yang sedang ia hadapi saat ini.


"Siapa yang nabrak Adel sama ayah kak? Kakak tahu? Aa orangnya sekarang di penjara kak?" tanya Adel kemudian.


Pertanyaan yang Syafira takutkan, keluar juga dari mulut Adel. Syafira benar-benar bingung harus jawab apa. Kondisi Adel saat ini sudah tidak memungkinkan untuk mengetahui hal yang kebih menyakitkan lagi, yaitu laki-laki yang kini menjadi kakak iparnya yang sudah menabrak mereka.


"Kakak tidak tahu dek," ucap Syafira tanpa berani menatap Adel.


Adel kembali menangis mengingat kedua orang tuanya. Kini yang ia punya hanya Syafira.


"Maafin adel kak, maaf. Semua gara-gara Adel. Kakak pasti selama ini melewati hari-hari yang sulit sendirian,"ucap Adel.

__ADS_1


" Tidak, dek. Kamu nggak salah. Kita harus saling menguatkan. Yang penting kamu cepat sembuh, kakak senang," kata Syafira. Ia masih memiliki PR untuk menjelaskan soal Bara. Entahlah sampai kapan ia menyembunyikan fakta jika ia sudah menikah dan kini sedang hamil anak dari pria yang menabrak Adel. Ia berjanji, apapun akan Syafira lakukan untuk kebahagiaan sang adik.


🌼 🌼 🌼


Malam harinya....


Bara dan om Jhon sedang makan malam di sebuah rumah makan sederhana.


"Om pesan apa itu? Sepertinya enak," ucap Bara yang sejak tadi melirik menu yang ada di depan om Jhon.


"Ini nasi goreng seafood tuan muda," sahut om Jhon.


"Kayaknya enak yang itu, om," ucap Bara lagi, ia sampai menelan ludahnya sendiri.


Om Jhon menatap Bara aneh, tidak biasanya tuan mudanya seperti itu.


"Tuan muda mau? Biar saya pesankan yang seperti ini," tawar om Jhon.


"Yang itu saja, om Jhon yang pesan lagi. Takutnya rasanya nggak sama. Aku mau nyoba yang om Jhon makan, kayaknya enak aku lihatnya,"


Om Jhon semakin dibuat bingung dengan sikap Bara. Sejak kapan Bara mau makan sisa orang lain? Kalau sisa Syafira sih mungkin masih bisa di nalar, karena bucin. Lah ini sisa om Jhon," Apa tuan muda sakit?" tanya om Jhon penasaran.


"Tidak om, aku baik-baik saja. Habis ini kita cari rujak uleg om, om browsing dulu dimana yang jual ya. Aku habisin ini dulu. Om pesan lagi aja," ucap Bara yang kini sudah mengambil sendok dan garpu yang bersih dan mulai makan, lagi.


Om Jhon membulatkan kedua matanya mendengar Bara ingin makan rujak.


"Kenapa tuan muda ingin makan rujak malam-malam begini?" tanya om Jhon. Lagian mana ada yang jual rujak malam-malam, pikirnya.


"Pengin aja om, seger kayaknya. Biasanya Fira yang buat rujak kalau di rumah. Akhir-akhir ini dia suka sekali makan, kadang malam juga buat rujak sendiri. Aku merindukannya om," jelas Bara.


"Nanti kita beli buah-buah saja tuan, saya akan browsong dan membuatkan rujaknya di apartemen. Kakau beli, saya rasa tidak ada warung rujak buka jam segini," sahut om Jhon. Meskipun ia merasa aneh dengan permintaan Bara.


"Yakin om bisa?" tanya Bara ragu.

__ADS_1


"kalau tidak bisa, kita cari rumah yang jualan rujak tuan muda," timpal om john yang kini sudah mulai sibuk membuka ponselnya untuk mencari info cara membuat rujak uleg yang enak.


🌼 🌼 🌼


__ADS_2