Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 53


__ADS_3

Sesuai janji, sehabis mata kuliah ketiganya berakhir, ketiganya berkumpul di parkiran.


"Lama banget sih Shint," ujar Mia yang sudah cukup lama menunggu bersama Syafira.


"Sorry, ke toilet dulu tadi," sahut Shinta.


"Di toilet semedi? Lama bener, tahu kan nyonya Sultan itu ibu yang baik, nanti bisa-bisa nggak jadi lagi kita nyalon gara-gara kelamaan nunggu kamu. Nanti keburu dia berubah pikiran, ingat si kembar," cebik Mia.


"Sudah, sudah jangan ribut mulu, kalian ini kalau jadi satu ribut mulu, giliran nggak ketemu kangen," Syafira menggelengkan kepalanya.


"Itu namanya sahabat Fir, ngomong apa adanya meski menyakitkan. Depan belakang sama, nggak manis di depan busuk di belakang," balas Mia.


"Teori kamu benar Mia sayang, tapi kayanya nggak nyambung sama yang aku omongin. Udah ah ayo berangkat!"


"Kamu mau ikut kita atau bawa Wiliam" Tanya Shinta.


"Aku naik wiliam aja deh, biar nanti pulangnya gampang nggak perlu di antar," jawab Syafira.


Mereka bertiga pun mengendarai kendaraan masing-masing menuju sebuah mall dimana salon yang akan mereka datangi berada.


Sesampainya di mall, Syafira mencoba menelepon Bara, namun tidak di angkat.


"Lagi sibuk kali yah," gumamnya setelah beberapa kali mencoba dan tidak di angkat. Akhirnya ia mengirim pesan singkat kepada suaminya, mengatakan jika dirinya tak langsung pulang setelah kuliah.


🌼🌼🌼


Bara sedang sibuk dengan setumpuk dokumen yang ada di depannya. Ia sengaja menyetel ponselnya ke dalam mode silent karena tidak ingin terganggu saat memeriksa beberapa dokumen penting di depannya.


Bara tak menyadari layar ponselnya menyala karena panggilan dari Syafira. Selesai dengan pekerjaannya, Bara menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia duduki. Tangannya memijit pangkal hidungnya.


"Om Jhon, sepertinya hari ini aku akan pulang lebih awal," ucap Bara ketika mendapati om Jhon masuk ke ruangannya. Ia sengaja menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat karena ingin pulang lebih awal.


"Baik Tuna muda," ucap om Jhon mengangguk.


Bara berdiri dan mengambil ponselnya, dilihatnya ada panggilan tak terjawab dan juga pesan singkat dari istrinya.


"Mas, aku ijin jalan sama temanku ya sehabis kuliah. Anak-anak sudah di jemput sama pak Hendro. Diusahakan sebelum mas Bara pulang, aku udah di rumah. Makasih atas ijin


nya mas suami!" Bara membaca isi pesan yang di kirim oleh Syafira.


Bara tak membalasnya, ia melempar ponselnya ke atas meja lalu menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi.


"Tidak jadi pulang sekarang tuan muda?" tanya om Jhon.

__ADS_1


"Tidak," jawab Bara datar. Ada rasa kecewa di dalam hatinya. Tujuannya pulang lebih awal adalah karena ingin segera bertemu dengan Syafira, tapi istrinya itu malah tidak di rumah.


Akan tetapi, di sisi lain ia juga menyadari kalau dirinya menikah dengan seorang ABG yang pastinya butuh me time bersama teman-temannya.


"Tadi senang sekali, sampai mau pulang cepat, ini sudah berubah lagi moodnya," batin om Jhon sambil menggelengkan kepalanya melihat Bara yang sudah berubah ekspresi.


Bara kembali mengambil ponselnya dan menghubungi Syafira.


Syafira yang sedang melakukan perawatan rambut sambil bermain ponsel dan sesekali bergurau dengan Mia dan Shinta langsung mengangkat panggilan Bara.


"Halo assalamualaikum mas," ucapnya.


"Pergi kemana kamu Fir?"


"Jawab dulu salamnya mas, kebiasaan ih kalau nggak diingatkan, kalah sama si kembar," ucap Syafira.


"Wa'alaikumsalam," ucap Bara.


"Nah gitu dong, aku lagi pengin jalan-jalan ke mall aja mas, nggak apa-apa kan? boleh kan? boleh dong?"


"Sama siapa?" tanya Bara.


"Teman mas, kan tadi aku udah kirim pesan buat mas Bara. Di read doang ya? Nggak di cerna kata-katanya?"


"Mia sama Shinta mas, nggak percaya ubah panggilan video gih, biar bisa lihat muka mereka,"


"Tidak perlu. Ya sudah hati-hati, pulangnya jangan kesorean, kasihan anak-anak,"


"Iya mas, aku ingat kalau aku udah nikah dan punya anak, mau di bawain apa nanti, mumpung aku di mall,"


"Nggak usah, assalamualaikum," Bara langsung menutup teleponnya.


"Wa'alaikumsalam," jawab Syafira.


"Om duren nelepon?" tanya Mia di jawab anggukan oleh Syafira.


"Cieee posesif amat, baru juga keluar bentar udah di teleponin aja, mau juga dong di posesifin begitu," goda Shinta.


"Heleh kamu mah apa aja pengin Shint," ledek Mia. Mia dan Shinta terus adu mulut saling meledek kejombloan mereka.


"Dia telepon buat ngingetin aku kalau ada anak-anak yang harus aku urus di rumah, tidak seperti yabg kalian pikirkan," batin Syafira mendesah namun bibirnya tersenyum melihat kedua sahabatnya yang sedang adu mulut.


🌼🌼🌼

__ADS_1


Keluar dari salon, Mia mengajak Syafira shopping dan berburu pakaian mumpung sedang ada diskon. Banyak lelaki yang menatap kagum kepada Syafira, apalagi setelah ia melakukan perawatan dimana kadar kecantikannya langsung melesat tajam.


"Tuh kan Fir, apa aku bilang. Ubah sedikit gaya rambut dan penampilan banyak yang langsung tidak bisa berkedip menatap kamu" bisik Mia.


Syafira hanya tersenyum menanggapinya. Buat dia yang paling penting adalah bagaimana tanggapan suaminya nanti, apakah akan memujinya atau tetap akan membandingkan dengan Olivia.


Selesai ngemall, Syafira berpisah dengan kedua sahabatnya Mia dan Shinta masih ada urusan sedangkan Syafira akan langsung pulang ke rumah. Namun, di jalan tiba-tiba sepeda motornya mogok.


"Aih, ini si Wiliam kenapa lagi sih, mogok terus hobinya," gumam Syafira kesal setelah beberapa kali mencoba menyalakan scooter matic kesayangannya tersebut.


Dari arah berlawanan ada mobil mewah yang mendekati dan berhenti di samping Syafira.


"Dokter Rendra?" gumamnya begitu melihat mobil tersebut meski si pengemudi mobil belum keluar, akan tetapi ia paham siapa pemilik mobil tersebut.


"Motornya kenapa Fir?" tanya dokter Rendra yang langsung terpaku begitu melihat penampilan Syafira yang sekarang. Pandangannya terkunci pada sosok wanita cantik yang sampai saat ni masih mengisi hatinya tersebut.


"Ini si Wiliam mogok lagi, mana saya harus segera pulang karena sudah sore," jawab Syafira menunjuk sepeda motornya.


"Tinggalkan saja motornya di sini, biar nanti saya hubungi bengkel langganan saya untuk mengambilnya dan di perbaiki. Sekarang saya antar kamu pulang," ucap dokter Rendra.


"Tidak usah dokter, saya tidak ingin merepotkan," sahut Syafira.


"Saya tidak repot, lagian di sini tidak ada taksi yang lewat, ayo!" dokter Rendra menggandeng tangan Syafira.


Syafira masih mematung di tempatnya, membuat dokter Rendra tak jadi melangkah. Syafira menatap tangannya yang di gandeng dokter Rendra. Dokter Rendra langsung melepaskan genggamannya.


"Maaf," ucap dokter Rendra.


"Ayo saya antar kamu pulang," lanjutnya.


Syafira masih terlihat ragu, apakah dia mau diantar oleh dokter Rendra atau tidak.


"Nanti jika Bara marah, biar saya yang menjelaskan," dokter Rendra seolah tahu apa yang membuat Syafira ragu.


Setelah berpikir, akhirnya Syafira mau diantar oleh dokter Rendra. Daripada menunggu sopir yang tentu akan memakan waktu jika harus menjemputnya, mungkin di antar dokter Rendra akan lebih efisien untuk cepat sampai di rumah sebelum suaminya pulang, pikir Syafira.


Dokter Rendra memutar balik mobilnya dan melewati mobil dokter Niken, karena memang tadi mereka mengendarai mobil beriringan sepulang dari rumah sakit.


Dokter niken hanya menatap mobil dokter Rendra yang melewatinya dalam diam dan mengangguk ketika dokter Rendra membunyikan klakson mobilnya ketika melewati mobilnya.


"Apa aku memang tidak pernah menempati ruang di hatimu sedikitpun Rend?" gumam dokter Niken, buliran kristal siap membasahi pipinya namun segara ia tepis


__ADS_1


__ADS_2