Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 128


__ADS_3

.


Deg! Dokter Rendra tak percaya dengan ucapan Bara, “Tidak mungkin, jangan mengada-ngada kamu Bar. Bagaimana bisa Tasya putriku. Aku sama Niken.... Nggak mungkin Bar. Ini terlalu konyol. Nggak mungkin!" Dokter Rendra hendak melayangkan satu pukulan lagi ke wajah Bara, namun Bara segera menghindar.


" Gila kamu, mau ninju lagi! Harusnya kamu yang di tinju lagi, dasar!" kesal Bara.


Dan di sinilah kedua sahabat itu sekarang berada. Duduk di teras rumah dengan tatapan yang sama-sama kosong menerawang. Sama-sama merasa perih di sudut bibir masing-masing, dengan darah yabg hampir mengering. Bahkan kali ini, Bara mendapat dua hadiah bogeman dari Rendra. Belum ada pembicaraan di antara mereka setelah Bara menjelaskan kronologi bagiamana bisa ada Tasya.


“Ternyata kita sama-sama breng sek ya Bar...” ucap Dokter Rendra memecah keheningan.


“Lu tuh yang breng sek. Gua enggak,” sahut Bara tergelak. Dokter Rendra mencibir, mendengar Bara menyebut kata Lu Gua, mengingatkan mereka pada masa kuliah dulu.


“Tanam benih sembarangan... Parah lu kalau mabuk. Nggak tahu kan gimana frustrasinya Niken waktu itu? Parah... Dia bahkan sampai di usir oleh orang tuanya demi bayi kalian. Lu-nya malah sibuk meratapi nasib karena Olivia lebih milih gue...” ucap Bara.


“Gua nggak tahu Bar, sumpah... Lagian kenapa Niken nggak bilang. Gua bukan pecundang, gua bakal tanggung jawab,” Dokter Rendra benar-benar menyesalkan sikap Niken yang menutupi semua darinya.


“Niken insecure Rend, lihat aja sikap bokap nyokap lu, status dia yang waktu itu janda pasti akan buat mereka tak terima, mereka pasti menuduh Niken yang bukan-bukan. Sementara Lu, terlalu manut, patuh dan cinta mati sama orang tua Lu. Lu selalu mengutamakan mereka dengan alasan sebagai balas budi karena mereka ngadopsi lu. Heran gue, kalau mereka sayang tulus sama li, harusnya mereka mementingkan kebahagian lu... Tapi kok ya gitu-gitu aja nggak berubah sampai sekarang, sampai Fira jatuh ke pelukan gue. Untuk yang satu itu gue syukuri dan terima kasih sama orang tua lu, tapi lainnya. No way!” ujar Bara panjang lebar. Dan inilah pertama kalia ia bicara banyak dengan dokter Rendra setelah bertahun-tahun. Kesibukan membuat mereka jarang benar-benar punya waktu untuk me time berdua seperti dulu.


Dokter Rendra terdiam sesaat, “Aku nggak nyangka, aku udah punya anak Bar, secantik Tasya lagi anaknya,” ucapny geleng-geleng kepala tak percaya. Selama ini ia begitu dekat dengan anaknya tapi ia tak tahu kalau anak itu darah dagingnya, bodoh! Pikirnya.


“Itu berarti batang kamu normal Rend, subur. Sekali tanam langsung jadi,” cibir Bara. Bahasa mereka kembali ke ‘Aku kamu’ dengan sendirinya.


“Masih nggak percaya aku Bar, anakku udah segede itu. Beneran nggak sih Tasya anak aku,”


“Lah, nggak perhatiin wajah tasya itu duplikat kamu versi cewek. Hidung, mata, bibir semua sumbangan kamu. Niken Cuma kebagian buat tempat bersemedi sembilan bulan aja, kasihan benar. Pas buat beneran nggak sadar apa? Kamu mabuk atau pingsan, dasar! Apa butuh tes DNA?” Bara mencibir.


“Kalau itu nggak perlu, aku percaya kalau Tasya anakku, aku udah curiga dari lama. Aku pikir apa waktu hamil Niken segitu benci atau justru terlalu ngefans sama aku sampai Tasya mirip aku banget,”


“Ck, terlalu polos terkesan be go jadinya Rend kamu,” Bara geleng-geleng kepala.


Dokter Rendra hanya mencibir, “Olive tahu soal ini?” tanya dokter Rendra dan Bara mengangguk.


“Gila kalian! Sekongkol buat nyembunyiin semua dari aku, sahabat macam apa. Dasar!” umpatnya.


“Niken yang paksa, sorry. Udah sering aku ingetin dia, tapi dia selalu bilang belum, bukan belum tapi nggak siap. Kamu nggak pernah noleh ke dia Rend, padahal dia cinta banget sama kamu, dari dulu. Bisa di bayangkan gimana perasaannya setiap kali kamu curhatin soal cewek yang kamu suka? Olive dan mungkin Fira? Dia bahagia banget punya Tasya meski dari hasil kecelakaan. Setidaknya dia punya bagian dari diri kamu, itu selalu dia katakan. Dia hanya ingin lihat kamu bahagia, udah cukup buat dia....meski dia... Menderita batin..."


“Niken...cinta sama aku?” gumam dokter Rendra seakan tak percaya, selama ini ia tak pernah sadar akan hal itu.


“Benar-benar mati rasa kayakanya kamu Rend. Cara Niken mandang kamu aja udah jelas banget,”


“Setelah tahu semuanya, aku harap kamu tegas Rend, mau bagaimana. Jangan beralasan karena orang tuamu lagi yang bisa buat kamu menyesl apda akhirnya. Kamu berhak bahagia, Niken dan Tasya juga berhak bahagia. Udah wakyunya kamu buka lembaran baru Rend, cobalah buka hati kamu buat Niken. Dia perempuan baik. Percayalah, jika orang tuamu benar-benar sayang sama kamu, mereka akan mengutamakan kebahagian kamu,” sambung Bara.


 

__ADS_1


“Kamu sendiri bagaimana? Maksudku soal Fira,”


 


“Soal itu, aku nggak pernah bohong kalau aku mencintainya Rend. Awalnya memang aku nggak cinta sama dia, tapi seiring berjalannya waktu rasa itu timbul dan semakin lama semakin dalam. Aku mencintainya Rend, sungguh...”


“Lalu, Fira bagaimana? Apa dia juga mencintaimu?”


“Sebelum dia tahu kalau aku yang menabrak ayahnya dia mencintaiku, tapi sekarang.... Aku nggak tahu, apa masih ada cinta untukku atau tidak,” jawab bara dengan pandangan kosong. Kembaki membicarakan Syafira, ia jadi ingat tujuan awal mendatangi dokter Rendra. Niatnya yang Cuma mau menanyakan soal Syafira malah terpaksa tertahan di sana sejenak akibat mukutnya ya g keceplosan tadi.


“Sekarang kamu udah tahu semuanya, mau bagaimana selanjutnya terserah kamu. Asti tahu mana yang terbaik. Udah tua ini... Aku pergi dulu...” Bara bangjit dari duduknya.


“Siap-siap aja aku diomelin Niken tujuh hari tujuh malam setelah ini. Nambah lagi masalah gua, apes!” sambungnya.


“Mau kemana? Obati dulu tuh bibir!” seru dokter Rendra karena kini Bara sudah berjalan  beberapa langkah.


“Mau cari bini!”


“Emang tahu dia dimana?” tanya dokter Rendra.


“Nggak! Yang penting nyari. Ke lubang semut pun bakal aku jabanin, asal ketemu, nggak busa napas tanpa dia. Sekarang kita selesaikan masalha kita masing-masing dengan para perempuan pembuat hati gelisah itu,” jawab Bara yang terus melangkah semakin menjauh.


Dokter Rendra mengembuskan napasnya dalam seraya melihat mobil yang di kendarai Bara perlahan menjauh dari rumahnya.


🌼 🌼 🌼


Tak lama setelah meninggalkan kediaman Dokter Rendra dengan bonus dua bogeman di wajahnya ponsel Bara berdering. Dikihatnya sebuah nama memenuhi layar ponselnya. Ia langsung memasang earphone Bluetooth di telinganya.


Setelah menerima telepon, wajahnya tampak lega, “I got you!” gumamnya sambil tersenyum.


🌼 🌼 🌼


Malam hari....


Syafira tengah menyiapakn makan malam di dapur ketika ada suara ketukan pintu.


“Biar Adel aja yang buka, kakak lanjutin aja!”ucap Adel. Meski masih marah, namun ia sudah mau bicara dengan Syafira.


Syafira hanya mengangguk dan meneruskan pekerjaannya yang hampir selesi.


“Iya tunggu sebentar! Nggak sabaran banget sih!” gerutu Adel sambil medekati pintu untuk membukanya.


Ceklek! Pintu terbuka, di depannya menampilkan sosok pria tampan, satu diantaranya tak asing baginya.

__ADS_1


“Om...? Ngapain om ke sini?” tanya Adel jutek.


“Kalau kabur tuh yang jauhan dikit kenapa, ke kuar negeri kek. Biar byarinya bisa sambil liburan,” sosok seringai Varel.


“Apaan sih, nggak jelas. Siapa jug yang nyuruh om nyariin!” ketus Adel.


Varel berdecak, “Am om am om, kakak...” ucap Varel tersenyum, sambil menyingkirnkan tangan Adel yang masih memegangi handle pintu lalu ngeloyor masuk ke dalam.


“Nggak sopan banget sih! Belum juga di persilakan, main masuk aja!” gerutu Adel sebal.


Bara hanya mampu mengu lum senyum terbaiknya saat pandangan Adel beralih ke arahnya yang masih berdiri di depan pintu.


“Om mau ikut masuk?” tanya Adel yang bekum tahu siapa laki-laki di depannya. Berbeda dengan Bara yang sudah tahu siapa gadis manis tapi judes di depannya.


“Boleh saya masuk?”tanya Bara ramah dan tenang. Padahal dalam hati ia sangat tak sabar bertemu Syafira yang belum juga ia lihat


“Siapa dek, kenapa ngga di suruh masuk...” Syafira yang baru saja keluar mengurungkan niat Adel menjawab pertanyaan Bara.


Syafira langsung mematung ketika pandangannya bertemu dengan tatapan rindu sang suami.


“Mas Bara....”


“Fir...” Bara sangat senang ketika melihat wanita yang sangat ia rindukan kini berdiri di depannya meskipun masih terhalang Adel yang berdiri di antara keduanya.


🌼 🌼 🌼


💠💠Udah ketemu ya mereka, meskipun di depan pintu yang penting udah ketemu aja 😅😅 jangan lupa like, komen dah tehnya... Eh udah hari senin nih, votenya juga boleh buat mas Bara... 😄😄💠💠


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2