
Varel duduk termenung sendiri di ruang keluarga setelah menerima telepon dari Bara. Hal yang ia takutkan terjadi juga dalam rumah tangga kakak iparnya.
Bu Lidya yang baru saja turun karena ingin mengambil minum di dapur, melihat Varel sedang duduk melamun sendiri. Ia mendekati putranya tersebut.
"Belum tidur Rel?" tanya bu Lidya yang membuat Varel terkejut dengan tepukan di pundaknya.
"Astaga mama, ngagetin aja! Kirain hantu, mama sendiri belum tidur?" tanya Varel balik.
"Mama nggak bisa tidur, perasaan mama nggak enak coba. Kayak yang nggak tenang dari tadi," jawab bu Lidya. Ia duduk di samping Varel lalu meletakkan gelas yang di bawanya dari dapur di atas meja.
"Sama, perasaan Varel juga lagi nggak enak, terlalu pusing, banyak masalah di kantor. Terlebih lagi kakak..." Varel menghentikan bicaranya, ia ragu antara harus cerita atau tidak soal Syafira dan Bara kepada sang ibu.
"Kakak kamu kenapa?" tanya bu Lidya yang langsung panik. Perasaannya sejak tadi memang tidak enak tapi tak tahu kenapa.
Varel pun akhirnya menceritakan apa yng sedang terjadi di perusahaan dan juga rumah tangga kakak iparnya. Ia cerita secara detail dari awal soal kecelakaan ayah dan adik Syafira hingga berujung perginya Syafira malam ini.
"Ma, mama baik-baik saja kan?" tanya Varel panik setelah selesai bicara. Ia melihat bu Lidya sangat syok.
"Mama minum dulu!" Varel menyodorkan gelas berisi air putih kepada bu Lidya.
__ADS_1
"Kok jadi gini Rel. Kenapa ini harus terjadi sama mereka? Duh gusti, Bara Fira, kenapa bisa jadi begini?" ucap bu Lidya sedih dan syok.
"Mama jangan terlalu kpikiran, nanti mama malah sakit. Apa mama mau bicara sama Syafira? Mungkin kalau mama yang bicara dia mau dengar," ucap Varel pelan.
Bu Lidya menggeleng, "Ini terlalu berat buat dia pasti, mama mau bicara apapun nggak bisa, kecuali hatinya sendiri yang tergerak untuk memaafkan Bara. Mama nggak bisa bayangin bagaimana perasaan Fira, mama juga sedih ngebayangin gimana Bara, tapi mau dilihat dari segimanapun ia salah, meskipun mama tahu pasti dia tak sengaja. Ini terlalu berat buat mereka, terutama Fira. Nggak bisa bayangin kalau mama jadi dia, mencintai dan menikah dengan orang yang udah.....Duh Bara anakku, nasibmu nak kenapa bisa begini. Apapun keputusan Syafira nanti, mama nggak bisa pasrah, nggak bisa ikut campur," ratap bu Lidya terus menangis.
Ia ingin membantu tapi ini masalah kali ini tidak sesimpel itu, terlalu rumit dan di ujung tanduk, salah sedikit bisa jatuh tak tertolong. Wanita paruh baya itu tampak tak berdaya, ia merasa tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin membiarkan keduanya saling menjauh sementara adalah hal terbaik untuk menguji cinta mereka, jika cinta itu lebih besar maka kemungkinan mereka akan bersatu kembali. Tapi jika rasa sakit dan luka yang lebih besar, mungkin jodoh mereka hanya sampai di sini.
Varel jadi tertegun, jika ibunya yang biasanya ceria dan selalu punya solusi saja kini terlihat tak berdaya dan pasrah.
" Yaudah sekarang mama tenang dulu, jangan sampai mama sakit gara-gara mikirin masalah ini. Kasihan si kembar kalau mama sakit, siapa yang jaga mereka,"
"Astaga cucuku, gimana dengan si kemar Rel? Bagaimana nasib cucu-cucuku, mama harus ke sana sekarang. Mama harus pastikan mereka baik-baik saja. Gimana kalau mereka bangun dan nyari bundanya? Ya allah, Nala Nathan cucuku," bayangan jika Syafira benar-benar menyerah dan pergi dari hidup Bara, membuatnya semakin sedih ingat kedua cucunya yang sudah sangat tergantung dan jatuh cinta dengan Syafira.
" Nggak bisa sekarang aja Rel?" bu Lidya tetap tidak tenang sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau si kemabr baik-baik saja.
" Varel masih ada banyak pekerjaan ma, besok aja" jawab Varel.
" Susahnya nggak ada sopir begini," keluh bu Lidya.
__ADS_1
Varel hanya melirik," Siapa suruh mama pecat lagi," sindirnya.
"Dia kerjaannya pacaran mulu sama pembantu rumah sebelah, ngapel mulu tiap hari mama capek tiap hari teriak-teriak buat cari dia kalau mau pergi-pergi. Heran apa pembantu sebelah nggak ada kerjaan kok tiap hari kerjaannya diapelin terus, mentang-mentang majikannya sering pergi-pergi. Tahu-tahu hamil kan repot," kesal bu Lidya.
"Lah itu kerjaannya, diapelin. Bilang aja mama iri kan sama yang nggak jomblo?" goda Varel mencoba menghibur ibunya.
"Ck. Dasar," bu Lidya sedikit tersenyum meski tak menampik guratan kekhwatirannya.
"Nah gitu senyum, itu baru namanya bu Lidya, omanya Nala,"
"Bukan mama kamu?"
"Iya, mama aku juga. Udah sana sekarang tidur, besok pagi-pagi Varel baru antar ke rumah kakak. Nggak nurut Varel pecat jadi mama,"
"Astaga ini anak, benar-benar nggak ada akhlak, emak sendiri mau di pecat, mama masukin perut lagi baru tahu rasa kamu,"
"Heleh gitu aja sakit jantungnya, sensitif amat kayak anak perawan. Canda ma ah biar mama senyum," ucap Varel.
"Ck.dasar!" bu Lidya melepmpar bantal ke wajah Varel lalu berjalan menuju kamarnya. Meskipun ia tidak akan bisa tidur tapi setidaknya ia merebahkan tubuhnya di kamar.
__ADS_1
Sementara Varel langsung masuk ke dalam ruang kerjanya. Memijit kedua pelipisnya yang terasa pusing akibat banyaknya masalah di kantor dan sedikit banyak ia kepikiran Syafira, pasti perempuan yang sejak awal mereka bertemu sudah membuatnya suka itu kini sedang menangis tanpa henti. Varel mendesah pelan. Jujur saja, sampai detik ini rasa sukanya terhadap istri kakak iparnya tersebut masih ada, Namun ia selalu berhasil menyimpannya rapat-rapat hingga tak pernah ada yang tahu kecuali hatinya sendiri.
🌼 🌼 🌼