Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 88


__ADS_3

Taksi online yang di tumpangi Syafira sudah sampai di halaman kampusnya. Ia turun dan mencari kedua sahabatnya, Mia dan Shinta.


"Wiiihhh rapi amat Fir, kayak habis kondangan aja," ucap Mia begitu melihat Syafira.


"Aku tuh dari acara sekolah si kembar tadi, nggak sempat ganti baju," sahut Syafira.


"Tapi cantik sih, udah cocok jadi istri pengusaha beneran," kata Shinta.


"Eh udah datang belum sih pengusaha yang akan berkunjung?" tanya Syafira.


"Kayaknya belum sih, dari tadi masih sepi-sepi aja. Kalau udah datang pasti udah pada heboh deh," jawab Mia.


"Eh dengar-dengar, yang akan datang itu seorang duda keren loh, seperti apa ya tampangnya. Kalau tampan sih mau jadi istrinya," terdengar obrolan dari teman Syafira yang lainnya.


Syafira, Mia dan Shinta langsung saling menatap setelah mendengarnya , "Duren guys," celetuk Mia girang.


"Wow, boleh tuh jadiin gebetan," sambung Shinta.


"Nggak tertarik! Udah punya satu yang cakepnya masa allah, tanggung jawab dan dewasa, mantan hot duda juga. Dan.. Hot daddy pula ," ucap Syafira yang membicarakan suaminya sendiri.


"Iya iya percaya, yang udah bucin sama om dudanya. Jadi duda yang ini buat kita aja ya...Bayangin deh punya suami macam om Bara, duren sawit. Udah duda keren, sarang duit, sayang anak istri lagi, mantap nggak tuh," seru Mia.


"Aih hati-hati kalau mengkhayal jangan tinggi-tinggi Mi, nyenggol pesawat baru tahu rasa kamu," timpal Shinta.


"Yaelah mbul, biar aja kenapa sih. Jodoh siapa yang tahu sih kecuali yang buat hidup. Kayak Syafira tuh, siapa yang nyangka coba jodohnya duda anak kembar, iya kan Fir," Mia merangkul Syafira, meminta dukungan untuk khayalan tingkat kecamatannya.


Syafira hanya tersenyum tipis," Iya, siapa tahu karena kita sahabat, nasib kita juga sama. Sama-sama dapat suami dewasa," ujarnya.


" Betul itu, aku amini deh biar jadi kenyataan, " sahut Mia.


Syafira hanua bisa mendesah seraya tersenyum, sebegitu penginnya sahabatnya tersebut berjodoh dengan pria dewasa. Tapi, ada hal yang Mia lupakan dalam mimpinya tersebut. Yaitu, kedua orang tuanya yang kemungkinan besar tidak akan setuju kecuali pria itu benar-benar pria dewasa yang kaya raya seperti Bara, mungkin mereka masih bisa mempertimbangkannya.


"Eh ada hot news loh, Roni udah putus sama si miss butek itu," Shinta mulai mengajak ghibahin miss kampus.


"Sama siapa? Pacarnya maksud kamu shint?" Mia menegaskan.


"Ho oh lah, masa putus ma aku," sahut Shinta. Mereka bertiga berjalan menuju ke kantin kampus.

__ADS_1


"Jiah udah putus aja, belum juga aku mintain pajak jadian tuh si Roni," celetuk Mia.


"Wahhh, bisa-bisa Roni balik haluan ini, kembali ke cinta lama belum kelar, ke Syafira," lanjutnya.


"Enggaklah, Roni tahu aku udah nikah, waktu itu dia ketemu mas Bara waktu jemput aku mau ngerjain tugas," sahut Syafira.


"Serius? Terus gimana? Om duda reaksinya gimana kamu di jemput si Roni?" tanya Shinta penasaran.


"Ya gitu,"


"Gitu gimana?"


"Ya, kayak nggak suka, marah atau cemburu gitu. Si Roni di kira Willian sama mas Bara," Syafira tersenyum jika ingat ekspresi Bara kala itu yang kepalang malu karena kecemburuannya.


"Haha apa aku bilang, wiliam kebagusan namanya bikin orang gagal paham, tidak terkecuali suami kamu kan," Mia tergelak, ia dulu juga sempat berpikir jika wiliam itu pacarnya Syafira. Ini obrolan mereka malah jadi merembet kemana-mana, maklum perempuan jika sudah berghibah semua di bahas sampai tandas.


" Eh tapi kenapa bisa putus itu Roni sama ratu kampus. Padahal mereka cocok, dan ceweknya cantik gitu kok kamu bilang butek kayak air keruh aja, kalau butek mana bisa jadi ratu kampus shin," tanya Syafira kepo.


"Nggak tahu, karena ceweknya bau ketek kali," sahuy Shinta santai.


"His sembarangan! Di saring mbul kalau ngomong, kebetulan orangnya lewat habis kamu," Mia membungkam mulut Shinta dengan tangannya.


"Ih jorok!" Mia mengusap-usapkan tangannya ke baju Shinta.


"Eh aku seriusan ini, coba aja dekat-dekat ratu kampus itu pas lupa nggak pakai deodoran, bau ketek. Makanya aku juluki dia miss butek, bau ketek. Bukan butek keruh Fira," jelas Shinta.


"Udah jangan di bahas lagi, takutnya orangnya dengar bisa jadi masalah.


Mereka terus mengobrol hingga sampai di kantin. Baru memesan minum sama camilan dan juga mie goreng buat Shinta, suasana kantin sudah ramai karena para mahasiswa yang ada di sana terutama yang perempuan pada heboh berhamburan keluar.


"Eh ada apa sih, pada heboh? Tiba-tiba pada kenyang berjamaah apa gimana? Makanan belum pada habis udah pada di tinggal," Shinta menanyai salah satu teman kampusnya yang di paksanya berhenti untuk di tanya.


"Itu, pengusaha sukses, kaya dan dudanya udah datang," jawabnya dan langsung menyusul yang lainnya.


"Woah setampan dan sekeren apa sih sampai pada heboh begitu. Ayuk ah ikutan heboh, jangan mau ketinggalan, siapa tahu nyantol beneran," ucap Mia.


"Ayo Fir," ajak Shinta.

__ADS_1


"Nggak ah malas, langsung ke gedung aja, nanti juga lihat. Kasihan bibi kantin, udah pesan nggak di makan, di makan dulu shin. Jangan mubazir makanan," sahut Syafira. Mia dan Shinta akhirnya duduk kembali setelah di ceramahi Syafira


Selesai menunggui Shinta menghabiskan mie gorengnya, mereka langsung menuju ke gedung dimana pengusaha tersebut sudah berada di sana.


" Ayuk Mi, Shin, kita udah telat ini! Cepat biar bisa duduk paling depan!" seru Syafira antusias. Mereka bertiga berjalan dengan langkah panjang dan cepat.


"Lah tadi katanya biasa aja, nggak tertarik. Tapi sekarang kayak kamu yang nggak sabar pengin ketemu gitu Fir," sindir Mia.


"Ya nggak apa-apalah, sekali-kali cuci mata, biar pandangam aku tuh nggak melulu mas Baraku yang tampan terus. Kali aja ada pria lain yang sama tampannya, atau bahkan lebih tampan," sahut Syafira asal.


Sebenarnya intinya bukan tampan atau tidaknya, Syafira lebih penasaran dengan bonafitnya perusahaan tersebut. Siapa tahu bisa jadi tambahan referensi buat tempat magangnya nanti.


Suasana gedung sudah ramai, ternyata banyak yang minat juga dengan acara tersebut. Tidak hanya para kaum hawa yang haus kasih sayang pria dewasa saja, tapi ada banyak juga kaum adam yang memang sepertinya tertatik dengan perusahaannya.


Baru sampai di depan pintu, Syafira langsung menghentikan langkahnya begitu melihat siapa yang berdiri di depan para mahasiswa yang sudah duduk dengan rapi. Di bangku paling depan masih ada kursi yang tersisa.


"Kok malah berhenti sih Fir, ayo masuk!" ucap Mia yang berdiri di belakang Syafira. Ia sedikit mendorong tubuh Syafira namun Syafira tak bergeming.


"Kalau duren yang ini mah, udah khatam aku lihatnya, sampai overdosis. Nggak ada duren yang lain apa," gumam Syafira yang mana membuat Mia dan Shinta penasaran. Mereka berjinjit dan melongok siapa yang Syafira maksud.


"Yah, mantan duren ternyata," Mia dan Shinta mengembuskan napas kecewa sambil kembali ke posisi semula.


Bara melihat ke arah Syafira dan kedua sahabatnya, namun keningnya langsung berkerut ketika Syafira memutar badannya, tidak jadi ingin masuk. Sebelumnya ia tidak tahu jika pengusaha yang di maksud adalah Bara karena memang di rahasiakan oleh pihak kampus sesuai permintaan Bara. Bukannya tidak mau melihat suaminya, tapi teman kampusnya yang tahu kalau Bara adalah suamia hanya Mia, Shinta dan Roni yang sudah janji akan merahasiakan hal ini.


"Kalian yang di pintu, cepat masuk!" suara tegas dan berwibawa Bara menghentikan kaki Syafira yang sudah hampir melangkah pergi.


"Kami om? Eh pak?" ucap Syafira setelah kembali memutar badannya.


"Iya kalian, cepat masuk dan duduk. Saya tidak ada waktu buat main-main," tegas Bara.


Seperti kerbau di cucuk hidungnya, Syafira masuk ke dalam di ikuti oleh Mia dan Shinta yang juga terkejut. Bara terlihat sangat di siplin, tegas dan berkharisma berdiri di sana. Benar-benar keren, pikir syafira dan dua sahabatnya. Bara hanya diam. Memperhatikan sang istri yang berjalan melewatinya, menunduk tanpa berani menoleh ke arahnya. Bara kembali mengernyitkan keningnya melihat tingkah Syafira yang pura-pura tidak mengenalnya tersebut.


Syafira tidak jadi memilih kursi paling depan, ia melewati beberapa baris kursi yang sudah penuh semua sampai di kursi paling belakang atas, dimana Roni juga berada di sana.


"Fir, sini!" Roni melambaikan tangannya. Bara mengepalkan tangannya ketika melihat roni melambaikan tangannya kepada Syafira. Ia masih ingay betul dengan wajah laki-laki yang pernah menjemput Syafira tersebut.


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


💠💠Assalamualaikum,, Mas Bara dan Syafira come back.... Jangan lupanlike, komen hadiahnya, votenya jika masih ada boleh banget buat mas Bara...


__ADS_2