
Mau tidak mau, Syafira dan dua sahabatnya duduk satu deretan dengan Roni. Syafira meminta Mia untuk duduk di sebelah Roni, ia cukup waras memikirkan suaminya untuk tidak duduk di samping lak-laki yang bari saja menyandang predikat jomblo kembali itu.
"Nggak ah, gengsi tau. Dulu aku naksir dia, eh dianya malah naksir kamu. Malas dekat-dekat dia," dengan tegas Mia menolak. Syafira langsung menyuruh Shinta yang duduk di sebelah Roni, namun ia juga menolak, "Aku alergi dekat-dekat cowok ganteng Fir," alasan tidak masuk akal dari Shinta.
Alhasil, terpaksa mengesampingkan kewarasaannya, Syafira pun duduk di sebelah Roni. Laki-laki itu tersenyum kepada Syafira yang di balas senyum kecut oleh Syafira. Ia menoleh dan menatap kesal dua sahabatnya yang sepertinya sengaja melakukannya untuk memancing kecemburuan Bara sebagai balas dendam karena mereka gagal ngecengin pengusaha dudanya. Bagiamana tidak gagal, jika ternyata om dudanya syafira yang kini siap untuk menebar pesonanya di depan sana. Tidak mungkin mereka akan menggoda suami sahabat sendiri. Syafira hanya berdecak sambil mencebikkan bibirnya melihat kedua sahabatnya menahan tawa puas.
"Itu bukannya suami kamu Fir,?" tanya Roni setelah Syafira berhasil mendaratkan tubuhnya di kursi.
"Dia belum operasi plastik Ron, jadi wajahnya masih sama. Nggak perlu tanya juga kan? Kamu belum pikun untuk mengingat wajah suamiku," jawab Syafira.
"Aku penasaran aja, kalian kayak gak kenal gitu?"
Syafira mulai jengah dengan Roni yang kepo, "Ya masa aku sama dia harus mesra-mesraan di sini Ron, yang ada kalian semua iri nanti. tahu arti profesional kan?" jawab Syafira. Ia pura-pura fokus menatap ke depan, menunggu suaminya mulai bicara.
"Bukan gitu maksud aku tuh..."
"Ssst diem Ron, mau mulai. Jangan berisik," sergah Syafira sebelum omongan Roni merembet kemana-mana.
Acara pun di mulai. Sampai pertengahan acara, Para mahasiswa itu terus memperhatikan Bara yang sedang bicara di depan. Sesekali mereka menelan saliva mereka dengan kasar karena pesona Bara yang terlihat keren ketika berbicara soal perusahaannya. Ini pemandangan sangat langka sekali dimana pemilik perusahaan besar itu mau terjun langsung ke kampus. Kapan lagi para mahasiswa itu bisa cuci mata terhadap pria dewasa yang mereka kira masih berstatus duda tersebut.
Dia antara para mahasiswa yang antusias itu, hanya ada satu yang cuek , dan tidak begitu mendengarkan. Ya, dialah Syafira, ia malah asyik bersender dengan kepala sedikit miring di topang tangan kirinya, matanya sedikit terpejam karena mengantuk, seolah kalimat-kalimaybyang bara ucapkan di depan adalah lagu nina bobo yang mengantarkannya ke alam mimpi. Bukannya Syafira tidak ingin meliht atau menatap Bara, tapi lebih kepada ia tak berniat magang di perusahaan sang suami dengan berbagai pertimbangan. Jika ia magang di sana, sudah di pastikan kerjaannya akan bertambah, tidak hanya sebagai katyawan magang daja tapi plus-plus pastinya.
Selain itu, ia benar-benar ingin menguji kemampuannya sendiri tanpa campur tangan Bara. Syafira sudah menemukan perusahaan dimana ia akan magang. Meskipun tak sebesar dan sehebat perusahaan milik suaminya, namun perusahaan yang ia pilih tak kalah bagusnya.
Sesekali Bara melirik ke arah Syafira yang seperempat watt lagi sudah benar-benar pindah ke alam mimpi itu. Bara menarik napasnya dalam, di saat yang lain memandangnya hampir tanpa berkedip, istrinya malah malas untuk melek.
Sedikit lagi, kepala Syafira akan jatuh bersender di pundak Roni. Tangannya tak lagi mampu menopang kepalanya. Bara yang melihatnya semakin gelisah dan hampir kehilangan konsentrasinya. Satu dua ti....
"Itu yang duduk di belakang, kalau mau tidur di rumah jangan di sini!" suara tegas Bara mngagetkan Syafira yang tinggal sedikit lagi menempelkan kepalanya di bahu Roni.
"Saya?" Syafira menunjuk mukanya sendiri sambil gelagapan mengumpulkam nyawanya yang sudah mulai menyebar entah kemana.
"Marah tuh Fir om Bara, kamu sih hampir nyender di bahu Roni begitu, membara tuh hatinya pasti di depan sana," ucap Mia berbisik.
__ADS_1
"Iya kamu, pindah depan sini!" titah Bara.
"Sini ajak om, eh mas, eh pak... saya dengar kok dari sini," tolak Syafira.
"Ke depan sendiri atau saya jemput?" tidak ada penawaran lagi, demi menyelamatkan hatinya yang sudah mulai membara karena cemburu, Bara harus memisahkan sang istri dari Roni yang bisa di baca oleh Bara kalau dia menaruh perasaan lebih kepada Syafira. Tidak lucu sekali kalau ketahuan dia cemburu dengan laki-laki yang terindikasi bakal calon pebinor kelas tempe macam Roni, yang secara level kalah jauh dengan pesona mantan duda anak kembar tersebut. Namun, yang namanya sudah bucin, mau pebinornya selevel butiran debu pun tetap mampu bikin sesak hati.
"Udah maju aja sana Fir, kasih si doi kedipan maut pasti langsung keder, nggak jadi gerah hatinya," bisik Mia.
"Ho oh betul itu Fir, buka aja sedikit kaki kamu di depan sana, belingsatan dah tuh burung liat sarangnya," imbuh Shinta. Syafira langsung menunduk menatap rok span yang ia kenakan lalu mendesahbprlan, dasar piktor, pikir Syafira.
Syafira berdecak,"Ck, ini juga gara-gara kalian tadi nggak mau duduk sini, jadi aku kan yang kena," omel Syafira.
"Sengaja, biar iti si om panas, hareudang, hareudang," Mia mengipas-ngipas lehernya menggunakan tangannya.
"Ehem! Dengar tidak? Mau maju sendiri atau saya jemput paksa?" suara Bara kembali menyadarkan Syafira.
"Ck, tersangka kali di jemput paksa," gumamnya Syafira yang langsung berdiri membawa tasnya dan berjalan menuju kursi paling depan. Setelaj duduk, Syafira menoleh ke kanan dan kiri, hampir semuanua mahasisiwi yangbterkenal centil dan berpakaian kurang bahan, "Niat banget caper sama suami aku," batinnya mencebik saat menatap mereka.
"Ehem!" lagi-lagi deheman Bara mampu membuat Syafira tak berkutik, ia melihat suaminya yang kini tengah menatapnya tajam tersebut. Seketika Syafira langsung cengengesan dan menunduk, namun bibirnya mencebik.
"Ehm, baiklah kita lanjutkan..." ucap Bara. Kali ini Syafira tak bisa mengelak lagi, tatapannya harus fokus ke depan menatap wajah tampan suaminya yang tentu saja sebenarnya membuatnya semakin cinta.
Syafira sengaja iseng menatap suaminya dengan tataoam sensual sesekali.. Di lihat Syafira seperti itu, membuat Bara ingin segera menyelesaikan pembicaraannya, dan langsung mengajak sang istri ngamar.
"Baiklah, sampai di sini saja pembicaraan saya, sekali lagi saya tekankan, bagi kalian yang serius bekerja dan memiliki kompetensi yang mendukung, tidak hanya bisa memiliki kesematan untuk magang di Ormaro Corp. Namun, juga setelah lulus nanti, akan lebih mempermudah kalian jika ingin bekerja di perusahaan. Namun, tentu saja persaingannya akan sangat ketat, kalian harus benar-benar mempersiapkan diri kalian. Sebelum berakhir, adakah yang ingin kalian tanyakan? Saya persilakan!" ucap Bara di akhir kalimatnya.
"Pak Bara, berapa nomor whatsapp Anda, boleh dong nanti tanya-tanya soal magang via japri," ucap salah satu mahasiswi yang membuat riuh suasana karena yang lainnya tentu saja juga ingin mendapat kontaknya.
"Em, alamat rumah sekalian pak, siapa tahu kita butuh bimbingan secara live," imbuh yang lainnya. Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan diluar jalur lainnya.
Syafira hanya mencebik mendengarnya, sementara Bara menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menghadapi satu mahasiswa yaitu Syafira saja sudah kewalahan secara lahir batin, apalagi sebanyak itu.
"Yang lainnya? Ada pertanyaan? Kalau tidak ada saya akhiri sampai di sini..." tukas Bara, ia tak menjawab.
__ADS_1
"Yah, kok gak ada yang di jawab sih Pak. Kalau gitu pertanyaan terakhir deh, pak Bara kan duda ya. Udah ada pengganti calon makmum belum nih pak. Siapa tahu Bapak lagi cari yang soleha, saya daftar jadi ibu untuk anak-anak Bapak bisa dong," ujar seorang mahasiswi.
"Huuu ngarep amat lu! Rasa percaya dirimu overdosis itu," teriak Mia. Yang di katain hanya mencebik, "Heleh situ juga mau kan kalau pak dudanya mau," ucapnya tak mau kalah.
"Untuk pertanyaan yang satu ini, saya akan menjawabnya," Bara melihat ke arah Syafira yang terlihat sudah kesal dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya yang sengaja sekali mereka lontarkan untuk menggoda suaminya.
"Hehe kan, usaha memang tidak akan mengkhianati hasil Mi, pak Bara mau jawab tuh lamaran aku," ucap Mahasiswi tadi dengan girangnya melihat Mia yang terlihat kesal juga.
"Hilih, lamaran-lamaran, sok yes ah," celetuk Shinta.
Bara hanya mampu mendesah menghadapi mahasiswa yang kini semakin gaduh tersebut. Para mahasiswa laki-laki saling melempar protes, mereka bilang kalau mereka juga tampan, masa depan mereka memang sedang mereka rintis, bukan berati tidak bisa sekeren dan sesukses Prisa dewasa yang kini tampak frustrsi melihat kegaduhan tersebut.
"Ehem!" satu deheman bara mampu membuat suasana menjadi tenang kembali, raut wajahnya yang serius namun tetap terlihat tampan, mampu membuat suasana mencekam sekaligus penuh kekaguman.
"Saya memang dudu sebelumnya, tapi status itu sudah beberapa bulan ini berganti menjadi seorang suami lagi. Saya sudah menikah," Bara menunjukkan jari manisnya yang memaki cincin kawin sambil menatap Syafira yang tampak tersenyum tipis kearahnya.
"Yah... Patah hati deh!" gumam para mahasiswi itu serempak, sementara Mia dan Shinta tertawa puas malihat temannya yang kepedean dan mengaku soleha tadi.
"Wah , siapa tuh wanita yang beruntung jadi nyonya Osmaro?" tanya Mia sengaja, dan Bara menyukai pertanyaan itu. Ia memang ingin mengenalkan Syafira kepada semua, tapi tak mungkin ujug-ujug langsung bilang, dan Mia membantunya.
Syafira yang hafal dengan suara Mia langsung menoleh dan mencebik ke arahnya yang di balas tanda peace oleh Mia.
"Dia seorang mahasiswa juga, sama seperti kalian,"
"Woah keren tuh, bisa nikah sama duren sawit, bikin iri aja. Jangan-jangan dia ada di sini lagi," seru Mia lagi. Syafira menoleh lagi, tatapannya semakin tajam, dasar kompor meleduk, rutuk Syafira dalam hati. Mia lanhsung duduk pura-pura tidak melihat Syafira.
"Iya, memang dia berada di sini. Diantara kalian," ucap Bara yang mana membuat suasana kembali ramai, mereka saling bertanya siapa dan siapa.
"Yang merasa istri saya, silahkan angkat tangan!" Tandas Bara, ia ingin segera mengakhiri kericuhan di dalam gedung tersebut.
Dalam hati Bara terkekeh menanti ekspresi sang istri,"Salah sendiri berani duduk bahkan hampir nyender di bahu pria lain," batinnya dengan wajah tetap stay cool.
__ADS_1
🌼 🌼 🌼