
Bara hanya bisa bengong menatap sang istri yang kini berpenampilan sangat seksi, mengenakan lingeri tanpa memakai jubahnya, dan tengah berdiri dengan tatapan sensualnya.
Bagaimana Bara tidak lemas seketika, ketika pulang dalam keadaan lelah di suguhi pemandangan yang sangat indah nan menggoda iman tersebut. Bahkan untuk sekedar menelan salivanya saja, Bara sampai kesusahan. Motif loreng mirip paman tiger yang di kenakan Syafira membuatnya semakin lemas tak bertenaga.
"Maaaasss udah pulang?" Syafira mendekati Bara yang semakin gelisah. Tatapannya tak bisa lepas dari dua buah benda kenyal yang menyembul sebagian, hampir setengah karena tidak muat di tampung oleh lingeri seksi tersebut.
Glek! Susah payah Bara menelan salivanya sendiri, matanya tak bisa berkedip. Imajinasinya langsung berubah liar. Dan ponselnya kini benar-benar jatuh ketika Syafira sampai di pangkuannya.
"Ma---mau ngapain?" tanyanya gugup.
"Mau cium, mau peluk, mau ini..." Syafira menyentuh si piton yang langsung kaku saat melihatnya tadi.
Bara buru-buru mengambil ponselnya, " I will contact you later, now I have something to take care of ( Nanti saya akan menghubungi Anda lagi , sekarang ada hal yang harus saya urus)," ucapnya dengan napas yang mulai sesak karena perlakuan Syafira. Ia langsung melempar ponselnya sembarang.
"Sa--sayang, ke--kenapa kamu berpakaian seperti ini di luar kamar?" tanya Bara yang mendadak gagu. Jangankan di ruang tamu, di kamar saja Syafira tidak pernah berpakaian seseksi itu.
"Aku gerah mas, panaaass," sahut Syafira. Napasnya sangat terasa di leher Bara, membuat kejantananya semakin kaku sempurna.
"Maaasss, katanya kangen... Aku juga," Syafira melingkarkan tangannya di tengkuk Bara, ia langsung mencium bibir suaminya dengan rakus. Bara senang bukan main karena Syafira berinisiatif duluan menyerangnya. Namun, ia merasa ada yang aneh, ini seperti bukan Syafira istrinya yang ia kenal, pikirnya sambil menikmati dan membalas ciuman wanita yang kini sedang ia pangku tersebut.
"Fir..." dengan suara serak karena birahi, Bara berusaha mengajak bicara istrinya yang kini tengah rakus menghujani wajah dan bibirnya dengan ciuman. Membuatnya tak bisa untuk tidak mengerang.
"Hemmm..." sahut Syafira tanpa menghentikan aktivitasnya. Bahkan kini ia sedang mengecup leher Bara mesra, hingga meninggalkan tanda berwarna merah di sana, membuat laki-laki itu kembali mengerang.
"Sayang , ka-kamu baik-baik saja kan? A--pa kamu sa--kit?" demi apapun, Bara sangat menyukai sifat agresif istrinya saat ini, tapi nalarnya masih bisa di ajak sedikit berpikir. Syafira tidak akan berani semesum ini jika otaknya masih waras. Ia menempelkan punggung tangannya ke kening Syafira. Apa mungkin istrinya sedang kerasukan, pikirnya yang masih tidak bisa menemukan jawaban kenapa Syafira mendadak seperti itu.
"Iyaa maaas aku baik-baik aja... Ayo maass keburu gerah ini, buka di sini aja ya?" ucap Syafira yang terus menempel-nempel di tubuh Bara yang masih berbalut jas.
"Buka apanya sayang?" entahlah kenapa sekarang mendadak jadi Bara yang polos dan lugu.
"Bajunya maaass, gerahh panas banget ini," rancau Syafira, ia mulai bergerak di atas paha suaminya. Membuat Bara semakin gelisah , apalagi si piton, sudah demo sejak tadi pengen nyembul keluar dari dalam.
"Sayang , kayaknya kamu sakit , badan kamu panas, napas kamu juga sepertinya berat," ujar Bara. Ia bisa merasakan detak jantung yang berpacu kuat dan yang paling penting, kedua buah bukit kembar sang istri terasa kencang sekali saat tangannya di paksa untuk menyentuh dan merematnya oleh si pemilik bukit tersebut.
__ADS_1
" Ahh mass berisik, ayo cepat buka bajunya ," Syafira menarik kerah kemeja suaminya dan kembali me*umat dengan buru-buru bibir suaminya, tangannya sambil melepas kancing kemeja Bara satu persatu.
Bara senang bukan main, fantasi liarnya dimana sang isteri bermain buas, tak hanya menjadi objek keganasannya namun menjadi pelakon utamanya sepertinya sedang menjadi kenyataan. Tapi, lagi-lagi pikiran jernihnya masih sedikit tersisa, yang memaksanya berpikir. Ia menahan tangan Syafira yang sudah berhasil membuka dua buah kancing kemejanya, namin masih berbalut jas.
"Sa-sayang , kamu yakin mau di sini? I--ini di ruang tamu loh," sekuat tenaga menahan erangan karena kini tanga Syafira sudah menelusup ke balik kemeja dan bergeriyla di dadanya. Sedikit melintir yang mana membuat Bara memejamkan matanya karena nikmat.
Ini tidak benar! Bodo amat mau benar atau tidak! Tapi ini tidak benar, Syafira asti kerasukan sampai bisa seperti ini! Perset*n dengan apapun yang penting bisa enak di sini juga gak masalah! Tidak boleh, Ini tidak benar bagaimana kalau anak-anak lihat, Varel dan mama juga lihat, berpikir!! Bara terus di buat pusing. Anak-anak, mama, Varel dan para asisten rumah tangganya, tiba-tiba ia ingat mereka, bagaimana kalau mereka melihat, terutama dua anaknya, ia tak ingin mata dan telinga mereka tercemar.
Lamunannya buyar karena mengerang ketika Syafira dengan nakal meremat si piton. Ia bahkan bersiap membuka resleting yang menhurung si poton di dalamnya.
"Iya iya, itu soal gampang, udah dulu, nyokap udah nungguin buat pulang, dah dulu ya, bye assalamualaikum," ucap Varel di depan pintu, rupanya ia sudah berjalan mau masuk namun langkahnya terhenti di depan pintu untuk menutup teleponnya.
Suara Varel yang cukup keras membuat Bara refleks mengangkat tubuh Syafira dari panhkuannya dan mendudukkannya di sofa. Ia buru-buru melepas jasnya untuk menutupi tubuh sang istri yang tentu saja ia tak mau di lihat oleh Varell atau laki-laki lain.
"Maaas gerah ih," Syafira berdiri dan berusaha melepas jasnya. Namun, dengan cepat Bara mencegahnya.
"Peri manis, eh kakak ipar kenapa itu? Mukanya merah begitu, sakit?" tanya Varel begitu masuk.
"Iya ini gerah, mau buka baju di sini nggak boleh sama mas Bara," ujar Syafira berusaha melepaskan diri dari dekapan satu tangan Bara karena ingin melepas jas yang menutup tubuhnya.
" Udah datang Rel...??" bu Lidya yang entah dari mana rimbanya tiba-tiba muncul.
"Eh itu Syafira kenapa? Kok kayak gelisah begitu berdirinya?" tanya bu Lidya pura-pura tidak tahu apa-apa. Padahal dalam hati ia terkekeh, sepertinya rencananya on process, terlihat sekali Syafira mukanya sudah merah dan nempel-nempel terus kepada suaminya. Cara berdirinya juga seperti menahan sesuatu di kakinya yang terus terkapit.
"Mama mau pulang kan, hati-hati ya, jangan lupa pintunya di tutup. Bara sama Fira ke atas dulu, Fira sedikit demam," Bara buru-buru menggandeng tangan Syafira untuk masuk ke lift, ya jika dengan tangga pasti tidak akan lama, pikir Bara. Pasalnya ia harus segera menjinakkan istrinya yang sedang buas-buasnya tersebut.
" Kakak sepertinya ngompol itu, celananya basah!" goda Varel.
Bara menunduk, "Sial," umpatnya pelan. Perasaan dia belum ngapa-ngapin.
"Anak-anak mama bawa ya?" seru bu Lidya.
"Ide bagus!" teriak Bara yang langsung di bungkam mulutnya oleh Syafira bibir Syafira. Untung saja pintu lift udah tertutup, pikir Bara.
__ADS_1
Bu Lidya menatap tajam ke arah Varel.
"Iya, iya Varel yang akan bujuk si kembar buat ikut," kata Varel yang sudah paham maksud tatapan mengingimidasi dari mamanya.
"Nanti juga yang dapat chuan mama, aku yang harus susah payah duo bocil yang lagi posesif sama bundanya," gumam Varel.
Begitu sampai di kamar, Syafira mendorong tubuh Bara ke dinding dan melepas jas yang menutup tubuhnya ke sembarang. Kini bibir mereka sudah saling menyesap satu sama lain. Susah payah tangan Bara meraih handle pintu untuk di kunci. Siapa tahu si kembar keras kepala tidak mau ikut bu lidya dan tiba-tiba mendobrak pintu seperti yang sudah-sudah. belajar dari pengalaman rupanya.
Syafira menaikkan satu kakinya untuk mengunci tubuh Bara. Tangannya menyusup menggerayangi punggung suaminya. Mau main gaya cicak nemplok dinding apa bagaimana ini bocah, pikir Bara. Tak ingin membiarkan tangannya nganggur begitu saja, Bara mulai memanfaatkan tangannya untuk mengimbangi permainan panas Syafira. Dan kini ia tahu kenapa celana bahan yang ia pakai bisa basah, dari milik sang istri sumbernya rupaya yang hanya di balut kain segaris atau G-str*ng saja dan sudah banjir di sana saat tangannya keluar masuk goa sempit itu.
Syafira terus saja mendesah dan mengerang tak tertahankan, ia benar-benar sudah di kuasai birahi dan ingin segera menuntaskannya.
Bara langsung membopong tubuh Syafira dan menidurkannya di ranjang. Niatnya, ia ingin melakukan pemanasan terlebih dahulu terhadap Syafira sebelum proses penyatuan tubuh, mereka. Tapi sepertinya itu tidak berguna, tanpa di panaskan pun sudah panas sejak tadi, nyatanya sekarang Syafira sudah berhasil melepas pakaian yang melekat di tubuh sang suami. Wanita yang sudah menanggalkan pakaiannya juga itu kini tengah berjongkok di atas si piton dan siap mendudukinya.
"Shit!" umpat Bara memejamkan matanya keenakan ketika goa milik Syafira berhasil membenamkan batang kaku milik Bara sepenuhnya.
Syafira mulai bergoyang di atas suaminya, membuat Bara benar-benar serasa di surga. Dua buah benda kenyal menggangung di dada istrinya tak di sia-siakan begiyu saja, tanhan dan mulutnya bekerja mengerjainya secara bergantian.
Malam ini Bara benar-benar membiarkan Syafira memimpin permainan. Saat ia berusaha mengimbangi kebuasan Syafira, justru Syafira semakin ganas, membuat Bara semakin kewalahan. Ia benar-benar tak menyangka istrinya bisa seperti ini. Ia benar-benar di puaskan oleh sikap ganas dari sang istri. Terbayar sudah puasanya selama seminghu lebih ini yang membuatnya sering uring-uringan dan pusing.
Suara desahan dan erangan liar memenuhi kamar itu malam ini, hingga akhirnya mereka mencapai puncak bersamaan. Entah berapa kali Syafira mencapai puncak, bahkan Bara sampai geleng-geleng kepala di buatnya.
"Sayang, makasih ya?"ucap Bara, lalu mengecup kening sang istri yang kini berada dalam pelukannya setelah permainan panas tadi.
Barapun mengajak Syafira tidur, ia pikir pasti Syafira sudah kelelahan. Dirinya saja yang strong merasa lelah, apalagi istrinya yang biasanya baru satu ronde sudah minta udahan. Ini termasuk rekor baru, bisa berkali-kali mencapai puncak, pikir Bara.
Mata Bara yang sudah mulai terpejam, kembali terbuka ketika merasa berat di atas tubuhnya.
"Mau lagi," ucap Syafira manja, sorot matanya kembali sayu. Bibir Bara seketika mengatup menahan senyum devilnya.
"Oh... Astaga!" erangnya ketika si piton merasakn hangat karena kembali masuk ke dalam goanya.
Jika sudah begini, Bara bisa apa kecuali menurut, Bukankah menyenangkan istri itu pahala, toh dia juga... Suka. Mau lembur sampai pagi dengan macam-macam gayapun ia jabanin, mumpung Syafira sedang khilaf, pikirnya. Tinggal lihat saja beaok siap yang nggak bisa jalan, dia atau istrinya. Dan jika sampai begitu, siapa yang harus bertanggung jawab. Entahlah, yang penting Bara happy.
__ADS_1
🌼 🌼 🌼