Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Extra part 6


__ADS_3

Malam hari...


"Tadi, dokter Rendra bilang apa?" tanya Syafira yang sedang bermain ciluk ba dengan baby Zio di atas kasur.


"kamu kenapa nanyain Rendra? Ada apa? Jangan buat mas curiga, ini ada anaknya, jangan macam-macam," sahut Bara yang kini sedang memangku laptopnya. Ia bahkan tidak menoleh kepada istrinya karena sedang fokus menatap layar laptopnya.


Syafira menoleh lalu mendengus sebal," Aku tuh nanyain dokter Rendra tuh karena tadi aku minta dia periksa mas Bara, aku pengin tahu hasilnya. Heran deh, udah ada buntutnya tiga, masih aja cemburuan, nggak percaya banget sama istri sendiri," cebik Syafira.


"Bukannya begitu, bundanya anak-anak ini kan masih muda dan cantik, pasti masih banyak laki-laki yang suka. Mas hanya waspada," kata Bara.


"Iya, terus gimana. Apa kata dokter Rendra, aku curiga deh, mas kayak nyembunyiin sesuatu dari aku," ucap Syafira. Tangannya meraih baby Zio yang sudah berjalan sampai tepi ranjang.


"Zio mau kemana, di sini saja, ini mainan dinosaurus!" Syafira membunyikan mainan dinosaurus llu memberikannya keada baby Zio.


Bara menutup laptopnya lalu meletakkan di atas nakas, "Soal itu, mas nggak kenapa-kenapa. Hanya masuk angin biasa katanya. Emmm, sayang..."


"Apa mas?"


"Emm, misalnya niha ya... Cuma seumpama loh ya. Jangan keburu ngegas dan mencak-mencak,"


"Apa sih, nggak jelas. Mau ngomong apa sih, aneh,"


"Kalau Zio punya adik gimana?"


"Ya nggak apa-apa, tapi nanti kalau Zio udah lepas asi, dan aku udah lulus kuliah. Biar bisa fokus urus anak-anaknya," jawab Syafira.


"Kalau kamu hamilnya sekarang bagaimana?"


"Mas ngomong apa sih? Kan udah sepakat dari waktu Zio lahir, mas udah deal loh waktu itu,"


"Iya, kan kita nggak tahu kapan dapat rejeki di kasih anak lagi. Kalau sekarang kamu tiba-tiba hamil gimana? Nggak apa-apa kan?" Bara was-was akan nasib si piton selanjutnya.


"Berarti mas bara yang salah! Si piton harus di hukum, nggak mau tahu, pokoknya nggak boleh masuk goa selama sebulan! Eh enggak, sampai batas waktu yang tak di tentukan, tergantung mood aku!" sungut Syafira.


"Kok mas? Kan si piton selalu pakai sarung, Kalaupun lagi kangen nggak pakai, mas buang di luar,"

__ADS_1


"Ya pokoknya mas Bara harus tanggung jawab kalau aku hamil lagi. Kasihan Zio, masih kecil," Syafira mencium kening baby Zio yang tahu-tahu sudah terlelap sambil memeluk dinosaurusnya. Ia sambil mengingat-ingat, kapan terakhir kali ia mendapat tamu bulanan. Seingat dia harusnya dua hari yang lalu tamu bulannya sudah datang. Tapi, ia berpikir positif, mungkin saja sedikit telat datangnya, toh telat dua atau tiga hari itu hal biasa, kecuali emang dia benar-benar hamil, akan telat sembilan bulan lamanya. Syafira jadi sedikit was-was.


"Sekarang, daripada berdebat mending olahraga malam aja yuk. Mumpung Zio udah tidur. Mas kangen," kata Bara yang tak ingin terlalu pusing memikirkan soal kehamilan yng belum jelas adanya.


Syafira mencebik, "Ujung-ujungnya minta jatah," ucapnya datar.


"Harus itu, mas udah kecanduan soalnya, penginnya sih kayak minum obat, tiga kali sehari. Tapi apalah daya, Zio selalu menghalangi," ucap Bara nyengir.


"Anaknya di salahin. Baru ada Zio aja udah gitu, gimana kalu ada bayi lagi. Makin jarang, mas siap?"


Bara meringis sambil menggaruk kepalanya, "Ya siap nggak siap, kalau emang udah hamil, mau gimana lagi," gumamnya dalam hati.


"Kita bisa mulai sekarang bund? Tidak usah pakai mukodimah yang panjang, langsung aja mulai pemanasan," kata Bara yang sudah tidak tahan.


"pakai sarung tapi, nggak mau hamil dulu,"


"Iya, nanti sesi akhir menuju puncak, piton mas sarungin," Bara mulai mencium bibir Syafira sebagai pembukaan sesi oalh raga yang akan berlangsung.


"Hoek, Hoek, hoek!" saat melihat si piton yang sudah berdiri tegap menantang langit, Syafira tiba-tiba mual. Membuat Bara langsung mendesah pasrah.


"Kita matikan lampu aja gimana sayang, biar lebih asyik," ucap Bara beralasan.


Syafira terdiam, ia berpikir kenapa bisa mul melihat si piton, dan...


Bugh Bugh Bugh!!!


"Mas Bara harus tanggung jawab! Aku kayaknya hamil beneran!" omel Syafira.


"Iya iya, selama ini mas juga tanggung jawab kan? Mas udah nikahin kamu sebelum menghamili kamu. Kurang tanggung jawab apa lagi coba," jawab Bara meringis.


Buh Bugh Bugh, Syafira terus menggebuki Bara menggunakan bantal. Dan alhasil, Syafira kehilangan moodnya untuk melanjutkan olah raga malam mereka.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ


Dua hari kemudian...

__ADS_1


" Fir, ngidam aps sih waktu hamil, anaknya bisa gemoy begini," kata Mia yang sedang menatap kagum kepada baby Zio.


"Iya, ya ampun gemes banget sih. Mana di pakein baju macan begini jadi makin gemes deh, pengin nyubit pipinya kan jadinya," imbuh Shinta yang tak kalah gemas menatap baby Zio yang sedang duduk di atas permadani tersebut.


Baby Zio yang baru saja selesai mandi sore dan di pakaian baju bermotif macan tersebut, tampak tak peduli di tatap sampai segitunya oleh dua wanita asing di depannya. Hal itu justru membuat Mia dan Shinta yang memang jarang bertemu Zio menajdi semakin gemas.


"Ya ampun, cool banget sih, mirip ayahnya banget!" ujar Mia sambil mencubit pelan pipinya. Baby Zio langsung manatap Mia cemberut.


"Huh, ini tuh baju yang di belikan daddinya. Suruh di pakein sekarang. Malah jadi mirip paman Tiger begini. Kalau di sandingkan lebih mirip anaknya paman Tiger dari ada tuan Bara," omel Syafira sambil memakaikan kaos kaki berwarna putih untuk baby Zio.


"Ih, orang gemes in begini, Fir. Kyut banget malahan jadinya," timpal Shinta.


"Waaahh dedek Zio, keren!" dari suaranya, sudah jelas jika itu kakak syantik Nala yan datang. Dia tak sendiri, bersama dengan daddy dan saudara kembarnya, Nathan. Mereka sudah ada mandi dan siap mengajak baby Zio jalan-jalan di taman dekat rumah sore itu.


"Sore, om," sapa Mia dan Shinta tersenyum semanis mungkin. Pesona mantan duda itu tak pernah lelang oleh waktu, makin matang usianya, semakin terlihat wow di mata mereka.


"Hem, sore," balas Bara tanpa menatap mereka.


Bara langsung membopong Zio yang sejak melihat daddinya tadi, langsung merentangakn tangannya minta di gendong, seolah minta di selamatkan dari kerumunan tante-tante yang sejak tadi habis mandi sampai selesai memakai kaos kaki menatapnya tanpa berkedip.


"Zio, udah Harum. Mas bawa ya?" Bara meminta persetujuan Syafira dan Syafira mengangguk.


"Anggap aja rumah sendiri, nikmati waktu kalian," pesan Bara kepada Mia dan Shinta.


"Siap, om! Dada Zio. Dada twins! Jagain daddinya ya, biar nggak di gondol ibu-ibu komplek!" celetuk Mia.


"Hihihi, masak udah tua di gondol Onty," kata Nala cekikikan sebelum menyusul daddinya dan Nathan yang sudah jalan duluan.


Syafira mengajak Mia dan Shinta untuk mengobrol santai di halaman belakang supaya lebih santai. Sepertinya Bara memang sengaja, memberikan waktu Syafira untuk me time bersama sahabatnya supaya Syafira bisa sedikit lebih rileks dan legowo menerima kehamilannya yang kedua ini. Ya, paginya sehabis kejadian si piton gagal masuk goa kemarin, Syafira langsung mengecek menggunakan tespect, bahkan ia mengulangi nya sampai lima kali dan hasilnya jelas positif.


Syafira tak tahu harus bagaimana. Ia bukannya tak bersyukur, tapi hanya sedikit merasa shock saja. Bagaimana pun, itu adalah rejeki buat dia dan Bara, amanah dari Tuhan yang harus ia syukuri dan ia jaga, dn tentu saja mereka harus bahagia sama seperti waktu menyambut kehadiran baby Zio dalam hidup mereka. Bara selalu mengatakan hal itu kepadanya.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ


, ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ Bonus visual baby Zio yang stay cool saat dilihatin oleh onty-onty syantik๐Ÿ’ ๐Ÿ’ 

__ADS_1



__ADS_2