
Waktu terus berlalu sejak terakhir Syafira bertemu dengan ibunya waktu itu. Bara pun sudah bersikap biasa kembali kepada Syafira, ia perlahan mencoba melupakan rasa bersalahnya meski tak bisa seratus persen, tapi setidaknya tekadnya untuk menyimpan rahasia itu sudah bulat. Selama Syafira tidak tahu, rumah tangganya, kebahagiaan orang-orang di sekitarnya akan terjaga dan aman pikirnya. Ya, Bara hanya bisa mencoba untuk damai dengan keadaan yang sudah berlalu. Meski saat dalam kesendirian, ia masih saja ingat dan ada rasa takut jika suatu saat istrinya tahu.
Pagi itu, Syafira tengah sibuk menyiapkan sarapan seperti pagi-pagi biasanya. Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya.
"Masak apa? Baunya enak, sampai kecium ke depan sana," ucap Bara seraya menjatuhkan dagunya ke bahu Syafira, hidungnya mengendus-endus bau yang membangkitkan selera makannya pagi itu.
Melihat sang majikan datang, bibi yang sejak tadi membantu Syafira di dapur pun perlahan mengendap pergi tak ingin mengganggu keromantisan mereka berdua yang dulu pemandangan itu tidak pernah bibi lihat tapi sekarang sepertinya pemandangan seperti itu akan sering ia dan teman-temannya saksikan.
"Mas, tumben udah turun jam segini," ucap Syafira menoleh hingga pipi mereka menempel sesaat sebelum Syafira kembali fokus menggerakkan spatula di atas wajan teflon berukuran cukup besar di depannya.
"Iya, habisnya tadi waktu bangun nggak ada yang bikin seger mata, eh ternyata pemandangan segernya di sini, lagi masak," sahut Bara.
"Masak apa sih sayang?" Bara mengulangi pertanyaannya.
"Nasi goreng mas, semalam anak-anak request mau sarapan nasi goreng katanya. Mas mau? Atau mau sarapan yang lain? Mau apa? Nanti aku buatkan setelah ini," tanya Syafira.
"Mau yang masak aja, lebih nikmat," jawab Bara nyengir di telinga Syafira. Hadeh, ini mas Bara pagi-pagi pikiran udah yang di dalam kolor aja.
"Mas ih serius, suka bercanda deh. Kalau makan aku terus, nanti aku habis lama-lama," timpal Syafira kesal. Ditanya serius malah suaminya jawabnya begitu, dasar bucin baru! Jadinya ya gitu, otaknya lagi penuh emoticon love sepertinya.
"Lah beneran sayang, kan kenyangnya beda. Kalau masakan kamu bikin kenyanh perut, kalau kamunya kan bikin kenyang si Piton," jawab bara asal tanoa melepas pelukannya, sebenarnya Syafira tidak nyaman sedang masak di peluk seperti itu, tapi tidak protes.
"Piton? Mas bara pelihara ular juga? Ya ampun mas, dua macan itu aja udah buat aku sering was-was sama si kembar, ini malah pelihara ular segala. Kenapa nggak sekalian ini rumah di jadikan kebun binatang buas aja sih. Terus apa tadi bilang? Aku yang mau buat kenyang si piton? Mas mau kasih aku ke ular itu untuk di makan? Ih kejam, katanya cinta tapi begitu, udah bosan iya? Mau jadi duda lagi begitu? ," omel Syafira, tangannya mencoba meraih botol kecap yang ada di lemari atasnya, namun tidak sampai, ia harus sedikit berjinjit sepertinya.
Bara mengangkat satu tangannya ke atas untuk mengambilkan kecap tersebut dan kembali mekingkarkan tangannya di perut sang istri.
"Piton yang ini maksudnya," Bara menggiring tangan Syafira ke belakang untuk menyentuh juniornya.
"Nih pawang pitonnya," Syafira mencubit benda menonjol di balik celana piyama yang Bara kenakan.
"Kok cubit sih, di elus aja atau di remet," goda Bara.
Syafira mendengus kesal, pagi-pagi sudah di cekoki begituan otaknya oleh sang suami, pikirnya. Orang kalau udah hucin nggak ingat umur memang.
__ADS_1
Syafira meraih sendok dan menyendok nasi gorengnya lalu menyuapkannya kepada Bara. Mulut Bara otomatis terbuka untuk menyambut nasi goreng tersebut.
"Gimana?" tanya Syafira.
"Enak, mantap,"sahut Bara.
"Jadi gimana? Mas mau nasi goreng atau lainnya buat sarapan?"
"Ini aja sayang," jawab Bara.
"Ya udah, aku pisahin buat si kembar dulu. Buat mas bara nanti aku tambahin cabainya, ini kurang pedas kan?"
"Hem," sahut Bara pasrah, kalau soal perutnya, ia tidak pernah ragu dengan kemampuan sang istri untuk memanjakannya.
"Ya udah sih, awas aku mau ambil mangkok sama cabe, mas Bara munduran dikit, atau kalau enggak keluar aja deh, ngapain sih di dapur, bantuin juga enggak yang ada ngerecokin. Bikin aku nggak konsen masak tau!"
"Kayaknya aku nggak ke kantor aja deh hari ini, mau di rumah sama kamu. Mending lihat kamu dari pada lihat setumouk berkas yang bikin sakit kepala kadang," Bara malah curcol soal pekerjaan, ia tak menggubris omongan Syafira barusan.
"Ya emang harus nggak ke kantor kan hari ini," ujar Syafira, meski ruang geraknya tidak bebas karena tangan Bara yang masih belum mau beranjak dari perutnya, tangannya berusaha meraih cabai yang ada tak jauh dari jangkauannya tersebut.
"Bukan begitu, hari ini kan kita harus ke sekolah si kembar mas. Jangan bilang kalau mas lupa. Siang juga aku harus ke kampus, nanti katanya ada kunjungan dari salah satu perusahaan besar, salah satu pilihan kantor buat magang," tukas Syafira.
"Yah kirain, penonton kecewa deh. emang harus ya ke sekolah si kembar?"
"Hem, mas harus datang juga, kasihan mereka psti kecewa kalau mas nggak datang lagi," eringat Syafira.
"Mas tuh risih kalau harus ketemu ibu teman-teman si kembar, mereka nggak ada khlak mepet-meet terus, padahal kadang ada suaminya juga di sana, tapi mereka kayak nggak ngehargai suaminya, mas jadi nggak enak kan, karena pesona maz, mereka jadi mengabaikan harga diri suami," jelas Bara.
"Tenang ada aku, aku bakal pasang badan kalau mereka ganggu suami aku, "ucap Syafira.
" Mas lepasin, aku mau bangunin anak-anak, mereka harus berangkat pagi-pagi buat gladi resik sebelum pentas nanti," Dengan berat hati, Bara pun melepas pelukannya.
"Tapi nanti malam ya?" ucap Bara.
__ADS_1
"Apa?"
"Itu, mas udah kangen," jawab Bara.
"Hem," sahut Syafira. Ia berjalan meninggalkan Bara yang masih mematung di dapur.
🌼 🌼 🌼
Sayang, kamu taruh di mana dasi mas?" tabya Bara yang tengah siap-siap untuk ke sekolah di kembar.
" Ada itu aku jadiin satu sama jas mnya mas!" jawab Syafira yang tengah sibuk memoles wajahnya di depan cermin.
"Ketemu tidak?" tanya Syafira menoleh.
"Iya ada," sahut Bara.
Bara mengambil dasi tersebut lalu mendekati Syafira, " Nggak usah dandan, mas nggak mau kamu jadi pusat perhatian papa-papa muda di sana nanti," ucap Bara.
"Enggak kok, cuma tipis-tipis aja. Lagian aku nggak akan kegoda, suami aku paling tampan," ucap Syafira tersenyum. Ia menyudahi acara make upnya setelah mengoleskan lipgloss ke bibirnya.
Syafira berdiri dan memutar badannya menghadap Bara yang tengan sibuk memasang dasinya. Tanpa suara, tangan Syafira mengambil alih untuk memasangkan dasinya.
"Mas nanti di sekolah, di minta untuk memberikan sambutan sebagai perwakilan dari wali murid," ucap Syafira. Ia hampir lupa menyampaika hal tersebut, untung masih ingat sebelum mereka berangkat.
"Nggak, mas nggak mau!" tolak Bara.
"Harus mau, mas kan udah biasa bicara di depan banyak orang kan?"
"Bedalah, itu masalah pekerjaan, bukan pidato waki murid. Tetap nggak mau, suruh yang lain aja," sahut Bara.
"Sama aja mas, sama-sama bicara di depan umum. Pasti bisa, buktikan dong kalau mas itu emang selalu bisa di andalkan, biar aku makin cinta," Syafira berjinjit dan satu kecupan mendarat di bibir Bara.
"Baiklah, mas mau," jawab Bara. Syafira tersenyum, satu kecupan di bibir saja mampu membuat Bara melukuhkan keras kepalanya Bara, apalagi satu desahan pasti bikin Bara lupa segalanya.
__ADS_1
🌼 🌼 🌼