
Syafira masuk ke dalam kamar si kembar, ia ingat jika si kembar tak berada di rumah. Sungguh demi merekalah Syafira bertahan hingga detik ini. Rasa sayangnya terhadap si kembar mengalahkan egonya yang sering kali ingin menyerah.
Syafira keluar dari kamar tersebut, ia memutuskan akan tidur di kamar tamu malam ini. Syafira langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Ia tak menyangka reaksi Bara akan sebegitu marahnya. Padahal ia berharap meskipun tidak suka, meskipun marah tapi setidaknya berkata dengan lebih lembut lagi. Tidak perlu langsung berkata kasar.
Meski ia selalu bilang akan bersikap sesuai sikap Bara terhadapnya, namun tetap saja rasa sakit itu ada. Bagaimanapun setatusnya sebagai seorang istri juga butuh pengakuan.
"Tidak bisakah kamu membawaku ke duniamu mas, apakah duniamu itu memang di takdirkan hanya untuk mbak Olivia saja hingga tak ada tempat lagi di sana. Kenapa kamu menarikku ke depan pintu hatimu, jika tidak kamu ijinkan aku masuk," gumam Syafira, tanpa terasa air matanya lolos membasahi wajah cantiknya. Ia tak bisa membendungnya lagi. Malam itu, di kamar tamu Syafira mengeluarkan air mata yang selama ini ia tahan.
Jika mulut tak bisa lagi berkata, biarlah air mata yang bicara. Seperti itulah yang saat ini Syafira rasakan. Mulutnya sudah tidak ingin lagi bicara untuk sekedar mengeluh sekalipun, hanya air mata yang mampu mengutarakan isi hatinya.
🌼🌼🌼
Tengah malam, Bara terbangun dari tidurnya. Ia menoleh ke samping kanan yang biasanya di tiduri Syafira. Namun, kali ini istrinya itu sepertinya tak kembali ke kamar setelah kejadian tadi.
Bara bangun dan duduk di tepi ranjang. Ia kembali memijat pelipisnya. Kembali mengingat kemarahannya tadi. Ia langsung mencari keberadaan Syafira.
Tempat pertama yang ia tuju adalah kamar si kembar, karena biasanya jika tidak tidur di kamar utama, Syafira pasti tidur di kamar si kembar. Namun, kamar tersebut kosong tak berpenghuni.
Bara bergegas keluar, ia mulai panik jika Syafira pergi meninggalkan rumah. Namun, Bara segera bernapas lega ketika mendapati Syafira tengah meringkuk tidur di kamar tamu.
"Saya tahu, kamu tidak akan kemana-mana," gumamnya yakin. Bara tahu bagaimana sikap Syafira yang hanya akan marah sesaat jika mereka bertengkar seperti biasanya.
Bara mendekati Syafira, ia menyelimuti istrinya tersebut lalu mematikan lampu dan keluar. Malam ini dia membiarkan Syafira tidur dikamar tamu, kalau dia memaksanya pindah ke kamar, pasti tidak akan baik hasilnya.
Setelah Bara keluar, Syafira membuka matanya. Ia kembali mengusap air matanya yang baru saja lolos dari matanya. Syafira kembali memejamkan matanya, meski sulit ia terus berusaha untuk tidur, hingga akhirnya benar-benar pulas.
🌼🌼🌼
Keesokan harinya, tak ada yang berubah dari Syafira. Ia tetap menyiapkan sarapan dan keperluan Bara di pagi hari. Hanya saja, ia melakukan semua itu dalam diam.
Syafira melakukan semuanya sebelum Bara bangun, dan ia langsung pergi entah kemana setelah menyelesaikan semua tugasnya sebagai ibu rumah tangga tanpa menunggu Bara bangun.
"Fira kemana Bi?" tanya Bara saat turun ke meja makan.
"Nyonya muda sudah berangkat tadi pagi-pagi Tuan, selesai menyiapkan sarapan beliau langsung pergi," jelas bibi.
"Kemana?" tanya Bara karena tak biasanya Syafira pergi sepagi itu tanpa pamit pula.
"Tidak tahu Tuan muda, mungkin ke toko," jawab bibi menebak.
__ADS_1
"Ya sudah,"
Bibi pun pergi meninggalkan Bara sendiri di meja makan. Di meja makan ada beberapa menu makanan kesukaan dirinya yang di masak oleh Syafira.
"Semarah itu sampai pergi nggak bilang?" gumamnya sambil menatap makanan-makanan yang tersaji di depannya.
Dan di sinilah Syafira berada, di rumah peninggalan sang ayah yang sudah lama tidak ia kunjungi. Ia sengaja berangkat pagi-pagi sambil menunggu waktu untuk berangkat kuliah pagi. Ia hanya butuh sedikit waktu untuk sendiri. Karena kebetulan bu Lidya mengirimkan pesan jika si kembar akan bersamanya beberapa hari. Syafira hanya perlu menyuruh orang untuk mengirim seragam dan keperluan sekolah si kembar.
Sepertinya bu Lidya sengaja melakukannya supaya hubungan Bara dan Syafira bisa lebih dekat jika anak-anak bersamanya. Tanpa ia ketahui jika sedang ada badai dalam rumah tangga menantu kesayangannya itu yang di sebabkan oleh dirinya.
Sore harinya, Syafira pulang sebelum Bara pulang ke rumah dan menyiapkan makan malam.
Bara yang sedang sibuk-sibuknya mengurus proyek baru, harus pulang malam. Saat dia pulang, Syafira sudah tidur di kamar tamu lagi.
Bara kebingungan dengan sikap Syafira terhadapnya. Sepertinya istrinya kali ini benar-benar marah kepadanya. Kenapa jadi Syafira yang marah? Bukankah dia yang salah tidak bilang terlebih dahulu sebelum menurunkan photo Olivia? begitulah yang ada di pikiran Bara.
🌼🌼🌼
Hari berikutnya, Syafira masih mengacuhkan Bara. Setiap Bara mengajaknya bicara Syafira selalu menghindar. Terkadang ia pura-pura tidak mendengar. Syafira selalu menyibukkan diri untuk melupakan masalahnya.
Hari ini Bara memutuskan untuk pulang lebih awal. Sesampainya di rumah, ternyata Syafira belum pulang.
Menjelang maghrib, barulah Syafira pulang di antar oleh teman laki-laki, ia sengaja pergi tidak membawa sepeda motornya maupun diantar sopir. Melihat Syafira di antar oleh seorang laki-laki, rahang Bara langsung mengeras, menahan kesal.
"Kuliah," jawab Syafira singkat. Ia meletakkan tas dan bukunya di meja lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Lima belas menit kemudian, Syafira keluar sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Ia duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya.
"Fira, saya ingin bicara," ucap Bara sambil memperhatikan aktivitas Syafira.
Syafira terdiam sejenak, lalu melanjutkan menyisir rambutnya.
"Bicara saja, aku dengar mas," sahut Syafira tanpa menoleh.
"Dua hari ini kamu kemana? Kenapa selaku berangkat pagi dan tidak pamit? Saya cek toko kamu juga tidak ada di sana," tanya Bara.
"Mas Bara memata-matai aku?"
"Tidak, saya hanya khawatir, makanya saya ke toko, tapi kamu tidak ada. Kemana pergi sepagi itu? Apa pergi dengan laki-laki tadi? Siapa lagi dia?"
__ADS_1
"Oh, aku kira mau bicara apa. Aku mau ke dapur dulu siapin makan malam buat mas Bara," ucap Syafira tanpa ingin menjelaskan siapa tadi yang mengantarnya. Dia pikir, suaminya itu sudah dingin kepalanya dan ingin minta maaf, ternyata salah, masih sama ternyata.
"Saya belum selesai bicara Fira," ucap Bara sedikit teriak.
"Aku akan jelaskan nanti setelah makan malam," ucap Syafira langsung pergi.
🌼🌼🌼
Di meja makan, Syafira tetap melayani Bara meski tetap masih diam.
"Kamu nggak makan?" tanya Bara.
"Aku udah makan tadi sama teman-teman," jawab Syafira.
"Teman siapa? yang tadi?" mulai bahas lagi, padahal sebenarnya cemburu tapi nggak sadar.
"Iya," jawab Syafira singkat.
Mendengarnya, Bara langsung meletakkan sendok dan garpunya.
"Apa kamu lupa kalau kamu bukan lagi lajang yang bisa bebas pergi dengan laki-laki?"
"Iya dengan dia, tapi dengan yang lainnya juga. Rame-rame sekalian ngerjain tugas kuliah. Karena sudah sore dan aku nggak bawa motor sendiri, makanya aku bareng sama dia sekalian karena searah, karena aku ingat aku sudah menikah dan harus menyiapkan keperluan suami mbak Olivia di rumah," jelas Syafira. Ia langsung pergi meninggalkan Bara yang terdiam setelah mendengar penjelasan Syafira.
Syafira pikir, Bara akan mengajaknya bicara baik-baik tapi ternyata masih sama, tidak mencoba bertanya terlebih dahulu dan langsung menyimpulkan.
"Benar-benar ini mulut, nggak bisa diajak kompromi," gumam Bara.
Niat ingin mengajak Syafira bicara baik-baik malah jadi kebawa emosi lagi kan gegara cemburu gak jelas.
🌼🌼🌼
Keesokan harinya..
Tidak seperti hari sebelumnya, pagi ini Syafira masih berada di rumah sampai Bara pamit untuk berangkat ke kantor.
Bara senang, karena ia pikir istrinya sudah tidak marah lagi. Karena memang biasanya marahnya Syafira tidak akan lama, malam marah, pagi akan bersikap baik-baik saja. Hanya saja kali ini saja agak lama marahnya gadis itu.
Setelah Bara berangkat, Syafira segera ke kamar dan mengemasi beberapa pakaiannya.
__ADS_1
Kali ini ia akan menginap beberapa hari di rumah peninggalan ayahnya. Ia butuh waktu untuk menyendiri sementara si kembar masih bersama oma mereka. Ia juga akan memberikan waktu untuk suaminya merenung dan memikirkan kembali bagaimana seharusnya pernikahan mereka. Merenungkan seberapa penting Syafira dalam hidupnya, bukan hanya hidup anak-anaknya saja.
🌼🌼🌼