Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Extra part 9


__ADS_3

Varel terus bersenandung sambil mengemudikan mobilnya. Sesekali diliriknya Adel yang sampai detik ini masih mendiamkannya. Gadis itu bahkan tak menoleh ke arahnya sekalipun, pandangannya terus mengarah keluar jendela.


Varel merasa frustrasi sendiri, baru kali ini gadis menyebalkan itu benar-benar marah dan mendiamkannya. Ada akhirnya kemarahannya karena cemburu kalah dengan kemarahan Adel karena di cium secara tiba-tiba dan brutal. Suasana terasa begitu canggung. Varel sendiri tidak tahu kenapa tadi ia bisa senekat itu kepada Adel, benar-benar gila, pikirnya.


"Mau makan dimana?" tanya Varel mengingat mereka tadi belum sempat menyicipi satupun hidangan di pesta.


Adel diam tak menyahut, dadanya masih saja berkecamuk, jengkel, marah, kecewa tapi juga berdebar-debar, bercampur menjadi satu.


"Ya ampun, kenapa rasanya begini amat sih, murah banget sih Del, di cium paksa begitu aja jantung pakai berdebat segala. Malu-maluin!" batin gadis tersebut kesal. Kalau bisa nangis, pengin nangis kejer rasanya.


Ciuman pertama seharusnya di lakukan dengan suasana yang mendukung, yang romantis. Bukan dengan penuh amarah seperti itu, tiba-tiba mood Adel kembali buruk jika ingat hal itu.


"Del...." panggil Varel, ia melirik gadis itu yang masih saja kekeh tak menoleh. Apa yang dilihat sih di luar sana, di sebelahnya ada pemandangan yang lebih menarik, pikirnya kesal.


"Nggak mau makan, udah kenyang makan hati!" sahut gadis itu ketus kemudian.


Varel meringis mendengarnya, "Sorry sorry soal tadi, ngga kontrol. Maafin ya,"


Dih enak banget habis nyosor langsung minta maaf, batin Adel semakin kesal.


"Cemburu kok kayak gitu, nggak lihat-lihat dulu kenyataannya kayak apa. Main nuduh, main marah, main nyosor aja. Dasar soang!"


Varel hanya bisa meringis mendengarnya.


"Jahat banget, main ambil ciuman pertama orang nggak permisi!"


Varel semakin melebarkan senyumnya, karena ternyata dia yang pertama merasakan bibir yang selalu mendebatnya tersebut. Meski di bilang cukup singkat dan kilat, tapi ia tetap menikmatinya. Itu memang bukan ciuman pertama bagi Varel, tapi rasanya sangat berbeda. Bedanya apa? Entahlah, yang jelas Varel merasa ia seperti baru melakukannya pertama kali.


"Ya, kalau gitu di ulangi lagi, biar nggak yang pertama aja.tapibyabg kedua keftiga, kalau perlu yang terakhir!" sekoroh Varel.


Adel langsung mendelik menatap Varel.

__ADS_1


Bugh Bugh bugh!


Adel terus menabok lengan pria menyebalkan di sampingnya, "Om, nyebelin tahu nggak. Nggak lucu!" omelnya.


"Kita makn dulu, biar nanti ada tenaga buat nabok aku. Nabok kok kayak ngelus gitu, nggak kerasa," ucap Varel seraya mematikan mesin mobilnya.


Adel melihat sekitar, ternyata kini mereka sudh berada di parkiran sebuah rumah makan. Adel menatap sebal Varel lalu mencebik," Nggak mau makan!" ucapnya kekeh.


Tapi, varel cuek saja, ia melepas seat beltnya lalu turun dari mobil. Mau tidak mau, Adel juga ikut turun dengan wajah di tekuk.


Varel hanya tersenyum tipis mendengar langkah kaki Adel yang sengaja di hentak-hentakkan saat menyusul langkahnya.


Di dalam rumah makan, Adel sengaja memesan menu yabg banyak.


"Kamu pesan segini banyak, emang habis, Del?" tanya Varel mengernyit.


"Kenapa? Takut nggak sanggup bayar? Tadi ngajakin makan, giliran pesan makan di protes,"


" Oh enggak, nggak apa-apa pesn lagi aja, boleh. Boleh banget. Kalau perlu rumah makannya sekalian aku beliin buat kamu, gimana?" ucap Varel sengaja menggoda Adel demi mencairkan suasana yang sejak tadi tegang terus tersebut.


🌼 🌼 🌼


"Anak-anak udah bobok?" tanya Bara basa basi saat melihat Syafira masuk ke dalam kamar. Tak jauh berbeda dengan Adel, Syafira juga sedang dalam mode senggol bacok dengan suaminya. Bawaannya kesal terus setiap kali melihat Bara. Tapi, jika tidak terlihat batang hidungnya, Syafira akan bingung sendiri mencarinya secara diam-diam.


"Udah," jawab Syafira singkat.


"Zio juga udah bobok, baru saja dia terlelap,"


Syafira melihat baby Zio yang sudah terlelap di samping suaminya yang sedang sibuk dengan laptopnya, seperti biasa.


"Sini, mas pijitin! Pasti capek kan seharian urusin mas dan anak-anak," Bara meletakkan laptopnya, dan mode merayu di mulai.

__ADS_1


"Udah tahu capek, tapi di hamil lagi. Nggak di kasih jeda buat istirahat," cebik Syafira sambil mendekat. Pelan-pelan ia menaiki tempat tidur.


Bara tersenyum, meskipun kesal, Syafira mau juga ia pijit rupanya.


"Ya kan kecelakaan, sayang. Nggak sengaja. Kita harus bersyukur masih di percaya buat punya anak lagi, di luar sana banyak banget yang udah lama nikah tapi belum juga di percaya buat punya anak. Syukuri aja, ya? Udah jangan manyun terus, mas nggak kuat. Bibir kamu kayak yang melambai-lambai pengin di cium gitu kalau manyun," sekoroh Bara sambil memijit kaki Syafira penuh kasih sayang.


" Iya, aku juga bersyukur, mas. Hanya kadang masih merasa kecepatan aja. Tapi bukan berarti aku nggak bersyukur, ya. Nanti anaknya dengar, dikira ibunya nggak mensyukuri kehadiran dia, kasihan," Syafira mengusap perutnya.


"Nah, gitu dong. Itu baru istrinya mas. Besok Saya kita periksa ya? Mas temenin!"


Syafira mengangguk.


"Fir..."


"Hem..."


"Fir... Anak-anak udah tidur semua. Mas pondahin Zio ke box bayi sebentar ya?" ucap Bara dengan senyum penuh arti.


"Modus, sok-sokan mau mijit, ujung-ujungnya minta jatah," cebik Syafira.


"Kan kemarin gagal, sayang. Nggak kasihan emang sama piton. Dsri kemarin nggak mau tidur loh dia,"


Syafira mengeratkan Keningnya, mana ada si piton nggak tidur, pikirnya. Kuat banget kalaupun iya.


"Mas juga nggak kasihan sama aku?"


"Ya kasihan, makanya ini mau di kasih yang enak-enak. Kan udah nggak perlu pakai sarung atau di buang di luar sayang, kan udah ada di dalam hasilnya. Jadi nggak was was lagi, bisa menikmati dan meresapi dengan penuh penghayatan, tidak takut-takut lagi, lebih bebas berekspresi, "


Syafira mendengus, lalu tersenyum. Da pada akhirnya mereka kembali melakukan penyatuan tanpa penghalang lagi. Hal yang sangat mereka rindukan sebenarnya.


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


__ADS_2