Ibu Untuk Anak-anakku

Ibu Untuk Anak-anakku
Bab 139


__ADS_3

"Dek...?" Syafira menatap Adel dengan mata berkaca-kaca saat adiknya tersebut mengangguk dan tersenyum kepadanya.


Adel berjalan mendekati Syafira. Ia langsung memeluk kakaknya tersebut, "Maafin Adel ya kak, maaf udah egois," ucap Adel tulus.


"Enggak dek, kamu nggak salah. Nggak ada yang salah," sahut Syafira, ia menangis terharu. Tak di sangka Adel ada akhirnya bisa luluh seperti ini.


"Kita pulang ke Jakarta?" tanya Syafira setelah pelukan mereka terurai.


Adel mengangguk, "Kita pulang," ucapnya tersenyum sambil mengusap air mata yang baru saja menetes.


"Adel tunggu di mobil ya," ucap Adel yang melihat Bara masih berdiri di samping mobilnya, menatap Syafira tanpa berkedip.


"Ajak kakak pulang," ucap Adel begitu sampai di dekat Bara.


Bara mengangguk, "Makasih," ucapnya sebelum akhirnya ia berjalan mendekati Syafira yang masih berdiri mematung di tempatnya.


"Kok masih berdiri di sini?" ucap Bara dengan jarak satu meter lebih di depan Syafira. Seolah kehabisan kata-kata, Syafira hanya mampu tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


"Akhirnya..." ucap Bara dengan senyum penuh kelegaan. Syafira tersenyum mendengarnya.


"Peluk, mau?" tanya Bara. Syafira menatapnya lekat lalu mengangguk.


"Sini!" Bara tersenyum hangat, merentangakan kedua tangannya, menyambut Syafira datang kepadanya.


Syafira langsung menghambur ke dalam pelukan Bara. Lega, haru dan bahagia bercampur menjadi satu. Ia tak menyangka rumah tangganya yang sudah di ujung tanduk, tak lagi terselamatkan oleh keadaan, kini berubah seratus delapan puluh derajat. Benar-benar seerti naik roal coster, ia rasakan.


Bara memeluknya sangat erat, erat sekali. Bagaimanapun, ia harus berterima kasih kepada Adel setelah ini, atas kelapangan hatinya untuk menerima semuanya.


"Kita pulang sayang?" tanya Bara smbil mengurai pelukannya.


Syafira menganggukkan kepalanya mantap, "Kita pulang mas," ucapnya lirih, namun terlihat jelas ia bahagia.


🌼 🌼 🌼


Sepanjang perjalanan, Varel yang sedang mengemudikan mobil terus saja menggoda Adel yang duduk di sebelahnya. Membuat gadis itu berdecak Berkali-kali karena sebal. Sementara Syafira memilih tidur dalam pelukan Bara yang sibuk dengan ponselnya, karena semalaman ia tak bisa tidur.


"Cieeee, nggak nyangka. Bocah bisa juga bersikap dewasa. Cieee, selamat ya udah naik level jadi remaja nggak bocah lagi," goda Varel.


"Apa sih om, perasaan aku salah mulu. Aku marah salah, sekarang aku udah baik, salah juga? Ledekin aja terooos," sungut Adel.


"Dih, gitu aja marah. Dasar bocah!" balas Varel.


"Ih nyebelin banget sih. Pantes jomblo!" ledek Adel.


"Dih, kayak situ enggak,"


Adel hanya mencebik, " Om, kalau ada pom bensin atau rest area berhenti ya," ucapnya kemudian.


"Mau ngapain?" tanya Varel.


"Pipis,,, kebelet nih,"

__ADS_1


"Beser! Tahan jangan ngompol di sini, awas ya,"


"Makanya, kalau ada toilet berhenti, om,"


"Nggak akan!"


"Ih beneran nyebelin!"


"Kamu juga, banget malah. Udah di bilangin jangan panggil om juga, masih aja manggil om. Aku belum om-om. Panggil abang!"


"Ogah!"


"Aku mau panggil abang hanya buat yang spesial. Om kan, bukan,"


"Bukan nggak spesial tapi belum aja. Siapa tahu kan setelah ini aku jadi spesial buat kamu," goda Varel.


"Nggak mau! Aku nggak suka om-om!"


Bara yang mendengarnya langsung bereaksi, ia mengernyit kan Keningnya karena merasa tersentil.


"Kan aku bukan om-om. Jodoh nggak ada yang tahu kan. Bukankah omongan itu doa? Siapa tahu terkabul,"


"Tapi aku juga berdoa, semoga jodohku bukan om. Nggak mau jadi pelarian. Nggak dapat kakaknya, adiknya jadi pelampiasan, nggak!" Adel melirik Varel demi melihat ekspresi wajah lelaki dewasa di sampingnya.


Varel terdiam sejenak smbil mengembuskan napasnya dalam," Baiklah, kita buktikan, doa siapa yang yang terkabul nanti. Aku atau kamu, " ucapnya kemudian.


" Ih om, beneran doanya mau berjodoh sama aku?"


"Aku masih mau sekolah," ucap Adel lirih.


"Cieeee, baper ya?" goda Varel lagi.


"Eh, enggak ya," kilah Adel yang langsung membuang pandangannya ke jendela.


"Jangan suka godain gadis Rel, kasihan kalau ujung-ujungnya cuma di ghosting. Cuma bikin baper aja," ucap Bara yang tetap fokus menatap layar ponselnya, sementara tangan kirinya sibuk mengusap-usap rambut Syafira.


"Depan nanti berhenti kalau ada rumah makan. Beli makan, take away aja. Sekalian kalau Adel mau ke toilet," ucap Bara lagi.


Namun, Varel terus saja menggoda Adel. Entahlah, ia senang saat gadis itu merajuk dan mencebik. Menggemaskan dan menjadi hiburan tersendiri, pikirnya.


🌼 🌼 🌼


Sesampainya di kediaman Osmaro, si kembar yang sudah di kabari kalau daddy dan bunda mereka akan segera tiba di rumah, langsung berlari ke luar saat mendengar suara mobil memasuki halaman rumah.


"Bundaaa daddyyy!!!!" seru keduanya tak sabar menunggu kedua orang tua mereka turun dari mobil.


Bara dan Syafira langsung memeluk Nathan dan Nala satu-satu.


"Sayang, bunda kangen banget sama Nala," Syafira terus menghujani wajah Nala dengan ciuman.


"Nala juga rindu bunda banyak-banyak. Banyaaaaak sekaliiii, sampai jari Nala nggak bisa ngitung ya," ucap gadis cilik itu sambil terkekeh karena geli diciumi oleh Syafira.

__ADS_1


"Sama daddy enggak rindu ini, princess?" ucap Bara pura-pura bersedih setelah memeluk Nathan.


"Hai Boy," Varel mengajaknya ber-hi five. Nathan mendekat dan membalasnya.


Nala menoleh ke arah Bara, "Tentu saja rindu, daddy!" seru ya dengan senyum centil ya, sehingga lesung pipit gadis kecil itu nampak dengan jelas di kedua pipinya. Ia langsung melompat ke dalam pelukan sang ayah dan menciumi wajah Bara dengan gemas, membuat Bara tergelak.


"Nathan, sayang. Sini peluk bunda!" Syafira berjongkok dan merentangkan kedua tangannya. Duplikat dari Bara tersebut berjalan pelan kearahnya dan langsung menyusup ke dalam pelukan Syafira. Diam, tak bicara seatah katapun.


"Nathan rindu bunda tidak?" tanya Syafira.


Nathan mengangguk, "Terima kasih karena bunda kembali," ucapnya polos.


Syafira yang berusaha tak menangis pun matanya langsung memanas mendengar kalimat bocah laki-laki tersebut yang memang selalu lebih peka akan keadaan.


Adel yang sejak tadi berdiri tak jauh dari Varel, terharu menyaksikan pertemuan kembali keluarga kecil tersebut.


Nala yang sejak tadi sudah penasaran dengan keberadaan Adel yang hanya diam saja, langsung melotot dari gendongan Bara. Ia berjalan mendekati Adel, "Onty syantik, udah sembuh?" tanya gadis kecil tersebut dengan mata berbinar.


Adel berjongkok dan memegang kedua lengan Nala, "Iya," ucapnya tersenyum.


"Yeee, akhirnya. Terima kasih onty syantik karena udah sembuh, jadi bunda nggak pergi-pergi lagi. Bunda nggak sedih lagi deh, Nala sedih kalau lihat bunda sedih di rumah sakit," ucap Nala riang.


"Nala sering ke rumah sakit?" tanya Adel penasaran. Gadis kecil itu mengangguk, " Yups! Nala DAN Athan sering nemenin bunda nungguin onty syantik. Tapi ontinya ndak bangun-bangun. Bunda jadi sedih. Nala nggak suka bunda sedih," celoteh Nala dengan mimik sedihnya yang di buat-buat karena sebenarnya ia sedang senang karena bundanya sudah kembali.


" Maaf ya, onty keenakan bobok di rumah sakit, jadi nggak tahu kalau ada gadis syantik yang jenguk Onty," Adel mengusap pipi Nala.


Varel tersenyum mendengarnya, bisa juga gadis itu bersikap lembut kepada anak kecil, pikirnya.


"Woahhhh, Athan! Dengar? Onty syantik bilang Kalau Nala syantik," Nala menoleh ke arah Nathan yang masih berdiri di depan Syafira.


"Nala emang syantik onty. Kayak mommy, kayak bunda dan sekarang kayak onty juga!" seru gadis itu dengan riangnya.


"Sudah-sudah, ayo masuk. Kasihan mommy sama Ontinya capek, kan baru sampai. Kok nggak di suruh masuk, malah di tahan di sini," seloroh Bara.


"O iya, Nala lupa. Onty baru sembuh dari sakit ya.... Ayo, ayo Onty, kita masuk ke dalam. Nanti kita bisa main barby yang di belikan oleh bunda. Nanti Nala kasih pinjam," ucap Nala ceria.


"Bunda, gendong!" pinta gadis kecil itu menggoyang-goyang tangan Syafira. Dengan cepat, Syafira langsung menggendong Nala.


Keluarga kecil Bara berjalan beriringan untuk masuk ke dalam rumah. Nathan yang di gandeng Bara, melepaskan diri. Ia menoleh kepada Adel yang masih berdiri di tempatnya. Ia berlari kecil mendekati Adel, "Terima kasih Onty, sudah mengijinkan bunda kembali," ucapnya, mendongak menatap wajah Adel dengan tulus. Ia langsung memutar badan dan kembali menyusul Bara, Fira dan Nala yang sudah sampai teras rumah, tanpa menunggu jawaban dari Adel.


"See? Langsung jatuh cinta kan sama mereka? Setelah mengenal mereka, pasti kamu akan lebih jatuh cinta lagi sama mereka," bisik Varel kepada Adel.


Adel diam, ia hanya menoleh ke Varel, dalam hati seertinya ia setuju dengan kalimat yang diucapkan pria tersebut.


" Dek, ayo masuk!" ajak Syafira yang sudah berdiri di teras.


" Eh, iya kak, " Adel melirik Varel dan langsung menyusul.


Sementara Varel celingak-celinguk, "Di mana si pembuat kehebohan? Tumben nggak gercep," gumamnya mencari keberadaan bu Lidya. Sebelum akhirnya ia menyusul untuk masuk.


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


πŸ’ πŸ’ Jangan lupa like, komen dan mawarnya... Eh udah senin lagi nih, votenya juga boleh banget buat mereka.. Tengkyu πŸ™πŸΌπŸ€—πŸ€—πŸ’ πŸ’ 


__ADS_2