
Teman laki-laki Adel tersebut langsung menyimpan tissu yang dia pegang, mengurungkan niatnya untuk bersikap romantis terhadap Adel, perempuan yang sedang ia dekati di sekolah tersebut.
"Satpamnya datang," bisik teman Adel yang perempuan terhadap temannya yang laki-laki.
"Om..." sapa mereka berdua dengan senyum terpaksa.
Varel tak menyahut, ia plaig benci di panggil om oleh anak-anak SMA tersebut. Memang lebih tua, tapi tak setia itu, bahkan jika di sandingkan wajah mereka tak jauh berbeda, pikirnya.
Adel hanya mencebik, saat melihat Varel.
"Ayo pulang!" ucap Varel tegas.
"Aku mau beli buku dulu, sama mereka. Nanti bisa pulang sendiri," sahut Adel.
"Tadi kata teman kamu nggak jadi, iya kan?" setengah melotot menatap teman Adel.
"Eh, iya om. Nggak jadi. Lain kali aja Del, kamu balik aja sama om kamu, sana!" sahut teman Adel.
"Saya bukan omnya!" ucap Varel ngegas sebagai tanda protes.
Tanpa ba bi bu, Varel menarik tangan Adel, "Ayo, aku nggak ada waktu basa basi di sini," ucap Varel.
Adel langsung menyambar tanya dan mengikuti langkah Varel dengan tergesa.
"Ih, nggak perlu di tarik. Aku bisa jalan sendiri. Lagian siapa yang nyuruh buat jemput, aku udah gede, bisa pulang sendiri!" Adel menepis tangan Varel yang menggandengnya.
"Om itu kayak nggak ada kerjaan aja sih, tiap hari datang ke sini, buat cowok-cowok yang deketin aku jadi pada minder aja. Om, cari pacar sana, biar nggak ganggu aku terus. Biar ada kerjaan. Katanya wakil direktur tapi kok kerjanya klayapan begini," omel Adel berapi-api. Gagal sudah pedekatenya dengan cowok paling tampan se-sekolahan tadi.
__ADS_1
"Udah ngomelnya?"
Adel hanya mencebik lagi.
"Pertama, aku mau klayapan kek, mau jungkir balik itu hak aku. Yang punya perusahaan aja nggak protes, yang penting aku bisa buat perusahaan maju. Ke dua, yakin nyuruh aku cari pacar? Kalau aku sibuk sama pacar, nanti kamu kangen lagi, lagian aku ke sini selain karena Syafira yang nyuruh buat jemput kamu juga karena butuh bantuan kamu," ucap Varel panjang kali lebar.
"Sudah ku duga, katakan mau apa?" tanya Adel ketus.
"Heh bocil, jangan jutek-jutek, tadi aja di depan cowok itu sok manis, giliran depan aku galak ya ngalahin paman Tiger. Aku kasih tahu, cowok tadi itu nggak baik, dia itu bareng sek," bukan tanpa Alasan Varwl mengatakan hal itu, ia telah melihat bebarap kali teman Adel itu dengan gadis yang berbeda-beda.
"Wes, intinya saja, mau di bantu nggak? Apa?" Adel masuk ke dalam mobil Varel sebelum pria itu menyuruhnya. Ia menggerutu, karena Varel selalu mengatakan cowok-cowok yang mendekatinya breng seklah, play boylah, bad boylah. Ada aja pokoknya yang jelek-jelek nggak ada bagusnya sama sekali.
"Biasa," jawab Varel nyengir.
"Huh, kenapa nggak di terima aja sih, biar ibuk nggak menggebu-gebu buatin blind date buat om, terima ajalah salah satunya, beres kan. Kenapa aku haru pura-pura jadi pacar om terus sih, nyusahin aja. Atau kalau nggak mau ya bilang aja terus terang sama ibuk, nggak usah di bikin ribet, anaknya ganteng ini takut amat nggak laku. Amat aja nggak takut," cerocos Adel.
"Masalahnya, mereka nggak ada yang benar-benar buat aku deg-degan. Mama suka nggak beres kirim perempuan. Kamu juga sih, kalau kamu iyain aja ke mama buat jadi calon istri aku, pasti mama anteng, nggak resek lagi. Mama kan juga udah klop banget sama kamu. Mama juga sering bilang kalau kmu mau jadi istri aku, dia berhenti jodoh-jododhin aku,"
" Sadar nggak sih, kamu yang bikin aku deg-degan," lanjutnya dalam hati.
"Udah berapa kali aku bilang, om. Aku nggak mau nikah muda kayak kakak. Aku masih mau ini itu, masih banyak yang mau aku lakukan,"
"Ini itu sama aku kan bisa,"
"Nggak! Aku masih mau bebas. Nggak mau nikah cepat-cepat, mau selesai kuliah dulu, mau kerja dulu, mau jadi wanita karir dulu, baru mau nikah. Pokoknya nggak mau nikah muda kayak kakak, kau masih ingin menikmati masa muda aku," rengek Adel.
"Mama pengin aku cepat-ceat menikah, Adel,"
__ADS_1
"Aku nggak nyuruh om nunggu aku," ucap Adel.
"Beneran? Kamu yakin bilang kayak gitu?" tantang Varel.
Adel terdiam sejenak, entahlah, ia sendiri tidak tahu yang pasti ia nyaman dengan laki-laki yang kini sedang duduk di sampingnya tersebut. Tapi, dia juga tak ingin egois dengan menyuruhnya menunggu lebih lama lagi demi mengejar impiannya.
"Iya, kalau om senang, bahagia dan nemuin jodoh om, aku ikut senang," ucap Adel dengan nada bergetar.
Varel mengembuskan napasnya dalam, "Sudahlah, yang penting sekarang lakukan saja peranmu seperti biasa untuk mengusir wanita itu," ucap Varel, ia tak ingin membahas lebih panjang lagi pembahasan antara dia dan Adel yang tak ada ujungnya.
Tiba-tiba, ponsel Adel berdering. Ternyata telepon dari Syafira. Kakaknya tersebut akan sangat khawatir jika Adel tidak pulang tepat waktu, ia masih agak trauma dengan kecelakaan yang membuatnya kehilangan sang ayah dan hampir kehilangan adik satu-satunya tersebut.
"Adel lagi di jalan, sama om Varel," ucap Adel. Varel langsung mengambil alih ponsel Adel, "Halo, tenang aja, Adel udah sama aku. Tapi nggak langsung aku ajak pulang, aku ada urusan sebentar, kamu nggak usah khawatir," ucap Varel.
Entah apa yang di bicarakan oleh Syafira, Varel hanya mengatakan 'hem' lalu mematikan panggilannya.
Varel kembali menyerahkan ponsel milik Adel kepada pemiliknya.
Suasana menjadi hening sejenak, "Nggak gratis tapi, ya? Aku mau album BTS terbaru," ucap Adel tanpa. Menoleh, ia menatap ke luar jendela mobil.
"Iya, nanti aku cariin," sahut Varel, ia menoleh menatap Adel dalam diam.
🌼 🌼 🌼
💠💠Maaf ya kalau gaje 😄 cuma mau menyapa kalian yang rindu dengan mereka saja lewat tulisan 😇
Cerita ini sebenarnya sudah End ya, jadi kalu ada lagi bab baru itu hanya sebagai extra art saja, bonus buat kalian 🤗🤗❤️❤️💠💠
__ADS_1