
ia mencengkram erat seprai tepat tidurnya perut nya bertambah mual namun tak ada yang bisa di muntah kan nya lagi kerena ia tak sarapan selain minum segelas susu, Rey pun sudah kembali ke kamar Sofia dan membawa baskom berisi air hangat serta handuk kecil untuk mengompres
Saat berada di dalam kamar Sofia, ia melihat Sofia sudah memejamkan mata**
Ia menghampiri dan meletakkan handuk yang sudah di basahi dengan air hangat ke dahi Sofia kemudian ia menepuk-nepuk pipi Sofia dengan perlahan untuk mengecek kesadaran Sofia namun tak ada respon dari Sofia. Sofia hanya diam terbaring di ranjang nya Rey kembali menepuk pipi Sofia serta menggoyang goyangkan pundak nya lebih kencang sambil berkata "Hey...! Sofia....! Sofia apa kau mendengar ku ! hey...! hey ..! gadis aneh apa kau mendengar ku !" Ucap Rey lagi berulang ulang, namun masih tak ada respon sedikit pun ia seperti orang yang sudah mati dengan wajah pucat nya
Sebenarnya Sofia mendengar dan merasa kalau Rey memanggil nya serta menepuk pipi nya
namun ia sungguh tak berdaya untuk merespon panggilan Rey itu, Rey yang merasa tidak ada respon dari Sofia bertambah khawatir akan keadaan nya ia kemudian merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang
"Halo..dok! bisa datang ke apartemen ku sekarang, aku butuh bantuan "
ucap Rey dengan nada khawatir
"Oke..! aku akan segera ke sana! kamu tunggu sebentar, memang apa yang terjadi?"
Ucap dokter yang ada di seberang ponsel nya
" nanti aku jelaskan sebaiknya dokter cepat kemari!" ucap Rey lagi
ternyata seseorang yang di telpon Rey adalah dokter pribadi keluarga nya 15 menit kemudian dokter itu pun datang dangan cepat Rey membawa dokter itu menuju kamar Sofia
"cepat dok..! periksa keadaan nya! " ucap Rey dengan cemas
dokter itu pun dengan cepat mengeluarkan peralatan medis nya dari dalam tasnya dan langsung memeriksa keadaan Sofia beberapa saat kemudian dokter sudah selesai memeriksa keadaan Sofia
"bagaimana dok...?" tanya Rey
"tidak perlu khawatir istri mu ini hanya demam ringan dan tensi darah nya sangat rendah, aku sudah memberi nya suntikan untuk penurun panas, sebentar lagi ia akan sadar sebaiknya biarkan ia beristirahat " ucap sang dokter
"Oh.. syukur lah terimakasih dok " ucap Rey merasa lega
setelah selesai memeriksa dan memberikan suntikan pada Sofia Rey dan dokter itu pun keluar dari kamar Sofia
" Rey apa aku boleh bertanya?" ucap dokter itu setelah keluar dari kamar Sofia dan duduk di sofa ruang tamu
__ADS_1
"tentu, dokter mau menanyakan apa?"
"Rey...! panggil saja aku paman Willams atau paman Willy. Jangan terlalu formal saat kita hanya berdua, kan sudah paman kasih tau dari dulu panggil saja aku paman!" ucap dokter itu
"baiklah paman Willy, paman mau bertanya tentang apa pada Rey?"
"kamu harus berjanji jawab pertanyaan paman dengan jujur!"
"Iya Rey berjanji akan menjawab pertanyaan paman dengan jujur "
"begini apa.. yang terjadi pada kalian berdua? apa kalian bertengkar?" ucap paman Willy pada Rey dengan tatapan menyelidik
"tidak paman..!" ucap Rey dengan wajah khas nya yaitu datar
"trus kalau tidak bertengkar apa yang terjadi pada kalian berdua? kamu tidak perlu berbohong pada paman mu ini" Ucap paman Willy lagi masih dengan tatapan menyelidik
"Beneran.... paman kami tidak bertengkar!"
"Kalau begitu jelaskan! pada paman mu ini kenapa wajah mu lebam seperti itu,? paman juga melihat nya di wajah istri mu bahkan sudah membiru, apa itu namanya kalau bukan bertengkar, apa sih yang kalian ribut kan hingga sampai seperti ini
"Paman.. paman sudah salah paham aku dan Sofia tidak bertengkar apa lagi sampai memukul nya!"
"Lalu dari mana kamu dan istri mu sampai mendapat kan wajah yang seperti itu?"
"ltu..! itu...! tadi malam saat aku pulang dari kantor aku di serang dan dipukuli oleh tiga orang preman, entah datang dari mana tida tiba Sofia ada di tempat itu juga,... dan jadilah begini
paman tolong jangan beritahu nenek tentang masalah ini nanti nenek akan cemas dan mengganggu pekerjaan nya di luar kota!"
Ucap Rey menjelaskan panjang lebar sambil memohon agar paman Willy tidak mengadukan tentang masalah ini pada nenek nya
yaitu
(nyonya VIDIA .)
"Baiklah...! baiklah paman tidak akan memberitahu nenek mu itu,
__ADS_1
Apa memar di wajah mu itu sudah diobati?"
"sudah paman, ini sudah tidak terasa sakit lagi "
"kamu... tidak membohongi paman mu ini kan tentang tiga preman itu !"
Ucap paman Willy dengan tatapan menyelidikinya
"tentu saja aku mana berani berbohong pada paman!" ucap Rey dengan wajah serius nya
"bagus lah... lain kali berhati hati lah" ucap paman Willy lagi
"Iya paman!"
"kalau begitu paman pamit dulu sekarang paman mau ke rumah sakit,
ingin ya kalau istri mu sadar nanti berikan vitamin penambah darah yang paman berikan tadi agar ia tidak sering pusing "
ucap paman Willy lagi sambil berjalan meninggalkan apartemen
Rey mengantar paman Willy sampai ke depan pintu apartemen
"'paman terimakasih" ucap Rey
"Iya... paman pergi dulu" ucap dokter itu atau paman Willams
(oiya paman Willy ini atau dokter Willams adalah sahabat dari almarhum ayahnya Reyhan Dinata atau Rey yang meninggal sekitar dua tahun yang lalu akibat mengalami kecelakaan tunggal bersama ibunya, ayah nya Rey bernama Arya Dinata sedang kan sang ibu bernama Ratna Dinata,
nah sejak kepergian kedua orang sikap Rey mulai berubah yang dulu nya terbuka menjadi lebih tertutup, dingin, datar, irit bicara dan emosi cepat berubah ubah, ditambah lagi dengan penghianatan Siska calon istri nya dulu,
tapi tidak dengan nenek nya dan juga paman Willy ia akan bersikap lembut pada mereka berdua)
nah itu sedikit penjelasan tentang paman Willy dan Rey
Terimakasih
__ADS_1
*BERSAMBUNG*