
๐ฃ Kediaman Thomshon ๐ฃ
" Kamu tidak boleh main hakim sendiri, bagaimanapun Willi adalah sepupumu." Seru Edward memperingati anaknya.
" Kau sangat keterlaluan Willi...!!, sebenarnya kau harus menyelidiki dulu. Sebelum kau mengusirnya. Seru Louis dengan nada tinggi.
Willi bangun dari dari jatuhnya, pria tampan itu bersimpuh dihadapan Edward, Vivian, dan pasangan Suami istri Intan, dan Louis.
" Aku tau, aku salah. Aku mohon maafkan aku. " Seru Willi sambil menangis.
" Kau membuat Om kecewa Willi, Om sangat kecewa padamu." Seru Edward.
" Maafkan aku, maafkan aku. Mungkin karena aku terlalu mencintainya, hingga aku tidak rella dia di sentuh pria lain.
" Terus apa tujuanmu datang kesini...? Tanya Louis dengan nada sinis.
" Kesalahan ku sudah sangat besar terhadap Lila, Lila pasti tidak mau memaafkan aku. Jadi aku datang kesini ingin meminta bantuan kau, dan Intan agar Lila mau kembali padaku, aku yakin Lila pasti mau mendengarkan perkataan kalian berdua. Terutama kau Intan, aku yakin Lila pasti mau mendengar kata - katamu. Aku mohon tolong bantu aku Louis, Intan.., bantu aku untuk mendapatkan kembali istri, dan anakku. Hanya kalian berdua yang bisa membantuku." Seru Willi memohon, dengan air mata berderai.
Mendengar ucapan Willi, hati Intanpun luluh. Karena ia yakin Willi telah menyesali perbuatannya.
" Bangunlah Kaa.., aku mau menemani Kaka ke Surabaya untuk membujuk Lila agar kembali pada Kaka." Ucap Intan lembut.
" Kamu serius Intaan.., ingin membantuh ku..? Tanya Willi seolah tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
" Ia aku serius Kaa, intinya Kaka janji tidak akan pernah melukai perasaan adikku lagi."
" Tentu Intan, aku janji. Aku tidak akan pernah melukai Lila lagi." Seru Willi dengan wajah sumringah.
" Dan kau juga akan ikut kan Sayang...? Tanya Intan pada Suaminya.
Louis mengehela nafas panjang, sebelum dia berbicara.
" Baiklah kita akan pergi bertiga."
" Terimah kasih Louis ,terimah kasih." Seru Willi sambil merangkul sepupunya.
" Ingat ini terakhir kali kau melukai adikku, jika kau menyakitinya lagi, aku bukan hanya memukulmu tapi akan membunuhmu."
" Seandainya aku menyakitinya lagi, aku rella dibunuh olehmu." Ucap Willi tersenyum.
" Baiklah kalau begitu esok kita akan berangkat, apakah kau tau alamatnya Lila di Surabaya..? Tanya Louis pada Willi.
" Aku tidak tau." Jawab Willi dengan wajah murung.
" Tenang aku akan minta pada Kakaku Teddy, karena dia pernah kerumah Lila di Surabaya." Seru Intan tersenyum.
__ADS_1
๐ Bandara Juanda๐
Tibahlah mereka di Bandara Juanda Surabaya.
Intan terus menyunggingkan senyumannya saat mereka tibah di Bandara. Ia juga sudah tak sabar ingin bertemu dengan adiknya.
Setelah beristirahat beberapa jam di hotel.
Mereka bertigapun, melanjutkan perjalan kekediaman Lila. Setelah menempuh perjalan selama satu jam, akhirnya merekapun tiba di salah satu hunian minimalis.
Willi terlihat gugup, berbagai perasaan berkecamuk dalam dirinya.
" Tenanglah ada aku, dan Intan." Seru Louis menenangkan Saudara sepupunya.
Terdengar suara ketukan pintu.
Took...
Took..
Took...
" Siapa.." Teriak Ani dari dalam rumah, sambil menyambangi pintu, dan membukanya.
Dan ia sangat terkejut, melihat wajah yang ia temui adalah Intan.
" Intaann...." Serunya yang tak sadar air matanya menetes.
" Ka Ani apa kabar...? Tanya Intan tersenyum lembut.
Tanpa menjawab Ani langsung merangkul erat tubuh Intan,dan menangis tersedu - sedu.
" Intan maafkan Kaka Intan, maafkan Kaka. Karena selama ini Kaka sudah banyak salah padamu." Seru Ani dengan air mata berderai.
Intan tersenyum, dan tak terasa air matanya ikut menetes karena bahagia.
" Aku sudah memaafkan Kaka, aku sangat merindukan Ka Ani. Bagaimana kabarnya Kaka...? Tanya Intan.
" Baik Taan..., kabar Ka Ani baik."
" Oh iya kenalin Ka Ani, ini Suamiku Louis, dan sepupunya Willi." Seru Intan memperkenalkan memperkenalkan Louis, dan Willi pada Ani.
Setelah saling berkenalan, Anipun mempersihlakan mereka untuk masuk.
__ADS_1
Setelah dalam rumah.
" Ka Ani, Lila mana..? Tanya Intan
" Lila ada mengantar kue, paling sedikit lagi sudah pulang. " Jawab Ani.
Mendengar ucapan Ani, air mata Willi menetes, dia tak menyangkah istrinya bekerja keras untuk membiayai hidupnya, dan anak mereka.
Sedari tadi Ani, terus memperhatikan Willi karena dia hanya mengetahui wajah menantunya lewat fotonya saja.
" Apakah kau Willi..., ayah kandung dari Lita cucuku..? Tanya Ani.
" Siapa Lita Ka Ani...? Tanya Intan yang telihat penasaran.
" Dia adalah anaknya Lila." Jawab Ani
Terdengar suara tangisan bayi dari dalam kamar.
" Oeekkk, oeekkk"
Jantung Willi, seakan berpacu lebih cepat karena ia tahu itu pasti anaknya.
"Sebentar Kaka ngambil Lita dulu, dia sudah bangun." Pamit Ani, untuk menyambang cucunya.
" Anakku Louis...,anakku...." Seru Willi sambil menangis.
" Tenanglah, kita akan membawa mereka berdua pulang."
Muncullah sosok bayi mungil cantik, yang di gendong Ani.
Willi langsung bangun dari duduknya, dan menyambangi Ani.
Tak terasa air matanya menetes.
" Anakku." Gumamnya pelan.
" Bolehkah aku menggendongnya." Serunya yang tak terasa air matanya menetes.
" Tentu, kau adalah Ayahnya kau boleh menggendongnya." Seru Ani sambil menyerahkan Lita pada Ayahnya.
Willi menggendong anaknya, dan tak terasa air mata telah membasahi kedua pipinya.
" Maafkan Papa Naa..., maafkan Papa..., karena sudah menyakiti kau ,dan Ibumu. Papa akan berusaha mendapatkan maaf dari Ibumu, agar kita bisa berkumpul kembali." Seru Willi memeluk erat tubuh anaknya sambil terus menangis.
Baby Lita tersenyum, dan memeluk erat Ayahnya. Bayi mungil itu seolah mengetahui kalau yang menggendongnya adalah Ayah kandungnya.
__ADS_1
Intan, Louis, dan Ani ikut meneteskan air mata bahagia. Melihat suasana haru tersebut.