
Pukul enam pagi.
Zahra, membersihkan rumah seperti nyapu,ngepel dan membersihkan kaca jendela rumah. Karena Art pulang kampung, barulah dia membersihkan rumah sendiri.
"Mbak zahra,di dapur banyak cucian piring". Perintah Arini, terlihat baru mandi dan keramas juga.
"Itu tugas kamu,yang di berikan ibu. Apa lagi cucian piring di dapur,bukan bekas aku. Tapi,kalian semua. Aku juga gak masak, toh bahan milik ibu. Beliau memarahiku memakan bahan-bahannya, untuk apa aku masak. Hamil, jangan jadi alasan malas-malasan,". Ucap Zahra,ia sudah beres pekerjaannya. Tinggal mandi-mandi, siap-siap. Cussss...ke supermarket,tak betah di rumah lama-lama walaupun sang suami libur.
"dasar punya madu,gak bisa di atur. gara-gara ibu sih,ngabisin uang zahra. Aku juga susahnya, mana mas Wahyu berubah banget sifatnya". Gerutu Arini,ia membuat teh hangat dan mengambil cemilan juga. Bodo amat, di wastafel banyak cucian piring bekas malam tadi.
"kamu sudah bangun dek? sudah rapi aja,". Kata Wahyu,yang masih berbaring di atas ranjang. "Mas masih ngantuk banget,tapi laper". Berharap zahra, mengerti apa perkataannya.
Ck, ngantuk konon. Padahal malam tadi mende-sah hebat di kamar Arini,dasar buaya. "Aku capek mas, pagi-pagi bangun membersihkan rumah nyapu,ngepel dan lap-lap sana sini biar debunya hilang. Kalau laper tinggal makan,ada Arini sama ibumu. Toh,aku gak di suruh ibu masak dan makan karena bahannya ibumu yang beli. Males juga aku beli bahan-bahan,karena kalian sudah menghabiskan uang ku". Senyum semerik Zahra. "Bayangkan saja mas,uang yang kalian habiskan bisa membeli bahan-bahan berbulan-bulan. Tapi,habis dalam sekejap. Jangan salahkan aku,jika pelit. Kalian juga seenaknya saja,".
"Cukuuup Zahra....!!! Pagi-pagi kamu sudah ajak aku ribut,aku capek". Bentak Wahyu,ia duduk di tepi ranjang.
"Aku lebih capek lagi mas,capek hati dan batin. Kamu lebih peduli dengan ibu,di bandingkan aku. Jangan salahkan jika aku berubah seperti ini, punya suami gak becus". Decak Zahra, langsung meninggalkan suaminya di kamar. Ia juga membawa kresek berisi baju-bajunya,yang siap di laundry.
"Aaarghhh...aku ceraikan baru tahu rasa,". gerutu Wahyu,ia merebahkan tubuhnya lagi.
"Ariniiiiiii....cuci piring di wastafel, pagi-pagi sudah enak santai-santai. Kamu mau,ibu gak kasih jatah makan ha". Bentak sang mertua.
"suruh mbak zahra,saja bu. Aku gak mau,". Tolak Arini,sinis.
"Aku sudah bangun pagi-pagi,nyapu,ngepel dan lap-lap sana sini biar debunya hilang. Itu tugas kamu,kita bagi tugas dong. Kalau gak mau cuci piring,gak usah makan dan minum,". Sahut Zahra,ia duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya.
"Kamu mau laundry,ibu nitip boleh". Ucap bu Yuni.
__ADS_1
"Boleh,tapi baju-bajunya tolong di buatkan ke dalam kresek. Tapi,baju Arini gak mau". Jawab Zahra, walaupun di membenci sang mertua. Tetap saja,ada rasa perhatian kepada ibu mertuanya.
Dengan sumringah bu Yuni, langsung pergi menyiapkan pakaian kotor. Lumayan tidak capek-capek nyuci dan hemat karena laundry di bayar oleh Zahra.
Arini, langsung geram kepada Zahra. Ia bangkit dari duduknya,tak mau ketinggalan cepat-cepat memasukkan baju kotornya. "Enak saja,baju aku gak mau di laundry kan." Gerutu Arini.
"Aku berangkat dulu bu, nanti aku aja yang ambil baju di laundry". Ucap Zahra,ia membawa pakaian kotor ke motor bututnya. ia tergesa-gesa sebelum Arini, menghampiri dan membawa pakaian kotornya.
"Mbak zahra, tungguuu.....!!! Mbaaaaakkkk.... tungguuuu....." Teriak Arini, namun zahra sudah pergi.
"Ngapain kamu teriak-teriak gak jelas,". Tegur sang mertua.
"Loh,mana zahranya bu. Punyaku gak di bawa,enak saja gak mau di laundry kan pakaianku". Kata Arini, dengan kesal.
Bu Yuni,hanya mencibir bibirnya. "Alahhhh...kamu cuci sendiri aja,ribet amat. Ada mesin cuci,ngapain laundry segala. Daripada kamu diam, lebih baik cuci piring sana sudah menumpuk karena kamu. Gak usah malas-malasan".
"ini istri tuamu,gak mau cuci piring yang gak seberapa. Padahal bekas dia juga yang banyak". Jawab bu Yuni.
"Sayang,kamu cuci sana piringnya. Mas,janji besok kita pulang kampung,". Wahyu, membujuk istrinya.
"Seriusan mas,tapi aku mau beli oleh-oleh dong.biar pamer sama orang kampung,juga". Rengeknya.
"Iya, sayang. Hari ini kita jalan-jalan beli apapun, termasuk ibu.cepat sana cuci piring dan cuci juga bajuku". Wahyu, mengecup kening istrinya. tentu saja Linda,mau bagaikan terhipnotis oleh suaminya.
"Dapat darimana kamu, uang,". Tanya bu Yuni,kepada anaknya.
"Dapat dari janda Maya,bu. Dia sangat royal,bahkan dia mau meminjamkan mobil untukku. Dia memiliki beberapa mobil, maklum orang kaya dan memiliki beberapa hotel. Kalau aku menikah,akan aku ceraikan Zahra. Gak betah aku sama Zahra, pelit, perhitungan sama suami. Aku kira dia wanita polos,taunya kita yang kalah". Decak Wahyu,ia sudah memikirkan matang-matang.
__ADS_1
"Baguslah,kamu cepat-cepat menikah. Ibu,gak sanggup lama-lama di rumah Zahra".
"Tapi,aku jujur bu. Kalau Arini adalah istri pertamaku. Dan aku janji akan menceraikan dirinya,saat sudah melahirkan nanti. Maya,mau terima kok bu. Asalkan dia sepenuhnya diberi perhatian tanpa memperdulikan Arini. Ibu,jangan bilang-bilang sama Arini. Nanti aku berbicara baik-baik dengannya,pasti dia mau. Arini,mau di bodohi kalau dengan uang". Wahyu, menyeringai tajam.
Bu Yuni, menyetujui apa yang dilakukan anaknya. Tak apa, asalkan uang selalu mengalir.
Arini, bersemangat melakukan tugas di perintahkan suaminya. Ia tak sabar menunggu waktu pulang kampung dan pamer sana sini.
Setelah selesai barulah dia, membersihkan diri sendiri dan berpenampilan se menarik mungkin. Walaupun sekarang perutnya sudah besar,tetap saja dia menjaga kecantikan demi sang suami.
Wahyu, langsung masuk ke dalam kamar dan menghampiri istrinya lalu memeluk erat dari belakang. "Arini, ijinkan mas menikah lagi".
"Apaaaa....????? ". Syok mendengar ucapan dari Suaminya. "Jangan bercanda mas". jantungnya seakan-akan berhenti berdetak,ini bukan pertama kalinya sang suami meminta ijin menikah lagi. bukankah sudah meminta ijin saat menikahi Zahra. bahkan rela dia akui, sebagai adik bukan istri.
"Aku tidak bercanda Arini,aku ingin menikah lagi dengan janda kaya raya tanpa anak. Ini demi masa depan kita,dia yang sudah memberikan uang dan meminjamkan mobil untukku. Percayalah pada mas, demi kebaikan kita. Mas,ngaku kalau kamu istri pertama. Dia mau jadi madumu,aku akan berbuat adil sayang. Tenang,mas akan menceraikan Zahra. Mas,mohon mengertilah demi masa depan dan anak kita". Wahyu,mengelus perut Arini.
Arini, harus berkorban lagi. Hatinya sangat perih dan sakit, begitu besarnya pengorbanan sebagai istri demi suami tercinta.
Mendengar perkataan Wahyu, hatinya seakan-akan luluh. "Janji mas,kamu akan berbuat adil kepadaku". Isak tangisnya Arini.
"Iya sayang, percaya pada mas. dia akan sayang juga,kepada anak kita karena dia mandul makanya di ceraikan suaminya". Wahyu, menghapuskan air matanya. Lalu memeluk istrinya dengan erat.
Arini, mengepalkan kedua tangannya. Hatinya hancur berkeping-keping lagi,tapi di sudut lain. Ia tersenyum karena Wahyu mengatakan sejujurnya jika dirinya adalah istri pertama. Bodohnya lagi, wanita itu mau di madu.
*******
Zahra, memeluk erat foto akad nikah bersama suaminya Wahyu. jujur dia sangat mencintai suaminya,namun apalah artinya jika dirinya sudah di manfaatkan oleh sang suami. untung saja dia cepat bertindak,kalau lambat sedikit saja. bisa jadi jerih payahnya sendiri, hilang di rebut oleh suaminya dan keluarganya. akankah Zahra, percaya lagi terhadap pria dan pernikahan.
__ADS_1
sedangkan dia baru membina rumah tangga,ingin menikah sekali seumur hidup. namun beberapa bulan saja, kepercayaannya di renggut dan di hancurkan. "hamba berharap suatu hari nanti, menemukan suami yang hamba harapkan. Ya Allah,hamba siap harus berpisah dengan suami hamba. hamba,tidak sanggup menjalani rumah tangga seperti ini. sakit, sangat sakit". isak tangisnya Zahra.