
Tok....Tok...Tok...
Zahra,yang baru saja berbaring di atas ranjang. Tiba-tiba ada seorang mengetuk pintu kamarnya,ia bangkit dari ranjang dan pergi ke arah pintu kamar. "Hemm...siapa yah,yang mengetuk pintu kamarku? Apa Tante Martha,tapi gak ada suaranya? Buka sajalah," Gumam Zahra.
Ceklekk.....
"Erwin,". Lirihnya Zahra,ia terkejut karena Erwin yang mengetuk pintu kamarnya.
Tanpa basa-basi lagi, Erwin langsung melongos masuk ke dalam kamar lalu menguncinya dari dalam.
"Hussssttttt.... pelan kan suaramu". Bisik Erwin,ia menempelkan jari ke bibirnya.
Zahra,hanya mengangguk pelan. "Tapi,tidak enak. Kalau ada seseorang ke sini,siapa tahu ada yang lihat. Atau Tante Martha,ke sini. Kita bisa bicara diluar,bukan di dalam kamar". Gerutu Zahra,ia merasa gelisah dan tidak enak hati
"Huuuusttt....tidak ada yang tahu,selagi kita berisik Zahra. Aku hanya ingin berbicara padamu,hanya sebentar. Plisssss....". Erwin, mencekal lengan Zahra.
Zahra,hanya pasrah dan mengangguk kepalanya. "Bicaralah pelan-pelan,apa yang kau ingin bicarakan. Lebih cepat,lebih baik".
"Bukankah aku, sudah bilang. Jangan menemuiku, sebelum kau memiliki jawab pasti kepadaku. Sekarang kita bertemu,sudah pasti ada jawabannya kan". Senyum smrik Erwin.
"Tapikan,aku datang bersama Gunawan. Itupun aku ke sini karena ada janji dengan Tante Martha,bukan salahku dong. Siapa suruh,kamu ada di sini". Elak Zahra,ia tersenyum kecil.
"Tidak,kau salah. Aku yang benar,jadi tolong katakan apa jawabanmu. Aku siap, apapun jawabanmu". Pinta Erwin, walaupun dia menginginkan Zahra. Namun tidak egois,karena pilihan tersebut hak dirinya sendiri.
"Maafkan aku, Erwin. Bukannya aku, menolak menjadi istri mu. Tapi....". Zahra, menggantung ucapannya.
"Kenny...?Aku paham dengan ucapanmu". Erwin, menghela nafasnya dengan panjang. "Maaf, aku tidak bisa tegas kepada Kenny".
__ADS_1
"Kau tahu? Aku gagal membina dalam rumah tangga, seharusnya kamu paham. Apa lagi Kenny, terlihat jelas dia masih menginginkan dirimu. Dari sorotan matamu,aku tahu. Jika kamu,masih menyimpan rasa cinta kepada Kenny. Namun bagiku, semua itu tak masalah. Maaf,aku tidak bisa. Aku harap kamu, mengerti ". Ucap Zahra,namun di hatinya tidak tega mengatakan semuanya.
Erwin,hanya mengulas senyuman kecil. "Tidak apa-apa, Zahra. Setidaknya,kita masih berteman dengan baik. Maaf, terimakasih atas jawaban yang kau berikan ".
Walaupun Erwin, kecewa dengan jawaban dari Zahra. Namun dia lega, karena tidak memikirkan hal ini lagi. Erwin,tidak mungkin memaksa Zahra. Biarkanlah seiring waktunya,jika berjodoh akan bersatu.
Erwin, langsung pamit keluar dari kamar Zahra. "Selamat malam, semoga tidur nyenyak ".
"Kau juga Erwin,". Maafkan aku,tidak bisa menerima niat baikmu. Aku hanya ingin, memiliki hubungan tanpa di ganggu siapapun. Maaf, mungkin kau kecewa dengan jawabanku. Zahra, langsung menutup pintu kamarnya. Lalu pergi ke arah ranjang dan merebahkan tubuhnya.
*******
Sedangkan di rumah Zahra. Wahyu dan bu Yuni, masih setia menunggu Zahra yang tak kunjung datang juga.
"Bagaimana Wahyu, kenapa Zahra tidak pulang-pulang? Masa kita tidur,di luar sih. Mana banyak nyamuk lagi,". Gerutu bu Yuni.
"Sial, apakah Zahra tau? Kalau kita ke sini, aiiss.... menyebalkan sekali. Ini semua gara-gara ibu, karena gak bayar kontrakan demi belanja gak guna begitu. Sehingga kita di usir,apa Zahra mau? Memberikan kita, tumpangan gratis. Dia wanita tidak polos bu,". Decak Wahyu, begitu kesal kepada Zahra dan ibunya.
"Makanya,cari kerjaan lain dong. Yang gajihnya lumayan besar,jadi gak kaya gelandang seperti sekarang. Kau carilah janda kaya,biar drajat kehidupan kita berubah. Ibu, ingin membalas Zahra langsung ". Ucap bu Yuni, menatap tajam ke arah anaknya.
"Aaaakkhh...gak segampang itu bu,". Jawan Wahyu,ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Entah kenapa? Hidupnya sekarang benar-benar sial, tidak memiliki tempat tinggal. Bahkan dia baru saja di pecat,uang tak punya dan memiliki seorang ibu cerewet minta ampun. Kini lengkaplah sudah, penderitaan Wahyu.
Wahyu, benar-benar menyesal sudah menyia-nyiakan Zahra. Seandainya dia, mempertahankan Zahra. Mungkin hidupnya,tidak seperti ini. "Kenapa juga dulu,aku membuang Zahra. Sial,sekali hidupku". Gerutu Wahyu,ia bersandar di pintu rumah Zahra. Ia mencoba memejamkan matanya karena kantuknya tiba-tiba datang.
**********
__ADS_1
Pagi harinya, sebelum pergi meninggalkan rumah orangtuanya Gunawan. Zahra, melihat cctv. "Kenapa mereka, masih ada sih? benar-benar nekat juga mereka,".
Ternyata mereka masih ada, terpaksa zahra berbohong kepada mereka. Jika mantan suaminya dan ibunya,sudah tidak ada lagi. Zahra, tidak enak terus-menerus berada di rumah itu.
Sepanjang perjalanan Zahra, memikirkan kemana tujuan hari ini. Entah kenapa, moodnya jadi ambyar semuanya.
"Bagaimana kalau aku, kerumahnya Om Ridwan dan Tante liza. Daripada pulang, bikin sensi menghadapi mereka". Gumam Zahra,ia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak lupa Zahra, membeli beberapa pakaian dulu. Baru dia melanjutkan perjalanannya.
memerlukan tiga jam barulah sampai ke tempat tujuan. Zahra,di sambut hangat oleh Tante liza dan keponakannya.
"Ya sudah,kamu tinggal saja di sini? Bukankah bisa memantau pekerjaanmu dari jauh, heran deh. Mereka itu,maunya apa sih? Sekarang kamu, cepat-cepat cari suami. Biar gak di gangguin mereka". Ucap Liza, dengan kesal saat mendengar cerita Zahra.
Liza,tak suka jika mereka masih mengganggu keponakan suaminya.
"Jadi ngerepotin Tante, kalau aku lama disini". Kekehnya Zahra, ia tersenyum manis. "cari calon suami,gak gampang Tante. apa lagi aku, pernah gagal dengan membina rumah tangga ".
"Gak, malahan Tante senang. Malam ini,kita pergi ke acara ulangtahun perusahaan temannya Om Ridwan. Siapa tahu, dapat calon". Liza, menggoda Zahra yang mengerucut bibirnya.
"Gak deh,aku gak ikut acara begituan Tante". Rengeknya Zahra. "Tante saja dengan Om, ngapain juga ajak-ajak Zahra ".
"Gak, pokoknya ikut. Temanin Tante, biasanya Om kamu sibuk ngobrol-ngobrol sama pembisnis lainnya. Tante,gak terlalu akrab dengan para Istri-istri teman Om kamu. Cuss...kita belanja beli baju,buat malam nanti". Liza, langsung menarik lengan Zahra.
"Tapi Tante...". ucap Zahra,yang sudah di potong Liza. Aduhhh....harus pasrah deh...
"Gak da tapi-tapian,nurut aja". kekehnya Liza, dengan senyuman manis. Asyik ada teman nantinya, biar gak plongo-plongo sendiri.
Begitulah Liza, sangat dekat sekali dengan Zahra. Walaupun Zahra,menolak tetap saja Liza memaksa keponakan suaminya itu.
__ADS_1
Pada akhirnya Zahra,yang kalah dan menurut keinginan Tantenya. Walaupun aku, bersikeras untuk menolak. sudah pasti akan kalah dengan Tante liza, gerutu Zahra.