
[Aku sudah bercerai dengan mas Wahyu,dia sudah menalakku Om]
Zahra, langsung memberitahu kepada Om nya.
[Baguslah,Om dan Tante senang mendengarnya. Apa mereka sudah pergii dari rumah mu]
[Tidak Om,akulah yang pergi. Aku sudah membeli rumah letaknya lumayan jauh dari tempat tinggal dulu. Rumahnya sudahku gadaikan ke bank Om,masih 50 juta. Aku gak mau lagi,diam di rumah itu Om. Sangat banyak luka setiap inci rumah itu]
[Lebih baik kamu,tebus di bank. Akan Om, transfer uangnya ke rekening kamu. Sisanya tinggal kamu jual, mumpung ada kesempatan teman Om. Mau beli rumah sekitar situ,kamu juga bisa mengambil barang-barang peralatan lainnya. Lumayan Zahra,sisanya serahkan kepada Om. Kalau masalah mengusir mereka, serahkan kepada Om. Tugas kamu,tinggal pergi ke bank dan lunasi semuanya]
[Baiklah Om,aku percaya kepada Om]
[Kamu yang semangat kerjaanya, jangan galau terus kata Tante mu. Uangnya nanti kita bagi dua,hasil penjualan rumahmu]
[Oke deh,om. Langsung potong uang yang dikirim Om nanti. Aku minta sebagian aja Om]
[Baiklah] Om Ridwan.
Zahra, menghela nafasnya dengan panjang. "Alhamdulillah,masih punya Om dan Tante. Setidaknya aku,bisa tenang sekarang". Gumam Zahra. Ia melihat M-banking sudah masuk ternyata uang dari Om nya.
Zahra, langsung meninggalkan supermarket dan pergi ke bank. Secepatnya ia harus mengurus semuanya,memang keenakan kalau mereka di biarkan begitu saja.
******
Sedangkan di tempat lain. Wahyu,tengah menghabiskan waktu bersama Maya di sebuah hotel milik sang kekasih.
"Enak banget sayang,pijitan di kepalaku. Kau tahu,sayang? Beberapa hari ini, kepalaku nyut-nyutan karena mengurus anak kami. Sebenarnya aku, ingin pisah dari istri pertama ku. Tapi,ibuku sangat menyayanginya karena sudah memberikan cucu perempuan,". Kata Wahyu, sambil menikmati pijatan tangan dari Maya.
"Terus,kamu gak bisa menceraikan istri pertamamu itu? Aku gak mau,mas. Jadi madunya,aku mau sepenuhnya jadi milikmu,". Maya, cemberut mendengar ucapan dari sang kekasih.
__ADS_1
"Makanya sayang,ketika kita menikah nantinya. Kamu harus bisa mengambil hati ibuku,agar dia jauh lebih menyayangi mu daripada istri pertamaku. Mengambil hati ibuku, sangat gampang. Tinggal ajak shoping dan jalan-jalan, berlahan-lahan hati ibuku jadi luluh". Ide Wahyu, membuat dirinya lepas dari tanggung jawab untuk ibunya. Sudah pasti Wahyu,tak repot-repot mengeluarkan uang untuk ibunya.
"yah sudah,aku coba nantinya. Ingat yah,mas. Kalau kita menikah nanti,kamu jangan terlalu perhatian kepada istri pertama mu itu. Pokoknya kamu,harus perhatian sepenuhnya untukku". Pinta Maya, bergelut dengan manja.
"Kalau masalah itu,gampang sayang. Asalkan kamu,harus nurut perkataan ku". Senyum semerik Wahyu.
"Kalau itu,apa sih..yang gak buat kamu,sayang". Maya, langsung mengecup bibir Wahyu.
Hehehehe,enak banget sih...!! Kibulin nih,tenang berlahan-lahan semua hartamu. Akan berpindah ke tanganku, Maya. Batin Wahyu,ia menyeringai tajam.
Maya,yang begitu polosnya tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun kepada calon suaminya.
******
Beberapa hari kemudian.
Prankkk.....
Semua orang-orang sekitar terkejut, melihat sebuah vas bunga pecah berkeping-keping. Tentu saja vas bunga, tersebut sangat mahal.
"Huuu...huuuu..hhuuu". Anak tersebut,menangis kesegukan. Ia memeluk ayahnya, dengan erat. "Maaf deddy,gak cengaja".
"Cup...cup...jangan menangis lagi,sayang. Deddy,tahu jika kamu tidak sengaja. Jangan menangis lagi,anak Deddy kuat gak cengeng,". Ucap seorang pria kepada anaknya.
Pria tersebut langsung menghampiri resepsionis hotel tersebut. "Aku ingin bertemu dengan pemilik hotel ini,akan aku ganti vas bunga itu".
"Baik pak, silahkan di tunggu dulu". Jawab resepsionis hotel,ia langsung menekan tombol telpon di hadapannya.
Beberapa menit kemudian. Pria tersebut tengah bermain dengan anaknya, sedangkan Maya sudah datang dan berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Hemm... apakah anda yang ingin bertemu dengan Saya". Maya, berdehem dan pria tersebut langsung menoleh ke arah sumber suara.
Betapa terkejutnya saat mengetahui siapa pemilik hotel ini. "Maya". Lirih pria itu,ia nampak tak percaya jika di hadapannya adalah mantan istrinya.
Begitu juga Maya, sangat terkejut melihat sesosok pria tersebut. Pria,yang Pernah singgah di hatinya. "Mas Ferry".
Seketika suasana canggung dan Maya, melihat seorang anak laki-laki di sampingnya. Kini matanya mulai berkaca-kaca,tak sanggup menahan diri. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu, sekitar lima tahunan.
Beberapa saat kemudian. Maya,duduk di sebrang sofa Ferry.
Sedangkan anak Ferry, sudah pergi bermain bersama pengasuhnya.
"Bagaimana kabarnya,mas? Gak nyangka kita bertemu lagi,". Maya,membuka suara. Walaupun saat ini,ia sangat gugup. Ia juga sangat merindukan mantan suaminya,sampai saat ini dia masih mencintainya.
"Baik, bagaimana denganmu". Ferry,juga sangat merindukan mantan istrinya ini.
"Baik mas, bagaimana kabar ibu dan istrimu. Kenapa mereka tidak ada,apa belum datang". Tanya Maya,ia seketika sangat gelisah. takut dengan kedatangan istri mantan suaminya,bisa saja dia salah paham.
"Ibu,sudah dua tahun meninggal dunia. Sedangkan istriku... meninggal saat melahirkan anak kami. Ngomong-ngomong, mana suamimu,". Kata Ferry,ia mengepalkan tangannya saat menyebut dimana suami Maya.
"Innalilahi, maafkan aku mas. Aku tidak tahu,sama sekali. Ak-aku tidak ada menikah lagi,mas. Saat kita berpisah, tapi untuk saat ini. Aku sudah memiliki calon suami,". Kenapa seperti ini,kenapa aku tidak bisa membuang rasa cintaku kepadamu mas.
Ferry, menyunggingkan senyumnya lalu menatap tajam ke arah Maya. "Perpisahan kita, maksud mu? Yanga ada kamu, May. Yang sudah meninggalkan ku, hanya karena kamu mandul. Lalu membuat perpisahan sepihak, begitu. Asal kau tahu, May. Aku tidak pernah menuntut mu,memilik anak sekalipun. Kita bisa mengadopsi anak, memberikan dia penuh kasih sayang dan perhatian. Sedangkan kamu,egois. Hanya mengambil keputusan sendiri,aku tahu. Kamu sakit hati, mendengar ucapan dari ibuku. Yang selalu menuntut seorang cucu, apakah aku diam ketika kamu di caci maki ibuku. Tidak May,karena obat itu yang kau berikan padaku. Sehingga aku, melakukan hubungan kepada Hana. Sehingga di hamil,lalu kita bercerai. Hatiku sangat sakit May, kecewa kepadamu. Sehingga aku, menikahinya. Hanya sekali itu saja,aku pernah menyentuhnya. Hingga akhir hayatnya,aku tak pernah menyentuhnya,". Tegas Ferry,mata memerah manahan emosi.
Maya, menangis kesegukan mendengar ucapan dari mantan suaminya. Ia juga bersalah dalam hal ini,karena dia. Sehingga wanita itu hamil,lalu menikah dengan suaminya
Maya, melakukan itu semua. hanya demi memberikan cucu untuk mertua dan membahagiakan mertuanya agar mendapatkan keturunan. Maya, rela mengorbankan rumah tangganya dan meninggalkan suami tercintanya. Maya,tidak tahu selama ini. jika suaminya mati-matian melawan ibunya dan tetap memilih Maya. namun Maya,malah berkhianat , terhadap suaminya. rela melakukan penjebakan terhadap Ferry,ia memberikan obat perangsang dan Hana. sehingga mereka melakukan hubungan terlarang,agar Hana hamil.
Ferry, sangat kecewa dengan Maya. seorang istri begitu sangat dicintainya,mampu melakukan hal selicik ini. awalnya Ferry, tidak tahu. saat merenggang nyawa Hana, barulah Hana menceritakan semuanya. Ferry, juga mendesak kepada ibunya. sehingga semuanya terbongkar, Ferry sangat marah kepada Maya. namun cinta dan sayangnya, lebih besar daripada rasa amarahmya.
__ADS_1