ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU

ISI PONSEL KEDUA SUAMIKU
Kekasih Seperti Simpanan (S2)


__ADS_3

Sampai kapan, hubungan antara kami selalu bersembunyi seperti ini? Rasanya,tidak nyaman sekali. Harus menahan,rasa cemburu setiap sang kekasih dekat dengan seorang perempuan lain.batin Ana, sambil mengaduk-aduk semangkuk baksonya.


Dari tadi,dia tidak bernafsu untuk memakannya. Ana,terus saja memikirkan masalah hubungan mereka. Sedangkan,Alzam nampak biasa dengan hubungan tersembunyi ini. Seakan-akan, dia menganggap hubungan antara mereka hanya biasa saja.


Namun Ana,tidak egois apa yang di inginkannya. Ia terus bersabar dan menikmati jalan alurnya saja.


Apa lagi Alzam, sedang bertanding bola basket. Para perempuan lainnya, bersorak-sorai berteriak memanggil nama Alzam.


Apa lagi Moana, selalu siap siaga memberikan satu botol air mineral. Sedangkan Ana, tidak bisa berbuat apa-apa.


Hingga akhirnya,dia menjauhkan diri dari lapangan basket.


"E'ehm... Bete yah,". Kata Malvin, berjalan mengiringi langkah kaki Ana.


"Hemmm...mau ke perpustakaan,". Kata Ana,yang di angguki Malvin.


"Aku juga,kita barengan saja". Malvin, langsung mengikuti kemana Ana.


Sesampai di perpustakaan,Ana mencari-cari buku. Walaupun, pikirannya selalu tertuju dengan hubungan mereka. Ayolah,Ana... bukankah,kamu sudah memilihnya. Dan siap, apapun terjadi. Apa lagi Alzam,pria terpopuler di sekolahan ini atau sekolahan lainnya.


"Ana,kalau lulus sekolah. Kamu kuliah di mana". Tanya Malvin,hanya basa-basi saja.


Memang beberapa hari ini, Malvin terus mendekati Ana. Walaupun,Ana tahu apa niatnya.


"Aku ingin kuliah di luar negeri, mungkin mengejar mimpi ku". Jawab Ana, tersenyum kecil.


"Mengejar mimpi? Emang mimpi,apa". Tanya Malvin, sangat penasaran.


"Hemmm...kamu jangan bilang-bilang,sama siapapun". Kata Ana, setengah berbisik.


Malvin, langsung mengangguk kepalanya. "Janji,aku tidak akan memberitahu kepada siapapun".


"Hemmm.. ayahku, seorang pensiunan militer dan aku ingin menjadi seorang dokter. Ayahku, mendaftar kuliah ku di luar negeri yang terbaik". Jawab Ana, tersenyum manis.


"Yahhh...kenapa harus luar negeri? Setidaknya,di sini juga ada" Malvin, langsung kecewa dengan jawaban Ana.


Mana mungkin Ana, meninggalkan ayahnya sendirian di kota ini. Ana,hanya membohongi Malvin agar niatnya gagal. Mampus kau,aku kerjain kan.batin Ana, tersenyum smrik


"Kuliah di sini saja,Ana. Siapa tahu,kita bisa satu kuliahan gitu". Kekehnya Malvin. Gak asyik,kalau kuliah di luar negeri. Aku sudah siap, untuk menetapkan hatiku sudah.


"Gak bisalah, soalnya ayahku sudah menyiapkan segalanya" alibi Ana,namun di dalam hatinya mengejek Malvin.


Sedangkan Alzam,sudah selesai acara pertandingan basketnya dan Calingukan mencari sang kekasih. Namun,nihil karena tidak ada di lapangan basket.


"Alzam,minum dulu". Nadila, memberikan botol minuman ke arah Alzam.

__ADS_1


Namum Moana, langsung menepis botol minuman Nadila. "Zam,sudah aku bukakan". Moana,hanya tersenyum mengejek ke arah Nadila.


Sudah pasti Alzam, langsung mengambil botol minuman tersebut di tangan Moana. "Makasih, Moana". Kata Alzam, tersenyum manis.


Nadila, langsung menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan lapangan. Kurang ajar sekali, Moana. Sok-sokan kecantikan segala,awas kamu.batin Nadila.


Kini Alzam dan tim basket, menuju ke arah kantin. Tak lupa juga, Moana dan teman-temannya mengikuti mereka.


Sesampai di kantin, mereka sedang berbincang hangat. "Kita jadikan sore, latihan". Tanya Shan, langsung di angguki lainnya.


"Kami, bakalan datang kok". Sahut Moana, langsung. "Gak papakan".


"Gak papa, selagi kami pada jomblo". Jawab Alzam, terkekeh.


Deggg.....


Ada rasa sakit di hatinya Ana,saat Alzam mengatakan bahwa mereka pada jomblo.


"Jadi,hanya sebuah gosip kalau kamu memiliki kekasih". Tanya Farida, sambil menikmati jus jeruk.


"Hemmm...jangan di dengarin,apa gosip anak-anak lainnya". Jawab Alzam, menikmati semangkuk mie. Dia tidak sadar,jika Ana tengah mendengar perkataannya di belakang.


Ana,tak sanggup mendengar lebih lama lagi. Ia langsung meninggalkan kantin,tanpa sepengetahuan Alzam. Sebuah permainan, itulah yang di katakan Ana.


Mungkin dia,tidak berharap banyak pada Alzam.


[Zam,sore ini kita nonton yuk].


Cukup lama, Alzam baru membalas pesannya.


[Lain waktu saja,aku sedang sibuk latihan. maaf,aku harap kamu mengerti. Mau ikut gak, tapi ada Moana dan temannya]. Alzam


[Tidak, terimakasih. Aku akan pergi, dengan lain saja].


[Baiklah]. Alzam


Ana,hanya menyungging senyumannya saat membaca pesan dari Alzam.


[Ya]


Tidak ada balasan lagi,dari sang kekasih. Membuat Ana, semakin gelisah dengan perasaan Alzam.


Karena para guru tengah rapat,para murid-murid sekolah langsung di pulangkan.


Ana, tergesa-gesa keluar dari kelas. Karen tak sanggup, melihat sang kekasih dan temannya. Tengah asyik, mengobrol dengan teman perempuannya. Bahkan Alzam,tak menghiraukan kepergian Ana.

__ADS_1


"Ehhh... setelah latihan,kita makan-makan tempat favorit". Ucap Ehan, langsung di setujui mereka.


"setuju....!!". Sahut mereka bersamaan, termasuk teman Moana.


"Ya sudah,kita pulang dan langsung pergi ke tempat latihan". Ucap Alzam,dia baru sadar jika Ana sudah tidak ada. Kemana Ana? Apakah, sudah pergi. Apa dia, sedang marah kepadaku. Terserah lah,apa yang dia inginkan.


Kini Alzam dan temannya, menuju parkiran sekolah dan pulang ke rumah masing-masing.


*********


Film yang di tonton Ana,sudah selesai. Tidak ada satu pesan pun,yang masuk dari Alzam.


Tanpa ambil pusing lagi,Ana berniat menuju ke lapangan basket. Dimana Alzam dan teman-temannya,latihan di sana.


Sesampai di sana, ternyata Alzam dan teman-temannya sudah selesai latihan.


Ana,hanya menghembuskan nafas beratnya. Saat melihat kepergian Alzam dan temannya.


Begitu juga Ana, memutuskan untuk pulang saja. Tak ingin mengganggu kesenangan, sang kekasih.


Alzam dan teman-temannya,sudah sampai di sebuah rumah makan. Yang tak jauh, dari tempat tinggalnya.


"Zam,aku lihat-lihat sih. Sepertinya, Nadila suka sama kamu" kata Farida, langsung.


"Benar,tapi gak nyangka sih? Dia punya sifat,ke gitu". Sambung Moana, sebenarnya Nadila musuh bebuyutan dari SMP.


"Ana, sudah punya pacar gak? Kalau gak,aku pengen dekatin ha". Kata Dodi.


"Uhukk.... Uhukkk...Uhukk..". Alzam, langsung terbatuk-batuk saat mendengar ucapan Dodi.


"Lah,kamu kenapa Zam? Atau jangan-jangan,kamu menyukai Ana". Shan, langsung menebak pikiran Alzam.


"Apaan sih? Wajarlah,kalau Alzam suka. Toh,Ana cantik". Sahut Reza, cekikikan.


Moana, langsung mengepalkan tangannya di balim meja. Farida dan temannya, langsung menyenggol lengan Moana. Sial,aku harus gerak cepat.batin Moana,hingga moodnya hancur.


"Setuju gak,kalau aku jadian sama Ana". tanya Alzam, semua temannya langsung melongo mendengar ucapan Alzam yang tiba-tiba.


"kalau aku sih, setuju aja. lagian Ana,tipe perempuan tertutup deh". Ehan, langsung setuju dan ikuti teman lainnya.


"Oke deh...besok aku, bakalan nembak dia di kelas". jawab Alzam, tersenyum merekah dan melirik ke arah Moana.


"Apa...kamu serius Zam". tanya Moana, langsung di angguki Alzam. "kenapa harus dia Zam? aku nyata-nyata sudah lama suka dengan mu. malah, kamu abaikan". gerutu Moana.


"Moana, perasaan tidak bisa sama dan tidak bisa di paksakan". Tegas Alzam,agar Moana berhenti mengharapkan dirinya.

__ADS_1


"betul.....!!". ucap bersamaan teman Alzam. bahkan, mereka tidak sabar dengan adegan besok. dimanakah Alzam, menebak Ana tepat di hadapan mereka.


__ADS_2