
Semenjak kejadian di pasar malam, Nadia masih kepikiran Alzam. Saat mereka berselisih,di sekolahan. Nadila,hanya menunduk tak berani menatap wajah Alzam.
Apa pagi Alzam, bersama perempuan lain. Dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang tidak wajar.
"Alzam,". Moana, langsung menggandeng tangan Alzam.
Namun Alzam, langsung melepaskan gandengan tangan Moana. "Kenapa Zam? Kamu marah sama aku,maaf atas kejadian malam kemarin. Aku tidak bermaksud, seperti itu". Wajahnya,nampak sedih.
"Tidak apa,aku mengerti apa mood perempuan". Alzam,mengelus rambut Moana dan tersenyum.
Moana, tersenyum sumringah karena mendapatkan perlakuan Alzam begitu perhatian. "Baiklah,aku sekarang merasa senang". Ucapnya Moana.
"Aku mau ke kantin dulu,". Pamit Alzam, meninggalkan Moana.
Kebetulan sekali,di kantin ada Nadila sedang memilih minuman. "Hemmm....". Nadila, tengah kebingungan.
"Cari segar, seperti sprite". Kata Alzam,di belakangnya.
Deggg.....
Tiba-tiba saja, Nadila merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia segera mengambil satu botol minuman fanta,dan berbalik badan.
Namun, Nadila malah menabrak dada bidangnya Alzam. "Maaf,aku tidak sengaja". Ia langsung menjauhkan diri dan langsung membayar minumannya.
Astaga,kenapa aku malah tertabrak dada bidang Alzam. Duhhh... bikin malu.Gerutu Nadila,di dalam hatinya. Kedua pipinya, sudah memerah seperti tomat masak.
Alzam, hanya menggelengkan kepala dan tersenyum kecil melihat kepergian Nadila. Ia tahu, jika Nadila tengah malu-malu kepadanya. "Sial,kenapa dia sangat menggemaskan". Gumam Alzam,ia juga membayar minumannya dan meninggalkan kantin.
*********
Jam istirahat sekolah, telah tiba. Alzam, mengepalkan tangannya. Saat melihat Nadila,bersama anggota OSIS.
Apa lagi Frans, selalu menatap Nadila sampai tak berkedip mata. "Bro... bengong aja,yukk...kantin". Ehan, membuyarkan lamunannya Alzam.
"Hemmm....mana yang lainnya". Tanya Alzam, calingukan mencari temannya.
"Mereka sudah duluan,kamu sih. Kelamaan pergi,ke toiletnya". Jawab Ehan, tersenyum dan Alzam hanya mengangguk kepala.
Sesampai di kantin, ternyata Moana melambaikan tangan. Agar Alzam dan Ehan,duduk di tempat mereka yang sudah di sediakan.
"Al,besok kemana nih? Enak kalau liburan, jalan-jalan gitu". Ucap Dodi, dengan senyuman merekahnya.
__ADS_1
"Tidak,aku ingin jalan-jalan berdua dengan Alzam. Kami sudah sepakat, untuk menonton bareng". Sahut Moana, cepat.
Mendengar ucapan Moana,sontak membuat teman-teman Alzam saling melirik satu sama lainnya. Karena Alzam, jarang ada waktu diluar sekolah bersama mereka.
"Apa...? Moana,aku tidak ada janji apapun dengan mu. Bukankah,minggu kemarin sudah. Aku dan lainnya,mau jalan-jalan". Bantah Alzam, semenjak bersama Moana. Waktunya, terkuras habis oleh Moana.
"Alzam,plisss....temanin aku yah, mereka bisa kok. Kalau, jalan-jalan kemana. Asalkan,jangan ganggu kita". Pinta Moana, tersenyum manis.
"Moana,aku tidak bisa. Bukankah, minggu kemarin sudah. Kalau begitu, silahkan ikut kami atau tidak". Tegas Alzam, entahlah kenapa suasana hatinya tidak baik.
Beberapa kali, Moana merengek pada Alzam. Bahkan, teman-temannya . Hanya diam tidak berani, berkata apapun. Hingga akhirnya, Alzam pergi meninggalkan mereka.
"Zam....Alzam...". Moana, memanggil namanya. Yang sudah pergi, begitu juga dengan temannya. Segera mungkin, menyusul Alzam. Sial,aku di tolak Alzam lagi. kapan sih? aku bisa mendapatkan dirimu Zam.
Seorang perempuan, cekikikan tertawa. Seakan-akan, mengejek Moana. " Kasian,di tolak mentah-mentah lagi". Kata karima, tersenyum smrik.
"karima, kau tidak perlu berkata apa-apa. So, sangat jauh berbeda dari ku. Aku Lebih cantik dan kaya, tidak seperti mu. Jadi, kau bukan level yang tangguh untukku. Aku sudah berapa kali, jalan-jalan bersama Alzam. Sedangkan kamu, selalu di tolaknya ". Moana, tersenyum kemenangan karena dia lebih unggul.
"Lihatlah, sekarang giliranku untuk menemui Alzam. Karena Alzam, tidak memandang kekayaan seseorang". Karima, langsung menyenggol bahu Moana dan melewatinya.
************
Besok paginya, Alzam tengah menikmati sarapan pagi bersama keluarganya.
"Hemmm....tenang saja dad,aku akan membantu dady. Bukankah, aku sudah belajar mengurus hotel juga. Nenek,kemana? Tumben,gak ada". Tanya Al,ia baru sadar sang nenek tidak ada.
"Nenek,ke tempat om Seno". Jawab Cahaya,sang adik.
"Oh, tumben gak ikut kamu? Biasanya,gak bisa jauh dari nenek tercinta". Ejek Alzam, membuat sang adik cemberut.
"Zam, makanlah. Jangan terlalu mengejek-ejek adikmu, Elvano letakkan ponselnya". Pinta Zahra, kepada anaknya.
Elvano, langsung menuruti perkataan sang ibu. "Dady, besok aku dan teman sekolah. Mau acara camping di gunung,". Pinta Elvano, langsung di angguki ayahnya. "Makasih,Dad".
"Hati-hati,kalau ada apa-apa. Hubungi Dady mu". Ucap Davis, sambil menyuap makanan ke mulutnya.
"Maaf,Nak Alzam. Ada seorang perempuan, menunggu di ruang tamu". Ucap Seorang Art
Tentu saja semua mata, tertuju ke arah Alzam. "Sial,pasti Moana. Suruh saja, menunggu bi".
"Baiklah,nak Alzam". Jawabnya.
__ADS_1
"Apakah,dia calon mantu momy.hemmm". Tanya Zahra, ia menaruh rasa curiga.
"Bukan,mom. Mending momy,atau daddy saja. Menghadapi perempuan itu, males mah. Maunya banyak, padahal ada janji dengan teman-teman. Tapi, dia mau menghancurkan segalanya". Gerutu Alzam,masih menikmati nasi goreng di hadapannya.
"Oh,jadi perempuan itu. Mengejar-ngejar, dirimu sayang. Serahkan,saja pada Dady mu ini". Zahra, menepuk pundak suaminya.
"Tidak,aku sedang sarapan. Gak mood, menghadapi perempuan seperti itu ". Tolak Davis, langsung.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Alzam selesai makannya. Dengan langkah gontai,dia menuju ruang tamu. Untuk menghampiri Moana, sedari tadi sudah menunggunya.
"Alzam,kok kamu belum siap-siap sih". Gerutu Moana, wajahnya yang Cemberut.
"Aku tadi sarapan, barengan sama keluarga. Kamu jadi ikut, jalan-jalan sama teman-teman aku". Tanya Alzam, sebenarnya dia dan teman-temannya. Tidak jadi jalan-jalan,karena yang lain ada kesibukan masing-masing bersama keluarganya.
Apa, jalan-jalan dengan temannya. Sial,gak asyik dong. "Gak mau,kita aja yah. Kamu tolak kek,aku mau ke suatu tempat. Batalin aja,". Rengeknya Moana,lama-kelamaan Alzam menjadi risih dan tidak enak hati.
"Maaf, Moana. Aku lebih mementingkan temanku,di bandingkan dirimu. Ingatlah,jaga batasanmu". Tegas Alzam, langsung pergi meninggalkan Moana.
Moana, hanya menghentakkan kakinya dan keluar dari rumah orangtuanya Alzam. Hatinya, sangat kesal karena gagal mengajak Alzam lagi.
Daripada pusing memikirkan maslah,Alzam langsung mengambil ponselnya dan berniat mengirim pesan kepada Nadila.
[Lagi dimana,hari liburan begini].
Alzam, langsung mengirim pesan singkat kepada Nadila.
Beberapa menit kemudian, akhirnya pesannya di balas juga.
[Lagi di Mall, tiba-tiba mau jalan-jalan]. Nadila.
Wahhh...apa aku susul saja, dia ke sana. Batin Alzam.
[Mai ikut gak? Aku ada sesuatu tempat,yang bagus dan adem]. Alzam
Alzam,tahu jika Nadila suka berpergian ke tempat wisata.
[Empang kemana,bagus kah. Contohnya, seperti apa]. Nadila
[Danau,setauku tiap hari banyak anak muda-mudi ke sana. Bagus dan suasananya,enak deh]. Alzam.
[Hmmm...boleh deh, nanti sore yah. Sekitar jam duaan]. Nadila.
__ADS_1
"Yeaaahh.... akhirnya,aku bisa berduaan dengan Nadila". Alzam, loncat-loncat kegirangan. Pada akhirnya, Alzam merebahkan tubuhnya di atas ranjang.