
Zahra, sudah nyut-nyutan karena memikirkan masalah pernikahan dirinya. Dua hari lagi,dia sudah menyandang status istri seorang pria arogan seperti Davis.
Zahra, terduduk lemas di sofa sambil menunggu Liza dan bu Winata. Mereka tengah asyik-asyiknya, memilih gaun akad nikah dan resepsi pernikahannya nanti.
Zahra,hanya mendengus dingin. Ternyata Tantenya sangat akrab dengan bu Winata, mereka ketawa-ketiwi bersama. sebenarnya Zahra, ingin acara sederhana saja. menimal akad nikah,tidak ada acara resepsi segala. tapi,bu Winata dan Liza langsung membantah keinginan Zahra.
"Kok aku ngerasain semakin ke sini,kalau Tante dan bu Winata kaya ada sesuatu. Atau jangan-jangan mereka sudah melancarkan aksinya ini, sehingga aku terikat dengan pria arogan itu". Decak Zahra, dengan kesal.
"Zahra,kami sudah menyiapkan baju akad nikah dan resepsi pernikahan nanti. Semuanya sudah beres,ayo jeng. Kita jalan-jalan dulu, mumpung masih ada waktu". Ucap Liza, meraih tangan bu Winata.
Walaupun umur terpaut jauh,tapi Liza dan bu Winata sangat cocok berdua.
Zahra,hanya mengikuti dari belakang sambil melihat sekeliling.
Bu Winata dan Liza, memilih beberapa barang untuk hantaran pernikahannya Zahra. Entah kenapa mereka yang terlihat semangat dan heboh, Zahra hanya geleng-geleng kepala saja. Ia menyerahkan semuanya,kepada yang lebih tua.
"Bu Winata dan Tante,aku pamit dulu. Ada sesuatu yang harus di kerjakan,". Pamit Zahra, kepada mereka.
"Hhmmm..jangan sampai kelelahan Zahra, hati-hati nak". Bu Winata, tersenyum manis.
"Iya, sebentar lagi kamu nikah. Selesai dengan urusan,kamu pulang ya" Ucap Liza, mengijinkan Zahra pergi.
"Iya,cuman sebentar kok. Assalamualaikum". Pamit Zahra, kepada mereka.
"Wa'alaikum salam" jawab bersamaan bu Winata dan Liza. Kini mereka melanjutkan, memilih beberapa baju untuk hantaran pernikahan nanti.
Zahra, langsung menuju ke arah parkiran mobil. "Huuufff, akhirnya lega juga berpisah dengan mereka". Gumam Zahra, ia langsung menancapkan gas mobilnya.
********
Sedangkan di tempat lain. Davis, tengah duduk santai bergabung dengan rekan bisnisnya.
__ADS_1
"Terimakasih, sudah berkenan bergabung dengan kami. Tuan Davis, sebenarnya ada hal penting yang kami sampaikan". Ucap pria tersebut.
"Silahkan,Tuan Jemmy. Senang bertemu dengan Anda". Senyum kecil Davis, kini mereka berjabat tangan.
"Sebenarnya saya ingin mengajak Anda, berbisnis. Bukankah Anda, memiliki tambang emas terbesar di kota ini. Maksud saya, ingin membeli beberapa emas dari Anda dan menjualnya kembali". Ucap Jemmy.
"Baiklah,saya setuju untuk berbisnis dengan Anda. Kenapa tidak,jika kita saling menguntungkan". Davis, menyetujui ajakan Jemmy.
"Terimakasih, Tuan Davis. Kenalkan Tuan,dia adalah sepupuku bernama Rosalina". Jemmy, memperkenalkan sepupunya.
"Baiklah, Tuan Jemmy. Nanti sekertaris ku, akan mengirimkan berkas-berkas yang harus di tanda tangani. Salam kenal, Nona Rosalina".
"Rosalina,senang berkenalan dengan Anda Tuan Davis. Sungguh keberuntungan bagi ku,bisa melihat sesosok seorang Davis". Senyum merekah Rosalina,ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Namun Davis,enggan menerima uluran tangan Rosalina. "Maaf, nona. Tuan Davis, tidak mau bersentuhan dengan wanita lain". Ucap sang sekertaris pribadinya Davis.
Rosalina, sangat malu atas perlakuan Davis. Sial, sepertinya dia sangat susah di taklukkan. Aku tidak boleh kehilangan Davis,dia sangat kaya raya. Tentu saja hidupku akan bergelimang harta, jika menikah dengannya.
"Maafkan aku, Tuan. Karena sudah lancang". Rosalina, langsung terlihat sedih. Baru pertama kalinya,aku di tolak oleh pria. batin Rosalina.
"Tidak apa-apa,aku mengerti". Jawab Davis, dengan dingin. "Aku harap,lain kali tidak lagi ". tegas Davis, dengan nada dingin.
"Baiklah,Tuan. Kami pamit dulu,". Ucap Jemmy,ia nampak tak nyaman kepada Davis.
"Silahkan,Tuan Jemmy". Davis, mengantar Jemmy keluar dari rumahnya.
Rosalina,hanya mengangguk dan tersenyum saat masuk ke dalam mobil dan meninggalkan perkarangan rumah Davis.
Saat di dalam mobil, Rosalina berdecak kesal saat mengingat Davis menolak uluran tangannya. "Sombong sekali, Tuan Davis. Sifatnya begitu dingin, terhadap wanita lain. Pantesan saja,tidak ada wanita lain mendekatinya. Uluran tanganku sendiri,dia tolak. Ada yah,pria menolak uluran tanganku".
"Santai-santai saja, jangan terlalu gegabah dalam mendekati Tuan Davis. Siapa tahu,dia begitu lembut saat kau bisa mengambil hatinya". Jemmy, mencoba menenangkan hati sepupunya.
__ADS_1
Ia ingin memperalat sepupunya, untuk menghancurkan bisnis Davis. "Besok kau harus mendapatkan tanda tangan kontrak kerja, dengan Tuan Davis. Ini adalah keberuntungan mu, untuk mendekati dirinya".
"Baiklah, kita lihat saja. Sampai mana,dia menolak ku". Senyum smrik Rosalina,ia terobsesi ingin mendapatkan Davis.
Sedangkan Davis, nampak kesal kepada calon istrinya. ia mendapatkan informasi, jika Zahra bertemu dengan seorang pria.
"Tuan, saya sudah mendapatkan informasi jika pria bersama calon istri Anda. Dia adalah bernama Gunawan, seorang dokter. sepertinya mereka hanya berteman saja,tanpa ada hubungan khusus,". kata Haris, sekertaris pribadinya.
"baiklah, selidiki saja Jemmy dan Rosalina. sepertinya mereka sedang menyusun rencana licik,kita harus hati-hati". Davis, memerintahkan kepada Haris.
"baik Tuan,kami akan menyelidiki semuanya. sebenarnya saya,juga merasa curiga. kalau Tuan Jemmy, mencoba melakukan hal yang tidak baik. mungkin saja, mereka sudah merencanakan semuanya. Tuan, harus berhati-hati dengan Rosalina. sepertinya dia menyukai Anda, Tuan".
"Kalau masalah itu,aku bisa menangani semuanya. Ada satu hal,kau jangan gegabah dalam masalah ini,". Davis, menepuk pundak Haris dan meninggalkannya.
Haris,hanya mengangguk kepala dan menatap kepergian bosnya. "selamat bos,tinggal dua hari lagi. Anda akan menikah dan memiliki seorang istri,". gumam Haris, ia tersenyum kecil
***********
malam harinya, Davis nampak heran kepada ibunya. karena baru pertama kalinya,sang ibu pulang malam.
"Darimana saja,baru pulang? ingat,ibu tidak muda lagi". tanya Davis, menunggu ibunya pulang.
"ibumu sedang sibuk, menyiapkan pernikahanmu. semuanya sudah beres,tinggal akad nikah dan resepsi pernikahan mu saja lagi. untung ibu kenal dengan Tante Zahra,jadi enak harus ngapain". jawab bu Winata,duduk di sofa sambil membuka paper bag yang di bawanya.
Bahkan sang sopir,bolak balik membawa sisa paper bag belanjaan bu Winata. sedangkan Davis, nampak bingung. apa yang sudah di beli oleh sang ibu,sebanyak ini.
"Tumben-tumbenan ibu, belanja sebanyak ini". tanya Davis,ia mencoba melihat isi paper bag tersebut.
"ini untuk hantaran pernikahanmu, untuk Zahra. makanya ibu,beli macam-macam dan banyak. khusu buat menantu ibu,kamu tidak masalahkan. uang mu mana mungkin habis, membayar semua ini. nanti ibu, bakalan balikin kartumu. Tapi,tidak sekarang karena aku masih membutuhkan uangmu,". senyum smrik bu Winata.
"Hemm... asalkan ibu,tidak terlalu capek-capek. ingat umur bu, jangan sampai sakit-sakitan,". Davis, tersenyum manis saat melihat wajah ibunya tengah berbahagia.
__ADS_1
"Jangan kau mengkhawatirkan ibumu,apa lagi kalau kamu memberikan ibu cucu. Tentu kepada ibu, sangat sehat dan panjang umur". Ucap bu Winata, mampu membuat Davis bungkam tak bisa berkutik apapun lagi. karena permintaan sang ibu,memang dia bisa mengabulkannya tapi Zahra yang jadi masalahnya.