
Sepulang dari rumah Zahra, betapa syoknya Wahyu,bu Yuni dan Arini.
Melihat baju-baju mereka, berserakan di teras rumah bahkan di atas tanah.
"Bu, ini baju-baju kita. Apa jangan-jangan preman itu,datang lagi. Astaga, kita benar-benar di usir bu". Decak Wahyu, melihat pintu rumah Zahra sudah di gembok.
"kurang ajar sekali Zahra, bisa-bisanya dia memperlakukan kita seperti ini Wahyu". Bentak bu Yuni,kini matanya merah padam.
"Awas saja,kalau bertemu bakalan aku cakar-cakar wajah Zahra. Yang sok polos,tapi munafik". Timpal Arini,ia juga geram kepada Zahra.
"Aahhh...lebih baik,kita cari kontrakan dulu. Hari juga mulai gelap. Besok aku dan Maya,akan bertemu". Ucap Wahyu,namun Seseorang datang menghampiri mereka.
"Ya ampun,jeng Yuni". Ucap seorang wanita paruh baya,namun gayanya selangit sepertinya teman sosialita bu Yuni.
"Jeng Ana, ngapain ke sini". Bu Yuni, kaget dengan kedatangan teman sosialitanya.
"Aaahh...aku ke sini,mau ajak jeng Yuni. Biasa jalan-jalan Mall,beli barang-barang mahal. Ada tas keluaran terbaru loh,jeng. Loh,kenapa ini? Kenapa banyak baju-baju di tanah,". Jeng Ana, bergidik geli.
"Aahh...ini tadi,gak tau siapa yang buang baju-baju. Mungkin saja pemulung,gitu jeng". Alibinya bu Yuni. Mana mau dia mengaku, bisa-bisa harga dirinya di injak-injak oleh teman sosialita nya.
"Owalahhh.... Ayuk,jeng... kita cuss... pergi". Kini jeng Ana,menarik lengan bu Yuni.
Wahyu dan Arini, terdiam melihat kepergian ibunya. "Ayo...kita cari kontrakan dulu,kalau ibu tenang saja nanti".
Dengan sangat terpaksa Wahyu dan Arini, memungut pakaian mereka yang berserakan dimana-mana.
__ADS_1
beberapa jam kemudian,hari sudah malam. akhirnya mereka menemukan kontrakkan yang pas, memiliki kamar dua, ruang tamu, kamar mandi dan dapur. walaupun harganya lumayan besar karena semuanya lengkap.Wahyu langsung tersandar di kursi. seakan-akan kepalanya hampir pecah,kenapa nasipnya seperti ini.
"Mas, belilah kasur yang empuk. kasian anak kita,". rengeknya Arini, menambah beban pikirannya sang suami.
"pakailah yang ada dulu, Arini. kepalaku sudah hampir pecah, memikirkan bagaimana kedepannya sekarang. uangku sudah menepis, gajihan juga masih lama. kita berhemat dulu, pahami keadaan ku". Gerutu Wahyu, dengan suaminya.
Arini,hanya Cemberut mendengar ucapan sang suami. ia malah meninggalkan suaminya dan masuk ke dalam kamar, kesal sekali dengan jawaban suaminya.
"Kamu apa-apaan sih, Wahyu? gara-gara kamu,ibu jadi malu dengan teman-teman sosialita. apa lagi ini,kok cari kontrakan kecil sekali. besaran yang dulu,gak becus banget,". bentak bu Yuni,kepada anaknya yang hampir terlelap dalam tidurnya.
"Bu,kita gak punya uang banyak. untuk apa juga beli tas, harganya melebihi gajihku. ngapain juga,ibu berteman dengan mereka. mereka itu,besa jauh bu. mereka mempunyai harta kekayaan yang banyak, sedangkan kita apa? terpaksa aku, memilih kontrakan yang lebih kecil dari pada yang dulu. karena aku,tidak memiliki uang banyak. bersyukur lah bu, selagi kita memiliki tempat berteduh". ucap Wahyu,ia sudah kesal dengan ibunya yang selalu banyak menuntut.
"Wahyu, tidak pantas kamu berbicara seperti itu kepada ibumu. aku ini ibumu,ibu kandung mu Wahyu. secepatnya kamu, menikah dengan Maya. biar hidup kita, enak gak seperti ini. selalu miskin,kau juga tidak becus. menikahi Zahra,yang kere itu. membuang-buang waktu saja,kenapa gak Maya atau lainnya". ucap bu Yuni,yang di pikirannya hanyalah uang.
"cukup bu, jangan membuat aku pusing lagi. lebih baik,ibu masuk ke kamar. tinggalkan aku, sendiri ". pinta Wahyu,ia mengusap rambutnya ke belakang.
"Kasian sekali kamu,mas. semoga saja,ibu cepat mati. biar rumah tangga kita,damai dan tentram tanpa di usik oleh ibumu. aku harus melakukan Sesuatu,agar ibumu secepatnya tersingkir dari kehidupan kita". seringai tajam Arini.
********
"Sayang,kenapa kita bertemu di kafe. Biasanya juga, ketemu di hotel. Biar enak bermesraan dengan sesuka hati". Ucap Wahyu,ia tersenyum manis.
Namun tatapan Maya, sulit di artikan. "Sayang,apa kamu marah denganku? Terlihat jelas wajahmu, dari tadi murung".
"Mas Wahyu, maafkan aku". Lirih Maya,yang tak berani menatap ke arah Wahyu.
__ADS_1
"Sayang,kamu kenapa minta maaf.hemm....apa ada sesuatu ". Tanya Wahyu,ia menggeser posisi duduknya.
"Maafkan aku,mas. Aku tidak bisa menikah dengan mu, karena aku gak mau menyakiti hati istri kamu. Aku sudah sangat bersalah,aku tahu istrimu sangat sakit hati. Maaf,kita akhiri saja hubungan ini". Ucap Maya, dengan suara pelan.
"Apaaa....??? Kamu bercandaan kan, sayang". Orang sekitar menatap ke arah mereka,karena Wahyu bersuara nyaring.
"Aku serius mas,aku gak mau menghancurkan rumah tangga mu. Aku tidak mau,menjadi pelakor". Maya,sudah berani meninggi Suaranya. "Maaf,aku ambil kunci mobil milikku". kini kunci mobil,sudah di genggaman tangan Maya.
"Tidak Maya,aku tidak mau berpisah dengan mu. Mas, benar-benar sayang kepadamu. Istrinya mas,dia mau di madu. Tenanglah Maya, secepatnya mas akan menceraikan dia". Wahyu,mencoba menenangkan hati Maya. Sial,bisa gawat kalau tidak jadi menikah dengan Maya. Gagal aku,jadi orang kaya raya. Bakalan tersenyum merekah saat Zahra, melihat kegagalan ku ini. "kenapa di ambil Maya,aahhh... sudahlah".
"Maafkan aku,mas. Aku tidak mau, terimakasih atas semuanya. Aku pamit". Ujar Maya, berdiri tegak dan melangkah pergi keluar kafe.
Wahyu, terduduk di kursi sambil mengusap wajahnya ke belakang.
Ia berdiri dan langsung menyusul Maya,ia calingukan mencari-cari sesosok Maya.
"Maya, kenapa kamu tiba-tiba berubah seperti ini.katakanlah Maya, pasti ada sesuatu bukan". Wahyu, mencekal lengan Maya dengan erat.
"Karena kamu memiliki istri dan anak,yang baru lahir. Aku sadar mas,tidak seharusnya aku melakukan se keji seperti itu. Mulai sekarang lupakan aku,maaf. Cintailah dan sayangilah istri mu,mas. Kasian dia,jangan lakukan yang membuat dirinya sakit hati. Hati wanita mana,yang tidak sakit mas. melihat suaminya menikah lagi,dalam keadaan baru melahirkan. Betapa kejamnya aku,mas. Lepaskan mas,aku bisa berteriak". Ancam Maya,kini Wahyu melepaskan cekalan nya.
"May,beri waktu untuk mas. Untuk menceraikan istriku,karena dia baru melahirkan. Aku tidak tega, menceraikan dia sekarang". Wahyu, memohon pengertian dari Maya.
"Makanya dari itu,mas. Aku tidak mampu, melakukan hal sekejam ini.aku juga seorang wanita, jadi paham apa yang di rasakan wanita". Kini Maya,masuk ke dalam mobil.
Maya,pernah di posisi ini juga. Melihat sang suami, menikah dengan wanita lain. Karena jebakannya sendiri,bukan hanya hatinya yang hancur tapi kehidupannya juga.
__ADS_1
"May....Maya....jangan pergiiiiii....aku belum selesai berbicara Maya...!!! Berhenti May, tolong.. berhenti Maya, berikan waktu kepadaku Mayaaaaa..... Aaaakkhhh....sial,sial... gagal semuanya". Decak Wahyu, penuh dengan kekesalan. ia menendang-nendang batu di hadapannya, sampai menampar ke arah tiang. sekarang dia benar-benar frustasi, mobil sudah tidak ada tinggallah motor bututnya.