
"Terimakasih,kau sudah memaafkan diriku". Ucap Davis,dia membiarkan Zahra mengerikan rambutnya menggunakan handuk.
Karena lampu masih padam,hanya beberapa lilin saja menyinari ruang kamar mereka. "Kau sangat kaya raya,tapi rumahmu gelap gulita". Gerutu Zahra,kakinya masih sakit karena tersandung pinggir meja. Untung saja, Zahra bisa menyeimbangi tubuhnya. Bisa fatal,jika dirinya tersungkur di lantai. Dalam kondisi hamil,muda.
"Enak seperti ini, gelap-gelapan. Apa lagi,kita sudah lama tidak melakukan hubungan itu". Davis, menarik lengan Zahra dan jatuh ke pangkuannya.
Zahra, teringat apa perkataan dokter. Jika mereka melakukan hubungan, suami-istri. Terutama sang suami,tidak boleh keluar di dalam dan harus berhati-hati jangan terlalu lama. Takutnya,perut Zahra menjadi keram. "Davis,jangan di dalam yah. Main juga,jangan terlalu lama".
"Kenapa Zahra? Bukankah,kita menghabiskan malam panjang. Apa lagi,kita berpisah cukup lama". Davis,mulai menelusuri lekuk tubuh istrinya.
"Ya sudah,pakai pengaman saja". Pinta Zahra, dia tahu,jika sang suami tidak menyetujui menggunakan pengaman.
Davis, langsung menghentikan aksinya dan menatap tajam ke arah istrinya. "Aku tahu,karena kamu takut. Aku bermain-main dengan wanita lain,di luara semalam. Atau kamu, jijik kepadaku ha? Zahra,cukup jangan membahas tentang itu lagi".
"Davis,bukan maksudku seperti itu. Sebenarnya, ada yang aku sembunyikan. Aku tidak jijik dengan mu, percayalah". Ucap Zahra, sambil mengelus-elus wajah Davis. Ada bulu-bulu halus, membuat Zahra bergidik geli.
"Apa yang kau sembunyikan, Zahra. Jangan main-main denganku,hemmm". Seringai tajam Davis,yang tak main-main.
"Sebenarnya,aku ingin merahasiakan saja. Agar aku,bisa balas dendam kepada suamiku. Terlihat sekali, brewokan mu panjang dan tak terurus. apa jangan-jangan,kau kurang tidur hemmm... Oh,kau memikirkan ku yah". Zahra, menggoda suaminya.
"Zahra, beritahu aku dan jangan ada rahasia di antara kita. Ayolah, jangan buatku penasaran". Davis, sangat penasaran apa yang di sembunyikan istrinya.
"Apa kau tidak ada rahasia lagi,hemmm... selain yang kemarin,atau jangan-jangan kau menikah dengan wanita secara diam-diam. Hayo,ngaku gak". Tanya Zahra, mencubit lengan Suaminya.
"Aauuukkk... Sssshhhttt, cubitan mu itu yah. Tidak ada,hanya itu saja". Jawab Davis,ia memusut lengannya yang bekas cubitan Zahra.
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku ada sesuatu untukmu, sangat spesial". Zahra, bangkit dari pangkuan suaminya dan mengecup bibir suaminya sekilas.
Zahra,yang terus melangkah menuju ruang ganti. Sepertinya, suasana hatinya sangat bahagia. Davis,hanya melongo melihat kepergian Zahra dan melambaikan tangannya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Zahra muncul di balik pintu ruang ganti.
"Davis". Desis Zahra, tatapan matanya mulai nakal. Ia mengigit bibir bawahnya dan bergaya seksoy.
Glekkk....
Davis,yang memandang ke arah Zahra. Ia sampai tak mengedipkan,bola matanya. Berlahan-lahan, Zahra mendekati suaminya.
Bagaimana tidak pangling,dari wanita lainnya. Davis, beruntung memiliki istri seperti Zahra. Di balik gamis yang panjang, sampai ke lantai biasanya atau menggunakan rok panjang dan kebar. Kepalanya,yang selalu tertutup dengan hijab.
Di balik itu semua,ada body bak gitar spanyol yang tersembunyi. Dua bua melon,yang terlihat badat. Zahra,tak main-main. Dia menggunakan baju dinasnya,yang memperlihatkan lekukan tubuh indahnya.
"Kau sangat agresif,aku menyukainya". Bisik Davis, tangannya mulai nakal. Begitu juga Zahra,dia mencium leher Davis hingga ke perut. Apa lagi ada,di tumbuhi bulu-bulu halus di dada sampai ke bawah.
Tumben,aku gak mual-mual lagi. Di saat aku dan Davis, beberapa hari gak ketemu. Batin Zahra,nampak heran. Dengan senyuman sumringah. Zahra, melorotkan celana suaminya dan kini polos.
"Ouuhh....kau kenapa Nakal sekali,sial. Jangan di gigit Zahra". Davis, membiarkan istrinya bermain dengan miliknya.
Cukup lama Zahra,bermain dan dia memasangkan pengaman kepada si Jono. "Oouhhh... sial,kenapa harus pakai pengaman segala". Gerutu Davis, ingin sekali dia melepaskan pengaman kepada si Jono.
"Jangan lepas,kalau kau lepas. Aku tidak akan memberitahu,apa rahasianya". Ancam Zahra, membuat Davis tak berkutik lagi.
"Sekarang kau pintar,bisa mengancam ku". Decak Davis,ia langsung menampar bokong istrinya.
"Aaaahhh...shhhhhhh...". Des-ah Zahra, saat sang suami menye-ntuh tempat pribadinya.
Mereka menikmati penyatuan,yang sempat beberapa hari tidak melakukannya. Mereka menumpahkan rasa rindu, masing-masing.
Suara desa-han, saling bersahutan satu sama lain. Terkadang, Zahra mengingatkan suaminya agar tidak terlalu keras dan pelan-pelan saja.
__ADS_1
Bukan Davis, namanya? Dia tak menghiraukan, rengekan sang istri. Apa lagi, mendengar suara desa-han yang keluar dari mulut Zahra. Membuat gai-rah,semakin memuncak. Hingga akhirnya, mereka sampai di puncak pelep-asan bersamaan.
Zahra,juga tahu? Bahwa sang suami, tidak akan cukup sekali atau dua kali. apa lagi mereka, sudah beberapa hari tidak bertemu
waktunya Davis,menghajar istrinya. tak memperdulikan lagi, besok bisa berjalan atau tidak.
[Baru dua kali, mereka melakukan bermain. Zahra, langsung menyerah karena perutnya terasa sakit. "Stop Davis,aku menyerah". Ucap Zahra, nafasnya ngos-ngosan tubuhnya terasa lemah.
"Oh,tidak Zahra. Malam kita masih panjang,tidak mungkin hanya dua kali. Ayolah,". Davis, ingin memulai aksinya.
"Jangan David,perutku sudan sakit. Mungkin keram, hentikan". Teriak Zahra,saat benda tumpul hampir masuk sudah.
"Tidak,kau harus di beri pelajaran". Davis, menyingkirkan tangan istrinya.
"Tidak,aku hamil Davis. Kau terlalu keras,apa ingin membunuh anak kita". Ucap Zahra, dengan lantang.
Deggg....
Awalnya Davis, menggoyang pinggulnya dan terhenti seketika. Saat mendengar ucapan dari sang istri, jika dirinya hamil. Davis, menatap lekat manik-manik Zahra. "Jangan berbohong kepadaku,jangan coba-coba Kabur dari permainan ku Zahra". Davis, mencekram lengan Zahra.
"Auuukk....ssshhh...aku serius Davis, lepaskan cengkraman mu. kau menyakiti ku,aku benar-benar hamil. rahasia yang aku sembunyikan, itulah sebenarnya. aku hamil,anak kita ada di dalam sini". Zahra, menuntun tangan Davis.
sontak tangan Davis, langsung gemeteran."apa buktinya,". senyum smrik Davis, takutnya Zahra berbohong kepadanya.
"aku akan mengambil buktinya, tunggu lah". Zahra, beranjak turun dari ranjang. walaupun, keadaan masih polos. Davis,tetap menatap tajam ke arah istrinya. ia tak akan membiarkan Zahra,kabur.
Zahra, yang mencari-cari hasil USG dan buku berwarna ping. ia membuka setiap laci-laci, namun tak kunjung dapat. "Sial,dimana aku menaruhnya. bukankah,di laci sini". gerutu Zahra,ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Davis,hanya terkekeh melihat Zahra yang sibuk mencari-cari sesuatu. "Bagaimana, Zahra? mana buktinya,jangan berbohong dan banyak drama. nikmatilah, malam kita".
__ADS_1
"Apa jangan-jangan,di kamar ibu. astaga, bagaimana ini. Davis,aku akan mencari di kamar ibu. mungkin buktinya,ada di sana". pinta Zahra, walaupun dia tahu dengan seringai tajam suaminya. Davis, langsung memberikan kode agar Zahra naik ke atas ranjang.
Berpikir Zahra,jangan sampai kau membahayakan anak kalian. seketika Zahra, melihat kemeja Davis berada di dekatnya. Baiklah,aku akan memakai kemeja ini dan kabur ke arah pintu. "Davis,aku cari lagi. berilah,aku waktu". pinta Zahra,agar rencananya berhasil atau tidak.