
"Kenapa pagi-pagi sudah ribut, emangnya Davis ribut kenapa? Aneh sekali, bahkan suaranya sampai ke atas sini ke dengaran". Gumam Zahra,ia menuruni anak tangga.
Plaaakkkk..
Satu tamparan mendarat di pipi, Keysa. Ia tersungkur di lantai, dengan keadaan menangis kesegukan. "Ceroboh, berani sekali kau membongkar rahasia data itu kepada dia". Tunjuk Davis, sorotan mata yang tajam.
keysa, menyentuh pipinya yang terasa pedih dan ada darah di tangannya. "Tuan, maafkan aku. aku salah,sudah lalai".
Zahra, menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia mengintip saja,tak berani mendekati suaminya. "Sungguh mengeringkan, pasti sangat sakit tamparan Davis. apa lagi,telapak tangannya besar dan jari-jari tangannya".
"Ampuuuun, Tuan Davis. Aku sungguh, tidak tahu? Sumpah,dia yang sudah mencuri data itu sendiri" Keysa, bersimpuh di kaki Davis.
"Bohong,aku dan Rebecca sudah melihat mereka secara langsung. Aku yakin, mereka sudah bekerjasama Davis" sahut Livia, salah satu tangan kanannya. "Dasar,tidak tahu untung seharusnya,kau berhutang budi. Ini malah menghianati,Tuan mu. Tanpa, Tuan Davis kau sudah mati di tangan orang".
"Benar Davis, kau beri dia hukuman setimpal. Dia sudah berani, bermain dengan mu". Rebecca,juga angkat bicara. Rasakan kau, Keysa. makanya, sok-sokan ngatain orang. akhirnya,kau kena batunya sendiri. siap-siap saja,nyawamu melayang di tangan Davis.
Data,data apa? Segitunya, penting kah. Kasian keysa,di sudut bibirnya berdarah karena tamparan Davis. iiisss.... Davis, tidak segan-segan menghukum seorang wanita.batin Zahra,masih mengintip mereka. Untuk apa juga,aku memikirkan masalah mereka. Toh, bukan urusanku juga.
Zahra, bingung harus bagaimana? Ingin lewat, tapi takut di marahi suaminya. Apa lagi, Zahra ada janji dengan temannya. "Lewat aja kali yah,gak papa mungkin". Gumam Zahra,ia mulai melangkah kakinya.
Sedangkan Davis, melihat kedatangan Zahra. Ia langsung memberikan kode,agar berhenti membahas tentang data.
Livia, tercengang melihat kedatangan Zahra. Walaupun,dia hanya melewati mereka. Oh, jadi ini istrinya Tuan Davis.batin Livia,ia menatap sinis ke arah Zahra.
Zahra,hanya melongos melewati mereka tanpa berbicara apapun.
Ia juga tak berani calingukan melihat mereka, terutama suaminya. Zahra,sudah menganggap tidak terjadi keributan apapun.
Begitu juga, Davis dan lainnya. Mereka diam, tidak ada berkata apapun. Davis,hanya menatap kepergian sang istri.
__ADS_1
"Maafkan aku,Tuan". Keysa, memohon iba kepada Davis. Secepatnya,aku harus mendapatkan data itu. agar nyawaku selamat,dari tangan Davis.
"Aku maafkan, asalkan kau ambil data di tangannya. Aku tidak peduli, bagaimana caranya. Asalkan data itu,sudah ada di tangan ku. Satu minggu,aku memberikan mu waktu". Tegas Davis,ia menendang tubuh keysa agar menjauh dari kakinya.
"Tapi....mana mungkin,dalam satu minggu aku bisa mendapatkan data itu". Keysa, menggeleng kepalanya.
"Aku tidak peduli,jika tidak bisa? Maka, siap-siap hukuman yang aku beri". Ucap Davis, dengan tegas.
Setelah mengucapkan perkataan itu,kepada Keysa. Ia langsung meninggalkan mereka, begitu saja.
"Makanya, jadi orang gak usah ceroboh. Atau jangan-jangan,kau dan dia memiliki hubungan spesial. Kenapa kau dulu,tidak di beli oleh Tuan Agam saja". Decak Livia,ia mendorong kepala Keysa.
"Jadi wanita sok jadi pahlawan, nyatanya jadi umpan". Rebecca, mengejek keysa dan menendang kakinya.
Keysa,hanya diam dalam tangisannya.ia mengepalkan kedua tangannya,hari ini dia benar-benar sial. Entah kenapa,dia sampai kecolongan lagi.
"kau lihat, Livia. bagaimana istri seorang Davis, seperti kono sekali pakaiannya". kata Rebecca,kepada Livia.
"Kono, sepertinya tidak. memang pakaian yang melekat pada tubuhnya, mungkin dia merasa nyaman dan tertutup. siapa tahu, goyangannua heboh. hingga Davis, tergila-gila kepada wanita itu". jawab Livia, asal-asalan.
Rebecca,hanya berdecak kesal. saat mendengar jawaban dari Livia, seakan-akan membela Zahra.
*******
Zahra, sedang ada janji dengan Mita di rumahnya. Sebenarnya,dia sangat takut jika Farid mengikuti dirinya. Di sepanjang jalan,dia terus berhati-hati.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga". Gumam Zahra,ia memencet bel rumah Mita.
Ceklekk.....
__ADS_1
Pintu rumah terbuka lebar, terlihat Mita tersenyum sumringah. Ia juga mempersilahkan Zahra, masuk dan duduk di sofa.
"Oh,yah... kemarin sih,aku kebetulan lewat di rumah mu. Ada seorang wanita,tengah mondar-mandir di teras rumah mu. Aku kira kamu,ehh... ternyata,bukan. Kamu tahu, Zahra". Tanya Mita, sambil menuangkan air minum untuk Zahra.
Apa jangan-jangan Arini? Yang sedang menunggu kedatangan ku,heran deh.batin Zahra. "Kau lupa,siapa wanita itu? Masih ingatkan, wanita itu adalah istri pertama mantan suami ku Mita".
Sontak membuat Mita, terkejut dan dia mengingat-ingat kembali siapa wanita tersebut. "Pantesan saja,aku kaya pernah liat. Tapi dimana gitu, ternyata Arini. Kenapa dia tiba-tiba, mencari mu". Mita,di buat menjadi keheranan.
"Dia bekerja di warung makan,kalau gak salah sih. Aku rada-rada lupa gitu,dia mau nempatin rumahku itu. Katanya sih,sayang di biarkan kosong. Lebih baik di kosongkan, daripada benalu keenakan". Gerutu Zahra.
"Hemmmm.... pantesan,dia cariin kamu. Ternyata ada maunya, tidak tahu malu". Kekehnya Mita."ngomong-ngomong soal,mantan suami? Apa kamu, masih konek. Hemmm".
"Gak ada,cuman waktu itu. Dia tiba-tiba datang ke supermarket ku, kebetulan aku ada. Bahkan,dia nekat mencekram lengan aku. Untung saja, Davis datang dan menampar wajahnya". Jawan Zahra, dengan santainya.
"Wahhhh... kebetulan sang pangeran yang menolong nih,tapi hubungan antara kau dan Davis baik-baik saja kan. Apakah, kau sudah memberikan itu". Delik mata Mita, sontak Zahra memukul lengan temannya.
"Apaan sih,kalau masalah itu. Wajarlah,kan kami suami istri ". Kekehnya Zahra, tersipu malu-malu.
"Mana yah, Mawar? Lama banget, ga nongol- nongol". Kata Mita, mereka tengah menunggu Mawar.
"Mita, sebenarnya aku mau cerita soal Mawar. Ini penting, tapi kamu jangan beritahu Mawar yah" pinta Zahra, sedikit berbisik.
Mita, langsung penasaran apa yang di maksud oleh Zahra. "Hemmm.. beritahu aku,janji tidak akan memberitahu kepadanya".
"Begini, kamu tahu kan? Kalau Mawar,suka dengan Farid" tanya Zahra,namun dia langsung sadar. Jika Davis,juga mencari Farid. Astagfirullah,kenapa aku tidak kepikiran soal ini. Jangan-jangan Farid, bersembunyi di rumah Mawar. Aku harus memberitahu,kepada Davis.
"Kenapa bengong, Zahra? Beritahu aku,apa yang ingin kau beritahu kan". Mita, menyenggol lengan Zahra.
"Aaahhh... iya,soal itu. Hmmmm... Mawar, menyukai Farid". Maafkan aku, Mita. Aku berbohong, untung gak kecoplosan. Semoga saja,Mawar tidak terjadi apa-apa. kenapa aku, tiba-tiba gelisah seperti ini. Ya ampun,kenapa juga aku gak kepikiran sih? tapi,kalau Farid ada di tempat Mawar. kenapa Mawar, tidak menceritakan kepadaku. pasti ada sesuatu, semoga saja dia ke sini.
__ADS_1