
Malam harinya,entah kenapa tiba-tiba dia ingin makan di restoran ini.
Saat masuk ke dalam,ada seseorang memanggil namanya.
"Zahra.....!!!!!" Seseorang melambaikan tangannya.
Mendengar namanya di panggil, tentu saja Zahra langsung mendekati meja tersebut.
"Dokter Gunawan,apa kabar? Tumben-tumbenan kita bertemu di sini". Senyum manis Zahra.
"Alhamdulillah,baik.Biasa makan-makan bersama keluarga dan sepupuku Erwin". Jawab Gunawan. Ia merangkul pundak Erwin,namun sang empunya hanya tersenyum kecil.
Zahra,barus sadar ternyata Erwin yang baru dikenalnya ternyata sepupu dokter Gunawan.
Zahra,hanya tersenyum kecil dan mengangguk kepala saja.
"Kenalkan Zahra,dia ibuku dan ayahku". Gunawan, memperkenalkan kedua orangtuanya. Kedua orangtuanya Gunawan, mengangguk dan tersenyum.
"Salam kenal,Tante dan Om". Zahra, menangkup kedua tangannya ke arah depan.
"Salam kenal juga,nak". Jawab bersamaan kedua orangtuanya Gunawan. Terlihat begitu hangat, menyambut Zahra.
"Mau makan juga,kami baru saja datang. Duduklah,barengan saja kita tambah rame. Kenalkan nama Tante Martha dan suami Tante bernama Darren Gunawan. Ayo,duduk jangan malu-malu anggap saja keluarga sendiri". Bu Martha, langsung mempersilahkan duduk di sampingnya.
"Makasih,banyak Tante. jadi gak enak,malah barengan begini".
Zahra, langsung canggung karena di sampingnya adalah Erwin. Sedangkan Erwin, sedari tadi hanya diam saja.
"Alahhhh...gak papa,malah rame. kalau barengan begini,yakan". kekehnya Bu Martha.
"Malam Erwin,". Ucap Zahra,duduk di sampingnya. Ternyata mereka Sepupuan,gak nyangka saja.
"Malam juga, Zahra ". Jawab Erwin,ia menoleh sekilas ke arah Zahra. Kenapa Gunawan,juga mengenal Zahra.
"Dia Erwin,orangnya sering pendiam. Terkadang dinginnya,minta ampun. Jarang dia mau,makan bersama seperti ini Zahra. Kecuali Om nya memaksa dirinya, alasannya sibuk karena tugas. Dia seorang polisi,". Ucap bu Martha, sebenarnya Zahra tau apa pekerjaan Erwin.
__ADS_1
"Sama saja, denganku. Sibuk juga,bu". Sahut Gunawan, seakan-akan membela Erwin. "Bagaimana Zahra,kamu sudah bercerai dengan suamimu".
Mata Zahra, melotot ke arah Gunawan. Bisa-bisanya membicarakan tentang hal ini, sedangkan di depannya adalah orangtuanya dokter Gunawan. Aduuuhh....kenapa juga dokter Gunawan, tiba-tiba membicarakan hal ini. "Hemmm..sudah dokter,". Jawab Zahra, malu-malu.
Ternyata Gunawan,jauh juga mengenal Zahra. sampai dia tahu, bagaimana rumah tangga nya,batin Erwin.
"Loh, ngapain panggil dokter segala. Panggil nama saja Zahra,ini sudah di luar rumah sakit". Sahut bu Martha. Kasian sekali, padahal cantik terlihat wanita baik-baik. Bisa-bisanya rumah tangga, mereka sudah berkahir terlihat jelas dia masih muda. Ahhh... mungkin masalah serius jadi harus berpisah.
"Alhamdulillah,kalau begitu. Gak baik juga, mempertahankan rumah tangga mu. Kasian kamu Zahra, sudah luka hati di tambah batin. Hanya sekali itukan,dia gak mukul kamu lagi". Tanya Gunawan, membuat keluarganya terkejut.
"Astagfirullah,apa benar seperti itu. Kamu jangan mengada-ada Gunawan,". Tegur sang ibu,kepada anaknya.
"Gak bohong kok,mah. Meta,yang anter dia ke rumah sakit. Terus melakukan pemeriksaan visum,memar di pipi Zahra". Jawab Gunawan.
"Apa yang di katakan Gunawan,memang benar Tante. Sebenarnya mau mukul lagi,tapi dia takut karena aku ancam". Jawab Zahra, sebenarnya tidak enak hati membongkar rahasia ini kepada orang lain.
" Ya sudah, intinya nak Zahra. Baik-baik saja dan berpisah dengan suaminya. Tidak usah di bahas lagi,kasian nak Zahra. Pasti sedih mengingat masa-masa sulit itu,kamu ini Gunawan. Buka aib-aib orang saja, gak baik. Kasian Zahra,merasa sedih ". Sahut pak Darren. Ia tak enak hati,jika anaknya mengungkit masalah Zahra.
"Kamu yang sabar nak, semoga kedepannya mendapatkan suami yang baik". Bu Martha, mengelus lembut pundak Zahra.
"Baguslah,nak. sudah seharusnya,kamu bangkit lagi. jangan terlalu lama, terpuruk dalam kesedihan". bu Martha, tersenyum kecil.
Kenapa Erwin,hanya diam. Apakah dia tidak terlalu nyaman,ada aku di sini. Huuu...jadi serba salah akunya,batin Zahra. "Hemmm..iya Tante".
Zahra,memesan menu makanannya. Berselang menit kemudian, akhirnya pesanan mereka datang juga.
Zahra,hanya diam dan mendengarkan pembicaraan mereka. Emang benar Erwin,menjawab perkataan Pak Darren begitu singkat dan padat.
hampir setengah jam berlalu. Akhirnya Zahra, sudah di parkiran mobil. Setelah berpamitan dengan keluarga Gunawan.
Zahra, melihat sesosok pria yang dia kenal. Ia langsung menghampiri dan meminta maaf.
"Erwin,apa ada masalah sesuatu. Kenapa sifatmu, dingin kepada keluarga pak Darren". Tanya Zahra,ia sangat penasaran sekali.
"Bukan urusanmu,". Jawab Erwin,ia langsung masuk ke dalam mobil dan menancapkan gas mobilnya.
__ADS_1
Zahra,hanya menghembuskan nafas beratnya dan tak lagi bertanya. Ia hanya menatap kepergian Erwin.
*******
"Bagaimana mah, cocok gak? Kalau Erwin dengan Zahra,duda ketemu janda". Gunawan, langsung membuka suara saat mereka tengah berkumpul di ruang tamu.
"Ahhh... kirain kamu,yang suka Zahra. Mamah, liat tatapan mu itu. Sulit di artikan". Kekehnya Bu Martha.
"Emang gak masalah, jika aku menikah dengan status janda". Tanya Gunawan,lagi.
"Gak masalah lah,mamah dan papah. Tidak ikut campur dalam urusanmu,mau menikah dengan janda kek atau apa kek. Asalkan Sorang wanita,gak serong-serongan, geli mamah". Jawab bu Martha, sebenarnya seorang ibu sangat takut jika anaknya memiliki kelainan. Apa lagi anaknya,tak pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita.
"Mah,aku ini laki-laki normal. Jangan di ragukan lagi,tapi aku menyukai seseorang mah". Kedip mata Gunawan. "Eiitss....tapi,masih pedekate dulu. Nanti aku kasih kabar, siapa perempuan itu".
"Gak usah lama-lama, cepat nikah. Mamah,gak sabar menimang cucu". Pinta sang ibu.
"Oke,bos". Jawab tegas Gunawan.
Namun di balik pintu, Erwin tengah menguping pembicaraan mereka. Entah ada rasa lega,jika sepupunya tidak ada perasaan apapun terhadap Zahra.
Dengan langkah santainya, Erwin melongos melewati mereka.
"Erwin,gimana Zahra". bu Martha, langsung ke intinya.
Mendengar perkataan bu Martha,ia menghentikan langkahnya.
"Baik,dia keponakan Ridwan" jawab Erwin
"Ahhh.. serius kamu, istrinya bernama Liza kan. kamu gak bohongkan, Erwin". tanya bu Martha,nampak tak percaya.
"hemmm.... baru siang tadi,kami kenalnya. di kenalkan Ridwan Tante. maaf,gak memberitahu hal ini tadi". jawab Erwin,ia tersenyum kecil.
"Owalahhh....kenapa gak bilang dari tadi, jeng Liza dan Tante itu teman arisan yang sering nongkrong bareng. Cocok buatmu Erwin, sama-sama pernah di sakiti. Tante,kemarin ketemu sama mantan istri mu. Tante, gak setuju jika kalian balikkan".
"Tante,tenang saja. lebih baik aku menikahi Zahra,di bandingkan rujuk kembali dengan wanita ular itu". jawab Erwin, sebenarnya dia masih memiliki rasa kepada mantan istrinya. namun rasa bencinya,jauh lebih besar lagi.
__ADS_1