
"Gak sabar bu, sampai di kampung". Ucap Arini,ia memasukan barang ke dalam mobil.
Mereka pagi-pagi sudah memasukkan koper dan oleh-oleh ke dalam mobil. Terlihat jelas di wajah mereka, sedang berbahagia. Wahyu, tengah sibuk dengan ponselnya. tentu saja membuat jiwa Arini, begitu cemburu.
Zahra,hanya biasa saja. "Mas kamu punya ponsel dua". tanya Zahra, membuat Wahyu terkejut.
"Mana ada dek,ini ponsel teman mas. ketinggalan kemarin,mau di balikin sekarang kan se arah jalannya". alibi Wahyu,zahra hanya mengangguk pelan.
Ck, ponsel teman konon, batin Zahra. dengan cepat Wahyu, menyimpan ponsel tersebut ke dalam saku celananya. Zahra,juga bodo amat terserah apa yang suaminya lakukan. toh, semuanya sudah di ketahui Zahra.
"Bu,kenapa aku gak di ajak? Aku juga pengen ke sana". Rengeknya Zahra, kepada sang ibu mertua.
"Ngapain juga sih? Kamu ikut-ikutan,yang ada sesak tahu. Bikin repot saja,". Decak bu Yuni,saat ini penampilan mereka sangat berbeda. jangan sampai deh,dia ikut. mau ngomong apa aku, dengan orang-orang di sana. malu,sudah pasti itu.
Zahra,hanya menggeleng kepalanya melihat ibu mertua dan adik iparnya. Mereka persis emas berjalan, sepertinya mereka sengaja. Agar orang-orang di kampung,mengira mereka adalah orang kaya.
"bu,aku belum pernah ikut ke sana. Mas,aku ikut yah". Rengeknya Zahra, wajahnya seakan-akan bersedih namun hanya sandiwaranya saja.
"Mbak zahra,apa kamu lupa atau budek sih? Nurut dong,apa perkataan ibuku dan mas Wahyu. Di bilangin gak boleh ikut, tapi ngeyel". Cibir Arini, terlihat kesal. Jangan sampai deh,dia ikut. bisa gawat darurat,bisa aku juga kena getahnya.
"Mbakmu ini memang budek, sudah di bilang gak boleh ikut. Malah ngeyel,rengek-rengek kaya anak kecil aja". Decak bu Yuni. Huuu...bikin gak mood, punya mantu perhitungan pelit lagi di tambah miskin. dimana-mana ada hutang,rumah di gadaikan tempat supermarket nyewa juga. benar-benar deh,gak bisa dimanfaatkan.
Baiklah kalau kalian,tidak mau mengajak aku. Lihatlah besok kejutan dariku,bahkan banyak kejutan lainnya juga. "Aku kecewa denganmu,mas". Zahra, merajuk langsung meninggalkan mereka di ruang tamu. Namun saat berbalik Zahra,malah tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Zahraaa.... seorang istri, harus menuruti perintah suami. Gak usah merajuk segala,kaya anak kecil". Teriak Wahyu. "Ayo,kita berangkat. Gak sabar deh, orang-orang kampung memuji kita".
"Ayo,mas. Aku juga gak sabar". Arini, terlihat kegirangan sekali.
"Benar,ibu sudah gak sabar memperlihatkan semua emas yang ibu miliki ini". Senyum merekah bu Yuni,ia juga menggerakkan tangannya agar gelang emas berbunyi.
Kini mereka meninggalkan perkarangan rumah Zahra, dengan hati berbunga-bunga dan sulit di artikan oleh mereka. sedangkan Zahra,merasa damai saat kepergian mereka.
"Mas,apa zahra mencurigai bahwa kita berbohong kepadanya. Aku takut aja sih? Kalau dia ngikutin jejak kita,bisa habis kalau ketahuan". Ucap Arini, mendengar ucapannya.
Bu Yuni dan Wahyu,juga merasakan cemas. "Tidak mungkin,zahra sampai mengikuti kita. Malam nanti mas,akan melakukan video call. Zahra, wanita polos tidak mungkin berani melakukan perjalanan jauh".
"Hemmm...benar Arini, kampung halaman kita jauh. Darimana dia tahu,jalan ke sana. Jangan cemas, sebentar lagi Wahyu akan berpisah dengan Zahra. Kita akan hidup jauh lebih enak, asalkan kamu mau mengikuti perintah suamimu". Kata bu yuni,kepada Arini.
"Baik bu,sebisa mungkin aku melakukan hal yang terbaik. Asalkan mas Wahyu, tidak menceraikan diriku. Aku sangat mencintai mas Wahyu,apa lagi sebentar lagi aku akan melahirkan".
"Baguslah,jaga baik-baik cucu ibu. Target Wahyu, sekarang.Wanita mandul.pasti dia mau mengeluarkan uang demi anakmu, Karena dia juga menganggap bahwa anakmu adalah anaknya.kamu harus bersikap baik kepadanya nanti,agar uang selalu mengalir dan Wahyu bisa melaksanakan aksinya. Paham kamu,jangan buat onar". Perintah bu Yuni,tanpa memperdulikan bagaimana perasaan menantunya. Hanya mengejar kemewahan,tapi tidak peduli dengan sekiranya.
"Dengar apa yang di katakan ibuku,kalau mau hidup enak.apa yang kamu mau, terpenuhi maka dari itu. Harus patuh dengan suami dan ucapan ibuku,tidak usah lebay". Kata Wahyu, sambil menyetir mobil.
"Iya,bu mas. Aku akan menuruti perkataan kalian, asalkan uang selalu mengalir di rekening ku ". Jawab Arini,namun di dalam hatinya menyimpan rasa benci. Entah kenapa takdir hidupnya, sesakit ini.
Mereka pikir Zahra,polos dan bodoh. Sebenarnya dia tahu, dimana kampung halaman mereka. Bahkan dia pernah pergi ke sana, untuk mencari bukti bahwa mereka memang sepasang suami-istri.
__ADS_1
Zahra,juga terkejut seperti apa Maya? Secantik apa, sehingga Wahyu kepincut janda tersebut.
Bagaimana tidak terkejut pertama kalinya, melihat Maya. Seorang wanita yang jauh lebih tua darinya dan Arini, mungkin saja umurnya sudah melebihi 40 tahun. Mungkin karena perawatan mahal,tapi masih jelas ada kerutan di wajahnya. Terlihat sekali menampilkannya sangat wahhh....pantas saja suaminya,mau menikahi wanita itu. Ternyata orang kaya,zahra juga mengetahui jika Maya memiliki beberapa hotel.
"Aku sangat terkejut, pertama kali melihat Maya. Walaupun terlihat muda,tapi tetap saja sudah berumur". Ucap Zahra, kepada temannya putri.
"Hemmm...kalau tidak kaya raya,mana mungkin suami kamu berhubungan dengan wanita itu. Untung kamu,tidak terpengaruh oleh rayuan maut suamimu. Aku,akui kamu memang pantas di ajung jempol. Apa kamu mau, berpisah dengan suamimu". Tanya putri,kepada Zahra terlihat dari raut wajah temannya sangat sedih karena rumah tangganya penuh dusta.
"Hemmm...besok Meta, menemani ku. Sudah waktunya aku, membongkar rahasia mereka. Aku tidak sabar, bagaimana syoknya orang-orang di kampung" senyum semerik Zahra, sebenarnya ia merasa gugup apakah bisa melakukan aksinya besok.
"Heran, pengen jadi kaya raya. Tapi,salah jalan. Mereka tidak memikirkan, bagaimana kedepannya". Decak putri.
"Aku hanya membutuhkan talak dari suamiku. Maka dari itu,kami resmi bercerai. Kami hanya menikah secara agama,aku bodoh kenapa aku langsung percaya tidak menyelidiki semuanya".
"Begitulah kalau sudah cinta, bahkan sangat bodoh". Kekehnya putri,mengejek temannya.
Zahra,hanya cengengesan mendengar ucapan temannya. Ia tak marah, karena memang benar.
Zahra, menghapus air matanya sedari tadi mengalir di pipinya. Putri,mencoba menenangkan hati temannya.
"Lepaskan saja Zahra, daripada kamu sakit hati seperti ini. Suatu hari nanti,pasti kamu mendapatkan pria jauh lebih baik dari suamimu. Jangan pernah benci dengan cinta,atau trauma membina rumah tangga. Anggap saja,ini pelajaran terpenting dalam hidup mu".
"Terimakasih, putri. Sudah mau menemani ku,saat aku rapuh begini. Mereka sudah mematahkan semangat hidupku dan kepercayaan kepada orang-orang terdekat. Aku bodoh, kenapa tidak dari dulu saja. Sebelum aku, melangkah terlalu jauh seperti ini". Ucap Zahra,dalam isak tangisnya.
__ADS_1
Kecewa itulah yang di pikiran Zahra,kenapa mereka tega melakukan hal ini kepadanya. Begitu menyakitkan takdir yang di jalani, untung saja tidak kehilangan semua harta yang di miliki.