
"Hoaammm....". Zahra,menguap dan mengerjapkan bola matanya. Ia baru ingat, sekarang berada di mana. Ia menatap ke langit-langit kamar tersebut,lalu bangkit dan menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Ia baru sadar jika masih berada di dalam rumah bu Winata dan di kurung oleh anaknya.
"Nyenyak tidurnya". Ucap Davis, tengah duduk di kursi. Tepatnya di samping ranjang,
tersebut.
mendengar ucapan Davis. Zahra, langsung menoleh ke arah sumber suara. Sebenarnya dia malu,kenapa sampai ketiduran . "Astagfirullah,kenapa aku sampai tertidur. Masih di rumah bu Winata,bikin malu saja kamu Zahra". Ia menggerutu dirinya sendiri. Ia cengengesan menoleh ke arah Davis, sambil turun dari ranjang.
"Dalam keadaan di sekap seperti ini, kau sepulas itu tidur. Hemmmmm...tiga jam,kau baru bangun Zahra.apa kau tidak takut,aku berbuat apa-apa dengan mu". Davis, tersenyum smrik.
Astagfirullah,selama itu aku tidur. Sekarang hari sudah mulai sore, semoga aku di ijinkan untuk pulang. "Aku ingin pulang, bukankah di antara kita sudah selesai".
"Benar,aku sudah menghubungi Om mu. Bahwa satu minggu lagi,kita akan menikah. Aku juga sudah mengirim foto dirimu, tengah terlelap tidur di dalam kamar ini". Tegas Davis,ia tak main-main dengan perkataannya. "Sebagai bukti,jika kita menikah tanpa paksaan apapun".
"Apa satu Minggu,tidak aku tidak setuju". Bantah Zahra, langsung. Apa-apaan ini,kenapa secepat itu. Dasar pria arogan, seenaknya saja menindas diriku dan mengambil keputusan sendiri.
"Baiklah,tiga hari lagi kita akan menikah". Sahut Davis, dengan cepat. Sontak membuat Zahra,ingin membantah lagi.
"Tidak ada kata bantahan,jika kau tidak mau. Maka malam ini juga,kita akan menikah". Tegas Davis, penuh tekanan agar Zahra mengerti.
Zahra,yang gelabakan karena ucapan Davis. Ia setuju untuk menikah dalam waktu tiga hari, daripada dia membantah perkataan Davis lagi. Bisa-bisa malam ini juga,dia sudah berstatus istri seorang pria bernama Davis Jonathan. "iya,iyah...". Jawab Zahra, dengan kesal.
"Bagus,kalau kau menurut. itu jauh,lebih bagus". kata Devis,ia tersenyum kecil. sepertinya dia,akan memiliki mainan baru untuk kedepannya nanti.
"Kau,apa pekerjaanmu? Aku tidak tahu apa-apa,siapa kamu. Bagaimana aku menjelaskan semuanya, kepada Om dan Tante ku". Kini Zahra,mulai melemahkan suaranya.
Davis, mengerutkan keningnya dan mendekati Zahra. Membuat Zahra, terkejut dan mengundurkan langkahnya. "Namaku Davis Jonathan,masih lajang bukan duda.Aku hanya mengurus hotel dari warisan ibuku,jangan kau khawatir nafkah uang kepadamu.aku selalu rutin memberikan uang, berapapun kau mau. Satu lagi,aku alergi terhadap udang. Jangan sekali-kali kau,memasak untukku ada campuran udang. Tapi,aku membaca pikiranmu Zahra. Semakin aku,melarang sudah pasti kau lakukan bukan? Jika kau sampai, melanggar aturan itu. Siap-siap aku,akan menghukum dirimu tepatnya di atas ranjang". Seringai tajam Davis.
__ADS_1
Sial,dia tahu saja apa yang aku rencanakan. gerutu Zahra.
"Kau....!!!! Jangan coba-coba melakukan hal itu,kita tidak saling mencintai. Aku tidak akan memberikan hak itu,kepada pria arogan sepertimu". Zahra, menunjuk jarinya ke arah Davis.
"Baiklah,aku menunggu hal itu. Tapi, jika kau melanggar aturan itu. Siap-siap kau, menerima hukuman dariku. Pulanglah,jaga kesehatanmu. Aku tidak ingin kau sakit,di saat acara akad nikah kita nanti" Davis, mengijinkan Zahra pulang.
Zahra, langsung menyambar tas dan keluar dari kamar itu. Tanpa membalas ucapan calon suaminya. "Brengsek,dasar pria arogan. Seenaknya saja,dia berkata seperti itu. Dia kira aku wanita lemah, walaupun kita menikah nanti. Jangan harap kau, memiliki diriku seutuhnya". Gerutu Zahra, sambil menurunkan anak tangga.
Bu Winata, melihat Zahra turun dari tangga. Ia cepat-cepat menghampiri dan membuat adegan dramatis. "Nak Zahra,kamu tidak apa-apa kan. Maafkan,ibu....ibu,tidak bisa membantumu. Apa yang di lakukan Davis, kepadamu nak. Tolonglah,katakan ke pada ibu".
Apa benar,bu Winata menghawatirkan diriku. Perasaan dari tadi,beliau santai-santai saja di ruang tamu sambil menikmati secangkir minuman . Tidak aku,tidak boleh menuduh bu Winata. apa lagi beliau bakalan jadi bu mertua ku, dilihat dari segimana pun. sepertinya beliau, Sangat baik kepadaku. "Aku tidak apa-apa bu,tapi anak ibu menyuruhku menikah dengan nya. Bu,tolong bantu aku. Aku baru saja,pertama kalinya bertemu dengan Tuan Davis. Masa ceritanya begini,kami langsung menikah". Rengeknya Zahra, dengan wajah sedih.
"Terus ibu,harus bantu kamu bagaimana? Ibu,tidak bisa berbuat apa-apa". Jawab bu Winata, ia memasang raut wajah lebih menyedihkan lagi.
Aduhh...gak ad gunanya juga,minta bantuan sama ibu kandungnya sendiri. "Hemmm..ya sudah bu,di jalanin aja dulu. Aku pamit pulang, ingin menenangkan hati dan pikiran. Assalamualaikum". Pamit Zahra,tak lupa mencium punggung tangannya. setelahnya barulah dia, pergi meninggalkan bu Winata.
Zahra, meninggalkan perkarangan rumah bu Winata. "Masa iya sih? Aku menikah dengan pria arogan seperti dia. Mana gak tahu,sifat dan kelakuannya lagi. Bagaimana ini,kenapa aku menikah secepat ini? Niatnya ingin membohongi mereka,jika aku pergi ke rumah calon suami. Ehhh...malah jadi beneran,bisa gak sih? Ucapanku di tarik lagi, mending menikah dengan Erwin". Gerutu Zahra,ia masih memikirkan tentang ini.
Saat di perjalanan pulang, Zahra merasa lapar. Kebetulan sekali ada sebuah restoran, sepertinya waktu yang sangat pas.
Zahra, memarkir mobilnya dan masuk ke dalam restoran. Saat masuk,dia melihat seseorang yang di kenal. "Erwin,bersama wanita lain? Apa hubungannya mereka,". Gumam Zahra,ia mengendap-endap mendekati meja tersebut. Agar bisa mendengar,apa yang mereka bicarakan.
"Erwin,kapan kamu akan menikahiku. Orang tuaku, selalu menanyakan hal ini. Kita sudah lama menjalin hubungan,hampir setahun Erwin. Pekerjaanmu sudah jelas,mau beralasan apa lagi. Lama-lama aku,tidak enak hati kepada orang tuaku. Jangan sampai aku, meragukan keseriusan mu". Kata wanita itu,di hadapan Erwin. Terlihat kesal ,ia hanya mengaduk-aduk makanannya.
"Beri aku waktu,aku akan menikahi mu. Tapi, tidak sekarang. Percayalah padaku,". Erwin, terlihat memegang tangan wanita itu.
Zahra, tersenyum kecil dan menahan rasa amarahmya saat ini. Baru beberapa hari, Erwin mengajak dia menjadi istrinya. Ternyata Erwin, memiliki kekasih lain. "Lantas aku harus, mempercayai pria mana lagi? Pria zaman sekarang,hanya modus saja,". Zahra, langsung menghampiri meja Erwin.
"E'ehmmm...". Zahra,hanya berdehem. Sontak Erwin dan wanita itu,berdiri.
__ADS_1
"Zahra,". Lirih Erwin, wajahnya tampak muram karena ketahuan oleh Zahra.
"Siapa kamu? ada hubungan apa kalian". Wanita tersebut, langsung menatap tajam ke arah Zahra.
"Aku temannya Erwin,maaf aku menghampiri kalian. Siapa tahu,ada Gunawan. Maaf, mengganggu kalian". Ucap Zahra,ia tersenyum manis.
"Oh, temannya Gunawan. Maaf, tidak ada. Aku kira kamu siapa dia, kenalkan namaku Emillia. Panggil saja Lia". Wanita itu, langsung mengulurkan tangannya.
Zahra, langsung membalas uluran tangan Lia. "Kenalkan namaku Zahra,salam kenal yah".
Erwin, tersenyum kecil. Namun perasaannya campur aduk,dia telah ketangkap basah oleh Zahra. Sudah pasti Zahra, sangat marah kepadaku,batin Erwin.
"Ya sudah,aku pulang dulu. Masih ada hal penting ". Pamit Zahra. "Senang berkenalan dengan mu, Lia ".
"Aahh... baiklah,senang berkenalan dengan mu. Kapan-kapan kita ngobrol-ngobrol,bareng". Jawab Lia, tersenyum kecil.
Zahra,hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan mereka. Dengan perasaan begitu kecewa dengan Erwin,karena dia telah di membohongi dirinya.
"Sayang,kamu tidak ada hubungan apapun dengannyakan". Tanya Lia,ia menaruh rasa curiga karena dari tadi sang kekasih hanya diam.
"Tidak ada, kita lanjutkan makannya". Jawan Erwin,ia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya. Sial, kenapa Zahra ada sekitar sini sih? Bukankah tempat ini,cukup jauh dari tempat tinggalnya. Niat ingin melepas Lia,malah Zahra yang pergi. Aku kira Lia, wanita baik-baik. Ternyata bermain di belakangku,pantas saja dia tak ada waktu untukku. Secepatnya aku,harus mengakhiri hubungan ini. Jangan sampai aku, menjadi korbannya juga.
"Sayang,besok aku mau jalan-jalan bersama teman. Boleh gak,aku minta uang. Gak banyak kok,cuman lima juta". Rengeknya Lia, tersenyum manis.
"Hemm..aku kirimkan nanti,tenang saja,". Jawab Erwin, tersenyum kecil.
"Makasih sayang,kamu pacarku yang terbaik. Aku akan berbicara dengan orangtuaku,kau akan segera menikahi tapi tidak sekarang. Tenang saja,aku akan menjelaskan semuanya". Kata Lia, tersenyum merekah. Yess...dapat uang dengan percuma, ternyata Erwin mau saja di bodohi.
Nanti akan aku jelaskan kepada Zahra,apa yang di lihat dan di dengarnya hanyalah salah paham,batin Erwin.
__ADS_1