
Zahra, langsung mencari Davis kemana-mana. Bahkan, sekeliling rumah dan taman. Dia juga,tidak menemukan sesosok Davis. "Tumben sekali,jam segini dia tidak ada di rumah". ucap Zahra, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ia segera menggogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponselnya. Beberapa kali menelpon dan akhirnya di angkat Davis
"Kau kemana saja? Aku menelpon beberapa kali, baru di angkat". Ucap zahra, dengan kesal.
(aku sedang sibuk, tumben-tumbenan mencari diriku. Hemmm...apa kamu merindukan diriku). Davis,yang berbicara di sebrang telepon.
"Tidak,aku ingin membicarakan sesuatu. Ini penting sekali, masalah Farid". Ucap Zahra, berharap Davis segera menemuinya.
(Ck,kau mencariku hanya pria lain. Besok aku baru pulang, sekarang aku berada di tambang emas. Ada sesuatu terjadi,yang harus aku tangani sendiri). Davis.
"Pulang saja,tidak perlu bermalam di sana. Emang di sana,ada rumah tempat mu menginap".
(Kamu tidak tahu,kalau di sini ramai sekali. Seperti perkampungan, yang sudah modern. Aku tutup dulu,karena aku sibuk). Davis.
"Davis,aku....".
Tut.... Tut.... Tut...
"Sial,kenapa dia memutuskan telpon sepihak. Kurang ajar sekali dia". Gumam Zahra, ia sudah geram terhadap suaminya.
Karena Davis, langsung menutup telponnya karena sibuk. Saat ini dia,tengah di dalam goa tambang emas.
"Aku harus menemui Davis dan meminta bantuan kepadanya. Secepat mungkin, tapi kemana coba? Aku tidak tahu,sama sekali keberadaan Davis. Aku tanya Keysa,siapa tahu. Dia bisa mengantarkan ku,ke sana". Zahra, langsung mencari keberadaan Keysa.
Kebetulan sekali Keysa, sedang di meja makan. Sepertinya,dia sedang makan sendiri.
"Keysa,kau bisa mengantarkan ku di tambang emas Davis". Pinta Zahra, langsung.
"Aku, mengantarkan mu? Aku tidak tahu, dimana tambang emas nya. Walaupun aku tahu,jangan harap aku mengantar dirimu. Karena aku,banyak pekerjaan yang belum selesai". Bantah Keysa, sambil melanjutkan makannya. Enak sekali,main menyuruh ku saja. Ck, jangan harap aku mau.
__ADS_1
"Kau payah sekali, ceroboh" gerutu Zahra,ia juga langsung meninggalkan Keysa. Puas sekali aku, melihat pipimu lembam karena tamparan keras Davis.
Zahra,juga beberapa kali menghubungi suaminya. Namun,tak kunjung nomornya aktif. "Kemana aku harus mencari, Davis. Baiklah, kita tunggu besok".
Dengan hati dongkol, Zahra merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap ke langit-langit kamarnya,ia mengkhawatirkan keadaan Mawar.
********
Besok paginya, Zahra mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia tengah menunggu Davis,yang tak kunjung datang. Sesekali, dia melirik ke jendela. Untuk memastikan bahwa, Davis sudah datang.
[Mita, apakah Mawar sudah kau hubungi]. Zahra, langsung mengirim pesan kepada temannya. Siapa tahu, Mita mendapatkan informasi tentang Mawar.
[ Dua Minggu lagi, mereka akan menikah] Mita.
Zahra, membulatkan matanya saat membaca pesan dari temannya.
[Lah,kok bisa? Bagaimana ceritanya, kau tahu]. Zahra, langsung membalas pesan dari Mita. "Kenapa secepat itu? Kenapa juga, Davis tidak bisa menemukan Farid. Apa jangan-jangan, Farid ahli dalam melarikan diri". Gumamnya.
[ Sejak reunian itu, Mawar dab Farid serint bertemu dan saling berkomunikasi. Sehingga, mereka melakukan hubungan serius. Kata Mawar,dia sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Farid. Kata Farid,dia sedang bekerja ada urusan di luar kata]. Mita.
[Oh,bisa jadi. Semoga saja, Mawar tidak terjadi apa-apa]. Zahra,memalas pesan Mita.
[Hemmm.. semoga saja,] . Mita.
Ceklekk...
Pintu kamar terbuka, terlihat sesosok Davis masuk ke dalam kamar. "Kunci pintu kamarnya". Pinta Zahra, langsung. Ia juga menepuk tempat duduk,di sampingnya.
Davis, mengerut keningnya dan menuruti perkataan Zahra. Selesai mengunci pintu kamar,ia langsung duduk di samping Zahra. Dengan tatapan aneh dan tangannya,juga mulai aktif.
"Hussssttttt..jangan macam-macam,tolong tangannya di kondisikan". Zahra, menepis tangan Davis.
__ADS_1
"Hemmm.. katakan, apa yang kau ingin katakan". Ucap Davis, terdengar suaranya tiba-tiba dingin.
Aduhh... sepertinya, Davis marah kepadaku. Karena tangannya,aku tepis tadi.batin Zahra,ia membenarkan posisi duduknya agar lebih dekat. Tangan Davis,ia taruh di pangkuannya. Sontak Davis, langsung tersenyum merekah. Namun,di hati Zahra sungguh kesal kepada suaminya. "Begini dong,baru enak".
Davis,tak segan-segan membawa Zahra ke pangkuan nya. Zahra,hanya pasrah dan mulai bercerita. Sesekali Davis,mencium bibir istrinya.
Namun Zahra, tetap melanjutkan ceritanya dengan santai. Perasaannya sudah campur aduk,di saat salah satu tangan Davis. Masuk ke dalam bajunya dan meremas satu gundukan mi-liknya.Zahra hanya diam dan pasrah. Kurang ajar sekali,mencari kesempatan dalam kesempitan.batin Zahra.
"Lalu,kau ingin meminta bantuan ku". Tanya Davis, langsung di angguki Zahra. "Harus ada imbalannya,tak mungkin aku membantu dengan percuma". Senyum smrik Davis.
"Aku tahu, apa yang kau inginkan? Sudah jelas sekali,otak mesummu". Kata Zahra, langsung tanpa basa-basi lagi.
"Hahahahha, aku tidak sampai kepikiran soal itu. Atau jangan-jangan,kau yang sangat mesum.hemmm....aku ingin imbalan, yang jauh lebih menarik". Ucap Davis, membuat Zahra sedikit ketakutan.
"Iiissshhh....masa dengan istri, perhitungan banget sih? Ikhlas aja,napa". Gerutu Zahra,ia sedikit mencubit dada bidang kokoh Davis.
"Aakkhh...kalau tidak ada imbalannya, aku tidak mau". Tolak Davis,ia cengengesan. Pikirkan baik-baik Zahra, kau akan menuruti kemauan ku.
Membuat Zahra,jadi kesal dengan sikap suaminya. "Gak jadi". Ucap zahra,ia bangkit dari pangkuan Davis. Bagaimana ini,kalau Davis gak mau bantu aku? bisa gawat,kasian Mawar.
"Yakin,tidak mau meminta bantuan ku? nanti nyesal lo". Ledek Davis,ia memainkan kedua alisnya.
Zahra, menyipitkan matanya dan menatap ke arah suaminya. Apa aku terima saja, tapi aku merasa was-was. aku berpikiran, kalau Davis ada sesuatu yang tidak beres. "Baiklah, aku terima. tapi, jangan aneh-aneh. katakan,apa imbalannya untukku".
"Benarkah,aku akan melakukan yang terbaik untuk temanmu. setelahnya,kau siap-siap melakukan imbalan kepadaku. ingat, jangan kabur dariku. kau paham". Tegas Davis,ia menyeringai tajam.
Glekkk....
mendengar ucapan dari Suaminya, seperti ancaman baginya. Tidak beres ini, pasti ada sesuatu yang mengerikan. sial, seperti inikah pengorbanan seorang teman. "Siapa juga yang kabur,aku tetap di sini. bukankah,aku istrimu".
"Baguslah,kalau kau sadar". Sahut Davis,ia tersenyum smrik. Aku harap, kau tidak menyesal Zahra. ini adalah jalan, yang kau tempuh.
__ADS_1
Selesai mengatakan hal itu, Davis langsung meninggalkan Zahra yang masih termenung di tepi ranjang. pikirannya, sudah tak karuan saja. "Kenapa aku tiba-tiba gelisah dan takut, semoga saja. hemmm... Davis,tidak aneh-aneh".
Zahra, menatap kepergian suaminya dan menghilang di balik pintu kamar.